RSS

herlinatiens: Sejak Kapan Negara HARUS PEDULI pada masyarakat?

08 Jan

; sebuah tawaran untuk tidak mudah terbakar [setelah membaca sebuah berita di koran pagi ini tentang penggusuran lapak di sebuah ruas jalan].

Sejak kapan negara harus bertanggungjawab terhadapat masyarakatnya [yang terlampau kronis mengkeparatkan negara]? dan sejak kapan masyarakat menjadi begitu apatis terhadap negara?
Jawabannya tentu bukan seperti yang dilontarkan orang-orang pintar di dalam kelas yang sibuk menganaktirikan seluruh kebijakan pemerintah dengan balik bertanya: SEJAK KAPAN KAMI HARUS PEDULI KETIKA HIDUP KAMI LEBIH BANYAK DIACUHKAN milik J.F Kennedy.

Lantas begitu saja, GOLPUT dan diam adalah perilaku paling alami [bijak?] dari semuanya.
Kalau kami bergerak, ada moncong senapan siap memecahkan kepala kami.
Karenanya yang tidak sengaja tertembak di sebuah demonstrasi adalah PAHLAWAN [yihaaa, are you kidding me darling?]

Banyak dari kita, andakah itu? yang menganggap negara sebagai kolonialisasi berkedok homo homini lupus. Menganggapnya sebagai mesin penghisap yang tangguh bagi masyarakatnya demi kepentingan sendiri. Saya sendiri manusia yang butuh aturan, terlepas hanya sebatas aturan yang saya buat sendiri. Masalahnya saya sendiri sering lupa, apakah aturan itu mengganggu orang lain atau tidak…bayangkan misal seluruh rakyat Indonesia [yang terlampau saya cintai ini] sama seperti saya, apa ndak saling bunuh ini orang??? Karenanya saya butuh sebuah aturan yang mengikat. Meski itu bukan berarti dipanoptikonkan…

Atau alih-alih menjelma [mengatasnamakan] perantara lidah rakyat menjadi mesin penyerang yang tangguh untuk merongrong seluruh sistem yang tengah dijalankan negara. Mengatasnamakan; sekian ribu buruh; sekian ribu petani; sekian ribu nelayan; sekian ribu pengangguran; sekian ribu TKW dengan selembar jawaban itu tadi. Lalu saat anda tidak peduli pada negara, lantas mengapa memaksa pemerintah memberikan sekolah gratis ke anak dan cucu? Kalau kita sendiri membiarkan mereka bolos sekolah dan tidak bertanggungjawab pada hak yang diberikan? Nah lhoh, itu baru sekolah sedikit dikasih subsidi, bayangkan kalau murah pula. APALAGI gratis…yg bener aja bung!
Hei Bung, pendidikan bukanlah barang murah[an], meski tidak lantas saya membenarkan sebagai suatu kemewahan…

Taufik Ismail, seorang penyair yang konon tidak pernah dipenjarakan di jaman Orde Baru ini entah oleh apa, kurang dari setahun paska jatuhnya ORBA segera mengeluarkan buku berjudul MALU AKU JADI ORANG INDONESIA. Kelak saya berharap ada antologi syair yang lebih manis dengan judul BANGGA SAYA MENJADI ORANG INDONESIA.

Sebagian dari anda mungkin akan bertanya, Indonesia sebelah mana? Indonesia itu apa? ah yang benar. Jangan-jangan itu hanya klaim anda sebagai bangsa yang merasa menjadi bangsa penerus. Penerus kolonial mana?

Menjadi komentator dan korektor menempati timbangan yang sama gampangnya dengan menjadi koruptor.
Sejak orang-orang pintar makin pandai mengkoreksi dan memberikan nilai ZERO pada negara, tanpa menawarkan satu penguat yang solid bagi keutuhan bangsa [tunggu dulu jangan tergesa marah dengan bertanya bangsa yang mana?] ya sama aja bohongnya. Main koreksi tanpa menawarkan satu kerja konkret selain berbuih-buih mengatasnamakan kelompok buruh dan TKW mendemo pemerintah.

Saya memang naif dalam menyikapi hal tersebut. Jadi apakah ada yang salah dengan bersikap naif dan sekaligus mencurigai kerja-kerja teman-teman yang pintar di luar sana dalam mengkoreksi negara?
Saya curiga, benarkah itu kerja untuk masyarakat kelas bawah atau hanya untuk esksistensi yang pada akhirnya jatuh juga pada satu tujuan permainan misi ke istana?
Hei Bung, masih banyak dari kita yang lebih senang mengendarai mobil pribadi daripada kendaraan umum yang ditawarkan. Saya sendiri masih demen pake taksi daripada naik bus. Banyak copet sih! eit, bukan sampah yang saya bicarakan, karena saya pernah menjadi korban pencopetan beberapa kali.

NEOLIBERALISME…
Saya kira, saya lebih senang jatuh di tangan penjahat baik hati dibandingkan jatuh di tangan pahlawan kesiangan…

Pada masa terpilihnya kembali SBY menjadi presiden RI, isu yang ramai dibicarakan adalah neoliberalisme. Saat muncul tulisan NEOLIBERALISME di spanduk-spanduk kampanye di masa kemarin, benarkah masyarakat kita paham benar dengan kondisi dan tawaran yang ada? Neoliberalisme yang dianggap seorang penulis buku [Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapital] sebagai kapitalisme liar dan lebih berbahaya dari sekedar kapitalisme lantas dikait-kaitkan dengan permainan tingkat tinggi beberapa terdakwa. Boediono yang kemudian menjadi wakil SBY, banyak mendaoatkan dampak dari isu yang digelintirkan tersebut. Banyak dari media kita dengan seluruh kepentingannya mempermainkan asumsi masyarakat dengan sewenang-wenang.

Pada akhirnya…
Kalau masalahnya hanya soal menggulingkan pemerintahan dan mengahncurkan negara, saya kira tidak perlu dengan mengatasnamakan kelompok tertindas untuk mendapatkannya. Kalau masalahnya hanya ingin menjatuhkan sistem yang sedang berlangsung [bukan koreksi demi perubahan yang-dianggap- lebih baik] tanpa menawarkan solusi konkrit dan mengajukan siapakah yang memang benar-benar bisa menjadi lokomotif perubahan yang diharapakan seluruh masyarakat yang dilanda penyakit komplikasi dan kronis ini ya ndak usah mengatasnamakan semangat nasionalisme. TUNGGU DULU, nasionalisme yang mana?
tentu bukan tugas saya pagi ini untuk menjawabnya…

Yogyakarta, 6 Januari 2010

 
Leave a comment

Posted by on January 8, 2010 in Catatan Hari Ini, Essay

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: