RSS

Tag Archives: bokep

Film apa Film?

Semalam dengan mas Kris Budiman (lagi seperti tahun-tahun yang sudah) saya datang ke undangan pembukaan Q Festival. Tapi malam tadi ada juga Grace. Film yang diputar judulnya Perempuan Punya Cerita -kalau gak salah.-

Duh mampus, pikir ane. Tu para perempuan bikin apa sebenarnya ya. Bicara temanya sih yang agak menarik bagian ‘cerita jakarta’ sepertinya. Tentang perempuan yang terinfeksi virus HIV. Tapi saya rasa itu karena si Susan Bahtiar maennya lumayan baguslah. Bukan pada kontens isi film itu sendiri. Gimana ya, Susan cakep sih.

Parahnya yang bagian ‘cerita yogyakarta.’ Pengaruh Iip Wijayantokah? Atau memang saya yang kuper? sampai saya tidak tahu kalau anak-anak SMU di Yogya identik dengan seks bebas, hamil, lotre penentu. Pikir saya, yang goblok penulis skenarionya atau sutradanya atau bagaimana sih?

Kalau saya pikir, kenapa coba cerita yang bagian ‘seks melulu’ musti di bagian ‘cerita yogyakarta’ sementara yang ‘cerita jakarta’ agak sedikit lebih cerdas temanya. Itu pasti akal-akalan si perempuan-perempuan di balik layar. Anehnya, bisa-bisanya ada yang tergila-gila ma ni film. Apa karena adegan2 ‘ah, eh, ah, eh-nya?’

Beruntung, adek bungsu saya (Agustina Candrawati) tidak diperbolehkan sama pacarnya untuk menerima tawaran maen di ‘cerita yogyakarta’ dalam film tersebut. Memang adik saya bukan artis kok. Akhirnya peran itu dimainkan si artis sinetron siapa itu. Tapi tetep dong, lebih cantik dan menarik adik saya..(kekeke, yang ini tidak boleh dipercaya)
(nah ini adek bungsu saya)

Apa benar? perempuan Indonesia terwakili dengan film itu? Lantas kemana larinya cerita-cerita perempuan cerdas yang tangguh, tidak cengeng, pemimpin yang -meski tidak banyak- ada di Indonesia. Konflik-konflik yang dimiliki seorang perempuan -anggaplah pilihan- yang lebih cerdas dan memerlukan pencapaian satu titik kecerdasan. Lho, di Indonesia banyak perempuan cerdas kok, berkuasa, dan tidak bergantung pada satu kebijakan atau putusan laki-laki.

Seolah-olah, dari film itu tampaklah betapa seks, ketertindasan, kebodohan, korban keganasan lelaki, dan kemelaratan melulu yang ada di otak dan sekeliling perempuan Indonesia. Dih..menyedihkan -filmnya tentu saja.-

Tapi baguslah, saya terharu melihat mbak Susan Bahtiar menahan perih saat harus meninggalkan anaknya. Lantas bagaimana dengan Ayat-Ayat Cinta? Nah, ulasan tentang Ayat-Ayat Cinta buka di http://antikris.multiply.com

Tapi saya tetap salut dengan semua karya yang lahir dari tangan-tangan manusia Indonesia, sangat. Itu intinya…

(Lebih daripada itu saya pikir teknik yang saya kira hebat ini ternyata saya curigai meniru pilem Things You Can Tell Just by Looking at Her yang diproduksi tahun 1999)

Yogyakarta 21 April 2008

Advertisements
 
16 Comments

Posted by on April 21, 2008 in Catatan Hari Ini, Essay

 

Tags: , , , , ,

Lil…

s.a.h.a.b.a.t

hijau kuning sejarah/telah kau tuliskan di sudut sana/menjadi sesuatu yang tak perlu kau jelaskan keberadaannya/ombak juga begitu/ia tak pernah menjelaskan apapun/untuk sejuta kebohongan yang ia bisikkan/bersama camar/sudahlah diam/biarkan sekelilingmu beku/kau tak perlu menghangatkan mereka dengan air mata.
Surabaya, 2005

Tulisan itu saya buat beberapa hari sebelum saya ulang tahun, waktu itu, yang kemudian pada bulan dan tahun yang sama diterbitkan oleh Bayumedia bersama tulisan yang lain dalam “Yang Pertama; Sajak Cinta herlinatiens.” Sengaja saya buat untuk Lil, yang suaranya memenuhi telinga saya di handphone. Kami tak banyak bersapa sesudahnya. Kadang-kadang saja bersapa lewat pesan-pesan singkat. Dan telpon-telpon santun saat dia hendak menulis berita tentang saya.

Saya memintanya, untuk tak lagi selalu mementingkan kepentingan “seseorang” itu. Dalam hati saya, sudahlah Lil, airmatamu tak harus jatuh lagi dan lagi.
Tapi sekarang justru sayalah yang membuat hidungnya mimisan karena kena pukul seseorang demi membela saya. Well, ceritanya bagaimana, saya tak harus bercerita di sini. Pendeknya seseorang sedang ingin memfitnah saya melalui “karya adi -tanpa- busana” anggaplah begitu.

Mengapa saya melarangnya menangis? Dengan menggantinya serupa luka berwarna merah. Saya tak melihatnya. Tapi saya tahu, saya akan panik jika berada di dekatnya. Lil, teman saya ini, dia seorang wartawan. Selalu santun, selalu manis, juga apa adanya. Kalau bicara, bibirnya seolah bergerak dengan cara yang paling sopan. Dia yang nampak malu-malu itu, pagi tadi mencoba menjaga harga diri dan nama saya dari orang-orang yang -tidak- saya kenal.

Sekarang, seperti ladang-ladang di musim penghujan, saya merasa ada terlalu banyak hal yang tak bisa saya bayarkan untuknya. Saya telah melewati hari yang sedikit berat dan melelahkan. Tapi saya tahu, saya tak harus sekuatir biasanya, karena Lil ada bersama saya pagi tadi. Seperti perawan Marea, dia berdiri di sana, untuk membantu saya melipat cerita ini dengan cepat tanpa bicara.

Yogyakarta, 6 April 2008

 
29 Comments

Posted by on April 6, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: ,