RSS

Monthly Archives: August 2008

sapi

terkutuklah kau yang memenuhiku malam ini.
bahkan setelah apa yang kukatakan padamu. masih saja aku tak bisa menyingkirkanmu. apa aku mengenal rasa takut? atau aku mulai menyadari bahwa serupa jenasah, kaulah peti mati bagiku?

sebenarnya aku cuma mau bilang, ya bahkan saat berlari darimu aku selalu dan masih memikirkanmu serupa keparat kecil yang merindukan tuhan. jangan menjadi tuhan yang begitu baik, sayang…

 
14 Comments

Posted by on August 24, 2008 in Catatan Hari Ini

 

calon suami vs kekasih hati

Biasanya saya bermain peran dengan Wachid Eko dan Dadang Afryadi. Tapi untuk pementasan -PARIA- kali ini di Surabaya, saya mengajak mereka. Beginilah mereka pada awalnya Mahendra si calon suami dan Rie sang kekasih, pujaan hati 😀
Dengan berbagai pertimbangan -termasuk manut panitia- mengajak orang-orang baru tidak apa kan? Jadi bisa sama-sama belajar. Toh saya juga belajar…..

Ini Vhisnu Mahendra, diperanin oleh Dimas…

Rafael : Sekarang kau menjelma iblis. Kau tolol! Kau bodoh! Goblok. Jangan mencoba menghitam putihkan sesuatu, begitu terus kau serukan di telingku. Tapi Paria, jangan mengabu-abukan sesuatu hanya untuk membenarkan sesuatu yang jelas salah!

Yang ini Rie Shiva Ashvagosha sang kekasih hati, diperanin Dyah Pandam Mitayani

Paria :O, begini-begini Tuan Rafael yang terhormat dan merasa menjadi wakil Tuhan, saya ini percaya Tuhan. Apa anda kira hanya anda saja yang percaya Tuhan? Saya kira anda salah! Saya mungkin tidak termasuk umat beragama! Tapi saya percaya Tuhan, mencintai dan meyakininya dengan cara saya sendiri!

 

Tags: ,

flying for a moment

.: when your call did not come, he asked me a question….

Begini, katakanlah muncul seorang laki-laki berumur dengan dua anak manis bermata biru yang bisa saja menjadi adik-adik kecil yang menyenangkan. Muncul begitu saja dengan pesan-pesannya untuk mengingatkan bahwa keduanya pernah berjumpa. Dari sekadar; “I wonder if we could stay in touch… maybe its too much to ask for.” juga, “its lovely to get your message, could not help go see your pictures yet again. My question is WHY?”

Serupa tokoh-tokoh dalam cerita Harlequin. Lelaki bermata dingin dengan tubuhnya yang athletis tengah bermain-main api dengan seorang perempuan dari jauh yang tak kenal red wine selain cukup mendengar nama saja. Tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di ladang-ladang luas di Brazil ataupun Argentina. Tidak pernah menonton adu banteng di Sevilla Spain. Tidak berfoto dengan cara aneh di Taj Mahal. Tidak memiliki rumah dekat Georgia Waterfall yang dipamerkan dalam sebuah foto dengan dua anaknya dan orangtuanya yang nampak berbahagia. Juga pesta-pesta Santo Thomas ala cowboy dengan tarian dan api unggun yang memamerkan gadis-gadis bermata kelam yang menggoda.

Para tokoh dalam cerita Harlequin selalu serba terlalu. Terlalu kaya. Terlalu pintar. Terlalu berpengalaman dalam banyak hal. Terlalu tampan dengan kemeja santai maupun jas dari perancang kenamaan yang dimiliki dunia. Terlalu banyak digoda perempuan -bermain dengan perempuan?- terlalu dekat dengan pistol dan senapan. Terlalu senang berpetualang ke banyak negara selain mengurus perusahaannya sendiri.

Begitupun lelaki ini. Yang mengirimkan buket mawar meski berjarak ribuan kilo untuk si perempuan mungil. Tentu saja, perempuan itu tidak lantas merasa sedang didekati, laki-laki ‘terlalu’ semacam dia tak mungkin suka berlama-lama apalagi bertahan dengan satu perempuan saja. Jangankan tergoda, tertarik juga tidak. Jadi, perihal laki-laki ‘terlalu’ yang kemudian jatuh cinta dengan perempuan yang jauh dari tempatnya hanya karena sekali pernah berjumpa untuk mendiskusikan suatu hal kecil itu hanya ada dalam Harlequin semata. Bukan di kisah nyata. Serupa Cinderella, kisah-kisah manis hanyalah cerita yang pantas dibangun sebagai mitos dan hiburan saja.

Sementara tokoh perempuan yang dicintai si laki-laki ‘terlalu’? Biasanya seorang pembantu di rumahnya, pengasuh anak-anaknya yang menderita karena perceraian, sekretaris di kantor, atau paling banter seorang jurnalis dari sebuah stasiun tv yang mencari berita darinya. Saya ingat, ada juga di antara para tokoh itu seorang penulis yang memiliki tubuh yang tak lebih sexy dibanding tokoh-tokoh lain yang muncul di buku tersebut. Kalau tidak salah ditulis oleh Nora Roberts. Saya lupa.

Nah, tokoh perempuan yang penulis dalam buku itu. Tidak semampai, bahkan mungil menurut Nora Roberts. Memiliki tatap mata yang tajam namun sering nampak kosong. Bola matanya coklat dengan rambut masai yang seolah dibiarkan tak terawat. Penyendiri serta gemar membaca. Tentu berbeda dengan si tokoh laki-laki yang melihat sendiri segala tempat indah dan menarik di dunia dengan mata kepalanya sendiri, dia cukup hanya -mampu- melalui gambar dan tulisan di buku-buku itu.

SATU lagi; TAK berpengalaman dalam urusan cinta, apapun musimnya. Konon kabarnya sangat misterius, sukar dipahami, dan sangat menggugah perasaan ingin tahu. Ini juga kata si laki-laki ‘terlalu’.

Oh, apakah ini serupa tantangan? permainan semacam petualangan yang akan secepatnya melahirkan rasa bosan? Maka si laki-laki akan bilang; “Well, listen to me, it’s sound you are like the pessengers of the wrecked ship were hopeless. Man must adjust himself to conditions around him in order that he could survive.”

Jadi begitulah menurut si laki-laki yang serba ‘terlalu’ ini, sekian kali dia pernah melihat perempuan itu, meski cukup sekali bisa mengajaknya diskusi di suatu tempat. Sayangnya, perempuan itu lupa, sesekali saja dia ingat tapi secepatnya dilupakan.

Maka bila dalam sehari, perempuan itu menerima telepon untuk kesekian kali dengan ataupun suara sekretaris si laki-laki terlebih dulu yang bicara. Perempuan itu selalu tersenyum; karena jelaslah baginya bahwa dongeng sebelum tidur tak harus dipercaya dalam dunia nyata. Tokoh-tokoh SERBA terlalu tak akan pernah jatuh cinta pada perempuan semacam dia. Kalaupun tertarik itu hanya untuk hitungan hari dan akan segera berakhir begitu tokoh laki-laki berhasil menarik pelatuk kecil di pistolnya.

Yogyakarta. 17Agustus2008

 

Tags: ,

TURN PALE


.: turn pale :.

like a song without rhythm
when you said you can defeat anything
so i give you a melody

as an empty touch on your eyes
I never judge

are you the special one?

you often said
we are closer than ever
more than that close every day

and I
am like a glass shattered on a rock
turn pale in your capable hand

so beib, save the last from
every last thing there

yogyakarta, 12 Agustus 2008

 
8 Comments

Posted by on August 14, 2008 in Puisi

 

Tags:

Pentas “Paria” dari novel Garis Tepi Seorang Lesbian di Q-ffest 2008, Surabaya.

Awalnya saya hanya iseng ketik key word ‘festival’ di google, dan menumkan informasi ini di http://www.ccclsurabaya.com (milik Lembaga Bahasa Perancis di Surabaya). Jadi saya bagikan informasinya di sini ya, tapi tanpa gambar poster mereka…sembari narsis pasti kata orang. GPP dueh.. 😀

Tadinya sih mau saya kasih posternya saja untuk pentas PARIA, tapi belum selesai saya design, eh emang belum dimulai ding 😀
Cari modelnya dulu ah…hiks

satu
dua
tiga……

Tujuh tahun sudah Q! Film Festival hadir. Setelah Jakarta, Yogyakarta dan Bali, Q! Film Festival yang didirikan oleh beberapa jurnalis independen ini berkembang pesat dan pada 2007 memperluas lingkupnya di Indonesia dengan kunjungan perdana di kota Bandung dan Surabaya melalui « Traveling to Surabaya 2007 ».

Tahun ini, Q! Film Festival kembali menawarkan alternatif-alternatif baru, selain pemutaran film, acara akan disemarakkan dengan pameran foto dari fotografer Prancis Amaury Grisel dan pentas teater oleh Herlinatiens (Yogyakarta)di CCCL Surabaya.

Lebih dari 500 film dan total 75.000 penonton pada tahun-tahun sebelumnya. Q! Film Festival tak terelakkan lagi menjadi festival paling besar di Asia dari segi durasi dan pemutaran film dan menciptakan jaringan lintas negara, terutama Eropa.

Bulan Oktober, di Surabaya akan hadir Q! Film Fest di mana-mana !
http://www.qfilmfestival.org

“Youth Freedom”
Film – Pameran – Teater – Diskusi

Pemutaran : 15– 19 Oktober,
Pk. 14.00/ 17.15/ 18.00/19.15
Pameran: 15– 18 Oktober,
karya beberapa komunitas foto Surabaya

Pentas Teater “Garis Tepi Seorang Lesbian”: Sabtu 18 Oktober, Pk. 17.00, oleh Herlinatiens

Bersama Q-munity Surabaya
CCCL – SBY, XXI Sutos, Garlick, Gaya Nusantara


http://www.ccclsurabaya.com/bi/bi_2cine.htm

 
18 Comments

Posted by on August 2, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,

Lelaki Rahasia

wash dc

1.
Sekarang kitalah yang mabuk, kau membasahi dirimu dengan anggur dan aku mencium aromanya tanpa harus menjulurkan lidah. Maka beninglah kita yang ajaib dilanda kepurbaan fana.

Kukira ini semu, tapi kau meyakinkanku; bahwa tubuhmu memang anggur dan aku gelas bening yang siap menerima setiap tetesnya. Apa kita akan sampai? Apa gelas yang kau kira bening ini akan penuh olehmu?

Sekarang kaulah yang dijalari rindu sementara aku menelan ragu.

2.
tidak sedang musim kawin bukan? meski di sana kembang mulai mekar. meski aku tak tahu benar warna kuning kembang yang kau petik untukku. simpanlah baik-baik, mungkin saat layu kelak, lahir aku dari dalam sarinya. mari kita hitung hari sampai pesawatmu mendarat, dan aku menjemputmu dengan ataupun tanpa senyum.

3.
dan demikianlah kita ajaib dalam fana. aku hanya melihat kolam ikan. bukan danau sepertimu. ikan-ikan koi saja yang ada di dalamnya. bukan kembang kuning yang bisa tumbuh di tepinya. tak ada bangku kayu untuk bisa melepas lelah. hanya pinggiran kolam dari batu yang mulai menghijau oleh lumut dan jamur. tapi kerinduanku sama besarnya dengan yang kau alami, sayang.

yogya,29juli2008

 
8 Comments

Posted by on August 2, 2008 in Puisi