RSS

Category Archives: Catatan Hari Ini

parismestha semalam tadi; DPT, HIB, IPV

Ketepatan waktu imunisasi membuat emak-emak baru panik saat musti indent vaksinnya. Menurut jadwal DPT kombo dengan HiB dan IPV, mustinya diberikan saat bayi berusia 2 bulan, tapi antrian di JIH 400 lebih bulan lalu. Dari dokter anaknya, Ansa yang semula mendapat antrian 44, lalu 32, lalu 13 sore tadi (inipun musti dilakukan di klinik lain) membuat saya musti memutuskan memakai vaksin buatan Bogor yang memungkinkan si bayi demam, sedang dua vaksin lain beruntung dapat buatan Perancis. (Bagi yang belum tahu, negara kita belum bisa membuat vaksin tanpa demam. Kita belum bisa memisahkan bagian yang membuat demam dari bakteri dalam membuat si vaksin ini)

PADAHAL ini padahal, semalam itu saya hanya iseng kangen sama si dokter ganteng eh cantik ini, sekalian menemani ponakan saya, Aruna, yang sedang batuk. Jadi saat mendaftarkan nama anak saya dan si perawat tanya, “ada keluhan?” Saya jawab, “Kangen sama dokternya.”  Dalam hati saya bersumpah dan berjanji, akan bertanya kabar vaksin yang belum juga nongol. Meski sebenarnya bisa tanya lewat BBM si dokter sih, atau kalau sungkan ya epon epon aja ke asisten.

Langkanya beberapa vaksin seperti polio (DIY memberlakukan IPV, bila-bila ada yang tanya kenapa kemarin tidak ikut PIN, dan sebab DIY merupakan satu-satunya propinsi yang dianggap bebas polio beberapa tahun terakhir) pasti membuat beberapa Ibu yang menjadi umat imunisasi (maaf bagi yang mengharamkan imunisasi) galau galau kesal cemas dll…eheh…

Sebenarnya kalau mau tak tepat waktu, vaksin DPT import kabarnya akan lancar sejak akhir April besok. Sebulan lalu si dokter bilang, “Kita tunggu sampai awal April ya, ini memang sedang kosong, DPT, Polio kosong semua. Antrian sudah 400an lho.” Karenanyalah saya memutuskan memilih bersiap menerima demam di tubuh si baby, yang berarti menggunakan vaksin buatan Bogor. Beruntung vaksin HIB dan Polio bukanlah vaksin buatan Bogor.

Sementara ini, pilihan imunisasi di puskesmas atau bidan dengan di Rumah Sakit yang berarti pada dokter sering menjadi nyinyir-nyinyiran di sosial media, sama halnya dengan ASI atau SuFor, dengan baby sitter atau tidak, ibu yang bekerja di luar rumah atau yang klumbrak klumbruk seperti saya.

Sebenarnya pilihan imunisasi di puskesmas (dengan kemungkinan demam) atau RS (biasanya tanpa demam) memang keputusan si orangtua. Saya sih percaya mereka punya banyak alasan yang masuk akal. Bagi orangtua yang memilih datang ke bidan atau puskesmas untuk imunisasi putra putrinya tidaklah salah. Saya juga percaya itu bukan -melulu- soal harga yang harus dibayarkan, meski hmmm haha hehe perbedaannya memang jauh sih. Katakanlah untuk imunisasi tambahan sejenis Rotavirus dan PCV kami musti bayar 1,4 di RS dimana dokter spesialis yang melakukannya. Sementara imunisasi BCG kami musti membayar sekitar 300 ribu yang konon bila dilakukan di puskesmas atau janjian dengan bidan di sekitar tempat tinggal hanya beberapa ribu saja, malah ada kawan yang bilang imunisasi gratis di puskesmas.

Lagi-lagi ini sih soal kemantapan hati ya, sama dengan saat kita memilih dokter mana satu yang bakal memegang anak kita untuk pertama kali, lalu dokter siapa yang bakal mengawal kesehatan si baby.  dr. Yasmini Fitriyati, Sp.OG. adalah dokter yang mengawal kesehatan dan kesiapan tubuh saya selama setahun sebelum pada akhirnya hamil dan melahirkan Ansasienna Parismestha Sinukarta. Sedang dr. Ade Indrisari, M.Kes, Sp.A adalah dokter yang mengawal kesehatan si bayi sampai hari ini. Memilih keduanya untuk mempercayakan hal yang penting tentu juga berdasarkan beberapa “uji coba” ke beberapa dokter ya.Kembali soal imunisasi, bagi saya sih menariknya melakukan imunisasi pada dokter yang aware soal itu (tentu saja dokter anak yang biasanya di RS) kita bisa tahu, apa tujuan vaksin yang akan bayi kita dapatkan, apa saja dampak temporary setelah diberikan, dan segala hal terkait si vaksin. Mengapa misalnya kita bisa memilih antara vaksin yang berasal dari 13 bakteri buatan Jerman atau vaksin yang berasal dari 10 bakteri buatan Amerika ketimbang buatan Bogor (hmmmm nggak tahu ding jumlah bakteri dari Bogor berapa). Nah kalau kejang akibat demam pada bayi memungkinkan matinya sel di otak bayi, mengapa saya musti ragu memilih imunisasi ke dokter?  yang berarti dengan menggunakan vaksin tanpa demam yang belum bisa dibuat oleh negara kita sendiri.

Meski, ya, demam memang tidak selalu datang bila imunisasi menggunakan vaksin buatan Bogor itu, dan yaaah kalaupun demam konon juga gitu-gitu doang. Lho tapi ketahanan bayi kan beda-beda? Iya kalau anak saya tahan dengan demam yang katanya “gitu-gitu doang” itu, kalau tidak lalu kejang-kejang berulang? apa nggak saya ikut kejang??? wong sini mbok anyaran…

Lebih dari itu, setiap kali datang untuk imunisasi, tanpa kami minta, perawat atau asisten si dokter akan mengukur tidak saja panjang dan berat tubuh bayi saya, akan tetapi juga lingkar kepala anak saya. Oh heloooo ini penting lho teman-teman.

(sampai di sini nulis saya terhenti, sebab anak saya tiba-tiba demam dan akhirnya begadangan untuk mengawal suhu badannya sampai pagi ini)

.12920496_10154165797421473_3160955145404398745_n

Meski saya sudah mempersiapkan diri soal demam pada bayi, kejang, dan imunisasi, jauh sebelum saya melahirkan anak saya, tetap saja semalaman saya lumayan panik dan bergantian dengan si ayah membaca apa saja perihal demam setelah imunisasi. Untung ada mas Wachid teman ciamik -dalam segala suasana- saya yang menenangkan saya di group gerombolan si berat. Paling tidak saya jadi tahu musti bagaimana bila-bila demam si bayi tak kunjung turun tadi malam…

Seminggu lagi usia baby 3 bulan, semalam berat badannya 5100 gr, cukup menggembirakan kata si dokter. Panjangnya sudah 59 cm, yang berarti sudah naik 10 cm dari saat dia lahir dan lingkar kepalanya juga bagus 38, 2 cm. Saban hari terkejut dan terharu sekaligus senang dengan perkembangan anak saya, teman-teman pasti juga -pernah- mengalaminya. Semoga kesehatan, panjang umur, dan kebahagiaan selalu untuk anak-anak dan keluarga kita…

12961651_10154165811071473_709586584342834061_n

Sampun dulu, saya mau menemani anak saya yang sedang bobo…

Rabu, 6 April 2016

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2016 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , ,

Senam Hamil Hari Ini…

20150705_111300
Minggu pagi adalah jadwal saya senam hamil, sebelum siangnya jadwal kontrol. Seperti biasa, hari ini saya ikut senam diantar suami, mama, dan papa mertua. Tahu menantunya sedang ingin makan belut sawah, mama dan papa mertua tidak langsung pulang ke rumah tapi berputar-putar ke beberapa pasar dan tempat untuk mendapatkannya.
Saya kecil tidak pernah tidak selalu lahap saat Ibu saya menggoreng belut sawah yang dibelinya dari tetangga jauh yang datang ke rumah. Cara Ibu menggoreng belutnya tidak terlalu kering, tapi juga tidak basah…mungkin kalau bisa saya jelaskan kering di luar, basah di dalam…#halah. Karenanya saya cenderung tidak doyan dengan belut-belut goreng yang banyak dijual di pasaran. Biasanya mereka menggorengnya dengan tepung, atau kalau tidak ya terlalu kering. Kalaupun ada yang lumayan mendekati cara ibu saya menggoreng belut, hbiasanya si belut tidak dibersihkan dengan baik, karenanya menyisakan rasa pahit di lidah.
Senam hamil biasanya dibagi menjadi dua bagian, pemanasan dan latihan inti. Pemanasan ya diisi dengan latihan pernafasan selama kurang lebih 20 menit, sementara latihan inti biasanya berupa latihan mengejan. Jeda di antara latihan pernafasan dengan mengejan itu biasanya kami gunakan untuk istirahat sejenak, pipis dan atau minum.
Hari ini saya kehilangan konsentrasi sebab ibu hamil di samping saya menggunakan parfum yang aromanya ya ampuuuuun….Tahu sendiri kan kalau bumil penciumannya cenderung lebih sensitif dan mudah terganggu dengan aroma-aroma yang pada akhirnya membuat mereka mual. EHEH…saya mual dan nahan muntyaaaah….udah gitu si ibu satu ini membawa serta anaknya yang kira-kira berusia enam tahun. Walhasil, jarak antara saya dan dia jadi lebih sempit dan otomatis mengganggu saya bergerak mengikuti gerakan senam. gpp gpp, ibu hamil katanya musti dan wajib lebih sabar. #halah lagi….nggak juga, kalau saya justru memilih lebih asertif dalam menyampaikan ketidaknyamanan saya.
JADI saran saya buat bumil, kalau senam nggak usah pake parfum berlebihan…atau lebih bagus lagi nggak pake atau pilih saja cologne untuk baby. Mungkin jadi lebih bisa diterima penciuman ibu lain. EH serius yang tadi aromanya…uhuk…#nyinyir ya? mbok ben…
Saat istirahat selama 15 menitan itu, meski si mbak bidan bilang istirahatnya hanya 5 menit, saya memperhatikan si adik yang datang bersama ibunya tersebut. Lalu saya ingat masa kecil saya. Saya pernah sekecil itu dan sebentar lagi saya akan memiliki anak seusia dia…Saya ingat karib saya de Yaya dan saat kami sekolah di taman kanak-kanak. Saya ingat keriangan kami saat kemewahan yang datang dua minggu sekali mendatangi kami di hari Sabtu; ibu guru (bu Kus, bu Sri, dan bu Gin dibantu pak Kliwon) memasak bubur kacang hijau dan bubur ketan hitam. Lalu minggu berikutnya kami membawa bekal dari rumah, biasanya saya dan de Yaya berbagi lauk yang kami bawa. Begitu terus bergantiang antara masakan ibu guru dan bekal dari rumah…
Anak de Yaya sudah dua, saya sendiri baru akan melahirkan yang menurut HPL adalah bulan depan ini. Saya tidak mengharap siapapun datang menengok apalagi membawakan kado untuk kemewahan saya kali ini….selain doa, doa, doa, doa, dan doa untuk keselamatan saya dan jabang bayi saya di hari yang paling saya tunggu ini…
Sudah ah, ibu hamil mau melanjutkan bacaan sembari menunggu jam ketemu dokter di rumah sakit ring road Utara situ…
Kali ini bumil sedang mengulang membaca, Akar Kekerasan milik Erich Fromm…

27 Desember 2015

 
Leave a comment

Posted by on December 27, 2015 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , , ,

Apakah Tidak Boleh Menjadi “Aku” Saja

IMG_1442

Kalau saya menikah dan hamil apakah lantas saya bahagia?

Beberapa tahun lalu saya asyik membuat status di fesbuk yang kira-kira berbunyi; betapa pertanyaan bersifat kepo dan mau tahu dari sekitar tidak akan pernah berhenti. Dari kapan menikah, kok nggak punya anak? atau jumlah momongan sampai seterusnya akan terus ada selama masyarakat kita masih melayan sistem dan nilai yang sama soal menjadi anak manis; lelaki jantan; perempuan sempura; orangtua baik.

Tahun itu saya dikejar-kejar orangtua untuk menyegerakan pernikahan. Saya sendiri tidak tertarik pada jenis komitmen sejenis ini pada waktu itu. Saya marah pada Ibu saya; Ibu percaya? Kalau ibu terus mengikuti omongan tetangga, saudara tua, ini nggak akan habis, dari “Lina kenapa sekolah jauh-jauh?” lalu “Lina kapan nikah?” terus kalau sudah nikah ganti ke “kok nggak segera punya anak?” lalu ganti lagi menjadi “mana adiknya?” Seterusnya dan seterusnya, berikut pertanyaan-pertanyaan lain seperti; “Suami kerja dimana?” dan atau “Sekarang tinggal dimana?”

Dua tahun lalu sewaktu usaha yang kami rintis dikisruh salah seorang -istri- pegawai, dan menimbulkan komunikasi yang tidak sehat perang status menjadi hari-hari yang menjijikkan. Atau sebenarnya saya lebih banyak menahan untuk diam sebab saya sadar itu rumus tolol untuk menyelesaikan masalah. Cara kerja sosial media dalam membunuh karakter seseorang dan perang psikologis memang dahsyat ya… Hal paling jahat yang perempuan ini (yang konon aktivis feminis dan sedang sibuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan ini,) lakukan adalah menyerang saya dengan hal-hal seputar kuasa dan tubuh perempuan.

Sebut saja salah satunya adalah status-status tentang; sepertinya ada yang tidak senang dengan kebahagiaan kita bertiga, tidak senang dengan kebahagiaan ayah dan bunda menunggumu sampai bla bla bla bla….lalu juga; bahagia itu seperti ini lho mbakyu (mbakyu di sini yang dimaksud tentu saya) dengan memamerkan foto anaknya.

Tiba-tiba kegelian sekaligus ketidaknyamanan saya soal kasus ini terbuka lagi begitu seorang kawan di fesbuk share sebuah link (https://flyingsolighttothesky.wordpress.com/2015/05/07/jika-hamil-itu-kompetisi-apakah-semua-perempuan-harus-jadi-pemenang/) yang saya baca beberapa paragraf saja namun sok PD merasa paham kira-kira apa yang dituliskannya.

Apa salah jika seseorang (perempuan misalnya) memilih tidak menikah?

Apa keliru jikapun sudah menikah memutuskan tidak memiliki anak?

Lebih daripada itu, apakah salah apabila tubuh perempuan dan atau laki-laki tidak digampang dibuahi dan atau membuahi?

Bagi saya, menyepelekan dengan dan atau mempertanyakan kuasa tubuh seseorang atas dirinya sendiri adalah tidak bijak, mempertanyakan bagaimana perempuan mengatur tubuhnya adalah jahat. Terlebih apabila yang bertanya belajar dan membaca kesetaraan gender dan “perempuan”. Atau jangan-jangan itu hanya sekedar wacana? pepesan kosong belaka?

Padahal saya berharap dari orang-orang sejenis merekalah, nilai dalam masyarakat dalam memandang tubuh perempuan bisa bergeser ke arah yang lebih baik; memerdekakan tubuh perempuan, meng”aku”kan tubuh perempuan. Lebih dari itu semua; MANUSIA.

Kemeriahan aktivis di Indonesia dalam gerakan sosial kemanusiaan di bidang apapun seringkali membuat saya menemu tubuh yang teralienasi dari dirinya sendiri. Di bagian lain saya menemukan kemegahan teori dari tubuh yang belum tuntas mengalami wacana yang disungginya. Orang-orang yang kadung dilabeli nabi ini membabi buta memperlakukan manusia lain yang dianggapnya tidak sepaham.

(nyambung besok ya)

baca juga ni: http://endahraharjo.blogspot.com/2015/05/dicari-perempuan-sempurna.html

18 Mei 2015

 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2015 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

Hamil Duluan vs Masa Lalu

..kuhamil duluan sudah tiga bulan gara-gara pacaran tidurnya berduaan,kuhamil duluan sudah tiga bulan gara-gara pacaran suka gelap-gelapan…

Tuty WIbowo

Sejak bangun tadi pagi, tiba-tiba saya pingin mendengarkan lagu-lagu dangdut. Laptop yang sudah menyala sejak kapan hari di samping ranjang segera menampilkan deret judul lagu begitu saya ketikkan sebuah judul lagu dangdut di youtube; MASA LALU.

Entah bagaimana akhirnya saya sudah berHamilDuluan. o o o… aku hamil duluaaan…o o o sudah tiga bulaaan...

Saya perhatikan liriknya baik-baik, meski tidak sebanyak lagu campursari even lagu dangdut lain dalam bermetafora, tapi saya kesenengan setengah gila mendengar lagu Hamil Duluan. Sedang pingin hamil kali ya 😀

Bayangkan saja itu imaji apa yang ada di benak kita saat tidak sedang mabuk (biasanya nonton dangdung live sembari mabuk, entah karena suasana entah karena alkohol) contoh ni; Mendem Pentol yang liriknya kira-kira, aku pingin penthol sing ana mie-ne, aku pingin penthol penthol penthol sing dobel endog e….atau sebut saja Cucakrowo dan Jatuh Bangun-nya Kristina, yang sempat dan masih ngetrend itu…

…kuhamil duluan sudah tiga bulan, gara-gara pacaran tidurnya berduaan…lirik ini apa kabar nasibnya kalau di tangan para penyanyi yang menjadi ratu di panggung-panggung kota pinggiran sana. Kami di Jawa Timur biasa menyebutnya dengan dangdut koplo. sedang di pantura situ ya terkenal dengan dangdut pantura. Lirik; ada gula ada semut, durung randha aja direbut bisa menjadi ada gula ada semut, durung randha aja diemut. Atau bahkan lirik dari lagu anak-abak Plok Ame-ame (nggak tahu judul aslinya) dari; siang makan nasi kalau malam mimik susu, menjadi, siang makan nasi kalau malam asyik nyusu..

Pasti dahsyat sekali untuk tahu bagaimana reaksi penyanyi sendiri saat beraksi di atas panggung sembari mengganti beberapa lirik menjadi terkesan “genit” atau “saru“. Apakah cukup signifikan mempengaruhi reaksi penonton padanya atau tidak…

 Nah pindah ke lagu baru….ah yepyuuu…

masalalu biarlah masalalu jangan kau ungkit jangan ingatkan aku…

Ah kurang iseng ah metaforanya. Lhoh ini dari asil renungan saya (huek cuih syooor) atas penelurusan saya berkoplo ria di youtube (ah mau bilang suka dangdut dan campursarinan ae kakean alasan, biar terkesan ndengerin dangdut tu karena kepentingan yang lebih akademis, preeeek) Coba kalau saya yang njengking-njengking di atas panggung, liriknya akan saya ganti; masal alumu juga masa laluku….kau kira tak menyakiti aku, pabila dia menelponmu, meskipun kau telah resmi milikku, karna dia bekas pacarmu dan ku…(nggak lucu ya? ya udah sih, kalau kata de Rusli)

Well, ok, terakhir lagu ya musti saya putar untuk menikmati kopi pagi ini bertema dangdutan adalah…

pinginku sms-an wedi karo bojomu…pingin telpon-telponan wedi karo bojoku…pinginku ngomong sayang wedi karo mantanmu…sakjane kangen iki ra keno dilereni, nanging aku wedi…

baiklah sekarang saya mau menikmati lagu ini sekali lagi dengan jeritan ah uh ah uh dari si mbak penyanyi, lalu kembali ke tulisan-tulisan yang membosankan demi sebuah hati… (kalau segenggam berlian mah udah biasa…)

pinginku ketemuan wedi karo bribikanmu…pingin kangen-kangenan…wedi karo mantanmu…

Hari Dangdut Negara Bagian Masing-masing…

31 Oktober 2014

 
Leave a comment

Posted by on October 31, 2014 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , , , ,

e dijahyellow e tengkiyuuu

…saat yang WARAS menghibur masyarakat yang sakit…

Masyarakat yang sakit dibangun dari individu yang hidup dengan modus “memiliki” dan menolak untuk “menjadi”. Erich Fromm

Sementara ciri utama orientasi memiliki yaitu kecenderungan memperlakukan setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Dimana memiliki berarti menguasai dan memperlakukan sesuatu sebagai objek. Hal ini berkonsekuensi pada pem-benda-an. Yang berarti hal ini berkorelasi pada pengertian pada segala sesuatu yang dibendakan akan diberlakukan seperti benda.

Saya sih tidak terganggu dengan siaran seharian penuh pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Meski bahkan sebelum acara live tersebut benar-benar tayang, sudah banyak orang komplain melalui dumay sebab merasa haknya untuk mendapatkan informasi yang sehat dan bernutu telah dilanggar oleh Raffi Ahmad dan stasiun televisi yang menyiarkannya.

Pikir saya sih itung-itung njagong manten, sementara menghitung ada berapa banyak perempuan ingin seperti Gigi. Di samping saya, mbak Rita, suster-nya eyang berulang kali bilang, “aku juga mau kayak Gigi, ya ampun hadiahnya sepatu harganya mahal.”

Bukan soal ini yang saya sedang batin dua tiga hari ini.

Tapi soal Hodijah @dijahyellow yang sempat saya lihat tayangannya di youtube.com seperti ini

Coba perhatikan cara Hodijah bercerita soal Bieber. Apa benar Hodijah “waras?” Bagi saya, stasiun televisi yang pernah menyiarkan/mengundang Hodijah ini sudah terlampau keterlaluan. Mungkin saja, saya salah satu orang yang kurang perduli tentang siaran televisi Indonesia. Bukan karena belagu merasa tayangan tv Indo nggak mutu, tapi karena saya memang jarang nonton tv, hobi saya maenan koi, memasak, dan maenan tanaman. Selebihnya sebelum tidur saya akan menyempatkan diri nonton tayangan Natgeo, meski kadang bikin wagu sendiri tapi tetap masih menyehatkan. Butuh nonton opera sabun saya akan mengaktifkan channel starworlds. Nunggu beberapa opera sabun yang sering ditayangkan berseri di situ pada musim-musim tertentu.

Bisa jadi saya satu-satunya yang gila, sementara yang lain masih sehat sentosah. Mengapa saya mencurigai orang di sekililing saya, sementara mereka bisa memprotes tayangan soal pernikahan Raffi Ahmad (buktinya bisa update di dumay kan? yang bahkan sblm tayangan Raffi – Nagita benar-benar tayang) tapi kecolongan soal Hodijah. Atau jangan-jangan memang saya yang gila? saat sok tahu (jadi ingat revisi dari dosen saya Katrin Bandel di sebuah lembar tesis saya) karena membawa barometer sendiri soal gila dan waras. Jangan-jangan memang saya yang gila karena menyebut Hodijah kan “sakit.” Jangan-jangan memang hanya saya yang gila karena mempertanyakan mengapa stasiun tv berikut awak kapalnya tega mengundang dan menyiarkan Hodijah untuk menjadi tontonan dan tertawakan penonton. Lalu pulang kembali ke rumah untuk membaca tweet dan komentar dari followernya yang menghina dan mengejeknya.

Hodijah bukan Syahrini, Shinta Jojo apalagi Nikita Mirzani, pemirsa…

…yang meskipun bukan berarti saya lebih bisa memaklumi ejekan pada mereka, tapi Hodijah berbeda. Atau jangan-jangan memang hanya saya saja yang menganggap Dijah berbeda?

SAYA JUGA SAKIT, saya beberapa kali mengetikkan nama Hodijah di youtube.com, instagram, dan twitter. Memperhatikan setiap tweet-nya, upload-an video dan wawancara televisi. Berulangkali meyakinkan diri saya bahwa tayangan itu bukan settingan untuk mengimajikan Dijah Gila, (mengingat jaman sekarang kan konon settingan semua)

Apa yang Indra Herlambang, Raffi, Jessica lakukan pada Hodijah, apapun alasannya sungguh tidak pantas. Saya mengabaikan teori Foucult, saya mengabaikan mas Erich Fromm…karena bagi saya cuma satu, sejauh ini, antara media dan pemirsa televisi Indonesia, ternyata memang hanya Hodijah yang waras. Sementara saya sendiri sakit, terbukti berhari-hari setelah melihat share-sharean berita soal Hodijah yang mengejek RAISA dengan judul, dasar artis dadakan, di facebook, saya tidak bisa berhenti memikirkan Hodijah. masyarakat pemirsa juga tak kurang sakitnya, karena mereka lebih terganggu dengan tayangan pernikahan Raffi-Nagita ketimbang dipermalukannya Hodijah yang “sakit” di televisi.

Suatu hari kalau saya menemukan bukti dan menyadari bahwa ternyata kasus Hodijah adalah settingan, saya tetap tidak akan menyesal telah menuliskan ini, bagi saya apa yang dilakukan televisi terkait Hodijah adalah cara paling kotor memperolok dan menghina masyarakat yang sudah “sakit”. Kurang gila apa cobalah kami? sedang saban hari manggut-manggut saja melihat acara keluarga Raffi Ahmad, setelah sebelumnya tergila-gila pada kisah cinta Ariel dan Luna Maya di layar kaca…mengalahkan berita pembunuhan dan pemerkosaan di desa-desa yang jauh dari Jakarta. Kok ya masih tega mempertontonkan satu-satunya manusia yang masih “waras”, Hodijah di hadapan kami…

Baiklah, ada baiknya saya melanjutkan maen bekel sendirian yang kemarin saya beli dari sebuah toko di jalan Kaliurang sana….

e dijahyellow e tengkiyuuu

Kota yang sakit, 25 Oktober 2014

 
2 Comments

Posted by on October 25, 2014 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Katie Melua dan Rindu di Hati Saya

Seluruh pengetahuan, perjalanan-perjalanan ini, apalah artinya bila tanpamu…

Lagu ini selalu membuat saya senang mengulang dan terus mengulangnya…

Dulu sekali sebelum saya pernah kedinginan di negeri bermusim dingin, saya bertanya-tanya bagaimana lagu ini bisa dibuat. Tapi kemudian saya pernah mengalami hari dimana tak cukup hanya segelas kopi dan mantel untuk menghangatkan diri. Perasaan dicintai, keinginan untuk bertemu dan pulang…

Tiba-tiba saya ingin menulis puisi…

Perasaan yang sama saat saya dengan hati menuliskan beberapa lembar kartu pos untuk saya kirimkan pada diri sendiri dan orang-orang yang saya cintai…

kartu pos yang saya kirimkan untuk diri saya sendiri

kartu pos yang saya kirimkan untuk diri saya sendiri

Sekarang saya memiliki kenangan tersendiri dan cara berbeda dalam menikmati lagu Katie Melua ini. Perasaan terpahami, keinginan kembali ke negeri yang sama untuk segelas kopi di samping perpustakaan kota itu sendiri lagi ataupun berdua-dua dengan yang di hati.

Maka sekarang saya terus menunggu sepenuh hati, dengan debar karena mengingat akan denyar perjumpaan itu nanti. Mungkin dia akan mengagetkan saya dengan hembusan hangat di pipi. Atau memeluk saya dari belakang sembari berbisik, “sudah lama menunggu?” Dengan ataupun tanpa keduanya saya akan tetap senang, sebab dialah yang akan datang.

Yang lebih menggembirakan bila dia datang bersama dua bocah kecil; anak-anak kami. Dengan keriangan di pelukan mereka, sementara kanan tangan mereka menjinjing tas kecil berisi permen dan syal yang tak ingin dikenakan akan tetapi tetap harus dibawa.

yang selama ini sunyi akan kembali bernyanyi…

 
1 Comment

Posted by on October 2, 2014 in Catatan Hari Ini

 

Tags: ,

Membawa Anubis dari Melbourne

Di akun sebelah sedang marak pamer barang lawasan, tak ketinggalan saya ikut panas membongkar-bongkar barang-barang saya. Menemukan cangkir saya senang. Menemukan koin cetakan tahun 1790 saya makin senang. Menemukan surat-surat yang saya terima di tahun 1990-2001 saya senang dan berdebar. Menemukan foto mantan ya lumayan senang hehehe.

Tahun 2012 kemarin, adalah kali kedua saya berkunjung ke Melbourne. Tinggal selama tiga bulan di sana membuat saya rajin mengunjungi tempat-tempat yang direkomendasikan beberapa orang teman. Salah satu yang musti saya kunjungi adalah old shop. Adik saya juga menyarankan pada saya agar tak melewatkan pengalaman mencari-cari pernak-pernik lucu di toko barang bekas ini.

Di sebuah old shop/ vintage shop di Sydney road. SAVERS (http://vintagemelbourne.com/savers-sydney-road/) Toko barang bekas ini tentu lebih gede ketimbang yang ada di Jalan Afandi (dulunya Gejayan) misalnya. Sebenarnya saya bukan terbasuk orang yang suka belanja di toko barkas, tapi masuk ke Savers saya merasa senang. Banyak barang-barang lucu yang saya temukan. Belum ada satu jam saya sudah melirik tempat lilin dari kuningan bertulisakan huruf China, piring hias untuk dinding berbahan kuningan juga untuk bapak, yang kalau saya perhatikan berasal dari Eropa.

Hari itu, meskipun di musim panas, saya kedinginan karena suhu menunjukkan posisi 18 derajat celcius di handphone saya. Karenanya atas saran kawan, saya berpikir untuk mencari mantel yang bisa saya gunakan untuk sementara selama di Melbourne. Tidak mendapatkan mantel, saya menemukan pernik kecil yang saya kenali sebagai patung ala Mesir.

1926721_10152783786111473_6181722040717450912_n

#Disergap Jirih
Hari ini, setelah dua tahun lewat, saya mencari-cari figure siapakah dalam patung ini. Lalu saya menemukan sosok Anubis. Anubis yang dalam kepercayaan Mesir kuno dianggap sebagai dewa yang paling penting dalam kematian (mengingat perannya yang berhubungan dengan kematian dan akhirat) membuat saya bergidik untuk sesaat sekaligus ingin lebih tahu soal Anubis. (OK ini PR untuk saya mencari-cari referensi tentang Mesir kuno)
Dewa berkepala serigala, beberapa menganggapnya berkepala anjing ini membuat jantung saya berdebar-debar, mana warnanya kusam, meski label harga (1,99$) yang masih nempel belum saya lepas sesekali saya jadikan fokus agar tak terlampau berdebar.

saya sedang takut mati!

Dari hasil ngintip ke beberapa web, Anubis yang sering digambarkan berkulit hitam ini melambangkan gambaran kehidupan setelah kematian dan kelahiran kembali juga diyakini sebagai dewa dunia bawah. Yang menenangkan, (karena sempat berpikir akan membuang the little ones ini) ada yang mengatakan Anubis dianggap sebagao pelingdung roh dan pemangsa jiwa-jiwa jahat. Lebih dari itu, Anubis menjadi pengawas misteri. Well, saya senang hal-hal yang penuh misteri.

Narasi tentang kematian, apapun bentuknya, meskipun nyaris selalu membuat saya bergidik, selalu terdengar sexy bagi saya. Cerita-cerita yang mengiringi si mati. Mitos dan dongeng tentang lepasnya roh dari tubuh yang didendangkan secara turun temurun, bagaimanapun manusia modern menertawakannya, nampaknya tak mengubah sexy-nya kematian bagi saya.Tak heran saya selalu terdiam saat megatruh menyentuh telinga saya, dimanapun, kapanpun dan dalam situasi seperti apapun. Debar yang selalu datang biasanya adalah tanda untuk saya berpura-pura tidak mendengar sekaligus ingin terus mendengarnya.

10418258_10152783786491473_8931909919397297648_n

Yogyakarta, 1 Oktober 2014

 

Tags: , , , , , ,