RSS

Monthly Archives: April 2008

kopi vs laserin

.: pagi yang tak sempurna…

pada kopi dan laserin yang mencuriku. tolong, jangan melirik-lirik padaku. mengapa usil begitu. inginkah kau kulempar ke bawah kolong meja seperti nasib kotak rokok dan korek?

aku sedang sibuk. janganlah dulu mengganggu. neozep dan sanmol tolong menyingkir jauh. bantal, guling, dan ranjang yang wangi dekat-dekatlah sini padaku. tisu dan air putih, mari bersahabatlah lebih dulu.

duh, jangan bilang-bilang pada batuk dan pilek yang manja. biarkan keduanya asyik masyuk dulu. kalau hitungan kita tepat, mari tembak dengan senjata yang tepat. jadi, bantal, guling, dan ranjang, sinilah berbaik hati padaku. rayu, rayulah aku agar ingin aku padamu. lirik, liriklah aku seperti cara coca-cola dan coklat guylian menggetarkanku.

duh, cepat-cepatlah tarik punggungku. rebahkanlah aku di samping buket-buket mawar yang mulai kering dan wangi udara hari hujan. kalau tak berhasil kalian lelapkan aku, bagaimana aku bisa kembali pada hari?

 
7 Comments

Posted by on April 29, 2008 in Puisi

 

pada p.a.r.a

………..blink blanK

selamanya kau akan terus membangun kastil-kastil. membicarakannya serupa dagangan dan sebuah pameran musim semi, sepanjang hari. kau akan menceritakan kastil-kastil tua berwarna pirang dan jingga. kau lupa, jalan-jalan panjang dimana laki-laki tua dan para gadis bergaun marun mengayuh sepeda mereka menuju gereja.

setapak yang pernah kau lewati dulu saat usiamu masih belasan tahun, sudah diaspal. dan bagusnya, pohon-pohon besar itu tidak ditebang sebagaimana biasanya di tempat lain. pohon-pohon itu berdiri dan melahirkan bunyi anak-anak burung yang baru.

tapi, mereka tak lagi merindukanmu. meski kau tak pernah lupa mengirimkan beberapa potong keju liat setiap akhir tahun untuk mereka. kalau salah seorang dari mereka berulangtahun, kau selalu mengirimkan sepatu-sepatu bergaya aneh dengan warna yang tak kurang aneh. kau kira mereka suka?

nah? sekarang, hitunglah. berapa banyak kastil yang sudah kau pugar di luar sana? berapa banyak keriangan kau lahirkan di benak banyak para gadis bergincu merah setelah adzan magrib tak lagi bisa kau dengar?

kau terlanjur jauh. tak lagi bisa mengubah air laut menjadi garam. keringatmu menjadi jauh dan menghitam serupa oli pembuangan pabrik-pabrik baja. /pada menit yang paling terawat/tasbihkan aku menjadi perawan magdala/sebab kau pemuda kecil yang rakus/dan tahun yang lewat tak sempat menitipkan catatan/tahukah kau sayang?/aku ingin sesat dan berkarat/

Yogyakarta, 29april08

 
2 Comments

Posted by on April 29, 2008 in Puisi

 

surat terakhir tahun ini

“Wanita hebat, pintar dan punya daya tarik tersendiri. Siapa yang tidak ingin bercinta denganmu, pikirku.” Demikian tulis sampeyan…

“Apa kau ingin bercinta denganku, Iam?”

Dear Iam,
Surat sampeyan sudah saya terima. Berikut kartu ucapan, dan hadiah-hadiah lain. Ya, surat itu datang satu jam sebelum surat yang lainnya datang. Am, sekarang saya serupa kupu-kupu yang enggan terbang.

Saya membacanya berulang-ulang, kuatir salah mengartikan surat kecil itu. Tiba-tiba, saya seperti ingin membalas surat sampeyan. Karena, malam ini tak akan ada apa-apa. Tak akan ada siapa-siapa. Seperti tahun-tahun yang sudah. Jadi sampeyan tak perlu merasa sangsi.

Mungkin saya akan meniup lilin tanpa kue tart sendirian. Dengan senyum saya akan membagikan beberapa doa kecil pada banyak orang, pada sampeyan juga tentu saja. Adakah sampeyan cemburu pada lilin tanpa kue itu, Am? Tentu tidak.

Memang hanya lilin yang akan bersama saya nanti malam. Kalau saya menyalakannya di atas telapak tangan saya, ia secepatnya akan menyala. Cairan-cairan yang menetes dan mengalir di telapak tangan saya begitu jujur. Serupa nyeri di telapak tangan itulah, kepedihan lahir dari surat sampeyan siang tadi. Adakah saya melakukan sebuah kesalahan baru, Am? Sampai tak lagi harapan di gantungkan serupa layang-layang? Baik, kita tak harus membahasnya.

Iam, apakah saya nampak palsu di hadapan sampeyan? Apakah saya nampak tidak apa adanya di mata sampeyan? Apakah sedemikian sunyinya saya? sampai sampeyan tidak bisa mendengar apa yang suara-suara itu bunyikan? Maafkanlah saya Am…

Jika saya hadir serupa godaan yang berujung malapetaka bagi sampeyan, maafkanlah saya. Dan apabila saya nampak serupa rayuan dan ciuman tak tertahankan bagi sampeyan, maafkanlah saya.

Hanya surat ini yang bisa saya kirimkan sebagai ucapan terimakasih dari hadiah-hadiah manis yang sampeyan kirim. Mungkin sampeyan menganggap tak mungkin berseorangan melewatkan hari yang bisa saja sangat istimewa. Tapi ini hari biasa Am, sangat biasa, atau bahkan bisa lebih biasa dibanding hari-hari sebelumnya. Saya tak harus keluar membeli beberapa botol minuman, buah, coklat, dan kue. Ini sungguh hari biasa…

Apa yang harus dirayakan? Tidak ada. Usia semakin tua. Akan bertambah banyak pertanyaan baru lahir. Serupa, Sekarang kerja dimana? Kapan menikah atau sudah? Punya berapa anak? Jadi calon suami kerja dimana? Saya tak mau merayakan pertanyaan-pertanyan itu.

Apa yang harus disyukuri? Ketika semakin dekat kita pada janji Tuhan. Kematian. Aih, Am. Adakah janji dari sampeyan yang bisa lebih pasti dari itu? Perjalanan hampir sampai. Sekarang akan nampak semakin sia-sia, jika tak bisa meraih sesuatu yang baru. Apakah ada banyak orang yang dilahirkan untuk gagal, Am?

Masih ada empat jam lagi. Sampeyan bisa saja menelepon, sebelum batrenya benar-benar pecah dan saya tak lagi bisa menerima telepon sampeyan. Ya, e90 yang sekarang tergeletak di samping komputer akan mulai berbunyi, menggantikan yang lama. Haruskah begitu, Am?

Ya, saya tak akan kemana-mana, Am. Jadi begitu sampeyan mengulang pertanyaan, ”Malam ini akan kemana?” jawabannya tetap akan sama, ”Di rumah saja Am, merokok dan ngopi seperti biasanya.” Jangan mencurigai saya Am, jangan. Bukan karena saya tak suka dicurigai, tapi itu tak akan baik bagi pertemanan kita. Teman tak mengenal curiga, Am. Seperti kekasih yang tak mengenal cemburu. Begitu?

Nah, saya ingat sebuah kalimat lagi dalam surat sampeyan, “Ah masalah cinta. Tak perlu dibahas. Kamu tidak menyukainya. Kurasa.” Am…adakah yang bisa -lagi- dibahas?

“Biarkan harapan tetap lahir sebagai layang-layang di tanganmu, di tanganku…sampai saatnya. Semoga tak harus menunggu esok untuk sampeyan membaca surat ini. Tiki sudah tutup Am, lebih cepat dengan ini.”

Dengan surat kecil ini, saya akan merayakan ulang tahun saya malam nanti…

25 April 2008

 

Tags: ,

Film apa Film?

Semalam dengan mas Kris Budiman (lagi seperti tahun-tahun yang sudah) saya datang ke undangan pembukaan Q Festival. Tapi malam tadi ada juga Grace. Film yang diputar judulnya Perempuan Punya Cerita -kalau gak salah.-

Duh mampus, pikir ane. Tu para perempuan bikin apa sebenarnya ya. Bicara temanya sih yang agak menarik bagian ‘cerita jakarta’ sepertinya. Tentang perempuan yang terinfeksi virus HIV. Tapi saya rasa itu karena si Susan Bahtiar maennya lumayan baguslah. Bukan pada kontens isi film itu sendiri. Gimana ya, Susan cakep sih.

Parahnya yang bagian ‘cerita yogyakarta.’ Pengaruh Iip Wijayantokah? Atau memang saya yang kuper? sampai saya tidak tahu kalau anak-anak SMU di Yogya identik dengan seks bebas, hamil, lotre penentu. Pikir saya, yang goblok penulis skenarionya atau sutradanya atau bagaimana sih?

Kalau saya pikir, kenapa coba cerita yang bagian ‘seks melulu’ musti di bagian ‘cerita yogyakarta’ sementara yang ‘cerita jakarta’ agak sedikit lebih cerdas temanya. Itu pasti akal-akalan si perempuan-perempuan di balik layar. Anehnya, bisa-bisanya ada yang tergila-gila ma ni film. Apa karena adegan2 ‘ah, eh, ah, eh-nya?’

Beruntung, adek bungsu saya (Agustina Candrawati) tidak diperbolehkan sama pacarnya untuk menerima tawaran maen di ‘cerita yogyakarta’ dalam film tersebut. Memang adik saya bukan artis kok. Akhirnya peran itu dimainkan si artis sinetron siapa itu. Tapi tetep dong, lebih cantik dan menarik adik saya..(kekeke, yang ini tidak boleh dipercaya)
(nah ini adek bungsu saya)

Apa benar? perempuan Indonesia terwakili dengan film itu? Lantas kemana larinya cerita-cerita perempuan cerdas yang tangguh, tidak cengeng, pemimpin yang -meski tidak banyak- ada di Indonesia. Konflik-konflik yang dimiliki seorang perempuan -anggaplah pilihan- yang lebih cerdas dan memerlukan pencapaian satu titik kecerdasan. Lho, di Indonesia banyak perempuan cerdas kok, berkuasa, dan tidak bergantung pada satu kebijakan atau putusan laki-laki.

Seolah-olah, dari film itu tampaklah betapa seks, ketertindasan, kebodohan, korban keganasan lelaki, dan kemelaratan melulu yang ada di otak dan sekeliling perempuan Indonesia. Dih..menyedihkan -filmnya tentu saja.-

Tapi baguslah, saya terharu melihat mbak Susan Bahtiar menahan perih saat harus meninggalkan anaknya. Lantas bagaimana dengan Ayat-Ayat Cinta? Nah, ulasan tentang Ayat-Ayat Cinta buka di http://antikris.multiply.com

Tapi saya tetap salut dengan semua karya yang lahir dari tangan-tangan manusia Indonesia, sangat. Itu intinya…

(Lebih daripada itu saya pikir teknik yang saya kira hebat ini ternyata saya curigai meniru pilem Things You Can Tell Just by Looking at Her yang diproduksi tahun 1999)

Yogyakarta 21 April 2008

 
16 Comments

Posted by on April 21, 2008 in Catatan Hari Ini, Essay

 

Tags: , , , , ,

serupa itu

perempuan itu, bosan harus berpura-pura senang. kalau kau tersenyum padanya, dia akan tersenyum. kalau menangis dan butuh dia menenangkanmu, dengan cepat dia bisa membuatmu tertawa. tapi dia sunyi, hanya sunyi.
dia merasa capek dan ingin istirahat. sekarang, dia memilih sebuah bangku kosong di sebuah taman. duduk berdiam sendirian begitu, dia mengenal dirinya dengan segera. bahwasanya dia memang sendirian. tak ada siapapun yang bisa dia (percaya) jadikan tempat bergantung dan sekadar berbincang.

dia bosan, sangat bosan. tapi dia tidak punya tempat lain, selain bangku kosong itu. dia ingin bepergian, tapi dia tak memiliki tempat untuk dituju. sekarang dia mulai memangis. ekspresinya memang tidak berubah, tapi airmata jujur melengkapinya.

dia tak terbiasa bercerita pada seseorang. dia terbiasa diam. kalau-kalau kau pernah mendengar ceritanya; sesungguhnya itu bukan cerita yang penting. sesuatu yang dirahasiakannya bisa saja dengan cepat membunuhnya. bisakah kau percaya padaku tentang perempuan itu?

nah, dia tak terbiasa bilang, “Tolonglah aku. duduklah di sini sebentar, aku butuh bantuanmu.” tidak, tidak begitu cara dia menyelesaikan banyak hal. dia memang selalu sendirian. dia tak pernah tau, kepada siapa dia bisa bergantung dan percaya.

dia masih duduk di bangku itu. orang-orang yang hilir mudik di depannya nampak serupa angin begitu saja. dia mulai cemas, kalau-kalau seseorang merebut dirinya sendiri dari dia. kalau terebut, siapa yang bisa dipercayainya lagi. siapa yang akan menenangkannya lagi?

dia masih menangis. matanya serupa kaca. dia tidak terisak. dia hanya diam menangis begitu. apa dia bernasib malang? mungkin. tapi dia sendiri tak pernah tau bagaimana menyingkirkan nasib malangnya itu.

sekarang, hujan mulai turun. dia tak juga beranjak dari bangku itu. badannya sudah kuyup, dia mulai menggigil dan batuknya menjadi, menahan sesak. dia tak berharap seseorang menemukannya dan mengajaknya pulang. dia tak punya siapa-siapa selain dirinya bukan?

begitu malam datang, dia merebahkan dirinya di bangku kosong itu. dia hanya ingin tidur dan bermimpi tentang kau. setelahnya, dia tak ingin apa-apa lagi….

 
18 Comments

Posted by on April 17, 2008 in Puisi

 

Tags: , ,

Bermain Dadu

; Rusli Hariyanto vs dadu..

(ssst, ini Rusli lagi mencari dadu…)

sebenarnya saya hampir tak pernah berhasil menebak dadu. saya selalu salah, seringkali salah. mengapa bisa salah? tentu saja salah, karena saya tak berani mengatakan itu dadu besar atau kecil. keluar berapa. saya malu kalau terlanjur menebak dan salah. tapi untuk menjaga harga diri, saya suka bilang, “ah sudahlah, saya tak suka bermain dadu.”

sekarang saya sedang bermain dadu. tapi sungguh mati saya tak berani membuka tempurung kelapa yang menyembunyikan dadu itu. saya berharap-harap cemas, kali-kali tempurung itu terbuka dan saya melihatnya dengan tanpa cemas dan rasa malu kalau salah menebak.

sebenarnya saya yakin, dadu kecil yang akan keluar. kalau taruhan, saya pasti akan menang, dan Rusli kecil itu tak akan memaksa saya minum sebotol beer bintang yang membuat perut saya mual dan terkapar di ranjang tanpa sempat cuci muka dan gosok gigi.

saya terus saja menatap tempurung kelapa itu. tergoda mencoba mengintip ke dalamnya. ah konyol, tentu saja tak bisa. sekarang saya serupa pandir kecil yang sibuk mengusap keringat karena cemas hati menyergap saya penuh seluruh.

dadu kecil akan keluar. begitu pastinya. tapi sumpah, saya tak berani menebaknya. kalau salah, saya akan malu pada diri sendiri. kalau benar, saya akan kehilangan cemas dan bosan pada permainannya. nah, kalau sudah bosan saya akan mencari permainan baru yang lebih menantang otak dan pikiran saya.

bermain dadu begini, serupa terkena candu. meski saya tak pernah menghisap ganja atau candu-candu lainnya. tapi saya tau, cemas karena bermain dadu ini seimbang dengan pengaruh candu. serba tak yakin -padahal yakin sih- begini menjadi kemewahan tersendiri bagi saya.

melihat orang-orang yang merayakan kemewahan dengan membakar langit menjadi warna-warna pelangi, saya tak heran. menyaksikan Rusli memainkan handphone-nya serupa lego, saya tak tergoda. memperhatikan anak-anak bermain engklang saya akan lebih cepat bosan. karena saya tahu, saya selalu menjadi pemenang bermain-main yang seperti itu.

bermain dadu membuat saya tertawa, sekaligus bertanya-tanya kiranya terbuat dari apakah benda persegi itu. sembari mengira-ira, saya bisa menikmati kopi, merokok, sambil menyanyikan lagu “aku cinta kau dan dia.” eh, jangan dikira tak ada hubungannya antara dadu dan lagu ini. begini, kalau disuruh memilih antara kopi dan rokok, saya tak akan bisa memutuskan dengan cepat. kalau disuruh memilih tempurung kelapa atau dadunya, saya juga pasti kesulitan memilihnya.

memang benar. bisa saja saya memilih dadu, lantas memainkannya dengan telapak tangan saya sendiri. ah, tapi itu kurang afdol bukan? kalau telapak tangan saya sibuk menutupi biji dadu, lantas bagaimana saya merokok? lantas bagaimana saya memegang cangkir kopi? memang bisa saja, saya minum dengan kaki saya. ah, tapi saya tak mau, saya kan biasa hilir mudik kalau sedang bermain dadu.

(yang ini dia sedang mencoba merayu dadu…)

Rusli, laki-laki kecil yang memanggil saya, “Mbak, guru, sista, dll” itu, memaksa saya untuk berhenti bermain dadu. Katanya, “Kasian dadu-dadunya, kalau lecet dan hilang bulatannya kan repot. Apa masih kurang dadu yang rusak karena ulahmu?”
“Dih, salah sendiri jadi dadu. Kalau ndak dimainkan juga apa gunanya jadi dadu? Aku cuma menjalankan tugasku, bermain dadu. Dadu tugasnya ya diem aja di tempurung. Sesekali dilempar, sesekali disembunyikan, sesekali juga dihentakkan.”
“Tapi sebenarnya salah si dadu sendiri sih, ngapain deket-deket kamu.”
“Nah, itu juga kau tahu. Dah cari dadumu sendiri, mari kita mainkan….”

 

Tags: , ,

kau tak (se)harus(nya) berjanji…

serupa makam tanpa nisan; maka bangkitkanlah aku dari deritaku. jangan kau kirimkan seseorang yang lain untuk menjemputku. aku hanya mau kamu yang memapahku. maaf merepotkan.

jangan jauh-jauh dulu, sebab aku sedang tak ingin sendiri. kembalikanlah aku pada duniaku yang sunyi. tapi sungguh, jangan jauh-jauh dulu.

jangan dulu mengajakku berdebat
jangan dulu menyangsikan apa-apa
jangan dulu mengeroyokku dengan pertanyaan
jangan bertanya siapa, mengapa, ataupun bagaimana…
aku hanya ingin lahir kembali, keluar dari kutukan yang menyengsarakan aku

sekarang biarkan aku mati dengan cara yang paling santun. dengan cara yang tak pernah orang-orang tunjukkan sebelumnya. dengan begitu aku akan menjadi jenasah yang benar. mengapa aku benci mengakui, kalau tak seharusnya aku mengutuk kutukan bagi diriku sendiri.

sekarang, bongkarlah makam itu, temukan belulangku. lahirkanlah aku serupa maumu, dan biarkan aku mati dengan cara yang kau mau…
tanpa derita yang berarti
tanpa senyum yang berarti
tanpa sumpah-sumpah yang pasti
tanpa harus kau berjanji…

(apakah aku nampak baru -lagi- bagimu?)

 
10 Comments

Posted by on April 14, 2008 in Puisi