RSS

Monthly Archives: April 2008

kopi vs laserin

.: pagi yang tak sempurna…

pada kopi dan laserin yang mencuriku. tolong, jangan melirik-lirik padaku. mengapa usil begitu. inginkah kau kulempar ke bawah kolong meja seperti nasib kotak rokok dan korek?

aku sedang sibuk. janganlah dulu mengganggu. neozep dan sanmol tolong menyingkir jauh. bantal, guling, dan ranjang yang wangi dekat-dekatlah sini padaku. tisu dan air putih, mari bersahabatlah lebih dulu.

duh, jangan bilang-bilang pada batuk dan pilek yang manja. biarkan keduanya asyik masyuk dulu. kalau hitungan kita tepat, mari tembak dengan senjata yang tepat. jadi, bantal, guling, dan ranjang, sinilah berbaik hati padaku. rayu, rayulah aku agar ingin aku padamu. lirik, liriklah aku seperti cara coca-cola dan coklat guylian menggetarkanku.

duh, cepat-cepatlah tarik punggungku. rebahkanlah aku di samping buket-buket mawar yang mulai kering dan wangi udara hari hujan. kalau tak berhasil kalian lelapkan aku, bagaimana aku bisa kembali pada hari?

 
7 Comments

Posted by on April 29, 2008 in Puisi

 

pada p.a.r.a

………..blink blanK

selamanya kau akan terus membangun kastil-kastil. membicarakannya serupa dagangan dan sebuah pameran musim semi, sepanjang hari. kau akan menceritakan kastil-kastil tua berwarna pirang dan jingga. kau lupa, jalan-jalan panjang dimana laki-laki tua dan para gadis bergaun marun mengayuh sepeda mereka menuju gereja.

setapak yang pernah kau lewati dulu saat usiamu masih belasan tahun, sudah diaspal. dan bagusnya, pohon-pohon besar itu tidak ditebang sebagaimana biasanya di tempat lain. pohon-pohon itu berdiri dan melahirkan bunyi anak-anak burung yang baru.

tapi, mereka tak lagi merindukanmu. meski kau tak pernah lupa mengirimkan beberapa potong keju liat setiap akhir tahun untuk mereka. kalau salah seorang dari mereka berulangtahun, kau selalu mengirimkan sepatu-sepatu bergaya aneh dengan warna yang tak kurang aneh. kau kira mereka suka?

nah? sekarang, hitunglah. berapa banyak kastil yang sudah kau pugar di luar sana? berapa banyak keriangan kau lahirkan di benak banyak para gadis bergincu merah setelah adzan magrib tak lagi bisa kau dengar?

kau terlanjur jauh. tak lagi bisa mengubah air laut menjadi garam. keringatmu menjadi jauh dan menghitam serupa oli pembuangan pabrik-pabrik baja. /pada menit yang paling terawat/tasbihkan aku menjadi perawan magdala/sebab kau pemuda kecil yang rakus/dan tahun yang lewat tak sempat menitipkan catatan/tahukah kau sayang?/aku ingin sesat dan berkarat/

Yogyakarta, 29april08

 
2 Comments

Posted by on April 29, 2008 in Puisi

 

surat terakhir tahun ini

“Wanita hebat, pintar dan punya daya tarik tersendiri. Siapa yang tidak ingin bercinta denganmu, pikirku.” Demikian tulis sampeyan…

“Apa kau ingin bercinta denganku, Iam?”

Dear Iam,
Surat sampeyan sudah saya terima. Berikut kartu ucapan, dan hadiah-hadiah lain. Ya, surat itu datang satu jam sebelum surat yang lainnya datang. Am, sekarang saya serupa kupu-kupu yang enggan terbang.

Saya membacanya berulang-ulang, kuatir salah mengartikan surat kecil itu. Tiba-tiba, saya seperti ingin membalas surat sampeyan. Karena, malam ini tak akan ada apa-apa. Tak akan ada siapa-siapa. Seperti tahun-tahun yang sudah. Jadi sampeyan tak perlu merasa sangsi.

Mungkin saya akan meniup lilin tanpa kue tart sendirian. Dengan senyum saya akan membagikan beberapa doa kecil pada banyak orang, pada sampeyan juga tentu saja. Adakah sampeyan cemburu pada lilin tanpa kue itu, Am? Tentu tidak.

Memang hanya lilin yang akan bersama saya nanti malam. Kalau saya menyalakannya di atas telapak tangan saya, ia secepatnya akan menyala. Cairan-cairan yang menetes dan mengalir di telapak tangan saya begitu jujur. Serupa nyeri di telapak tangan itulah, kepedihan lahir dari surat sampeyan siang tadi. Adakah saya melakukan sebuah kesalahan baru, Am? Sampai tak lagi harapan di gantungkan serupa layang-layang? Baik, kita tak harus membahasnya.

Iam, apakah saya nampak palsu di hadapan sampeyan? Apakah saya nampak tidak apa adanya di mata sampeyan? Apakah sedemikian sunyinya saya? sampai sampeyan tidak bisa mendengar apa yang suara-suara itu bunyikan? Maafkanlah saya Am…

Jika saya hadir serupa godaan yang berujung malapetaka bagi sampeyan, maafkanlah saya. Dan apabila saya nampak serupa rayuan dan ciuman tak tertahankan bagi sampeyan, maafkanlah saya.

Hanya surat ini yang bisa saya kirimkan sebagai ucapan terimakasih dari hadiah-hadiah manis yang sampeyan kirim. Mungkin sampeyan menganggap tak mungkin berseorangan melewatkan hari yang bisa saja sangat istimewa. Tapi ini hari biasa Am, sangat biasa, atau bahkan bisa lebih biasa dibanding hari-hari sebelumnya. Saya tak harus keluar membeli beberapa botol minuman, buah, coklat, dan kue. Ini sungguh hari biasa…

Apa yang harus dirayakan? Tidak ada. Usia semakin tua. Akan bertambah banyak pertanyaan baru lahir. Serupa, Sekarang kerja dimana? Kapan menikah atau sudah? Punya berapa anak? Jadi calon suami kerja dimana? Saya tak mau merayakan pertanyaan-pertanyan itu.

Apa yang harus disyukuri? Ketika semakin dekat kita pada janji Tuhan. Kematian. Aih, Am. Adakah janji dari sampeyan yang bisa lebih pasti dari itu? Perjalanan hampir sampai. Sekarang akan nampak semakin sia-sia, jika tak bisa meraih sesuatu yang baru. Apakah ada banyak orang yang dilahirkan untuk gagal, Am?

Masih ada empat jam lagi. Sampeyan bisa saja menelepon, sebelum batrenya benar-benar pecah dan saya tak lagi bisa menerima telepon sampeyan. Ya, e90 yang sekarang tergeletak di samping komputer akan mulai berbunyi, menggantikan yang lama. Haruskah begitu, Am?

Ya, saya tak akan kemana-mana, Am. Jadi begitu sampeyan mengulang pertanyaan, ”Malam ini akan kemana?” jawabannya tetap akan sama, ”Di rumah saja Am, merokok dan ngopi seperti biasanya.” Jangan mencurigai saya Am, jangan. Bukan karena saya tak suka dicurigai, tapi itu tak akan baik bagi pertemanan kita. Teman tak mengenal curiga, Am. Seperti kekasih yang tak mengenal cemburu. Begitu?

Nah, saya ingat sebuah kalimat lagi dalam surat sampeyan, “Ah masalah cinta. Tak perlu dibahas. Kamu tidak menyukainya. Kurasa.” Am…adakah yang bisa -lagi- dibahas?

“Biarkan harapan tetap lahir sebagai layang-layang di tanganmu, di tanganku…sampai saatnya. Semoga tak harus menunggu esok untuk sampeyan membaca surat ini. Tiki sudah tutup Am, lebih cepat dengan ini.”

Dengan surat kecil ini, saya akan merayakan ulang tahun saya malam nanti…

25 April 2008

 

Tags: ,

Film apa Film?

Semalam dengan mas Kris Budiman (lagi seperti tahun-tahun yang sudah) saya datang ke undangan pembukaan Q Festival. Tapi malam tadi ada juga Grace. Film yang diputar judulnya Perempuan Punya Cerita -kalau gak salah.-

Duh mampus, pikir ane. Tu para perempuan bikin apa sebenarnya ya. Bicara temanya sih yang agak menarik bagian ‘cerita jakarta’ sepertinya. Tentang perempuan yang terinfeksi virus HIV. Tapi saya rasa itu karena si Susan Bahtiar maennya lumayan baguslah. Bukan pada kontens isi film itu sendiri. Gimana ya, Susan cakep sih.

Parahnya yang bagian ‘cerita yogyakarta.’ Pengaruh Iip Wijayantokah? Atau memang saya yang kuper? sampai saya tidak tahu kalau anak-anak SMU di Yogya identik dengan seks bebas, hamil, lotre penentu. Pikir saya, yang goblok penulis skenarionya atau sutradanya atau bagaimana sih?

Kalau saya pikir, kenapa coba cerita yang bagian ‘seks melulu’ musti di bagian ‘cerita yogyakarta’ sementara yang ‘cerita jakarta’ agak sedikit lebih cerdas temanya. Itu pasti akal-akalan si perempuan-perempuan di balik layar. Anehnya, bisa-bisanya ada yang tergila-gila ma ni film. Apa karena adegan2 ‘ah, eh, ah, eh-nya?’

Beruntung, adek bungsu saya (Agustina Candrawati) tidak diperbolehkan sama pacarnya untuk menerima tawaran maen di ‘cerita yogyakarta’ dalam film tersebut. Memang adik saya bukan artis kok. Akhirnya peran itu dimainkan si artis sinetron siapa itu. Tapi tetep dong, lebih cantik dan menarik adik saya..(kekeke, yang ini tidak boleh dipercaya)
(nah ini adek bungsu saya)

Apa benar? perempuan Indonesia terwakili dengan film itu? Lantas kemana larinya cerita-cerita perempuan cerdas yang tangguh, tidak cengeng, pemimpin yang -meski tidak banyak- ada di Indonesia. Konflik-konflik yang dimiliki seorang perempuan -anggaplah pilihan- yang lebih cerdas dan memerlukan pencapaian satu titik kecerdasan. Lho, di Indonesia banyak perempuan cerdas kok, berkuasa, dan tidak bergantung pada satu kebijakan atau putusan laki-laki.

Seolah-olah, dari film itu tampaklah betapa seks, ketertindasan, kebodohan, korban keganasan lelaki, dan kemelaratan melulu yang ada di otak dan sekeliling perempuan Indonesia. Dih..menyedihkan -filmnya tentu saja.-

Tapi baguslah, saya terharu melihat mbak Susan Bahtiar menahan perih saat harus meninggalkan anaknya. Lantas bagaimana dengan Ayat-Ayat Cinta? Nah, ulasan tentang Ayat-Ayat Cinta buka di http://antikris.multiply.com

Tapi saya tetap salut dengan semua karya yang lahir dari tangan-tangan manusia Indonesia, sangat. Itu intinya…

(Lebih daripada itu saya pikir teknik yang saya kira hebat ini ternyata saya curigai meniru pilem Things You Can Tell Just by Looking at Her yang diproduksi tahun 1999)

Yogyakarta 21 April 2008

 
17 Comments

Posted by on April 21, 2008 in Catatan Hari Ini, Essay

 

Tags: , , , , ,

serupa itu

perempuan itu, bosan harus berpura-pura senang. kalau kau tersenyum padanya, dia akan tersenyum. kalau menangis dan butuh dia menenangkanmu, dengan cepat dia bisa membuatmu tertawa. tapi dia sunyi, hanya sunyi.
dia merasa capek dan ingin istirahat. sekarang, dia memilih sebuah bangku kosong di sebuah taman. duduk berdiam sendirian begitu, dia mengenal dirinya dengan segera. bahwasanya dia memang sendirian. tak ada siapapun yang bisa dia (percaya) jadikan tempat bergantung dan sekadar berbincang.

dia bosan, sangat bosan. tapi dia tidak punya tempat lain, selain bangku kosong itu. dia ingin bepergian, tapi dia tak memiliki tempat untuk dituju. sekarang dia mulai memangis. ekspresinya memang tidak berubah, tapi airmata jujur melengkapinya.

dia tak terbiasa bercerita pada seseorang. dia terbiasa diam. kalau-kalau kau pernah mendengar ceritanya; sesungguhnya itu bukan cerita yang penting. sesuatu yang dirahasiakannya bisa saja dengan cepat membunuhnya. bisakah kau percaya padaku tentang perempuan itu?

nah, dia tak terbiasa bilang, “Tolonglah aku. duduklah di sini sebentar, aku butuh bantuanmu.” tidak, tidak begitu cara dia menyelesaikan banyak hal. dia memang selalu sendirian. dia tak pernah tau, kepada siapa dia bisa bergantung dan percaya.

dia masih duduk di bangku itu. orang-orang yang hilir mudik di depannya nampak serupa angin begitu saja. dia mulai cemas, kalau-kalau seseorang merebut dirinya sendiri dari dia. kalau terebut, siapa yang bisa dipercayainya lagi. siapa yang akan menenangkannya lagi?

dia masih menangis. matanya serupa kaca. dia tidak terisak. dia hanya diam menangis begitu. apa dia bernasib malang? mungkin. tapi dia sendiri tak pernah tau bagaimana menyingkirkan nasib malangnya itu.

sekarang, hujan mulai turun. dia tak juga beranjak dari bangku itu. badannya sudah kuyup, dia mulai menggigil dan batuknya menjadi, menahan sesak. dia tak berharap seseorang menemukannya dan mengajaknya pulang. dia tak punya siapa-siapa selain dirinya bukan?

begitu malam datang, dia merebahkan dirinya di bangku kosong itu. dia hanya ingin tidur dan bermimpi tentang kau. setelahnya, dia tak ingin apa-apa lagi….

 
18 Comments

Posted by on April 17, 2008 in Puisi

 

Tags: , ,

Bermain Dadu

; Rusli Hariyanto vs dadu..

(ssst, ini Rusli lagi mencari dadu…)

sebenarnya saya hampir tak pernah berhasil menebak dadu. saya selalu salah, seringkali salah. mengapa bisa salah? tentu saja salah, karena saya tak berani mengatakan itu dadu besar atau kecil. keluar berapa. saya malu kalau terlanjur menebak dan salah. tapi untuk menjaga harga diri, saya suka bilang, “ah sudahlah, saya tak suka bermain dadu.”

sekarang saya sedang bermain dadu. tapi sungguh mati saya tak berani membuka tempurung kelapa yang menyembunyikan dadu itu. saya berharap-harap cemas, kali-kali tempurung itu terbuka dan saya melihatnya dengan tanpa cemas dan rasa malu kalau salah menebak.

sebenarnya saya yakin, dadu kecil yang akan keluar. kalau taruhan, saya pasti akan menang, dan Rusli kecil itu tak akan memaksa saya minum sebotol beer bintang yang membuat perut saya mual dan terkapar di ranjang tanpa sempat cuci muka dan gosok gigi.

saya terus saja menatap tempurung kelapa itu. tergoda mencoba mengintip ke dalamnya. ah konyol, tentu saja tak bisa. sekarang saya serupa pandir kecil yang sibuk mengusap keringat karena cemas hati menyergap saya penuh seluruh.

dadu kecil akan keluar. begitu pastinya. tapi sumpah, saya tak berani menebaknya. kalau salah, saya akan malu pada diri sendiri. kalau benar, saya akan kehilangan cemas dan bosan pada permainannya. nah, kalau sudah bosan saya akan mencari permainan baru yang lebih menantang otak dan pikiran saya.

bermain dadu begini, serupa terkena candu. meski saya tak pernah menghisap ganja atau candu-candu lainnya. tapi saya tau, cemas karena bermain dadu ini seimbang dengan pengaruh candu. serba tak yakin -padahal yakin sih- begini menjadi kemewahan tersendiri bagi saya.

melihat orang-orang yang merayakan kemewahan dengan membakar langit menjadi warna-warna pelangi, saya tak heran. menyaksikan Rusli memainkan handphone-nya serupa lego, saya tak tergoda. memperhatikan anak-anak bermain engklang saya akan lebih cepat bosan. karena saya tahu, saya selalu menjadi pemenang bermain-main yang seperti itu.

bermain dadu membuat saya tertawa, sekaligus bertanya-tanya kiranya terbuat dari apakah benda persegi itu. sembari mengira-ira, saya bisa menikmati kopi, merokok, sambil menyanyikan lagu “aku cinta kau dan dia.” eh, jangan dikira tak ada hubungannya antara dadu dan lagu ini. begini, kalau disuruh memilih antara kopi dan rokok, saya tak akan bisa memutuskan dengan cepat. kalau disuruh memilih tempurung kelapa atau dadunya, saya juga pasti kesulitan memilihnya.

memang benar. bisa saja saya memilih dadu, lantas memainkannya dengan telapak tangan saya sendiri. ah, tapi itu kurang afdol bukan? kalau telapak tangan saya sibuk menutupi biji dadu, lantas bagaimana saya merokok? lantas bagaimana saya memegang cangkir kopi? memang bisa saja, saya minum dengan kaki saya. ah, tapi saya tak mau, saya kan biasa hilir mudik kalau sedang bermain dadu.

(yang ini dia sedang mencoba merayu dadu…)

Rusli, laki-laki kecil yang memanggil saya, “Mbak, guru, sista, dll” itu, memaksa saya untuk berhenti bermain dadu. Katanya, “Kasian dadu-dadunya, kalau lecet dan hilang bulatannya kan repot. Apa masih kurang dadu yang rusak karena ulahmu?”
“Dih, salah sendiri jadi dadu. Kalau ndak dimainkan juga apa gunanya jadi dadu? Aku cuma menjalankan tugasku, bermain dadu. Dadu tugasnya ya diem aja di tempurung. Sesekali dilempar, sesekali disembunyikan, sesekali juga dihentakkan.”
“Tapi sebenarnya salah si dadu sendiri sih, ngapain deket-deket kamu.”
“Nah, itu juga kau tahu. Dah cari dadumu sendiri, mari kita mainkan….”

 

Tags: , ,

kau tak (se)harus(nya) berjanji…

serupa makam tanpa nisan; maka bangkitkanlah aku dari deritaku. jangan kau kirimkan seseorang yang lain untuk menjemputku. aku hanya mau kamu yang memapahku. maaf merepotkan.

jangan jauh-jauh dulu, sebab aku sedang tak ingin sendiri. kembalikanlah aku pada duniaku yang sunyi. tapi sungguh, jangan jauh-jauh dulu.

jangan dulu mengajakku berdebat
jangan dulu menyangsikan apa-apa
jangan dulu mengeroyokku dengan pertanyaan
jangan bertanya siapa, mengapa, ataupun bagaimana…
aku hanya ingin lahir kembali, keluar dari kutukan yang menyengsarakan aku

sekarang biarkan aku mati dengan cara yang paling santun. dengan cara yang tak pernah orang-orang tunjukkan sebelumnya. dengan begitu aku akan menjadi jenasah yang benar. mengapa aku benci mengakui, kalau tak seharusnya aku mengutuk kutukan bagi diriku sendiri.

sekarang, bongkarlah makam itu, temukan belulangku. lahirkanlah aku serupa maumu, dan biarkan aku mati dengan cara yang kau mau…
tanpa derita yang berarti
tanpa senyum yang berarti
tanpa sumpah-sumpah yang pasti
tanpa harus kau berjanji…

(apakah aku nampak baru -lagi- bagimu?)

 
10 Comments

Posted by on April 14, 2008 in Puisi

 

Pengakuan, 3

; kesaksian para anu

dia memang pembosan. kalau dia mulai merasa seseorang itu tidak lebih pintar dibandingkan dia, dia akan menyingkir cepat. nah, sekarang dia mulai mencari gara-gara untuk membuat seorang laki-laki marah dan bosan padanya. tapi bagaimana bisa? terlanjur, laki-laki itu menginginkannya. repot dia….

kalau sudah lewat tiga bulan. dia akan merasa bosan. cepat-cepat pulang ke rumah. mengisi amunisi baru, seolah bersiap melayani musuh baru. seperti itulah tahun berganti dengan orang-orang baru yang pecah hatinya.

satu-satunya hal yang menarik baginya adalah malam dan sunyi. saat manusia lain lelap, perempuan serigala itu akan menikmati hidupnya sendirian. saat begitulah segala kemewahan mengganas. dan esok hari terasa lebih menjanjikan.

surat-surat cinta terabaikan. puisi-puisi rayuan ditertawakan. kado-kado manis ditelantarkan. begitulah, semuanya nampak kecil di matanya. sebagai perempuan serigala, hidupnya tak lebih menyedihkan dari belulang korban yang dimangsanya.

pada malam-malam tertentu, dia akan berubah wujud menjadi ular. taring-taringnya licin. sisiknya seperti diwarnai dengan sengaja oleh semesta. abadi kejahatan tengah menjaga dan membantu perempuan itu untuk mendapatkan mangsa baru yang lainnya.

kalau dia tersenyum, maka tampaklah kilatan mata yang serupa jala menarikmu untuk bicara. kalau dia bergerak maka tampaklah tarian pendosa membayangimu di malam-malam berikutnya. dia memang begitu, selalu begitu.

sesuatu dalam dirinya yang serupa magnet, memikat hati yang lengah untuk mendekat. dia pemain yang tangguh. petarung yang handal. dan tentu saja, wasit yang berkuasa atas hidupmu yang gamang.

apa dia pernah merasa bersalah? oh tentu saja tidak. bukankah kebenaran adalah keniscayaan baginya? kalau ada yang menangis dia tidak bersedih. kalau ada yang terluka dia bergembira. dan kalau ada yang tercuri hatinya dia tertawa.

perempuan serigala itu. lahir tengah malam. tak ada angin waktu itu. tak ada suara serangga. seluruh alam berdiam menunggu kelahiran kesunyian baru di dunia. mengutuk malam yang mengijinkan perempuan itu lahir dari derit bambu dan beribukan ular naga.

ibunya naga hitam. ayahnya jin penghuni hutan seberang. inang pengasuhnya singa jadi-jadian. mau bagaimana lagi?

bulan purnama ke sekian, tubuhnya menjadi serupa asap. meliuk mengitari rumah-rumah penduduk. mengintip ke balik pintu. mencari pemuda-pemuda tampan. mengintip derita perawan yang sedang kasmaran.

malam itu, hendak diluruskan niatnya untuk mencuri pemuda-pemuda itu dari para kekasihnya. senyumnya mengembang. desis dari dalam mulutnya menggidikkan para orang tua yang mendengar. beberapa terjaga dan menaburkan butiran garam ke tubuh anak laki-laki mereka.

perempuan serigala itu tak akan pernah berhenti. hanya kematianlah yang bisa menyelamatkannya dari kutukan panjang itu. serupa makam tanpa nisan; dia selalu melupakan apa-apa yang seharusnya diingatnya dengan benar. begitulah, perempuan serigala itu lupa siapakah dia sejatinya.

Yogyakarta, 02.10 april08

 

perihal mimpi

; jangan percaya ini

Mengapa ada seseorang yang percaya bahwa mimpi adalah pertanda, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai hiburan tengah malam?
Saya mungkin seseorang yang berada di tengah-tengahnya. Ada saatnya saya menganggap mimpi-mimpi itu sebagai kembang tengah malam saat lelap, yang seringkali terlupa begitu saja saat mata saya terbuka.

Kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, dan di luar kuasa si pemimpi. Perkecualiannya adalah dalam mimpi yang disebut lucid dreaming. Dalam mimpi yang demikian, pemimpi menyadari bahwa dia sedang bermimpi saat mimpi tersebut masih berlangsung, dan terkadang mampu mengubah lingkungan dalam mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpi tersebut.

Kalau dihitung-hitung saya tidak lebih dari sepuluh kali sedemikian memikirkan mimpi-mimpi saya. Mimpi-mimpi itu terjadi begitu saja. Kehilangan pacar salah satunya setelah bermimpi menemani si dia menembak seekor burung kecil di dalam hutan. Dalam kehidupan senyatanya, saya juga begitu terpengaruh oleh buku Paulo Coelho, khususnya The Alchemist. Sebuah novel spiritual yang menceritakan perjalanan seorang bocah Santiago dalam mengejar mimpi-mimpinya. Tentu saja juga cara dia menghitung pertanda pada gadis gurun bernama Fatimah. Aih, romantisnya…

Analisis mimpi yang digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar. Pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktifitas emosi lain, hingga aktifitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil di-ungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Lantas bagaimana jika mimpi begitu susah diartikan? semacam pergi ke gunung dengan seseorang yang tak dikenal. Berulang kali mimpi dikejar ular. Mematahkan dan membunuh sekelompok ular dengan menggigitnya. Padahal aduh, dalam dunia nyata saya paling takut dan jijik pada ular. Melihatnya melintas di depan saya saja lutut saya bisa langsung lemas ndak karuan.

Sigmund Freud berpendapat bahwa dalam mengutarakan mimpi, seorang penafsir haruslah memberikan perhatian yang penuh, bersungguh-sungguh dan tidak terburu-buru. Kemudian, seorang penafsir juga harus berusaha mencari tabu semua hal yang berhubungan dengan gambaran atau isi mimpi serta pelaku mimpi secara komprehensif. Kemudian terdapat juga kesamaan tentang kamampuan atau pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang penafsir mimpi. lbnu Sirin, seorang pemikir besar dengan latar muslim dari Timur juga sependapat dengan Sigmund Freud bahwa seorang penafsir mimpi harus menguasai ilmu tentang Bahasa. tentang makna kata, derivasi kata, dan kata-kata
kiasan maupun pribahasa sehingga mengetahuitentang kondisi dan kebiasaan serta budaya yang berlaku pada masyarakat atau daerah setempat.

Nah, bisa jadi mimpi digelung ular serupa yang saya alami ini berbeda maknanya dengan seseorang di tempat lain yang bermimpi sama.

Pengertian akan mimpi memang masih sangat membingungkan bagi sebagian orang. Namun demikian dari analisis yang disampaikan oleh Sigmund Freud kita bisa menemukan dua jenis mimpi yang terjadi pada manusia. Ada perbedaan perngertian mimpi, antara orang sekarang dengan orang-orang jaman primitif. Meskipun masih juga banyak orang mempercayai bahwa mimpi mempunyai aspek supranatural atau mistik, sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang primitif.
Pengertian mimpi yang pertama bisa kita pahami menurut Aristoteles bahwa mimpi tak lebih dari persoalan psikologis. Mimpi bukanlah ilham dari dewa, dan juga tidak ada kaitanya dengan hal-hal yang berbau kedewaan, tetapi sebaliknya dari sifat-sifat kejam atau jahat.

Hal ini berbeda dengan pandangan Aristoteles, penulis-penulis jaman sebelumnya tidak memandang mimpi sebagai suatu produk jiwa malainkan ilham yang berasal dari dewa (devine orgin). Oleh karena itu manusia jaman purba membedakan mimpi sebagai berikut; Pertama, mimpi yang nyata dan berharga, diturunkan pada si pemimpi sebagai peringatan atau untuk meramalkan kejadian-kejadian dimasa depan. Kedua, mimpi yang tak berharga, kosong dan menipu, bertujuan untuk menyesatkan atau menuntun si pemimpi pada kehancuran. Jadi jelas, dari kedua pengertian ini, kita menjadi sadar akan adanya makna yang terkandung dalam mimpi. Meskipun tetap dipahami juga bahwa tidak semua mimpi memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan kita.

Saya menyukai salah satu referensi tentang mimpi yang berkaitan dengan Enuknia (insomnia), yang secara langsung mereproduksi rangsangan yang diberikan atau pun sebaliknya. Merangsang secara berlebihan, seperti mimpi buruk menentukan atau mempunyai korelasi yang pasti dengan masa depan. Termasuk di dalammnya adalah pemberitahuan tentang kejadian-kejadian di masa depan (orama, visio). Nyatanya, konsep inilah yang sudah berabad-abad menjadi kepercayaan manusia.

Freud sendiri memegang teguh pendiriannya atas teori mimpi. Meskipun Ia mengakui akan adanya kesulitan di dalam membuktikan gagasan-gagasannya itu. Ia tetap berkeyakinan akan adanya beberapa titik terang bahwa mimpi bisa dipengaruhi oleh kondisi fisik dan pengalaman alam sadarnya. Mimpi hanya reaksi tidak teratur dari fenomena mental yang berasal dari stimulasi fisik. Freud mencontohkan seseorang yang sedang tidur kemudian ia bermimpi sedang minum. Maka sudah bisa dipastikan bahwa pada saat itu ia sedang merasakan kehausan. Saya belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk sepenuhnya setuju pada pendapat ini. Kenyataannya saya sedang tidak memikirkan ular saat saya bermimpi digelung ular hitam semalam itu.

Sebenarnya pada banyak hal, banyak dari teori-teori Freud yang saya kurang sepakati pada penjabarannya, bukan pada pengantar dan perawalannya. Misalkan psikoanalis saya cenderung sepakat, tapi kemudian ada beberapa klik yang membuat saya menganggap Freud seorang pandir dan sok pintar.

Pada dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk pemenuhan keinginan terlarang semata. Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal & Gardner Lindzaey, 1998). Oh, tentu saya tidak menyepakatinya. Tidak ada seorangpun yang melarang saya ke gunung, bahkan banyak yang mengajak saya mendirikan tenda-tenda bersama-sama. Lantas mengapa saya bermimpi sedang berjalan di setapak dalam hutan di gunung?

Sejak zaman Babilonia. Aflatun, Aristu, Cicero, Kitab Injil, Shakespeare, Goethe dan Napoleon percaya bahwa ada mimpi-mimpi tertentu yang meramalkan sesuatu di kehidupan mendatang. Tidak ada apa pun yang muncul dalam mimpi secara kebetulan, tiap gambaran adalah lambang yang dihargai yang merujuk kepada kehidupan dan fikiran yang paling dalam.

Atau, yang paling tepat sebenarnya adalah, saya mencoba menjabarkan mimpi-mimpi yang datang pada saya dengan cara saya sendiri. Saya tidak lantas menganggap semua mimpi adalah pertanda. Tapi saya tahu, salah satu mimpi saya akan selalu berkelanjutan mengajari saya bersiap menerima segala hal yang akan sampai pada saya.

Esok hari, saat saya serupa naga, saya tak akan lagi bermimpi tentang ular!

 

Tags: , , , ,

orang bodoh dilarang bunuh diri!

; catatan pagi buta

sudah hampir pagi saat saya menuliskan ini.
seorang teman, wartawan di sebuah media entertainment di Jakarta mengirimkan sms pada saya yang isinya; aku ingin mati, bunuh diri apa ya?
tentu saja itu bukan sms pertama kalinya dari dia perihal ingin mati dan bunuh diri. saya tak lagi kaget membaca sms-nya ini. lantas saya mengirimkan sms balasan yang panjang padanya. kira-kira begini isinya;

sebelum bunuh diri baca tata tertibnya dulu! agar kamu tau mengapa orang bunuh diri…
1. terlalu cakep.
2. kehabisan kata-kata untuk meninggalkan selingkuhan.
3. hidup berkecukupan dan tidak punya masalah.
4. hanya orang hebat yang terpilih yang berhak bunuh diri.
5. bisa memilih mau mati dengan cara apa, bagaimana, dan dimana.
6. ingin bersedekah dengan mewariskan harta ke seseorang.
7. selalu menjadi pemenang dalam setiap permainan.
8. sudah mengunjungi semua tempat menjanjikan di dunia.
9. tak ada lagi orang yang lebih cerdas dan pintar.
10. dikejar-kejar banyak orang cakep.

nah, kalau kamu sudah paham dan tahu siapa dan mengapa orang memutuskan untuk bunuh diri, itu artinya kamu memenuhi standart. silahkan ambil tindakan. kabari aku secepatnya, dan selamat mencoba!
beberapa menit kemudian telpon darinya masuk. tawa dia pecah…

“kenapa tertawa?”
“wong edan”
“bunuh diri kok bilang-bilang.”
“agar kau tau aku sedang pusing.”
“aku mana perduli ma rasa pusingmu”
“aku tau kamu peduli. kau kan selalu peduli!”
“jadi sudah nemu alasannya belum? harus pinter, kaya, banyak pacar, dll. kalau ndak masuk kriteria ya kamu ndak berhak. kalau aku sampai bunuh diri, itu wajar. kalau kamu ya nanti dulu.”
“hahahahaha, edan.”
“kau kan bodoh jadi ndak boleh bunuh diri.”
“setan!”
“wes, aku ngantuk katene bobo. oiya, selamat bunuh diri. itupun kalau jadi dan berani! kan lu pecundang.”
“hahahaha, setan. thanks sista i love you.”
“yo, nuwun.”

saya rasa ide bunuh diri lucu juga. hanya butuh memikirkan cara, waktu, dan tempat saja…tapi membaca tatib di atas membuat saya mengantuk. sekarang saya mau tidur, karena tak pantas dan tak layak bagi saya untuk bunuh diri. sama sekali tidak masuk kriteria. jelasnya karena tak ada siapa-siapa di samping saya selain sunyi dan malam yang semakin tua ini.

(saat esok hari terasa lebih lama dari biasanya)

 

Tags: , , ,