RSS

Monthly Archives: December 2009

INTRODUCTION on some questions preliminary to any possible discussion on Lacan and the politic

INTRODUCTION
on some questions preliminary to any possible discussion
on Lacan and the politic

Sebagai seorang filsuf mistik, Lacan memulai “kembali ke Freud” dengan pembacaan linguistik psikoanalitik. dengan rumusnya yang paling terkenal: “bawah sadar terstruktur sebagai sebuah bahasa.” Bagi Lacan, psikoanalisis yang paling mendasar bukanlah teori dan teknik mengobati gangguan psikis, akan tetapi juga merupakan sebuah teori dan praktek yang menghadapkan individu dengan dimensi yang paling radikal dari eksistensi manusia. Akibatnya, berkenaan dengan ilmu-ilmu otak hari ini, psikoanalisis itu sendiri, jauh dari subversif, dan tampaknya bukan milik lapangan humanis tradisional yang terancam oleh penghinaan terbaru.
Jika Freud tampaknya, mengabaikan beberapa hal yang membahayakan, Lacan lebih berhati-hati dalam mempraktikkan teorinya. Pada awal 1950 ia membuat pernyataan berikut: mungkin saja bahwa dalam pengalaman terbatas pada individu, psikoanalisis tidak dapat mengklaim untuk memahami totalitas sosiologis setiap objek. Atau bahkan keseluruhan kasus-kasus yang saat ini beroperasi di masyarakat kita.
Meskipun demikian, dalam perlakuan terhadap individu, relasional psikoanalisis telah menemukan strain yang muncul untuk memainkan peran mendasar dalam semua masyarakat, seakan-akan ketidakpuasan dalam peradaban pergi jauh untuk mengungkapkan sifat yang melekat pada budaya. Jika seseorang membuat rancangan transformasi, kita dapat memperpanjang rumus psikoanalisis mengenai hal yang melekat pada beberapa ilmu pengetahuan manusia, yang dapat digunakan.
Dalam hal ini tidak saja menunjukkan seorang ‘individu’ untuk mengakomodasi dirinya sendiri dengan tuntutan realitas sosial, tetapi menjelaskan bagaimana sesuatu seperti “realitas” merupakan dirinya dalam tempat pertama. Tidak hanya memungkinkan manusia untuk menerima kebenaran tentang dirinya yang ditekan – atau dirinya sendiri; ini menjelaskan bagaimana dimensi kebenaran muncul dalam realitas manusia. Ringkasnya, kita akan hipotesis utama bahwa teori Lacanian tidak menjadi relevan dan, memang, penting untuk reinvigoration teori politik dan analisis sosio-politik.
Lacan selalu penuh kontroversi, krisis dan skandal. Dia sangat dipengaruhi oleh Freud dan mengkajinya melalui strukturalisme gaya Ferdinand de Saussure. Selain itu, sedikit banyak dipengaruhi Claude Lévi-Strauss’s dalam struktural antropologi, sampai dengan teori himpunan matematika dan filsafat Plato, Kant, Hegel dan Heidegger. Tidak heran sebagian besar dari konsep-konsep kunci Lacan tidak memiliki kaitan langsung atau sebaliknya berbeda sama sekali dengan teori Freud.
Keberatan lain tersirat dalam keraguan terhadap seminar-seminar theory Lacan. Dalam seminar, Lacan bertindak sebagai seseorang yang “dianalisis.” Lacan senang berimprovisasi, melompat, berbicara kepada publik, yang kemudian mempersilahkan para pembacanya untuk masuk ke dalam peranan kolektif proses analis.
Kemudian sebagai perbandingan, tulisan-tulisannya menjadi lebih kental, karena diformulasikan, dan dilemparkan ke pembaca. Tujuannya adalah untuk melibatkan dan menantang pembaca untuk menganalisa dan menerjemahkannya ke dalam tesis yang jelas serta memberikan contoh dan demonstrasi logis dari mereka sendiri.
Berbeda dengan prosedur akademik biasa, di mana penulis merumuskan sebuah tesis dan kemudian mencoba untuk mempertahankan melalui argumen, Lacan lebih sering meninggalkan pekerjaan ini kepada pembaca. Hal ini untuk mengetahui aktualisasi di kalangan rakyat yang saling bertentangan dan ambiguitas yang ada.
Sederhananya, tiga bab pertama dari buku ini meletakkan teoretis, epistemologis dan politik. Bab pertama adalah yang taat kepada subjek Lacanian, titik awal dalam kebanyakan sosio-politik Lacanian untuk menetapkan konsep politik Lacanian. Meskipun sangat bermanfaat, pendekatan semacam ini kadang-kadang menyembunyikan apa yang telah benar-benar memberikan kontribusi yang banyak. Dalam bab kedua,akan terfokus pada pemahaman Lacanian pada ‘objective’, dari realitas sosial politik Lacanian. Dan bab ketiga adalah diartikulasikan sekitar Lacanian membaca realitas politik.
Tantangan ini hanya mengungkapkan sebagian kecil dari ‘politik’ perjuangan yang terkait dengan proyek Lacanian hampir dari awal. Hal ini tidak mengherankan kemudian bahwa untuk setiap manusia hanya hubungan antara Lacan dan Politik yang menjelma dalam nasib Psikoanalisis dan Politik (meminjam dari judul lain buku oleh Sherry bawah denting – Turkle, 1992) karakteristik hubungan Lacan ke pembentukan psikoanalisis dan pengikut-Nya sendiri, dan tentu saja dari perdebatan tanpa akhir tentang warisannya. Dan Meskipun masalah ini tidak dapat diabaikan, seluruh buku ini merupakan sebuah upaya untuk menunjukkan relevansi Lacanian untuk pertimbangan politik

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 8, 2009 in Essay

 

Tags: , ,

yang sundal

dia yang senang kupanggil sundal
begitu saja mendatangiku
sembari membawa anjing kecil
yang dinamainya binal

maka sundal binal
menjadi tamu di rumah
tanpa kusajikan teh dan kue coklat
di atas meja

dia yang berani dibenci
dialah yang siap dicintai
[oh tapi aku tidak mencintai]

dia yang sudi dilecehkan
dialah yang bisa dihargai
[oh tapi akupun tak sedang melecehkan]

dia yang berani telanjang
dialah yang bisa kulempar
di atas ranjang
tanpa beban

*terinspirasi video rekaman saya berisi chubby dan poly

 
4 Comments

Posted by on December 8, 2009 in Puisi

 

surat untuk tamu hari ini (tulisan yang tidak sengaja saya temukan di draft akun ini)

dear Nn,

apa kabar? baik-baik? kalau yang ini memang benar surat untuk sampeyan. bukan untuk dia, bukan untuk yang di sana, bukan juga untuk seseorang yang lainnya. begini, hari-hari terakhir sedikit busuk. ada beberapa hal tertunda. kebohongan-kebohongan baru lahir dan tentu saja perasaan konyol dan tolol. sedikit telat membalas surat di sini.

memang tugasku untuk menjamu tamu. menyediakan apa-apa yang bisa terhidang di meja. meski ala kadarnya saja. hanya itu yang kubisa bukan? perkara hati dan senyum itu urusan lain. aku orang Jawa. tamu menjadi raja di rumah-rumah kecil kami. menghormatinya serupa pendeta yang singgah sebentar ke rumah. jadi jangan sangsikan dan menilai yang lain.

aku ceritakan padamu tentang sebuah cerita kecil di desaku. suatu saat ada sepasang suami istri yang menerima seorang tamu dari jauh. tak ada apa-apa di meja makan. tak ada ubi bakar. tak ada nasi dan lauk. tak ada gula untuk pemanis minuman. suami istri itu teramat kekurangan.

lantas ingatlah keduanya pada sebutir kelapa muda di belakang rumah pemberian dari seorang tetangga yang merasa iba pada keduanya. si suami meminta si istri menyiapkan cawan perak untuk menghidangkan air kelapa. sementara dia bersiap mengasah golok untuk membelah kelapa muda.

“jangan, itu untuk sampeyan, pak.”
“tapi kita kedatangan tamu.”
“tapi akan terisi apa perut kita malam nanti?”
“kita bisa mencarinya lagi nanti. tapi tamu kita bisa jadi kehabisan bekal dan kelaparan.”

begitulah, kemudian keduanya menghidangkan air kelapa berikut dagingnya pada si tamu. sebelumnya suami istri itu membasuh mukanya dengan air dari sumur. agar nampak pada tamu, kalau keduanya baik-baik saja malam itu. begitulah, malam hari begitu si tamu pulang, suami istri itu terlelap setelah membebat perut mereka dengan kain.

tak ada semangka berisi emas keesokkan harinya seperti cerita bawang merah dan bawang putih. tak ada biji buncis yang membawa mereka ke langit untuk mengambil telur-telur emas. memang keduanya tak mengharapkan itu.

jadi kalau aku menjamu kalian dengan yang ada kemarin itu. sudah pasti karena begitulah kebiasaan di tempat kami. seterusnya, tamu akan selalu menjadi raja-raja baru di rumah-rumah kecil kami. karena sesuangguhnya kita tak pernah benar-benar menjadi raja tanpa menjadikan seseorang raja di rumah kita.

sore itu, begitu sampeyan kuantar pulang. aku sempatkan diri membeli sebuah syal berwarna coklat. alih-alih menghadiahi diri sendiri di hari ulang tahun. kujamu diriku sendiri dengan coklat-coklat manis dan kejutan-kejutan yang sengaja kubuat. sendirian begitu aku menjadi prajurit kecil yang bersembunyi dari para raja.

sekarang, apa sampeyan masih merasa tak enak dengan tak membawa kado untukku? ah, sudahlah. aku biasa menghadiahi diriku sendiri dengan bingkisan-bingkisan manis. Nn, bukan tugasku menjamu kalian. tapi memang tugasku menghargai tamu. meski itu tamu tak tahu diri sekalipun. lagipula aku tidak menjamu sampeyan di rumahku, tapi di rumah makan yang seringkali terlalu dingin bagimu. hehehehe.

alasannya jelas, sebenarnya aku tak suka menerima tamu. aku tak suka terlalu banyak orang tahu dimana aku tinggal dan bagaimana aku mengatur buku-bukuku. tapi aku tetap orang Jawa bukan? meski aku tak suka menjamu tamu dalam rumahku sendiri…maaf

salam sayang,

Yogyakarta, April 2008

 
Leave a comment

Posted by on December 8, 2009 in Puisi

 

PENGUMUMAN!!!!

suatu kali saya merencanakan mengatakan ini…

halo-halo PENGUMUMAN….kepada para mantan pacar dan selingkuhan dan TTM-an dan lain-lain sebagainya yang saking RAHASIAnya bahkan saya TIDAK KENAL….
sekarang SAYA PUNYA KEKASIH…
BERITA ACARANYA akan saya kirimkan secepatnya kepada kalian semua…muach…

KIRA-KIRA…kalau saya sebrutal ini, adakah kalian percaya? tidakkah mungkin bagi saya menulis begini….

aduhai…yang AL [ALLAH?], terimakasih pada kasihmu melaluinya…dan AM [MAREA?] yang mempercayakan satu perkandungan kasih melaluinya….amien….

 
5 Comments

Posted by on December 1, 2009 in Puisi