RSS

Semacam Pengantar: Tentang Bidadari di Kampung Saya

21 Jun

Caos Dhahar untuk Keselamatan Walikukun

Any attempt to speak without speaking any particular language is not more hopeless than the attempt to have a religion that shall be no religion in particular . . . Thus every living and healthy religion has amarked idiosyncrasy. Its power consists in its special and surprising message and in the bias which that revelation gives to life. The vistas it opens and the mysteries it propounds are another world to live in; and another world to live in—whether we expect ever to pass wholly over into it or no—is what we mean by having a religion. SANTAYANA, Reason in Religion

Membaca Ngawi
Ngawi, sebuah kabupaten di ujung propinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan propinsi Jawa Tengah. Konon, nama Ngawi berasal dari kata “awi” atau bambu yang kemudian mendapat imbuhan “ng” menjadi Ngawi. Menurut catatan yang menjadi dasar kelahiran kabupaten ini dari penelitian benda-benda kuno, menunjukkan bahwa di Ngawi telah berlangsung suatu aktifitas keagamaan sejak pemerintahan Airlangga dan rupanya masih tetap bertahan hingga masa akhir Pemerintahan Raja Majapahit.

Fragmen dan model percandian menunjukkan sifat ke”Siwa”an yang erat hubungannya dengan pemujaan di dan untuk Gunung Lawu, Girindra. Pergeseran mulai terjadi dengan masuknya pengaruh Islam dan budaya Eropa, khususnya Belanda, yang sampai saat ini masih bisa ditemukan kuburan-kuburan Belanda yang menyatu dengan rumah penduduk, khususnya di desa Walikukun. Terlepas dari semua itu, Ngawi memiliki peranan cukup penting terkait posisi geostrategis yang dimilikinya.
Berdasarkan peninggalan benda-benda kuno dan rekaman sejarah dapat dicatat beberapa hal yang pada perjalananya nanti akan menjadi modal narasi selanjutnya perihal perkembangan agama yang terjadi di hampir seluruh desa di Ngawi. Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman pemerintahan raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280). Sebagai Daerah Narawita Sultan Yogyakarta dengan Palungguh Bupati – Wedono Monconegoro Wetan, tepatnya tanggal 10 Nopember 1828 M (tersebut dalam surat Piagam Sultan Hamengkubuwono V tertanggal 2 Jumadil awal 1756 AJ). Ngawi sebagai Onder-Regentschap yang dikepalai oleh Onder Regent (Bupati Anom) Raden Ngabehi Sumodigdo, tepatnya tertanggal 31 Agustus 1830.

Nama Van Den Bosch berkaitan dengan nama ”Benteng Van Den Bosch Di Ngawi, yang dibangun pada Tahun 1839 – 1845 untuk menghadapi kelanjutan Perjuangan Perlawanan dan serangan rakyat terhadap penjajah, diantaranya di Ngawi yang dipimpin oleh Wirotani, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diketahui dari buku ”De Java Oorlog” karangan Pjf. Louw Jilid I Tahun 1894 dengan sebutan (menurut sebutan dari penjajah) : ”Tentang Pemberontakan Wirotani di Ngawi.”
Prasati Canggu yang merupakan sumber data tertua, digunakan sebagai penetapan hari jadi Ngawi, yaitu pada tahun 1280 Saka atau pada tanggal 8 hari Sabtu Legi Bulan Rajab Tahun 1280 Saka, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1358 Masehi (berdasarkan perhitungan menurut Lc. Damais) dengan status Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira Pradesa. (http://www.kotangawi.com/).
Masuknya budaya Eropa dengan ajaran agama besar yang dibawa tidak begitu saja menghapus agama yang erat kaitannya dengan magi di Ngawi. Salah satu yang bisa dilihat tentang perjalan magi di Ngawi adalah di desa Walikukun, Widodaren.

Perihal nama Walikukun sendiri sebenarnya menimbulkan spekulasi tersendiri bagi masyarakat setempat. Sebagian orang mengatakan bahwa Walikukun berasal dari sebuah nama pohon yang bentuknya mirip dengan pohon jati. Kedua adalah, keyakinan bahwa di sekitar abad 14 atau 15 ada seorang wali yang melalui dan tinggal sejenak di daerah Kukun. Sampai kemudian daerah ini disebut Walikukun.

Caos Dhahar pada Mbok Rondo Ireng
“Let us, therefore, reduce our paradigm to a definition, for, although it is notorious that definitions establish nothing, in themselves they do, if they are carefully enough constructed, provide a useful orientation, or reorientation, of thought, such that an extended unpacking of them can be an effective way of developing and controlling a novel line of inquiry. They have the useful virtue of cxplicitness: they commit themselves in a way discursive prose, which, in this field especially, is always liable to substitute rhetoric for argument, does not. Without further ado, then, a religion is: (1) a system of symbols which acts to (2) establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by (3) formulating conceptions of a general order of existence and (4) clothing these conceptions with such an aura of factuality that (5) the moods and motivations seem uniquely realistic.” (Geertz, 1993: 90-91)

Mudahnya penerimaan masyarakat Jawa pada Hinduisme dan Buddhisme yang mungkin saja karena memiliki banyak kesamaan dengan spiritualisme kuno Jawa Pra-Hindu. Melihat konsepsi dasar Jawa mengenai dunia gaib yang didasarkan pada ide bahwa segala yang nampak dalam kehidupan disebabkan oleh makhluk berfikir dan berkepribadian dimana mereka memiliki kehendak dan tujuan
Roh-roh yang disembah oleh orang Jawa pada umumnya disebut hyang atau yang yang berarti tuhan. Tak mengherankan kemudian ada kata sembahyang dan danyang. Tentu saja, perihal danyang masih banyak diyakini oleh masyarakat Jawa, dimana mereka menganggap bahwa setiap desa memiliki roh penjaga sendiri yang biasanya tinggal di pohon-pohon rindang, beringin misalnya.

Masyarakat setempat membayangkan dan berpikir bahwa roh-roh itu berasal dari orang-orang suci atau penguasa di masa lalu yang mendatangi desa mereka jauh sebelum mereka sendiri lahir di desa tersebut. Karenanya tradisi ngalap berkah atau meminta berkah perlindungan dan keselamatan atas seluruh hajat dan niat yang hendak diselenggarakan dari danyang-danyang yang dianggap menjadi penjaga desa setempat.

***Perihal Keduanya
Mbok Rondo Ireng, menurut cerita yang berkembang adalah istri seorang raja kecil yang melarikan diri karena hendak diperistri patih Galigajaya, saat suaminya bertugas keluar daerah. Dia memiliki tiga orang anak yang ikut serta dalam pelarian, yaitu: Kencana Wulan, Hariyanti, dan Gandana.
Kencana Wulan pada akhirnya mati karena perahunya terguling, sampai sekarang perahunya masih ada di bawah sebuah jembatan di desa Walikukun yang saat itu hendak melarikan diri karena patih Galigajaya berhasil menemukan dia yang sudah menikah dengan pak Kunti. Daerah itu saat ini disebut Kedung Perahu. Hariyanti yang masih gadis sudah mati terlebih dulu dengan menceburkan diri ke sungai yang saat ini dikenal dengan nama Kedung Perawan.

Patih Galigajaya pada akhirnya menguburkan jenasah Kencana Wulan di tempat yang tidak jauh dengan kuburan ibunya, Mbok Rondo Ireng. Karena dia memiliki penyakit kuning, karenanya Kencana Wulan dikenal dengan nama Mbok Rondo Kuning.

Sebagian masyakarat ada yang mengatakan bahwa Mbok Rondo Ireng masih berkerabat dekat Aryo Bangsal, anak raja Majapahit atau lebih dikenal dengan Joko Gudik, karena memiliki banyak gudik, di tubuhnya. Aryo Bangsal ini adalah calon menantu Ratu Puan yang kerajaannya ada di gunung Lir-Liran, salah satu anak gunung Lawu, yang sampai saat ini, reruntuhan kerajaannya masih dapat ditemukan di gunung Lir-Liran.

Simbol-simbol dari kepercayaan bahwa Mbok Rondo Ireng adalah penjaga desa Walikukun ini nampak dari representasi perayaan dan situs-situs yang masih terjaga. Seperti pagar suatu tempat yang diyakini sebagai tumbuhnya pisang emas pupus cinde. Arca Mbok Rondo Kuning dan Mbok Rondo Ireng. Karena dianggap daerah yang banyak didatangi oleh putri dan ratu yang cantik inilah, Walikukun juga dikenal dengan nama Widodaren dari kata widodadri, bidadari.. Dalam kepercayaan Hinduisme selain percaya kepada dewa, masyarakat Jawa juga percaya pada dewa dan kepada widadari (bidadari) yang berasal dari Hinduisme. Sangat mungkin ini juga terkait dengan hal ini. Meskipun saat ini, tepatnya sejak tahun 2007, Widodaren menjadi nama kecamatan dan Walikukun menjadi salah satu desa di dalamnya

Rumah Mbok Rondo Ireng adalah sebuah rumah yang dinding-dindingnya berasal dari gedek (anyaman bambu) yang apabila hancur oleh usia akan diperbarui dengan gedek yang lain. Dari dalam rumah itu tumbuh pohon beringin menembus atap rumah yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya sang Mbok. Selain pohon beringin tersebut, di dala rumah juga ada arca si Mbok yang entah berasal dari tahun berapa.

Kalau melihat rekam sejarah, dimana Ngawi dianggap sebagai daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman pemerintahan raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358 Masehi, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280). Tradisi yang berjalan setelahnya nampak sangat dipengaruhi oleh Hindu Siwa.
Pernah diceritakan seorang tentara yang berperang melawan Belanda suatu hari menebas arca Mbok Rondo Kuning sampai kepalanya lepas, dua hari setelah itu sang tentara meninggal tertembak di lehernya tak jauh dari keberadaan rumah si Mbok Rondo Kuning. Saat ini nama tentara tersebut dijadikan nama jalan di seberang rumah Mbok Rondo Kuning, jalan Sukatminaris.

***Membaca Ngalap Berkah
Sampai saat ini, di rumah Mbok Rondo Ireng selalu diadakan perayaan atau ngalap berkah. Perayaan ini diadakah setiap tanggal 1 di bulan Sura. Mereka yakin, dengan menyediakan buceng kambing (normalnya ayam) akan membuat hati si Mbok merasa senang dan tetap menjaga serta melindungi desa dari seluruh bencana.

Dalam perayaan itu, akan digelar wayang tengul. Perayaan dimulai pagi hari dan selesai sore hari. Dipimpin oleh seorang dukun perempuan yang berdandan dengan menggunakan kebaya lengkap dengan sanggulnya. Dukun ini adalah juru kunci dari rumah Mbok Rondo Ireng. Apabila dia meninggal, salah seorang anak perempuannya akan menggantikannya sebagai juru kunci dan sekaligus menjadi pemimpin setiap ritual yang dilaksanakan di pepunden tersebut.

Segala sesaji disiapkan dengan cara yang terlampau hati-hati. Dari segala jenis kembang, makanan dan alat-alat lain. Meskipun menurut cerita, Mbok Rondo Ireng tidak lebih galak dibandingkan anaknya, Mbok Rondo Kuning, akan tetapi rasa hormat membuat mereka lebih banyak terdiam saat acara berlangsung.

Sepulang dari ngalap berkah, orang-orang akan merasa tenang karena telah menunaikan satu perayaan untuk menyenangkan hati Mbok Rondo Ireng. Menjamasi setiap pusaka milik mereka dan merencanakan niat-niat dan hajat di setahun ke depan.

Meskipun ngalap berkah sudah diadakan setiap tahunnya, masyarakat di Walikukun musti selalu caos dhahar (memberi makan) ke rumah Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning saat mereka memiliki hajat. Seperti menikahkan seorang anak, khitan dan hajat-hajat lain. Karenanya di tahun-tahun terakhir masih ada ditemukan anak-anak sekolah yang mengantarkan sesaji ke rumah Mbok Rondo Kuning dan Mbok Rondo Ireng sebelum ujian nasional diadakan.

Rasa tentram yang mereka dapatkan membuat diri merasa yakin dan percaya akan dimudahkan dalam melaksanakan hajat dan kemauannya. Semangat dan rasa percaya diri membuat orang menjadi lebih santai dalam menghadapi sesuatu karena merasa ada “the other” yang menemaninya untuk menjadi pemenang.

Ngalap berkah dan simbol-simbol serta sarana yang mengiringinya memberikan gambaran tentang cara pemaduan antara kepercayaan masyarakat di Walikukun yang animis dan Hindu Siwa yang membentuk konsepsi pokok sebuah desa. Jika seseorang ingin merayakan atau mengeramatkan peristiwa apapun yang berhubungan dengan upacara perseorangan atau jika ia hendak memperoleh berkah dan perlindungan, maka perayaan harus diadakan.

Sebagin orang bisa saja berpikir di sinilah peran Islam masuk dalam ambivalensi masyarakat memandang Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning. Peng”jin”an sang Mbok pada sesuatu yang bisa menjadi antagonis. Bagaimana mungkin seorang pelindung desa bisa menjadi perusak dan pendatang bencana? Sebab jin baik akan selalu baik dan jin jahat akan selalu jahat. Tidak bisa jin yang sama melakukan dua hal yang bertolak belakang. Saya cenderung mengira bahwa ini justru internalisasi dari Hindu Siwa pada masyarakat di Walikukun.

Siwa adalah dewa cinta kasih, dia adalah dewa yang selalu nampak sebagai dewa yang memancarkan kaih sayang bagi manusia yang hidup di jalan yang penuh amalan dan kasih pada sesama. Sebaliknya, bagi manusia yang hidupnya dipenuhi dengan dosa dan mengganggu manusia lain, dewa Siwa akan nampak menyeramkan dan selalu siap menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Dalam diri Dewa Siwa terdapat sakti dari Dewi Uma yang cantik dan lemah lembut, serta Dewi Durgha yang merupakan dewi kematian dengan muka yang menyeramkan.

Untuk itulah demi menjaga kasih sayang sang Mbok terhadap desa, masyarakat musti menjaga perilaku mereka dalam bermasyarakat. Membantu yang kekurangan, menolong yang membutuhkan dan membagi rezeki yang ada untuk sesama.

Kenduri dan mempercayakan banyak hal pada dukun atau juri kunci merupakan cara untuk berhubungan langsung dengan si Mbok. Akan tetapi merayu si Mbok agar tetap menjaga desa dan khususnya subyek personal adalah dengan melalui selametan dan caos dhahar.

Bagi sang dukun sendiri, yang mana juga seorang juru kunci di rumah Mbok Rondo Ireng memiliki keyakinan, bahwa untuk mencapai suatu kemenangan atas sebuah kebahagian dari penjagaan sang Mbok, musti tirakat dan penuh pemgorbanan.

Ia harus berpuasa selama sejumlah hari tertentu, dan berpantangan memakan beberapa jenis makanan. Seperti misalnya pisang raja dan lain sebagainya. Maka cara pengrobanan yang lain adalah dengan bertapa. Khususnya saat akan memimpin upacara besar setiap bulan Sura.

***Mbok Rondo Kuning
Masyarakat di Walikukun di tahun-tahun lalu, sebelum dakwah-dakwah Islam masuk dengan kuat begitu percaya kepada kemampuan dukun, meski sampai saat ini masih banyak juga yang mempercayainya.

Perkataan dukun sering menjadi panduan untuk mereka menghentikan atau melanjutkan hajat yang ingin diadakan. Ada sebuah kisah seorang, belum ada setahun perkawinan, sang perempuan kehilangan suaminya karena kecelakaan. Kisah itu berulang sampai empat kali perkawinananya. Sampai pada akhirnya sang dukun, juru kunci rumah Mbok Rondo Ireng menyucikan dia dengan mantra dan sesaji, berhasilah si perempuan memiliki seorang suami sampai saat ini.

Di Walikukun terdapat satu group ketoprak yang setiap akhir Minggu mementaskan sebuah cerita di gedung pertunjukkan sebelum dihancurkan. Kelompok ini selalu menampilkan banyak kisah, tapi tidak menampilkan cerita tentang Mbok Rondo Kuning di sekitar Walikukun. Menurut cerita yang berkembang, selalu selepas mementaskan cerita Mbok Rondo Kuning yang penuh derita itu, salah seorang pemainnya meninggal hanya dalam hitungan hari saja. Karenanya gedung pertunjukan tidak digunakan lagi, selain semakin jauhnya masyarakat dengan tradisi ketoprak terkait juga masalah 1965 yang melanda hampir seluruh daerah di Ngawi.

Sampai saat ini, sesaji untuk mereka yang hendak menikahkah anaknya masih terus dilakukan, terlepas keluarga tersebut menganut agama Kristen, Katolik, maupun Islam. Sebab kalau tidak, saat acara dilakukan bisa jadi datang rintangan, atau bahkan saat kelak sang pengantin menjalani rumah tangga mereka.

Upacara pokok dalam agama Jawa tradisional ialah slametan, dimana di dalamnya hampir selalu ada kenduri. Yang dalam kajian Geerzt dianggap sebagai hal yang paling umum di lakukan oleh para abangan. Melambangkan persatuan mistik dan sosial dari orang-orang yang ikut serta dalam slametan tersebut.

Slametan dan simbol-simbol inilah memberikan gambaran yang jelas tentang cara pemaduan antara kepercayaan abangan yang animis dan Buddhis-Hindu dengan unsur Islam serta membentuk nilai pokok masyarakat pedesaan.

Kenyataan yang menarik, slametan yang dilakukan oleh orang Jawa bukanlah cara atau ritual untuk minta kesenangan atau tambahan harta kekayaa, akan tetapi bertujuan untuk mendapatkan keselamatan dari sakit dan duka. Slametan semacam ini bagi para abangan melambangkan keharusan kerja sama dan ikatan sosial.

Clifford Geertz dalam The Religion of Java meyakini bahwa perkembangan ajaran Islam di Indonesia diwarnai oleh ajaran Hindu, Budha, dan bahkan animisme, sebagai ajaran-ajaran yang telah lama berkembang di Indonesia sebelum Islam. Sehingga terlihat praktik mistik Budha yang diberi nama Arab, raja Hindu berubah namanya menjadi Sultan, sedangkan rakyat kebanyakan masih mempraktikkan ajaran animisme.

Sebab yang mampu menyerap ajaran Islam asli hanyalah sekelompok kecil yakni kalangan santri. Sedang sebagian besar rakyat Indonesia masih dapat dikatakan belum mempraktikkan ajaran Islam sepenuhnya. Bukankah proses sinkretisasi yang paling kental adalah terjadi di Jawa oleh karena sebagian besar masyarakatnya memiliki prinsip bahwa semua agama adalah sama.

Walikukun hanyalah sebuah daerah kecil yang hampir tidak berbeda dengan daerah lain yang masih memiliki dna menjaga aliran-aliran yang lebih menonjolkan aspek-aspek animisme-dinamisme. Pada dasarnya gerakan mistik adalah dan seharusnya selalu independen (bebas).

“Pada umumnya seorang ahli mistik terkenal sebagai orang yang tidak mau tunduk kepada peraturan keduniawian. Dia percaya bahwa dengan jalan mistiknya, dia dapat berhubungan langsung dengan Tuhan dan dapat pula menerima petunjuk-petunjuk langsung dari Tuhan. Jika di dalam suatu daerah terdapat banyak penganut aliran-aliran mistik, khususnya yang telah berubah menjadi magi, maka besar sekali kemungkinannya bahwa para penganut ini tidak mau tunduk pada peraturan-peraturan pemerintah.

Di dalam sejarah kerap kali terjadi pengejaran-pengejaran terhadap ahli mistik, khususnya di luar negeri. Di Indonesia hal ini belum terdapat, meskipun telah terjadi gejala-gejala yang membahayakan. Yaitu misalnya pembunuhan (dengan cara pembedahan) seseorang oleh keluarganya sendiri, karena merasa dapat perintah gaib. Dalam pada itu pemerintah telah pula mengambil langkah-langkah penertiban. Di sini kita lihat ekses-ekses akibat-akibat yang negatif daripada mistik yang telah berubah sifatnya menjadi magi.”( Sosrodihardjo, 1972)

Di Masa kini masjid-masjid makin banyak didirikan, gereja Kristen dan Katolik hampir selalu ramai di hari Sabtu dan Minggu. Namun demikian setiap tahun masyarakat yang percaya pada kekuatan Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning masih terus mengadakan ngalap berkah. Biaya mementaskan wayang tengul dan membeli perelngkapan sesaji adalah uang hasil iuran hampir seluruh masyarakat setempat. Bagi yang kemudian lebih teguh belajar Islam dan Kristen Katolik, mereka tidak datang ke acara selamatan, kalaupun datang hanya untuk menyaksikan pementasan wayangnya saja. Atau bisa saja diam-diam di dalam hati mereka turut berdoa dan meminta perlindungan dari sang Mbok.

Berbeda dengan kyai dan pendeta serta pastur di sana yang melarang umatnya datang ke acara itu dan meninggalkan seluruh tradisi yang mengakar jauh sebelum mereka datang, dukun sakti pemimpin ritual itu tidak pernah melarang masyarakatnya untuk memeluk dan meyakini Tuhan-tuhan baru yang datang di masa kini. Dengan terus terang sekaligus diam-diam, umat beragama itu masih akan caos dhahar ke rumah Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning sebelum mereka menikahkan anak-anak mereka demi keselamatan selama hajat berlangsung dan seterusnya untuk kebahagian dan kemuliaan hidup sang pengantin.

Referensi:

Koentjaraningrat. 1988. Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta : Penerbit Jambatan.

Geertz, Clifford. 1993. Religion as a cultural system. In: The interpretation of cultures. Fontana Press.

http://www.indiana.edu/~wanthro/theory_pages/Geertz.htm
http://www.ngawi.com/ /

 
15 Comments

Posted by on June 21, 2010 in Essay

 

Tags: , , , , , ,

15 responses to “Semacam Pengantar: Tentang Bidadari di Kampung Saya

  1. Dedy w

    August 27, 2010 at 11:53 pm

    Artikel yg menarik, paduan antara sejarah dan mitologi yang masih mengakar pada masyarakat.Data dan cerita dari blog anda menjadi tambahan informasi yang cukup penting bagi saya untuk tahu lebih banyak dan dlm mengenai desa walikukun…..tetap lahir beta…..

     
    • herlinatiens

      September 1, 2010 at 8:30 am

      Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan di sini.
      Iya, sayapun dari Walikukun

       
  2. hendri ananto

    October 2, 2010 at 5:42 pm

    Senang membaca artikel yang anda tulis. Menambah kecintaan saya terhadap kampung dan tumpah darah saya Walikukun. Semoga bisa saya teruskan ke anak cucu saya tentang sejarah diatas. Terimakasih

     
  3. riad tito

    March 14, 2012 at 12:43 am

    saya sangat menyukai artikel ini. cerita asli daerah yang membagakan, banyak yang harus digali di perhatikan dari crita2 dan legenda seperti ini. sangat membantu tugas foklore saya, sangat menginspirsi…salam. Riad tito, Ilmu sejarah 09 UNS

     
    • herlinatiens

      September 30, 2014 at 9:52 pm

      salam kenal juga🙂 saya dari Walikukun ini🙂
      Sukses untuk studynya

       
  4. Rudivandezcor

    June 15, 2013 at 6:12 pm

    Ohw gtu tow

     
  5. ali rojikin

    September 22, 2014 at 2:29 pm

    saya sangat menyukai artikel ini, saya sebagai anak asli walikukun baru tau kalau ada history dari nama walikukun dan cerita legenda mbok rondo,

     
    • herlinatiens

      September 30, 2014 at 9:51 pm

      Oh ya? kebetulan saya asli Walikukun. Dulu sering didongengin soal ratu Puan dll. hehehe…salam kenal…

       
  6. Broto Siswoyo

    November 15, 2014 at 11:36 am

    Mohon ijin untuk mengkopas tulisan Anda di atas yg akan sy posting dikomunitas warga Walikukun di Jadebotabek di FB dg nama PGRW semoga bermanfaat bg orang banyak, teerimakasih sebelumnya,

     
    • herlinatiens

      November 15, 2014 at 2:31 pm

      Salam kenal Pak Broto, saya juga dari Walikukun. Langkung remen sanget, bilih sederek-sederek kersa maos catetan puniko.

       
  7. Broto Siswoyo

    November 16, 2014 at 8:43 pm

    Sudah saya posting mbak Herlinatiens dapat tanggapan yang positip banyak postingan saya disana ttg Cerita Walikukun tempo dulu bila belum pernah berkunjung silakan kunjungi di FB Paguyuban PGRW dg nama Ringin Wok, Walikukun oh ya salam kenal kembali maaf bila boleh tanya mbak Herlinatiens sakmeniko taksih wonten Walikukun menopo wonten kitho sanes, menawi kulo inggih asli Walikukun kulon pasar sakmeniko domisili wonten Depok Jabar. suwun.

     
    • herlinatiens

      November 17, 2014 at 2:06 am

      iya saya sudah ikut gabung di group-nya, Pak. Saya sejak 1997 tinggal di Yogyakarta, Bapak. Tapi masih sering pulang ke rumah, karena Bapak Ibu saya tinggal di sana🙂

       
  8. try prastyan

    March 20, 2016 at 7:13 am

    mbak ,sampean bermukim dimana, saya mau belajar penulisan. saya dari Paron.

     
    • herlinatiens

      April 6, 2016 at 9:57 am

      di Yogya sini, bila-bila pulang ke ngawi mainlah ke rumah -orangtua- saya…

       
      • try prastyan

        April 6, 2016 at 10:08 am

        ortunya tinggal dimana?

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: