RSS

Antara Saya dan Gurita Cikeas

04 Jan

; menanggapi banyak pertanyaan yang dikirimkan pada saya sekaligus munculnya pages dan group Gurita Cikeas di facebook

Mari mencoba bermain-main sebentar. Mencoba mengujikaitkan antara semiotika dengan bahasa media. Buku Gurita Cikeas, rupa-rupanya menjadi satu kajian yang menarik bagi banyak penikmat dan penganut semiotika khususnya dan masyarakat luas. Baik yang me’nyampahkan’ maupun yang memujanya.

Sepulang dari Jakarta, saya mendapatkan buku Gurita Cikeas, buku tersebut berjalan dari Galangpress [yang juga menerbitkan buku-buku saya] melalui sang direktur yaitu Julius Felicanus dan penulisnya yang tak lain adalah salah seorang dosen saya sendiri saat ini, George Junus Aditjondro, ke tangan Ki Tyasno Sudarto [seorang purnawirawan] lalu ke tangan Ki Priyo Dwiarso [sekum di Majelis Luhur] lalu ke tangan saya.

Hari-hari sebelumnya, banyak orang mengirimkan sms dan menelepon saya untuk bertanya perihal buku tersebut, mungkin saja itu dikarenakan pengetahuan mereka perihal kenyataan bahwa saya adalah salah seorang mahasiswa yang diajar George.

Sebelumnya saya sudah katakan di tulisan sebelumnya, bahwa di kelas pertama kami saya menghampirinya dan bicara; Selama kelas saya mual dan cepat-cepat ingin mengakhirinya dengan keluar dari kelas. Nampak sekali betapa keberpihakan terhadap Aceh digambarkan dengan nyata. Bagi saya, LSM tak lebiih dari sekelompok manusia patah hati yang mengatasnamakan komunitas tertentu untuk mereka makan….[dan masih panjang lagi]

George bertanya, “Jadi minggu depan, kau tidak akan ikut kuliah saya lagi herlina?” saya jawab, “Oh justru karena hal itulah, saya akan selalu datang di kelas Bapak.”

Menghadapi George di kelas hampir saja tidak menyisakan ruang perbedaan dengan yang nampak di forum diskusi. Hanya saja, pemotongan tayangan adegan George dan Pohan nampak sekali adanya semacam keberpihakan media terhadap Pohan. Hanya ada sekian detik saja untuk mengarah pada angle utama yang mau dibidik media. Dimana bagi penonton yang tidak tahu persis kejadian di forum launching buku tersebut akan sekonyong-konyong mentertawakan dan mengkeparatkan George sebagai manusia banti kritik. Atau jangan-jangan memang begitu George???

Dalam ranah yang sederhana, semiotika dan bahasa media nampaknya dapat menjadi satu diskusi yang menarik. Bukan saja karena persoalan filosofis mendasar yang acapkali menjadi perdebatan, melainkan juga karena tidak ada jalur tunggal untuk membongkar praktik pertandaan (baca: bahasa) media.

Klaim umat semiotika dalam ayat yang paling sederhana adalah: bahwa di BALIK BAHASA MEDIA seringkali menyimpan/mengandung tanda misterius. Dan terpujilah para guru besar SEMIOTIKA, dimana semiotika dipercaya sebagai salah satu jembatan untuk menangkap dan menelanjangi kemisteriusan tersebut.

Konsep mengenai representasi hadir menempati tempat baru dalam studi budaya. Dalam kaitannya dengan dunia komunikasi, secara spesifik Alan O Connor menggambarkan budaya sebagai proses komunikasi dan pemahaman yang aktif dan terus-menerus. Artinya kemudian menjadi jelas bahwa masing-masing pemaknaan orang tentang budaya akan sangat tergantung pada pemahaman subyektif antaraktor atau subyek di dalam lingkungan kebudayaannya. Dalam konteks ini, ketika pemberitaan dipandang sebagai produk kebudayaan, maka menjadi penting untuk melihat bagaimana media memproduksi dan mempertukarkan makna melalui praktik bahasanya.

Pada kutub yang berlawanan, sebagian lagi mengatakan bahwa apa yang tersaji dalam media merupakan representasi. Realitas yang tampil di media merupakan hasil konstruksi yang boleh jadi telah mengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktor subyektivitas dari pelaku representasi alias orang-orang yang terlibat dalam media. MetroTv mungkin akan nampak lebih berpihak kepada George, mengingat relasi kuasa yang ada, dimana ownernya mengalami sedikit gesekan dengan sang aktor dalam Gurita Cikeas yang dimaksud. Lantas bagaimana dengan RCTI dan TVOne? tunggu dulu….sabar sebentar sebelum anda tergesa bilang TVOne jelas lebih netral. Are you kidding me? Kemenangan Bakrie di GOLKAR tentu tidak bisa lepas dengan uji nyali bersama aktor-aktor yang dimaksud dalam Gurita Cikeas.

Tanda [rekaman yang nampak di pembaca] yang dimainkan dengan super serius dari media berkaitan dengan pemukulan George terhadap Ramadhan Pohan jelas telah diolah sedemikian rupa [untuk tidak mengatakan dimanipulasi] oleh media. Hai dude, ini jelas terlepas dari kualitas/benar-salah/dosa-pahala buku Gurita Cikeas.

Jelas kemudian dengan tayangan-tayangan yang disajikan televisi kepada penonton begitu mempengaruhi pendapat dan sikap masyarakat yang melihatnya. Saya perhatikan banyak yang main berpendapat tanpa menyentuh buku Gurita Cikeas apalagi membacanya. SO DARLING what’s going on here? Mau buku itu sebegitu imajiner-nya kalau loe pade belum pada baca ndak usah dulu protes dan mencaci atau memuji dan memuja”Gurita Cikeas” apalagi George dalam ranah ini.

Sudah saatnya berpendapat dengan cara pandang sendiri menghadapai tanda yang sebenarnya, dalam hal ini tentu saja si buku GURITA CIKEAS, bukan pemberitaan-pemberitaan yang seringkali semakin menjatuhkan anda di lorong labirin itu!

salam sayang
herlinatiens

Yogyakarta, 4 Januari 2010

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2010 in Essay

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: