RSS

Monthly Archives: May 2008

pengakuan, 4

.: surat pada kapal
Aku tak pandai bertanya. Tak pandai meminta penjelasan. Aku terbiasa menyimpan semua tanda tanya dalam diri, menjawab dan menyimpulkan semua sendiri. Bahwasanya aku bersedih memandangi foto-fotomu, itu sudah pasti benar. Bahwa aku menahan air mata itu juga pasti benar. Tapi apa lantas aku sanggup bicara padamu? ”Sayang, pahamilah aku?” Tentu tidak.

Biasanya aku cepat-cepat saja meninggalkan semua tanpa mengucap selamat tinggal. Tapi entah ada apa denganmu. Aku seperti tak punya alasan melakukan hal yang sama. Jadi jangan marah, kalau aku tiba-tiba menghentikan pembicaraan dan seakan berdiam begitu saja tanpa penjelasan. Pagi tadi, semuanya terasa sesak dan membuatku tak bisa berkata-kata manis seperti biasanya.

Kau seperti melemparkan jangkar sebelum sampai pemberhentian. Oh bukan begitu, tepatnya kau masih mengibarkan layar-layar perjalanan, membentangkan peta petualangan saat kau mulai memasuki lautku. Atau bagaimana? Aku tak tahu, sayang. Aku mulai tak bisa menggambarkan cerita-cerita dengan lebih sederhana saja.

Apa aku cemburu? Tentu tidak sayang. Bahwasanya kau melewati sebuah perjalanan. Itu urusanmu. Bahwasanya kau menambatkan kapal di pelabuhan lain, itu juga aku turut senang. Bahkan aku berharap kau berlabuh dan menetap di dermaga yang sama. Menemukan kota dan rumah kecil tempat kau menghabiskan usia.

Masalahnya Sayang, kau tak akan bisa menambatkan satu kapal di dua pelabuhan sekaligus. Jangan menentangku dulu dengan bicara, ”Sayang, aku menginginkanmu bukan dia!”
Tidak bisa begitu Sayang. Pahami saja diamku sebagai penjelasan yang kau perlukan. Perempuan selalu punya cara sendiri untuk memberi penjelasan. Kalau kau tak paham, Sayang, biarkan saja begitu. Mungkin sunyi lahir dengan cara berbeda pula.
Aku tak pernah bukan? memintamu sampai dan menambatkan kapal. Melemparkan jangkar di lautku. Kau bebas, menentukan pilihan. Bahkan sekalipun tak akan pernah sampai ataupun menetap selamanya. Kau memilikimu, dan aku membenciku!

Atau begini saja mungkin lebih baik, berlama-lamalah di laut. Berjalan-jalanlah senyaman dan sesenang dirimu. Mampir ke kota yang sama, menemukan kota-kota baru. Bahkan kalau kau memutuskan kembali dan menetap di kota yang sama itu juga tak apa. Kalau kau mulai bosan dan capek, kau boleh menemuiku di kedai kopi tempat yang kujanjikan untukku menemuimu. Terlalu sulitkah, Sayang?

Yogya,31mei2008

 
7 Comments

Posted by on May 30, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

Saya Korelis?

Sebulan yang lalu saya dijadikan obyek penelitian seorang teman yang kebetulan mendapat tugas dari dosennya perihal karakter manusia. Saya hanya mengisi angket-angket, yang kalau saya tidak salah berisi 100 soal dengan beberapa jawaban gitulah. Tinggal pilih ini itu. Gampang-gampang saja. Dan siang tadi si teman ini tertawa-tawa begitu melihat saya duduk di cafe. Well, muka badungnya seperti menemukan senjata penembus jantung saya. ”Lu tahu kagak? Lu itu korelis murni!”
”What the hell?”
“Lu suka mau menang sendiri!”
Meledaklah tawanya. ”Bentar-bentar, its about yang kemaren itu?”
”Ya iyalah bu, yang kemaren itu.”
Trus dong saya baca tulisan yang seabrek-abrek itu. Aduh Bapak, saya tertawa membacanya. ”Nez, kamu bilang aja, kalau aku egois dan mau menang sendiri! Udah ndak usah pake basa-basi.”
”Ntar gue yang repot dong kalau butuh pertolongan lagi, lu kagak mau.”

Sebenarnya saya agak-agak gimana sih baca tu tulisan. Kesal sih ndak ya, peduli deh ma yang kasih judgement kalau saya korelis pake tambahan ’murni’ pula. Saya buka-buka di google apa itu korelis murni dan lain-lain. Jadi sebenarnya, ada empat karakter manusia. KORELIS yang suka petualangan, persuasif, dan percaya diri. MELANKOLIS yang setia dan tekun, SANGUIS yang spontan, lincah, dan periang. Lalu PHLEGMATIS yang ramah, sabar, dan gampang puaaaaaaaas.

”Lu tu kek Soeharto, Soekarno!”
”Kamsudnya?”
”Iye, emosi lu mang stabil, tapi itu tadi suka memerintah, dan kerennya orang-orang itu ndak ngerasa diperintah. Cocok lu jadi ketua geng mafia gitu!”
”Thanks, for your f***kn opinion!”
“Bukan, pendapat gue, ni nurut teori. Tapi cocoklah, lu kan suka bernafsu menguasai sesuatu! Atau seseorang?”
”Pun ndalem kagungan cuang*** dipun jagi!””
”Tapi anehnya napa tulisan-tulisanmu romantis ya? Mpe digilai gitu!”
”Ya karena aku romantis kali, bukan korelis tadi!”
”Ndak, kurasa itu trik lu aja untuk menguasai hati orang-orang itu!”

Memangnya iya? Saya nampak sebagai seseorang yang ingin menguasai? Duh, kalau gitu, saya ndak usah punya pasangan saja. Daripada kalau saya kenapa dikit dikira mau menguasai kek yang teman saya bilang.

nb: (ini tulisan dari teman saya itu)
Karakter ini, aktif dan optimis.Pembawaannya pantang menyerah, tegas, dinamis, serta berbakat memimpin, mempunyai kemauan yang kuat, kritis terhadap permasalahan dan selalu menemukan solusi untuk memperbaiki, dan mampu mengendalikan emosi. Dalam bekerja korelis berorientasi pada target, memiliki pemecahan yang praktis, bergerak cepat dalam bertindak, mendelegasikan pekerjaan, berkembang karena saingan dari luar. Biasanya selalu menonjol di antara yang lain dalam keadaan darurat dan genting. Karena selalu mengetahui jawaban yang benar.

.: saya hanya menguasai diri dan tubuh saya sendiri, bukan orang lain…

 
7 Comments

Posted by on May 29, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

Lelaki yang -selalu- saya Cintai

(kumis pak Raden)
Ahai, saya tertawa malu-malu meski tiada seseorang di sekitar saya. Perkaranya sederhana saja sebenarnya. Hanya karena saya menemukan sebuah file lagu yang saya copy dari seorang kawan, ada judul Hitam Manis, Emillia Contesa. Nadanya lembut, seperti ada gaya-gaya Betawi atau Melayu ini saya kurang paham. Saya carilah di google, lagu ini pernah dulu dinyanyikan Bapak saya saat saya ngambek minta coklat dan belum terpenuhi.

Berulangkali saya memutar ulang lagu ini, pilihan lain-lain yang sedianya ingin saya dengar saya pending dulu. Saya senyum-senyum sendiri. Sesekali tertawa lagi. Kepala saya mulai asyik mengikuti lagu ini. Alamak, gila saya.

Tiba-tiba melintaslah satu persatu foto-foto kecil yang pernah menjadi milik saya. Foto gambar senyum malu-malu banyak orang. Teman-teman saya memang selalu hitam manis. Karena saya hitam kali ya? Jadi teman-teman saya hitam semua. Huik…

Saya kangen Bapak. Senyum Bapak saya manis sangat. Kawan-kawan sekolah saya bilang, Bapak mirip Rano Karno. Huaaaaaaaaa. Ada juga yang bilang kek Sophan Sopyan. Ah, ganteng Bapak saya dong. Tahi lalat ada di dagunya. Rambutnya selalu dicukur rapi, disisir dengan sederhana tapi selalu tampan. Bapak siapa dulu dong? Hehehe

Sepertinya Bapak saya tak pernah berubah, seperti batu-batu yang tak menua. Saya suka cemburu –mewakili Ibu- kalau mantan pacar Bapak saya yang kebetulan menjadi tetangga –suaminya seorang polisi di desa saya- suka melintas dan memanggil Bapak saya menggoda. Dih…menjijikkan…
(Pak Raden dan Adip, pacar de Ruli. sama hitamnya kan?)

Ibu saya, yang selalu nampak indah di mata Bapak akan tertawa menggoda Bapak. Bapak akan kesal dan mencium Ibu saya. Aih…mesra betul sepasang kekasih ini di mata saya dan adik-adik saya. Begitulah Bapak, selalu menatap Ibu penuh kasih, pun Ibu.

Pernah, istri teman sekantor Bapak kirim surat cinta pada Bapak –yang lain-lain juga banyak- Tapi duh menyedihkan nasib mereka, surat-surat itu oleh Bapak diberikan ke Ibu. Jadi Ibulah yang membuka amplop dan membaca surat-surat nista itu. Aih Bapak…..

Bapak saya memang tampan, nampak sebagai lelaki yang sederhana dan karib. Tapi begitulah Bapak, hanya pada Ibulah kebahagian lahir di matanya. Saya tak pernah seyakin ini pada seseorang, ya bahwasanya nampak nyata dan jujur belaka bahwa Bapak mencintai Ibu, sebagaimana Ibu yang tulus dan bersetia hanya pada Bapak saja.
SAYA mau suami kek Bapak saya…makanya seringkali pacar-pacar saya suka dibilang mirip ma Bapak. Huehehehe…kamfret…

Sekarang saya tersenyum lagi. Ada seseorang yang hitam manis berkelebatan di pikiran saya. Senyumnya itu, alamak, bikin jantung saya berdebar. Senyumnya selalu manis, bahkan saat dipaksakan sekalipun. Di antara kedua matanya yang kanak-kanak, saya ingin menyembunyikan diri dan mendengarkan lagu ini.

Aku teringat pandang pertama
Hitam Manis
Hitam manis hitam manis
Yang hitam manis
Pandang tak jemu pandang tak jemu
Yang hitam manis pandang tak jemu

Hitam manis hitam manis
Yang hitam manis
Paras mu cantii buah hati ku
Sian dan malam selalu ku rindu

Di waktu bulan terang cuaca aaa…
Ku pejam mata tapi tak lena
Yang hitam manis datang menjelma
Yang hitam manis datang menjelma
Kenangan yang menggoda
Aku teringat pandang pertama

Hitam manis hitam manis
Yang hitam manis
Pandang tak jemu pandang tak jemu
(ini anak yang kurang ajar)

 
12 Comments

Posted by on May 28, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,

gempa hati

Saya sedang menerima telepon dari jauh tadi. Menggeser kursi dengan cepat, berdiri dan berlari ke pintu. Sempat istigfar kok, inget dosa soalnya.

Sudah 3 kali ini dari hari kemarin saya seperti merasa tanah di bawah saya turun. Tapi bumi tidak bergoyang. Tidak ng-rock ataupun jingkrak-jingkrak kek Mulan Jamilah yang sama sekali TIDAK seksi –kalau diem lebih seksi kali ya-. Hanya terasa turun, begitu saja. Saya baru tahu, dari mbak Tami yang biasa memasak buat kami di rumah; kalau kemarin adalah dua tahun terjadinya gempa di Yogya.

Gempa bumi Yogyakarta Mei 2006 adalah peristiwa gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. Menurut catatan dari Departemen Sosial Republik Indonesia, lebih dari 6000 orang meninggal dala gempa tersebut.

Mungkin, lempeng yang bergerak dan menyebabkan gempa dua tahun lalu di Yogya dan sekitarnya sedang merayakan pesta Ulang Tahun juga. Saya merasa sedikit takut -sebenarnya- dinding dalam kamar yang saya tempati sekarang masih meninggalkan jejak yang sangat kentara. Kalau sampai gempa terjadi, wasalam. Dengan mudah tembok itu akan menutup sejarah seseorang.

Saya cepat-cepat mengganti baju saya dengan yang lebih pantas. Lutut masih sedikit berasa aneh dan bahu saya kaku. Tapi saya nyaman-nyamankan diri saya menulis ini dengan cepat, kali-kali saya mati karena jantungan saat gempa datang kan seolah ini sebagai salam perpisahan. Tapi masalahnya, saya akan hidup seribu tahun lagi, kek Chairil Anwar. Saya bukan Soe Hok Gie yang merasa bahagia bila bisa mati muda.

Kalau selir-selir raja di Bali menyisir rambutnya dengan rapi saat akan mati dengan menenggelamkan diri di kobaran api yang akan membakar suami, kekasih tercinta mereka, saya cukup merapikan rambut dan menenangkan diri dengan segera.

28Mei2008

 
3 Comments

Posted by on May 28, 2008 in Puisi

 

Tags: ,

aku kirim kabar


Hi Al,
Apa kabar hari ini? Kuliah lancar? Di sini, beberapa kampus mulai meliburkan mahasiswanya. Sebentar lagi ujian, kurasa begitu. Sudah lama dan hampir lupa menjadi mahasiswa.
Tiba-tiba dan selalu saja membuatku seperti baru, kau menghubungi dengan suara yang sama. Kau baik-baik saja? Apakah kesedihan baru tengah lahir? Semoga tidak.

Aku sedang merindukan seseorang. Dadaku seperti retak. Jemariku serasa patah saat ingin menulis sesuatu tentangnya. Sekarang…Biarkan aku berbagi cerita padamu.

Musim semi akan segera datang bukan? Kembang-kembang dan cerita baru akan lahir. Kabarnya, musim semi adalah musim orang bercinta. Bulan-bulan yang hangat. Tidak dingin juga tidak panas bergelora. Memang begitulah seharusnya, biarkan kasih menjadi hangat tanpa gelora.

Perempuan yang mencintainya di sana akan menyebut palsu kalau aku menyembunyikan kekasihnya dalam diriku. Tapi aku tak ingin berkemas seperti yang seharusnya. Al, mengertikah kau? Cinta telah menenggelamkanku dalam pasir yang paling jahanam.

Sekarang, aku harus menceritakan BBM yang semula 4500 menjadi 6000. Saat minyak tanah dihargai 2500, Al, teman-teman kost harus membayar 3500 untuk satu liternya. Nah, kalau sekarang menjadi 4000 akan menjadi berapa di warung-warung sana?

Ibu-ibu akan semakin sesak bernafas, bukan karena uap nasi yang tanak. Tapi memikirkan tetes demi tetes minyak tanah yang berkurang dengan semakin matangnya sayur yang diolah dan tempe yang digoreng.

Mungkin sudah saatnya, kita belajar menggunakan kaki untuk berjalan -lagi- ke pasar. Berkuda ke kota lain. Akan memperlambat terkurasnya BBM bukan? Nah, kalau butuh terbang dan menyebrangi laut bolehlah sementara masih dengan BBM, sampai kita temukan bahan bakar baru untuk menerbangkan pesawat yang membawa hati dan jiwa ke sebuah kota yang jauh untuk menemui seseorang di luar sana.

Bayangkan jika persedian minyak dan batubara habis? Butuh berapa juta abad dan tulang untuk melahirkan yang baru? Jangan berpikir kiamat dulu. Anak cucu menunggu di balik-balik semak, di gunung-gunung, di karang-karang yang tak terlihat.

Aku rindu seseorang, Al. Yang lahir serupa teman lama meski kami tak pernah berjumpa. Dari matanya yang selalu kukagumi, dia mengijinkanku melihat dunia yang tak bisa kulihat dari mata yang lain. Caranya tersenyum dan berdiam. Caranya ingkar dan menyembunyikan kebohongan. Segalanya adalah kebenaran belaka. Bila kejujuran sampai telat kudengar, itu pasti karena kebenaran memilih jalannya sendiri untuk dikenang.

Al, adakah seseorang yang bisa berpikir dengan lebih sederhana daripadamu menilai suatu kesetiaan? Atau pohon-pohon di depan kampusmu menyimpan nama-nama lain yang tak sudi nampak dengan segera? Kalau saja BBM tak naek Al, aku tak akan meremukkan belulangmu menjadi serupa abu untuk menghangatkan perapian saat malam menjadi sunyi dan dingin.

Al, bisakah sekali lagi kau nyanyikan untukku sebuah lagu tentang senyum tanpa dusta?
Malam ini terasa sunyi, melebihi malam-malam sebelumnya. Aku sembunyikan diriku di sebuah kamar hotel yang sempit tanpa siapapun. Memutar televisi tanpa tahu apa acara yang sedang berlangsung. Menghangatkan bath-up dan mempersiapkan diri untuk terbenam di dalamnya bersama buih dan wangi yang senang kusentuh.

Dua jam yang lalu aku diantar roomboy yang tersenyum. Meski aku tahu dia peduli pada motornya yang akan merengek kalau bensin tak terbeli. Sendirian begini, selalu membuatku merasa dicintai kekasih. Di dalam kamarku yang tak lebih dari 3 km dari tempatku sekarang menghadap layar putih dan menuliskan ini, menyimpan rahasia dimana aku sekarang akan terjaga. Aku memang selalu sendirian. Benar.

Selamat malam Al….salam sayang selalu.

 

Tags:

Lelaki itu Mati

Mas, kau lupa memanggang ayam untukmu sendiri
sebelum pergi.
kau lupa mencuci piring dan menggoreng udang kali
ayam di kandang akan kehilanganmu
air sumur sudah 20 meter lebih dalamnya
siapa yang akan menggunakannya setelah kepergianmu?
kalau ke kuburan, siapa yang akan mengantar?
saat menangis di kubur kakak siapa yang menemani?
kau kira bijakkah pergi? tunggulah
semoga aku berangkat lekas.

Begitu adek saya bilang, “Mas Sugeng meninggal. Mau kondur tidak? Kata Ibu, kalau ndak pulang ya ndak apa-apa” Saya seperti tak kaget lagi. Malam sebelumnya dia sudah mengatakannya pada saya dalam mimpi.

Mustinya saya memanggilnya Paklik, karena dia adek Ibu saya. Tapi sejak kecil saya terbiasa memanggil adek-adek Ibu dengan sebutan Mas dan atau Mbak. Tapi paklik saya satu ini berbeda, sangat berbeda dengan bulik dan paklik yang lain.

Dia paling bodoh di antara yang lain. Lahir sewaktu kondisi keluarga sedang dicekam perkara PKI yang berkepanjangan. Satu persatu tanah hilang, rumah kebanggan berpindah tangan. Begitu kabarnya.

Oiya, tentang ketidakkagetan saya. Malam sebelumnya, kemarin malam artinya, saya bermimpi sedang berkumpul di rumah Simbah. Orang ramai berkumpul dan beberapa sibuk memanggang ayam. ”Mimpi makan ayam tidak baik, ada yang mau meninggal.” Begitu dulu Ibu saya pernah bilang. Mungkin ini memang kebetulan, setelah berbulan-bulan saya tidak pernah melihatnya.

Terbangun dari mimpi itu, saya bicara pada kawan dekat saya, ”Mas, saya mimpi, dan kurasa besok mas Sugeng meninggal setelah Magrib.” Kenyataannya memang itu terjadi. Atau sebenarnya perkataan saya ini sebagai salah satu doa, agar mas Sugeng meninggal? Ah tidak.

Dua tahun terakhir, kondisi kesehatan mas Sugeng memburuk. Mal praktek yang dilakukan sebuah laboratorium membuat kesehatannya memburuk. Tahun terakhir, tepatnya selepas lebaran kemarin, dia sudah tidak bisa berjalan, hanya berbaring di atas ranjangnya. Kemudian dia tidak lagi bisa bersuara.

Saya sedih, tapi sekaligus berharap Tuhan segera memudahkan jalannya. Dulu, sewaktu masih kecil, dia suka mencarikan saya udang di balik batu-batu kali dekat kuburan yang kelak menjadi rumah terakhirnya. Kalau mangga di kebun Simbah matang, sayalah keponakan yang diingatnya.

Kalau saya maen ke rumah Simbah, dia juga yang dengan senang hati membuatkan sambal bawang yang bahkan Ibu saya tak bisa menandingi kelezatannya. Tempe goreng dan ayam panggang buatannya sampai sekarang tidak ada yang bisa menandinginya. Maka tak heran, dia selalu mengiming-imingi saya ayam panggang kalau mau pulang ke Ngawi sewaktu masih SMU (di Yogyakarta).

”Rin, sok mben aku melu kowe ya?” dia tidak bisa memanggil Lin, meski selalu saya ingatkan.
”Melu piye?”
”Nek mbahe mati, aku melu kowe, ning bojomu oleh gak?”
”O, mesti oleh, nek gak oleh tak pegat. Aku golek bojo sing sayang sampeyan wae.”
”Tenan lho Rin.”
”Iyo.”

Tapi ternyata, belum sempat juga saya membuatkan kopi hangat untuk dia, dia sudah pergi, bahkan sebelum Simbah putri sedo.

Saya sengaja tak pulang. Saya rasa mas Sugeng tahu mengapa saya tak pulang. Saya sudah berjanji akan mengirim doa dengan cara sendiri untuknya. Kalau waktunya tiba, saya juga akan ke kuburnya, sebelum saya sendiri dikuburkan di kuburan yang sama.

Mas Sugeng tidak pandai. Tapi dia tidak pernah menyusahkan orang lain. Bahkan selalu memudahkan seseorang untuk mencapai sesuatu. Saat dek Ruli kecil bermain holahop sepanjang 3Km tanpa berhenti, dialah yang menemani dari pemberangkatan dan pemberhentian karnaval. Demikian, saya tahu sayalah keponakan yang paling dikasihinya. Sekarang, dia sudah mengenakan kain kebesaran, menemui Bapaknya, menunggu malaikat mengetuk pintunya.

Kalau saya pulang ke Ngawi, tak akan ada lagi tawa yang sama yang menyambut saya. Kalau saya ke kuburan, untuk mencabuti rumput kubur kakak laki-laki saya, tidak akan ada lagi yang menemani. Maklum, kedua adek saya, hampir tidak pernah ke kubur kakak saya. Saya kira keduanya merasa tak memiliki kakak selain saya. Kalau saya mau makan ayam panggang, tak akan ada lagi yang seenak olahan mas Sugeng.

Kalau seharian tadi saya seolah tak bersedih, sekarang mengingat itu semua ada yang berat menimpa saya. Saya pernah berjanji pada mas Sugeng untuk mengajaknya tinggal di rumah saya kelak. Sekarang, dia sendiri yang tak mengijinkan saya untuk menepati janji itu padanya.

Saya tahu, dia akan pergi malam tadi….Saya tahu pasti. Saya tak menangis, karena saya tak ingin menganggapnya mati!!!

Yogyakarta, 21mei08

 
17 Comments

Posted by on May 21, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,

Perempuan yang Menjadi Selebritis

Perempuan yang Menjadi Selebritis

Sekarang aku sangat berterimakasih pada siapapun yang telah mencintainya dan bersedia menerimanya sebagai suami ataupun selingkuhan.
Aku hanya ingin menjadi pelacur. Bercinta dengan tiga orang perempuan sekaligus. Bersetubuh dengan tiga laki-laki sekaligus. Kenyataannya aku telah berhasil membunuh dua perempuan dan satu laki-laki dalam hatiku!
(Sebuah Cinta yang Menangis: 16)

Tokoh yang mengucapkan kalimat itu Farlyna namanya. Perempuan dewasa, mapan, cerdas, memiliki daya tarik yang seolah selalu siap untuk membuat lawab bicaranya jatuh cinta. Farlyna, menjanjikan mimpi dan impian. Tak sedikit yang kemudian patah hati dan memutuskan pergi.

Tapi begitulah, ada saatnya kemudahan itu justru berbalik menjadi senjata. Saat dia kembali pada agama yang dipilihnya dengan mencintai seorang suami perempuan lain. Jelas, itu sesuatu yang sangat dihindarinya. Tapi rupanya ‘peta cinta’ tidak cukup membantunya melepaskan impian yang dimilikinya pada suami perempuan lain itu.

Lantas benarkah dia ingin menjadi pelacur?
Mungkin sampai kini, pelacur tampak seperti anti-tesis cinta. Sesuatu yang dijauhi. Yang memuakkan bagi banyak orang sekaligus didambakan oleh beberapa yang lain.

Dari hetairae pada Zaman Yunani kuno, hingga raja-raja (Jawa?) abad tujuh belas, pelacur sudah lama menjadi objek cinta bahkan sesuatu yang diinginkan. Konsep Geisha di Jepang, bagaimanapun orang melihatnya sebagai perempuan seniman, pada akhirnya lelang mizuage hampir tak memiliki perbedaan yang signifikan dengan pelacur. Para geisha magang akan diajari oleh kakak angkatnya cara melirik, cara berjalan, cara menari, dan memperlihatkan selembar kulit ranum mereka dari balik kimono yang mereka kenakan.

Mereka menemani laki-laki di rumah-rumah teh. Memberikan kenikmatan dunia luar rumah bagi para laki-laki yang royal membagikan uang dan bosan pada lembarang kulit yang dikawininnya. Ini tentu saja bukan perihal mencoba menilai dan memberikan penilaian bahwa geisha lebih tinggi atau lebih rendah dari pelacur. Baiklah,mungkin geisha adalah pelacur sejati tradisional yang lebih dari sekedar cantik di Jepang. Oiron atau pelacur senior adalah perempuan berpendidikan tinggi, terlatih dengan baik dalam hal musik, puisi, dan tentu saja seni bercinta.

Maka tak heran, pada jaman Yunani banyak pelacur yang menginspirasi para filsuf, pemahat, seniman dalam menciptakan karya besar mereka. Kabarnya, para pelacur ini mengajari mereka perihal cinta dan keluhuran. Bandingkan dengan pelacur sekarang? Ini bukan perihal dosa dan tidaknya melacurkan diri. Tapi alih-alih meminjam konsep teman-teman LSM yang konsen mendampingi teman-teman PS (Pekerja Seksual) yang mengatakan ini sebagai sebuah profesi.

Bagaimana degan Marea Magdalena? Perempuan dari Magdala itu? Begitu bangganya dia berhasil membuat Yesus melirik padanya (entah kagum, sayang, kasih, hormat. mana ane ngarti) dengan permainan musiknya. Mereka (Marea dan kawan-kawannya) menari, yang oleh orang-orang Farisi dianggap kerasukan tujuh roh jahat. Serupa perwakilan iblis, mereka dicaci. Begitu Marea membasuh kaki Yesus dengan rambut ikalnya yang hitam serta minyak yang wanginya membakar kecemburuan banyak laki-laki, disebutlah Marea pelacur. Meski banyak dari Umat Katolik yang menyangkal itu juga, “Tak ada satupun ayat yang menganggap Magdalena pelacur.”
(perihal perempuan yang membasuh kaki Yesus ini, juga belum jelas, apakah dia Marea dari Magdala atau yang lain.)

Namun, sampai sekarang Marea Magdalena dikenal sebagai pelacur paling terkenal sepanjang jaman. Linus Suryadi AG yang kebetulan beliau juga seorang Romo begini menulis sebuah puisi “Maria dari Magdala” yang sepenggalnya berbunyi;

Saya, Maria Magdalena,
lonte.
Tujuh setan nunggang kemolekan tubuhku.
Bibir, perut, penthil, dijilatinya pahaku.
Bahkan gawukku diubeg-ubeg komplit.
terbakarlah urat saraf dan jiwaku.
Tapi Ia berkata:
“Aku tak menghukum kamu. Malahan aku jatuh kasmaran. Tapi imanku menyelamatkan. Pergilah kamu dengan akal sehat.”

was taken by Forysca

was taken by Forysca

Bersama Wahid Eko, teman kuliah saya, saya sering membaca puisi ini dalam beberapa pentas teater. Wachid menjadi Yesus. Saya menjadi Marea Magdalena. Dan saya senang lantang menyebut; Marea Magdalena!

Yang terkenal lagi dan bangga pada dirinya adalah si Carmen-nya Bizet, Don Juan wanita. Dia adalah sosok ganas dan misterius. Dengan sensualitasnya yang bebas, dan kecantikan ragawinya serta kecermelangan otak, dia harus membayar semua itu dengan nyawanya. Tragis!

Dan di antara para pelacur terkenal yang menjadi selebritis di jamannya, ada juga TULLIA d’ARAGONA yang dikenal di kalangan cortegiane,di Italia pada jaman Renaisans. Dia seorang perempuan yang tulisan-tulisannya menawan hati banyak lelaki. Dan tentu saja, juga matanya yang nakal meluluhlantakkan hati mereka yang menatapnya.

 
21 Comments

Posted by on May 19, 2008 in Essay

 

Tags: , , ,

stasiun di antara kereta -Bima-, 8

Apakah aku nampak tak baik-baik saja?
Apa aku nampak tak lagi bernyawa?

1.
Saya melihat penumpang kereta Bima itu turun dari dalam kereta. Tak ada kehidupan dalam jiwanya. Tapi tidak juga derita. Serupa langit yang sederhana saja perempuan itu menghampiri saya dan bercerita.
”Mengapa tak jadi berangkat?”
”Pernahkah tidak saat saya belum berkata iya.”
”Lho, saya pikir sampeyan mau naek Bima ke sebuah kota.”
”Saya butuh secangkir kopi, dan sebatang rokok, maukah berbagi dengan saya?”

Saya lantas menuju kantin stasiun, mencari sebungkus rokok dan secangkir kopi panas, seperti mau dia. Saya iba padanya, bagaimanapun dia mencoba terlihat manis, dia masih nampak teramat letih. Adakah seseorang merebut jiwanya?

Bukan mungkin lagi, tapi dia memang pecah. Saatnya berangkat mulai diperhitungkan dengan cepat. Belum sempat diterimanya kau sebagai kekasih, dia sempurna mengucapkan selamat tinggal. Kau telah nampak seperti seseorang yang mengucapkan SELAMAT JALAN baginya.

Sekarang dia ingin bersembunyi dari pagi. Dadanya terlanjur retak. Dia butuh waktu sembunyi dalam pot bunga yang kau kirimkan. Dia merasa tak seharusnya tumbuh dalam pot yang pernah kau pakai menanam kembang lain. Apakah bungamu sudah mati? Tentu belum. Jadi ada apa sebenarnya? Bisakah kau yang menjelaskannya?

Apakah dia hancur? Atau sungguh pecah? Kau temukankah sisanya? Berdiri dia menunggu dirinya sendiri, bukan kau. Seharusnya kau pulang pada kembang yang lama kau tanam dan siram. Bukan padanya yang belum tentu menjadi. Sungguhpun dia mulai ragu pada keinginannya sendiri.

Kalau kau lihat asap membumbung tinggi. Di sanalah dia membakar dirinya serupa mestia. Tapi tak disisirnya rambut yang tergerai. Dijauhinya bedak dan pemerah bibir. Dia tak ingin sempurna. Apakah dia nampak pucat? Bibirnya memang biru, bukan karena perpisahan. Tapi begitulah hari berjalan dan kesuciannya terjaga. Hati yang terjaga. Yang sama….

Dia tak menangis. Berkaca-kacapun tidak. Tapi terdiam begitu, membuat saya ingin memeluknya. Sekarang sebagai seorang aku, tak bisa tidak saya harus memeluknya selagi sempat. Meski saya tahu dia tak membutuhkannya. Dia terbiasa bisa dengan sendiri bukan? Kau sedang apa di kota sana? Menata hiasan dinding? Mengecat ulang rumahmu? Atau mengganti sprei dan pewangi ruangan?

Tahukah kau? Dia terlalu pandai berpura-pura untuk nampak baik-baik saja. Dia ingin bersembunyi dari mimpinya. Sepi yang menyergap, hadir serupa bayanganmu yang semakin jauh. Meski dia tahu kau tak pernah benar-benar sendiri. Tapi begitulah dia enggan melepas semua lamunan dan impian.

2.
Mas, Amerika itu letaknya di bawah kursiku ini. Tepat dimana aku duduk terdiam begini. Kalau di sini siang, di sana sedang malam. Kalau aku sedang terjaga begini, sampeyan sedang lelap menjaga mimpi. Tak pernah sama bukan? Memang begitu, kita bertemu sebagai pecundang. Jadi biasa saja kalau berakhir dengan sebuah kekalahan baru.

Di pagar Mas, ada empat burung kecil. Salah satu dari mereka nampak seperti seseorang yang menangis. Bulu-bulunya berdiri, dan suaranya tak seperti yang lainnya. Sementara yang lain sibuk berkicau, dia sibuk menata deritanya sendiri.

Mungkin Mas, ketiga temannya itu sibuk membicarakan rumput yang mulai kering. Atau seluruh buah srikaya yang kering di pohon samping mereka. Aku tak yakin, sibuk memperhatikan si burung kecil yang meratap itu. Baru pagi tadi dia bertengger di pagar itu.

Oiya Mas, sekarang mendung. Padahal tadi terik sangat. Bahkan terasa menyengat meski AC kunyalakan dan di luar angin kencang. Begitulah, cuaca sering berganti. Terlalu cepat dan mudah bahkan. Entah.

Jangan bertanya apa-apa. Aku tak terbiasa menjelaskan bila sedang begini. Karena penjelasan hanya akan mengundang pertanyaan baru. Lebih mudah bagiku diam dan menjaga segala hal sendirian. Tak bisakah ini dipahami dengan lebih sederhana? Memang bagitulah seharusnya bukan? Oiya, aku terserang amnesia mendadak. Lupa sampeyan tadi cerita apa…

Yogyakarta,15mei08

 

Tags: ,

Sejauh Utan Kayu

.: saya seperti salah menulis ini

Ada seorang teman dari jakarta, dia bertanya pada saya. “Hei, gimana yogya? sudah berbaikkan dengan Utan Kayu?”
“Ha? maksudnya?”
“Kampungan sekali kalau ribut seperti itu, tak ada bedanya ma politikus.”
“Ha? saya tidak paham maksud sampeyan. Well, sebenarnya dengar, tapi saya bukan termasuk bagian dari itu.”
“Kau kan sastrawan!”
“Bukan.”
“Menulis novel dan puisi juga cerpen, itu apa namanya?”
“Hobi nulis aja.”
“Mengamankan diri?”
“Terserah sampeyan. Yang ribut-ribut itu orang pinter. Orang besar, atau merasa besar? Saya kurang paham.”
“Hahahaha. Penulis kita satu ini aneh.”
“Saya seorang penulis, tugas saya menulis, bukan bergosip sastra gosip.”
“Wah sastra gosip?”
“Hahahaha.”
“Bagaimanapun sebenarnya, mau tak mau kau juga musti terlibat dong. Ini masalah masa depan sastra.”
“Masa depan? sastra? atau diri sendiri? bagi yang berseteru?”
“Orang Yogya aneh.”
“Saya lahir dan besar di Ngawi. Memang tinggal di Yogya sementara ini. Kalau sudah begini, mengapa sampeyan sebut aku orang Yogya. Yang Yogya dan bukan siapa yang tahu? Hehehe, saya orang Indonesia sajalah.”

Memangnya kenapa dengan Utan Kayu? dan siapa yang berseteru? mungkin saya memang tahu, pernah dengar tepatnya. Tapi saya memang tidak tahu -benar- apa yang terjadi. Mungkin memang tak ingin tahu, mungkin juga pura-pura tidak tahu.

Memang saya tidak tahu apa-apa. Dan tidak merasa harus ikut-ikutan tahu. Sekedar mendengar sih tak apa. Mungkin bisa jadi bahan ajar untuk bisa lebih baik dari suatu titik pencapaian yang ada. Mungkin bisa untuk memperbaiki diri bersifat lebih arif dan lain-lain.

Mungkin terkesan pecundang. Tapi siapa peduli? Katakanlah saya memang penulis. Katakanlah saya memang sastrawan, tapi saya rasa itu bukan legalitas untuk saya ikut campur urusan orang besar.

Utan Kayu besar dengan caranya sendiri. Yang mungkin sedikit kurang suka dengan mereka juga -bisa saja- tengah berupaya membesarkan diri. Kalau cara-cara -Utan Kayu- yang ditempuh kurang disukai banyak orang, ya itu perihal lain. Saya rasa, kalau ada banyak yang tidak suka, itu juga tak lantas begitu saja apa yang dilakukan Utan Kayu salah.

Taruhlah ini semacam permainan marketing. Memperkenalkan seorang penulis misalkan, dan lantas si penulis menjadi besar. Ya itu pilihan, bertahan atau tidak ya itu urusan si penulis ‘itu’.

Saya ingat, seorang teman saya yang sekarang bekerja di sebuah koran nasional bicara, “Ayu Utami menjadi seperti sekarang karena GM, Dee karena Tommy F Awuy, Stefanny dan Fira Basuki karena Budi Darma, Djenar Maesa Ayu karena Sitok Srengenge.” Saya bisa karena kalian semua. Itu saja, cukup!

Oh tiba-tiba saya ingat karib-karib saya Wachid Eko Purwanto, Dadang Afriady, Thomas Ari Wibowo, Sri Suprapti, merekalah yang menemani saya melalui banyak hal.

 
11 Comments

Posted by on May 14, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,

Malam Bersama GIE

.: tak cukup berhenti di Malam Untuk Soe Hok Gie

semalam saya bermimpi, bermain ke sebuah rumah. si pemilik rumah mengaku orangtua Soe Hok Gie. dalam sebuah kamar yang semula kosong, nampak sebuah ranjang dengan sprei kusut masai berwarna putih. pada beberapa bagian nampak terkena karat yang memudar. di samping ranjang ada sebuah meja kecil yang berdebu dan penuh buku. sebuah buku terbuka seolah ditinggalkan pemilik sebelum selesai dibaca.

saya tak berani memasuki kamar itu. hanya berdiri saja di luar memperhatikan seluruh isi ruangan yang memudar cat putih di dindingnya. mengapa saya tak berani masuk? dalam mimpi itu saya ingat bahwa Gie telah mati di puncak Semeru. kabar yang beredar, dia terkena gas beracun Semeru. yang lain mengatakan itu spekulasi Angkatan Darat untuk mengubur satu otak dengan cepat.

saya tak mau sunyi, sekalipun hanya di dunia mimpi….

saya lantas ingat catatan harian milik Gie yang pernah diterbitkan. membaca lembar-lembar gelora seorang Gie. pada bagian-bagian tertentu nampaklah dia begitu asing, ini yang saya suka.

Gie bergelimang cinta sekaligus terbuang. ada saatnya dia mencintai. tapi pada saat bersamaan dia seperti diasingkan oleh perasaannya sendiri. kadang-kadang saya merasa, Gie tak pernah benar-benar mencintai seseorang selain dirinya sendiri.

saya sendiri tak tahu mengapa saya bermimpi tentang Gie. sekarang saya ingat, saya terbangun malam tadi dan tertidur lagi. memimpikan seseorang yang lain lagi, kali ini seorang teman jauh.

Gie menemukan harapannya; mati muda. sungguhkah itu benar kemauannya? seperti kemauan seseorang siang ini yang mengatakan banyak hal pada saya? entahlah. Tuhan saja barangkali yang tahu.

saya memang tak peduli. seperti seorang pemburu, saya sudah lama menggantungkan senapan sampai berkarat. seperti seorang penulis, saya sudah menjauhkan tinta dan kertas-kertas dari meja saya. saya hanya mau diam. menjalani semua seturut perintah alam.

saya pernah menulis tentang Gie. sekarang saya harus membacanya lagi…kali-kali saya menemukan tanda baru dari situ. bahwa perjuangan hidup tak bisa berhenti pada satu romansa kecil. Gie pernah melakukannya…saya rasa.

Gie, bisakah kau tak terus berpura-pura mencintai?

Ada Maria, ada Nining, ada siapa lagi yang lain. Saya hanya punya Kalsita untuk Gie. melahirkannya serupa maut yang menjemput. kenyataannya, saya tak pernah yakin apakah bila berumur panjang, Gie akan tetap bisa berpura-pura mencintai seseorang.

selamatkanlah dirimu selagi sempat….

memang rasanya tak enak, berpura-pura mencintai. sebaliknya, rasanya tak enak sangat berpura-pura tak peduli dan tak membutuhkan. Gie bagi saya serupa sebuah cerita yang tak tuntas. seperti buku terbuka yang nampak dalam mimpi saya semalam. begitulah….kelahiran baru hanya berarti sebuah kematian siap berpulang. tapi bagaimanapun juga, Soe Hok Gie tak berhak memberi saya mimpi, malam tadi.

yogya, 6mei08

 
5 Comments

Posted by on May 6, 2008 in Puisi

 

Tags: ,