RSS

Kami Menyebutnya Lapis

“…di luar mulai ramai lagi anak-anak pulang sekolah dengan kebaya dan beskap mereka…”

lapis di hari kedua

lapis di hari kedua

Lebaran Idul Adha beberapa tahun lalu, saya sempat memasak menu ini untuk keluarga dan teman. Mereka menyebutnya rendang. Dengan kalimat, “Tapi kok manis ya?” Apapun itu, yang menyenangkan, mereka merasa senang dengan masakan ini dan menanyakan resep masakan yang saya buat ini.

Pulang dari sarapan di soto Pak Soleh, saya ke supermarket untuk membeli daging. Meski Ibu (di Ngawi) beberapa kali mengingatkan, “jangan masak daging dulu, ini daging Ibu siapa yang makan?” Karena memang Ibu di rumah tahun ini masih diberi kesempatan untuk memotong hewan korban), Nah kembali soal belanja daging di supermarket, dagingnya jelas lebih murah ketimbang beli di pasar. Kita bisa memilih daging yang jenis apa, tentu dengan harga yang berbeda, dan bersih. Meski bukan berarti saya kurang senang berbelanja di pasar tradisional ya. Karena nyaris setiap hari mbak Tami dan mbak Rita yang membantu mengurus rumah juga berbelanja di pasar.

Hari ini keluarga memesan “daging lapis” lagi, karena kemarin saya sempat memasak ini dari jatah korban kami. Baiklah akhirnya saya memutuskan memasak daging lapis lagi, dengan sambal goreng ati (http://herlinatiens.wordpress.com/2014/10/04/opor-di-idul-adha-menu-pesanan-hari-ini/) juga membuat acar, karena memikirkan tensi. Heheheh…

Saya tidak tahu apa nama masakan ini…Tapi seingat saya, menu ini sering dihidangkan saat acara pernikahan (Waktu itu masih musim piring terbang, bersama acar, capcay putih dan kerupuk udang. Kalau sekatang kan modelnya prasmanan). Oke singkatnya begini resep sederhana dari daging lapis ini.

Bahan:

  • Daging sapi 1kg
  • Telur 1 atau 2 butir
  • 1/5 sendok teh merica
  • 1/5 sendok makan ketumbar
  • Margarin blue band 1 bukungkus
  • Santan (pake kara kotak itu 1 juga cukup kalau nggak mau pake santan asli)
  • Kemiri (saya pake separuh saja)
  • Bawang merah 14 siung (atau sesuai selera)
  • Bawang putih 12 siung (atau sesuai selera juga)
  • 1 cm kunyit
  • 3 lembar daun salam
  • 5 buah cengkeh
  • Kayu manis seukuran ibu jari
  • Gula merah
  • Kecap
  • Jahe (bagi yg suka, saya sih nggak pake)

Bumbu seperti bawang merah dan putih, kunyit dihaluskan atau bisa juga diiris tipis2 lalu digoreng. Ketumbar, merica, kemiri digongso dulu baru dihaluskan juga. Setelah itu semua bumbu dimasukkan ke dalam daging yang sudah diiris tipis, potong berlawanan dengan seratnya ya kalau bisa, tambahkan kecap, blue band, dan telur. Diremas-remas lalu biarkan beberapa saat, kura-kira 30 menitlah. Nah kalau sudah langsung dimasak (jangan sampai kena minyak goreng ya, karena daging bisa nggak ngembang dan keras) dengan api yang kecil. Begini penampakkannya;

Ini karena daging sempat saya masukkan lemari es, makanya menteganya nggak mau nyampur dengan daging

Ini karena daging sempat saya masukkan lemari es, makanya menteganya nggak mau nyampur dengan daging

Karena diremas tadi kan, daging keluar airnya to? Nah begini ini penampakan setelah 1menit di atas kompor. Kalau dirasa kurang air ya tambahin aja dikit, sembari masukkan bumbu pelengkap lain seperti cengkeh dan kayu manis, juga gula merah dan bumbu penyedapnya. Kalau sudah empuk ya tinggal masukin santan. Jangan lupa setelah santan dituang ke masakan, diaduk terus sampai mendidih lagi, agar nggak pecah santannya. Dan oh ya, kalau pake kara, biasakan cuerkan dulu karanya dengan air.

Selamat mencoba dan Selamat Ulang Tahun Yogyakarta

ini hasil masak daging lapis di hari sebelumnya...

ini hasil masak daging lapis di hari sebelumnya…

Yogyakarta, 7 Oktober 2014

(menulis ini saya sembari ngobrol via fesbuk dengan mas Te, sahabat lama saya)

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2014 in Merayu Api

 

Tags: , , , , ,

OPOR AYAM di Idul Adha; menu pesanan hari ini.

Hari ini, sebagian dari keluarga saya sudah melaksanakan sholat Idul Adha. Sementara saya sendiri baru akan berangkat besok. Dari informasi yang saya dapat dari akun twitter @infosenijogja di sekitar tempat saya tinggal, akan diadakan sholat Idul Adha di samsat. Ah, jalan kaki tidak akan lebih dari lima menit.

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA, teman-teman….Di hari raya Idul Adha, biasanya kami akan rame-rame ngumpul dengan teman dan kerabat sehari atau dua hari setelah pemotongan daging qurban untuk maenan api bareng. Karenanya, mungkin esok hari kami akan sekali lagi merayakan lebaran Idul Adha bersama kawan-kawan. Sementara hari ini, sengaja kami memilih menu seperti lebaran Idul Fitri, opor ayam dan sambal goreng ati (aduh, ini makanan nggak sehat ya? hahahah)

sudah ditambah dengan bawang merah goreng, dan bubuk kedelai, siap untuk dimakan..

sudah ditambah dengan bawang merah goreng, dan bubuk kedelai, siap untuk dimakan

Karena beberapa hari sudah sibuk dengan santan, karenanya menu pesanan keluarga hari ini saya pastikan TIDAK boleh terlalu kental, dengan maksud mengurangi asupan santan yang selama seminggu ini asyik disajikan dari dapur. Kebetulan mbak Tami hari ini belum pulang ke Boyolali dan memang tidak memasak. Jadi dapur sementara aman untuk saya gunakan sendiri. Tugas mbak Tami kali ini, duduk manis nonton tv, meskipun doski merasa tidak enak dan memaksa saya untuk memperbolehkan membantu.

OK jadi saya berangkat ke pasar terlebih dahulu untuk belanja, pikir saya lebih cepat saya yang belanja ketimbang mbak Tami, karena doski musti membersihkan rumah dan menyetrika baju. Pasar lumayan sepi, penjualnya pun banyak yang masih sholat Idul Adha, sementara dagangan mereka titipkan ke teman sebelah lapak.

Selama di pasar saya mengenang lebaran di rumah saya sendiri, saat saya masih kecil dan tinggal bersama bapak dan ibu serta dua adik saya. Lebaran selalu menjadi hari isimewa bagi kami, keluarga besar akan pulang. Tak ada menu spesial, tidak ada makanan mewah, selain kebahagiaan yang kami nikmati dengan cara sederhana. Menu opor, menjadi menu wajib di keluarga kami setelah kami (anak-anak bapak dan ibu) meninggalkan rumah untuk sekolah. Sering sebelum lebaran Ibu lebih memilih untuk bertanya kepada kami, akan masak apa di hari raya. Sop khas Ibu menjadi favorit kami di lebaran. Selain memang sangat sangat sangat enak, juga nggak gampang bikin kenyang to?

Bertahun-tahun kemudian opor, menjadi menu wajib di antara menu lain di meja makan saat lebaran Idul Fitri tiba. Sementara di hari raya Idul Adha, Ibu yang biasanya menyembelih hewan korban, memasak daging yang diterimakan padanya. Karena hanya tinggal berdua dengan Bapak, sering juga daging itu kemudian dimasak oleh Ibu untuk dibagikan kembali kepada tetangga atau kerabat.

Sementara asyik mengenang lebaran dan masa kecil, saya ingat komentar seseorang yang belakangan menjadi Vegetarian. “Yang bisa dan tega menyembelih binatang itu, bisa membunuh orang pasti.” Saya kesal dengan komentar ini, cenderung menyayangkan komentar yang saya kira kurang masuk akal. Karena saya agak malas berdebat terlalu lama, saya hanya komentar, “Saya juga bisa membunuh manusia, meski saya sendiri belum pernah menyembelih ayam atau cenderung memilih melepaskan semut yang menggigit saya, apalagi kalau orang itu menyakiti orangtua saya misalnya, mengancam keselamatan ayah ibu saya, saya bisa dan sangat mungkin to jadi pembunuh?”

Sayangnya memang, diskusi ini memang bukan soal lebih mungkin mana menjadi pembunuh, antara yang pernah menyembelih binatang atau yang tidak pernah. Seingat saya diskusi ini berputar-putar seputar alasan tidak makan daging, meski masih makan telur dan keju serta susu. Tidak berarti saya menertawakan pilihan tersebut, saya hanya sedikit menyayangkan komentar si kawan yang seperti meremehkan sisi kemanusiaan (atau perikebinatangan?) seseorang yang makan daging? Toh saya sendiri menghabiskan banyak tahu tidak makan daging. Bukan karena sok idealis karena ini dan itu, tapi memang karena saya tidak doyan daging. Pilihan saya untuk makan daging lebih karena ingin mengolok diri saya sendiri yang saat itu tergoda untuk menjadi vegan. Saya kurang senang apabila diri saya fanatik akan sesuatu. Karenanya dalam hal apapun, saat saya mulai fanatik pada sesuatu dan mencari penguat alasan, saya cenderung memotong mata rantai yang ada.

OK, kapan-kapan lagi ngobrolnya soal vegan, vegetarian bla bla bla….

(karena saya sudah mulai mual, membandingkan kalimat “You are what you eat” dengan membandingkan keseharian si kawan. Well ini tidak berarti apapun soal nilai ya???)

OPOR AYAM

Opor ayam pagi ini

Opor ayam pagi ini

Bahan:

  • 1 kg ayam
  • 1 kg telur ayam
  • 1,5 kelapa (tergantung selera)
  • 12 siung bawang merah (kalau besar ya 8 aja deh)
  • 12 siung bawang putih (karena saya suka bawang)
  • 1,5 butir kemiri (semakin banyak kemiri menurut saya makin bikin enek)
  • 1/2 sendok makan ketumbar
  • 1/4 sendok makan jintan
  • 1 sendok teh merica
  • 1 cm laos (memarkan)
  • 3 lembar daun salam
  • 6 lembar daun jeruk (sesukanya deh)
  • 3 batang sereh (atau sesuaikanlah ya)
  • 1,5 sendok makan gula merah
  • 1/5 cm cm kuntit. (ingat kan saya nggak suka kunyit hehe)
  • Seibu jari jahe
  • 1/5 cm kencur (ibu saya sedikit menambah temu kunci)

Ada alasan mengapa saya tidak menggunakan bawang merah terlalu banyak, karena semakin banyak bawang merahnya, akan semakin asam opornya. Karenanya, setelah matang, rasa gurih dari bawang merah saya ambil dengan cara menambahkan bawang merah goreng setelah opor matang. Setiap keluarga memiliki resep dan cara memasaknya sendiri, ini juga keyakinan saya soal enak dan tidaknya makanan… hehehe

Kalau saya, semua bumbu kecuali laos, daun jeruk,  daun salam, dan sereh, saya haluskan. Setelah halus saya gongso langsung di panci, saya tambah laos, kemudian masuklah daging ayam, menyusul santan cair (agar tidak pecah sebaiknya diaduk terus hingga mendidih) masukkan daun salam, laos, sereh dan daun jeruk serta bumbu (garam dan gula, silahkan yang biasa dengan micin, saya mengganti micin dengan masako heheh) lalu telur, sesudah itu tambahkan santan kentalnya. Udah deh jadi…kekentalan opor sesuai selera ya…saat masih di atas kompor itulah, saya memasukkan bawang merah goreng dan saya aduk.

Nah lalu memasak sambal goreng ati….

nggak sehat ya?

nggak sehat ya

Bahan:

  • 1/5 kg hati ayam
  • 1 ons krecek
  • 1/5 butir kelapa
  • 10 siung bawang merah
  • 10 siung bawang putih
  • 7 buah cabe merah (buang isinya) atau sesuai selera pedasnya
  • 3 lembar daun salam
  • 1cm laos
  • 1 batang sereh
  • 1,5 sendok makan gula merah
  • garam dan bumbu penyedap

Bagi yang suka pedas bisa menambah cabe merahnya. Sementara kami sekeluarga tidak bisa makan pedas (perut protes, lho jangan salah, sampai masuk UGD lho) karenanya semua bumbu cukup saya iris, termasuk si vabe ini tadi. Sementara beberapa orang akan menghaluskan separuh bumbu, separuh yang lain diiris. Atau ada juga yang memilih semua cabe dihaluskan. Warnanya juga akan lebih bagus, karena jadi merah…tapi ya gitu deh, kami nggak tahan pedas….

Yaaaaaaaaaah, sudah adzan Dhuhur…sudah dulu ya…Siapa tahu nanti malam kita bisa ngerumpi lagi…Nah, hari ini, teman-teman masak apa???

Sekali lagi selamat hari raya Idul Adha bagi teman-teman yang merayakan….

Yogyakarta, 4 Oktober 2014

 
1 Comment

Posted by on October 4, 2014 in Merayu Api

 

Tags: , , , , , ,

Katie Melua dan Rindu di Hati Saya

Seluruh pengetahuan, perjalanan-perjalanan ini, apalah artinya bila tanpamu…

Lagu ini selalu membuat saya senang mengulang dan terus mengulangnya…

Dulu sekali sebelum saya pernah kedinginan di negeri bermusim dingin, saya bertanya-tanya bagaimana lagu ini bisa dibuat. Tapi kemudian saya pernah mengalami hari dimana tak cukup hanya segelas kopi dan mantel untuk menghangatkan diri. Perasaan dicintai, keinginan untuk bertemu dan pulang…

Tiba-tiba saya ingin menulis puisi…

Perasaan yang sama saat saya dengan hati menuliskan beberapa lembar kartu pos untuk saya kirimkan pada diri sendiri dan orang-orang yang saya cintai…

kartu pos yang saya kirimkan untuk diri saya sendiri

kartu pos yang saya kirimkan untuk diri saya sendiri

Sekarang saya memiliki kenangan tersendiri dan cara berbeda dalam menikmati lagu Katie Melua ini. Perasaan terpahami, keinginan kembali ke negeri yang sama untuk segelas kopi di samping perpustakaan kota itu sendiri lagi ataupun berdua-dua dengan yang di hati.

Maka sekarang saya terus menunggu sepenuh hati, dengan debar karena mengingat akan denyar perjumpaan itu nanti. Mungkin dia akan mengagetkan saya dengan hembusan hangat di pipi. Atau memeluk saya dari belakang sembari berbisik, “sudah lama menunggu?” Dengan ataupun tanpa keduanya saya akan tetap senang, sebab dialah yang akan datang.

Yang lebih menggembirakan bila dia datang bersama dua bocah kecil; anak-anak kami. Dengan keriangan di pelukan mereka, sementara kanan tangan mereka menjinjing tas kecil berisi permen dan syal yang tak ingin dikenakan akan tetapi tetap harus dibawa.

yang selama ini sunyi akan kembali bernyanyi…

 
Leave a comment

Posted by on October 2, 2014 in Catatan Hari Ini

 

Tags: ,

Sorbet Mangga

Kalau sedang musim mangga, saya memang senang mewajibkan diri untuk stock buah paling yepyu ini di almari es, khususnya mangga manalagi (di Ngawi Jawa Timur kami menyebutnya begitu) di Yogya disebut juga arum manis. Seringkali buah satu ini hanya saya kupas dan makan begitu saja, sesekali saya juice dan belakangan saya membuatnya sebagai sorbet agar bisa dimakan kapan saja tanpa perlu repot terlebih dulu.1898176_10152784945861473_168985465029124721_n

ini saat juice dilembutkan/diblender/digaruk2 pake garpu untuk ketiga kalinya

ini saat juice dilembutkan/diblender/digaruk2 pake garpu untuk ketiga kalinya

Adapun bahan-bahan membuat sorbet banyak yang sudah upload di website…sementara saya sendiri memilihnya menjadi seperti saat saya membuat jus-jus buah pada hari-hari biasanya…

> daging buah mangga
> air gula (manisnya sesuai tingkat keasaman mangga atau bisa juga diganti susu cair)
> 1 buah jeruk lemon/nipis diambil airnya.

Cara Membuat:
blender buah daging buah mangga dengan air gula (saya memilih tidak menggunakan terlalu banyak air) dengan perasan jeruk. Setelah benar-benar halus, masukkan ke wadah plastik (tupperware misalnya) dan simpan di freezer. Setelah mengeras, ambil dan blender lagi, atau bisa juga menggunakan garpu dan digaruk2 (aduh bahasane ya ampun) lalu masukkan lagi ke freezer, ulang sampai 3 kali…Dan beginilah hasilnya…

sorbet mangga

sorbet mangga

 
1 Comment

Posted by on October 1, 2014 in Merayu Api

 

Tags: , , , , , ,

Membawa Anubis dari Melbourne

Di akun sebelah sedang marak pamer barang lawasan, tak ketinggalan saya ikut panas membongkar-bongkar barang-barang saya. Menemukan cangkir saya senang. Menemukan koin cetakan tahun 1790 saya makin senang. Menemukan surat-surat yang saya terima di tahun 1990-2001 saya senang dan berdebar. Menemukan foto mantan ya lumayan senang hehehe.

Tahun 2012 kemarin, adalah kali kedua saya berkunjung ke Melbourne. Tinggal selama tiga bulan di sana membuat saya rajin mengunjungi tempat-tempat yang direkomendasikan beberapa orang teman. Salah satu yang musti saya kunjungi adalah old shop. Adik saya juga menyarankan pada saya agar tak melewatkan pengalaman mencari-cari pernak-pernik lucu di toko barang bekas ini.

Di sebuah old shop/ vintage shop di Sydney road. SAVERS (http://vintagemelbourne.com/savers-sydney-road/) Toko barang bekas ini tentu lebih gede ketimbang yang ada di Jalan Afandi (dulunya Gejayan) misalnya. Sebenarnya saya bukan terbasuk orang yang suka belanja di toko barkas, tapi masuk ke Savers saya merasa senang. Banyak barang-barang lucu yang saya temukan. Belum ada satu jam saya sudah melirik tempat lilin dari kuningan bertulisakan huruf China, piring hias untuk dinding berbahan kuningan juga untuk bapak, yang kalau saya perhatikan berasal dari Eropa.

Hari itu, meskipun di musim panas, saya kedinginan karena suhu menunjukkan posisi 18 derajat celcius di handphone saya. Karenanya atas saran kawan, saya berpikir untuk mencari mantel yang bisa saya gunakan untuk sementara selama di Melbourne. Tidak mendapatkan mantel, saya menemukan pernik kecil yang saya kenali sebagai patung ala Mesir.

1926721_10152783786111473_6181722040717450912_n

#Disergap Jirih
Hari ini, setelah dua tahun lewat, saya mencari-cari figure siapakah dalam patung ini. Lalu saya menemukan sosok Anubis. Anubis yang dalam kepercayaan Mesir kuno dianggap sebagai dewa yang paling penting dalam kematian (mengingat perannya yang berhubungan dengan kematian dan akhirat) membuat saya bergidik untuk sesaat sekaligus ingin lebih tahu soal Anubis. (OK ini PR untuk saya mencari-cari referensi tentang Mesir kuno)
Dewa berkepala serigala, beberapa menganggapnya berkepala anjing ini membuat jantung saya berdebar-debar, mana warnanya kusam, meski label harga (1,99$) yang masih nempel belum saya lepas sesekali saya jadikan fokus agar tak terlampau berdebar.

saya sedang takut mati!

Dari hasil ngintip ke beberapa web, Anubis yang sering digambarkan berkulit hitam ini melambangkan gambaran kehidupan setelah kematian dan kelahiran kembali juga diyakini sebagai dewa dunia bawah. Yang menenangkan, (karena sempat berpikir akan membuang the little ones ini) ada yang mengatakan Anubis dianggap sebagao pelingdung roh dan pemangsa jiwa-jiwa jahat. Lebih dari itu, Anubis menjadi pengawas misteri. Well, saya senang hal-hal yang penuh misteri.

Narasi tentang kematian, apapun bentuknya, meskipun nyaris selalu membuat saya bergidik, selalu terdengar sexy bagi saya. Cerita-cerita yang mengiringi si mati. Mitos dan dongeng tentang lepasnya roh dari tubuh yang didendangkan secara turun temurun, bagaimanapun manusia modern menertawakannya, nampaknya tak mengubah sexy-nya kematian bagi saya.Tak heran saya selalu terdiam saat megatruh menyentuh telinga saya, dimanapun, kapanpun dan dalam situasi seperti apapun. Debar yang selalu datang biasanya adalah tanda untuk saya berpura-pura tidak mendengar sekaligus ingin terus mendengarnya.

10418258_10152783786491473_8931909919397297648_n

Yogyakarta, 1 Oktober 2014

 

Tags: , , , ,

Mengingat dan Melupakan di Tubuh Jakarta

Judul : Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto
Penulis : Abidin Kusno
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Edisi : Pertama, 2009
Tebal : xxiv + 210 hlm

Selama bertahun-tahun tak kurang dari 6 tahun, saya merasa cemas terhadap kecemasan saya sendiri setiap kali mendapat tugas dari guru SD saya untuk melihat film G 30/S PKI yang ditayangkan tengah malam pada masa itu. Bagaimana saya tidak cemas? Film itu akan diselingi Berita Dunia yang artinya akan terlalu larut untuk saya berangkat tidur. Tanpa harus diingatkan oleh Ibu, saya akan beranjak dari depan televisi tepat saat tayangan film dihentikan untuk mengikuti berita selama satu jam. Keesokkan harinya saya akan mengeluh tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima aturan yang dimainkan dalam keluarga saya.

Begitulah, bagaimana pemerintah melalui TVRI yang pada masa itu merupakan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia mencoba memainkan perannya sebagai mesim pengamnesia masyarakatnya dengan menanamkan satu pemahaman bahwa PKI adalah penjahat dan sekaligus cacing yang paling menjijikkan yang harus dijauhi dan dibenci selamanya.

Rupa-rupanya, teknik ini sudah tidak lagi eksis dalam dunia pengamnesiaan sejarah. Suntik amnesia diberlakukan kembali dengan cara memanfaatkan satu ranah yang meskipun berbeda motifnya, tapi memiliki tujuan yang sama.

Kenyataan tersebutlah yang membawa masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta pada sebuah pertanyaan dasar tentang Jakarta masa kini dalam buku Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto (selanjutnya disebut JPS) karya Abidin Kusno.
Hal paling umum yang ada dalam benak banyak orang di Indonesia tentang Jakarta adalah bahwa, Jakarta sebagai pusat modernisme, ibukota negara, sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan yang berisi gedung-gedung bertingkat, mall-mall megah, apartemen dan rumah mewah juga mobil lalu lalang di jalanan dengan segala jenis merk ,warma, dan jenis yang menyebabkan kemacetan di hampir seluruh jam. Realitas-realitas ini berkelindan dengan realitas lain sebagai imaji tentang dunia kumuh pinggir kali dan berkumpulnya pengemis dan anak jalanan.
Bagaimanapun juga tetaplah satu kenyataan bahwa suatu realitas di Jakarta selalu berjalin kelindan dengan realitas yang lain. Jakarta akhirnya hampir selalu dimaknai sebagai satu realitas tunggal sebagai tempat yang menawarkan kegermelapan dan kemudahan hidup bagi warganya, meskipun menurut penulis Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu esainya mengatakan bahwa “kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya.” Wajah kepahitan itu sendiri saya kira bisa dimaknai bermacam-macam, namun kepahitan itu pula yang tergambar, sekaligus berusaha disingkirkan, dalam realitas Jakarta.
Secara garis buku JPS yang berdasar dari penelitian ini menarasikan adanya pertarungan kuasa dalam pembentukan dan tata ketak ruang kota. Bahwa isi, bentuk, dan ruang kota membentuk nuansa politik, kebudayaan, identitas keseluruhan, dan tentu saja memori kolektif kota Jakarta.
Bahwa gedung, bangunan, monumen-monumen dan tata letak kota bukan sekedar benda mati yang mengedepankan suatu cita rasa dan kreasi arsiteknya. Akan tetapi lebih daripada itu, menjadi sarana politis untuk membangun suatu identitas kolektif. Sifatnya yang ambigu dan bahkan kontradiksi, bukanlah sesederhana hitam dan putih dalam proses membangun suatu identitas demi kepentingan legitimasi suatu rezim dan kekuasaan.
Bisa dikatakan, memori dan kota ibarat sebuah koin dengan dualitas sisi yang bersebelahan yang sekaligus juga memiliki hubungan dialektis dimana mengahasilkan urban memory. Hal ini mengindikasikan kota sebagai sebuah lanskap fisik di mana terdapat kumpulan objek dan praktik yang memungkinkan masa lalu dikumpulkan kembali dengan cara menaruhnya pada bangunan kota (Lihat Crinson [ed], 2005: xii). Artinya, memori sebuah kota melakukan “aktivitas” mengingat atau melupakan melalui bangunan yang ada di dalamnya, melalui sekumpulan “objek” dan “praktik” yang dipahami sebagai tempat dan ruang fisik konkret yang ikut menampung dan membentuk eksistensi memori kolektif warga. Dengan demikian, mengutip Rossi, seseorang bisa saja mengatakan bahwa kota itu sendiri merupakan gambaran dari memori kolektif para penghuninya (Harvey, 2003).
Jelas kemudian bahwa kota, dalam hal ini Jakarta, menjadi simbol sekaligus medan untuk mempertemukan, mengadu dan membentuk identitas-identitas yang ada untuk suatu politik identitas yang dimau oleh suatu rezim. Bahwa kota beserta seluruh bangunannya tidaklah sebisu yang masyarakat penghuninya kira.
Buku ini di awali dengan ulasan tentang pembentukan memori kolektif melalui proses “mengingat” dan “pelupaan.” Dengan kata lain memori kolektif muncul dengan adanya pelupaan kolektif. Penurunkan patung Jan Pieterszoon Coen, yang tidak sekedar monumen peringatan, di lapangan Banteng pada 6 Maret 1943, tanpa menghancurkan patungnya adalah usaha dari Jepang untuk membangun ingatan sekaligus pelupaan penghuni Jakarta pada pemerintah Belanda

“Setelah patung dan portal disingkirkan, portal dan pedestal ini menjadi kanvas kosong yang terbuka untuk diisi dengan pesan baru. Masa lalu tidak dihilangkan, tapi dihadirkan dalam bentuk monumen kosong, suatu ruang yang telah dibersihkan untuk menampung kenangan baru. Yang penting di sini bukan bukanlah pembentukkan wacana pelupaan, seakan-akan kapasitas memori itu terbatas sehingga perlu dikosongkan untuk diisi memori baru.” (JPS, 2009: 7)

Jepang berpikir dengan cara ini, masyarakat Jakarta melupakan Belanda dan mengingat Jepang sebagai cahaya baru bagi masyarakat. Hal ini berarti segala ketentuan dan aturan yang pernah diberlakukan oleh Belanda diganti dengan aturan baru dari Jepang. Hal ini juga yang dilakukan oleh Soekarno yang memenuhi ruang kota dengan berbagai monumen dan gedung-gedung mewah. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Suharto melalui narasi Lubang Buaya dimana mematikan karakter komunisme dan membangun kerangka keberhasilan dan heroisme militer dalam melindungi masyarakat.

Penguasa Orde Baru dalam hal ini, masa Suharto sebagai lokomotifnya memainkan menarasikan peran Jakarta dalam segala motif kekuasaannya. Jika di era Soekarno Jakarta merupakan medan mobilisasi yang menurut banyak orang dianggap paling masif, di masa Suharto hal ini mencoba dinetralisir untuk tidak mengatakan dipangkas dan dibunuh. Bagaimana citra Soekarno sebagai Penyambung Lidah Rakyat mencoba digeser dengan kesengajaan yang tentu bersifat politis melalui mengganti kata “Bung” Karno dengan sebutan “Pak” Harto. Dalam filosofi Jawa kata Pak tentu merujuk pada istilah Bapak, yang bertugas mengatur dan mendidik anak-anaknya (masyarakat dan negara pada umumnya) agar tidak salah langkah.

Tragedi Petrus (Penembak Misterius) di tahun 1980-an dianggap menjadi shock therapy oleh pemerintahan Suharto. Motif ini umpama metode panoticon, yang bertujuan untuk mendisplinkan tubuh dan perilaku personal/subyek tanpa adanya paksaan maupun pengawasan yang sifatnya berkesimabungan dan mutlak. Melalui tragedi inilah Suharto mencoba menunjukkan kuasa atas kontrolnya terhadap Jakarta.

Memori kolektif menjadi tidak stabil karena terus dibentuk dan bahkan dengan niscaya sangat berbeda dari satu masa ke masa berikutnya mengikuti selera penguasa. Karenanya memori “resmi” seringkali penuh dengan kontradiksi-kontradiksi. Sikap mendua hati dari pengingat akan mudah ditemui, karena simbol-simbol pengingat sekaligus pelupaan juga bersifat ambigu dan ambivalen.
Dari banyaknya kelindan antara memori-memori yang coba dibentuk oleh penguasa dan sekaligus personal miliki sendiri, terdapat memori-memori yang sifatnya jauh lebih sederhana kalau tidak berhasil dilupakan. Memori-memori tersebut seringnya berasal dari ketidakberhasilan pembentukan memori kolektif. Sebagai contoh adalah peristiwa Mei 1998, yang dikenang sebagai peristiwa penuh kontradiksi dari berbagai trauma yang ada. Sehingga bentuk pengingatannya adalah harus mengambil motif/bentuk pelupaan.

Meski konsekuensi yang bisa terjadi dari bentuk pelupaan ini adalah berulangnya pengalaman pahit tersebut. Sebaliknya, ketidakmampuan untuk melupakan konflik yang terjadi (di 1998) juga membuka celah untuk konflik yang lebih dahsyat lagi. Tanpa adanya ruang publik, bukan berarti memori dari suatu peristiwa pahit hilang, tapi bisa jadi suatu komunitas menyimpan dan membentuk memori kolektif di wilayah personal masing-masing. Hal itulah yang menjadikan hubungan antara ruang publik, formasi identitas dan memori kolektif sangat jauh dari sederhana.

“Meskipun keberadaan memori tergantung pada ruang publik dan lingkungan fisiknya ruang publik tidaklah mampu dengan sendirinya membawa dan menyimpan memori. Tapi, sebaliknya, ruang publik ini adalah arena tempat negara dan masyarakat menunjukkan kekuasaannya melalui pemaknaan sosial dan legal.” (JPS, 2009: 35)

Pemasaran ruang kota, pengawasan terhadap budaya kota, pelupaan terhadap konflik-konflik sosial, merupakan sebagian dari realitas yang ikut membentuk memori. Sebagian ada yang tetap hidup dalam ingatan sebuah komunitas, sementara yang sebagian lagi terlupakan. Ilustrasi ini hanya ingin mengatakan: pada awalnya, pelupaan terlihat menakutkan, sementara mengingat terlihat menarik hati. Namun kemudian ternyata, pelupaan menjadi sesuatu mempesona karena ternyata untuk mengingat pun, seorang atau sekelompok orang harus terlebih dahulu melalui jalan pelupaan.
Sebagaimana sebuah representasi, selalu saja ada jarak antara wacana dan realitas yang ada. Representasi selalu berupaya untuk menutup celah yang ada tersebut dengan berbagai macam motif dan bentuk, meskipun kenyataannya tidak selalu berhasil. Bandingkan dengan bagaimana representasi dari negosiasi yang dibentuk pada bangsa Indonesia yang mengalami berbagai macam kekerasan sosial dan traumatis yang apabila seluruhnya diingat akan membuat bangsa tercerai berai.
Negosiasi antara kota dan negara menjadi lebih jelas bila kita memperhatikan bentuk ruang dan fisik perkotaan, sebab jelas bahwa tata letak kota tidaklah sebisu yang kita kira. Kesemuanya itu turut serta dalam membentuk identitas masyarakat di dalamnya dan imajinasi nasional pada umumnya.

Perjalanan era Suharto jelas mencoba menghapus memori kota penguasa sebelumnya dan menciptakan generasi baru yang amnesia sejarah. Politik estetika kota yang ada menunjukkan representasi arsitektur dan perkotaan telah menghasilkan dua kelompok sosial/kelas sosial dalam negara; kelas bawah dan elite kelas menengah. Kedua kategori ini muncul dengan jelas di kerusuhan Mei 1998 yang sekaligus menjadi kehancuran era Suharto sendiri.

Peminggiran memori kolektif masyarakat Tionghoa Glodok atas kerusuhan Mei 1998 dilakukan paska kerusuhan itu terjadi. Catatan kelam dari penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan perempuan-perempuan Tionghoa sampai saat ini tidak selesai. Apalagi jika kita lihat bangunan megah bergaya modern Glodok Plaza yang sekarang, berdiri begitu angkuh di atas ketidakjelasan sekaligus buruknya nasib para korban kerusuhan.

Kenyataan dari suatu memori kolektif yang diingat maupun dilupakan tidaklah berlangsung secara natural. Pada titik ini kota bisa dimaknai sebagai entitas yang memperlakukan sejarah masa lalu sebagai sesuatu yang diseleksi secara ketat dan tidak sederhana. Melibatkan elemen-elemen lain dimana kekuasaan menjadi pengejawantah utama melalui teknik arsitektur, perencana kota, pengembang, dan seterusnya. Sedangkan realitas kota turut serta membentuk jalinan memori yang meskipun masih akan terus diseleksi hingga bisa “diterima” oleh realitas itu sendiri.

Wacana sub-altern akan kerusuhan Mei ini, diangkat oleh Seno Gumira Ajidarma dalam esai berjudul Jakarta 2039 di majalah Matra, yang pada akhirnya diterbitkan oleh penerbit Galangpress dalam sebuah essay bergambar. Angka 2039 ini menunjuk pada 40 tahun semenjak kerusuhan yang terjadi tersebut. Mungkin seperti pembeberan dokumentasi rahasia di Amerika yang dikeluarkan setelah puluhan tahun kemudian. Disini, SGA mencoba menawarkan suatu kerangka pikir tentang keanehan dan kejanggalan perihal memori kolektif di Indonesia, khususnya Jakarta.

Perubahan sosial-ekonomi pasca Suharto termasuk kebijakan-kebijakan Sutiyoso sangat jelas dirasakan oleh warga Jakarta. Pasca turunnya Suharto, Jakarta menghasilkan kondisi; yang dalam istilah Abidin Kusno disebut sebagai “kelonggaran di pusat.” Kondisi ini menjelaskan tidak adanya pengendali tunggal bagi penguasa kota. Dan Sutiyoso selaku gubernur DKI, memanfaatkan situasi ini untuk mulai menata sekaligus mendisiplinkan warga Jakarta.

Sutiyoso memulainya dengan membangun pagar di Monas. Membersihkan Monas yang dulunya adalah monumen masyarakat dari para Pedagang Kaki Lima, dan menempatkan hewan manis; rusa di area monumen sebagai simbol kemawahan. Kebijakan-kebijakan Sutiyoso ini mendapat pertentangan keras dari masyarakat yang juga memanfaatkan momen “kelonggaran di pusat.” Hal inilah yang menyebabkan Sutiyoso mendapatkan banyak diprotes dari masyarakat Jakarta. Sutiyoso pernah mengutarakan, “Selama masa jabatan pertama saya, antara 1997 sampai 2002, telah terjadi 4538 unjuk rasa yang dilakukan warga Jakarta melawan (kebijakan) saya.” Kelonggaran di pusat ini melahirkan mobilisasi massa yang dianggap tabu di era Suharto.

“…memperlihatkan hubungan antara politik, memori, dan ruang kota. Ia menunjukkan bagaimana pemerintah dan warga kota mengingat dan melupkan Jakarta sebagai pusat kebangkitan dan pembangunan nasional. Memori dalam bab ini mengacu kepada upaya-upaya institusi-institusi yang ingin menata memori kolektif masyarakat untuk keperluan tatanan sosial dan legitimasi politik.” (JPS, 2009: 99)

Kusno dengan gamblang mencoba menarasikan bagaimana memori lama diregulasi untuk membentuk memori baru sebuah kota, dan bagaimana masyarakat menghadapi kebaruan tersebut sekaligus melakukan perlawanan terhadapnya. Bagaimana Jakarta tidak dikawal oleh sesuatu yang sekedar kekuatan ekonomi dan politik yang ada, akan tetapi sesuatu yang lebih kuat dari lagi, yang kenyataannya berhasil membuat penghuninya menjadi orang-orang asing yang terjebak di jurang impian nasionalisme dan realitas kota.

“Seperti dikatakan juga oleh Seno Gumira Ajidarma, di Jakarta setiap orang kelihatannya berasumsi mempunyai tanah kelahiran di tempat lain, dan seperti diungkapkan Sarwono Kusumaatmadja, “penduduk Jakarta tidak mencintai Jakarta sepenuhnya, karena mereka tidak mempunyai ikatan emosi yang mengikat mereka dengan kota asal mereka.” Dengan demikian, bisa kita pahami mengapa urbanisme nasionalis telah diupayakan untuk menjadi musik pemikat yang diharapkan dapat membuat orang mengimajinasikan dirinya sebagai bagian dari kota.” (JPS, 2009: 102)

Setelah bermain-main dengan arsitektur dan tata letak kota, Sutiyoso memberikan kejutan tentang bagaimana menjadi pengguna jalan raya melalui busway. Terlihat bahwa busway diarahkan untuk pendisiplinan lalu-lintas jalan. Kondisi itu bisa dilihat dari bagaimana arsitektural transparan dalam busway, bagaimana mekanisme pengawasan, disiplin berbaris dan antri dari busway. Sehingga, munculnya busway bisa dilihat sebagai metode paling pas untuk menaklukkan perilaku warga Jakarta.
Dari kaca mata Foucault, setiap interior di dalam mall bisa dibaca sebagai usaha pendisiplinan individu yang tentu saja di dalamnya terdapat misi panopticon. Dengan adanya arsitektural, subyek/individu dididik untuk tertib, disiplin, dan teratur dalam kehidupan sosial. Proyek-proyek pendisiplinan tubuh inilah yang digalakkan Jakarta.
Secara sederhana, buku ini berusaha membuka tabir politik Jakarta. Bagaimana pergolakan Jakarta di tangan penguasa satu dengan penguasa sesudahnya. Pembentukan wacana dominan dengan menyingkirkan wacana pinggiran bisa dibaca melalui politik tata letak kota.
Abdin Kusno dalam teks Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca Suharto, jelas berpendapat bahwa negara sama sekali tidak memberikan ruang untuk memori-memori buruk dalam kota; Jakarta. Karena tidak memiliki ruang, memori-memori tak berwadah di ruang publik ini harus disingkirkan atau dilupakan.
Sayangnya, buku ini tidak banyak membahas “identitas” sebagaimana judul buku. Hal-hal yang mustinya bisa menjadi titik tolak analisa tidak banyak dielaborasi sebagaimana bahasan ruang publik dan memori kolektif. Bab terakhir buku ini jelas berbicara tentang proyek-proyek megah, mustinya hal ini bisa dikaji sebagai kebutuhan akan identitas elite kelas menengah, sebagaimana yang diulas di bab awal. Karenanya, pembaca tidak akan menemukan ekspresi identitas elite warga Jakarta dalam ranah representasi-representasi yang ada. Kehadiran busway, pembangunan gedung-gedung, rumah, dan perkantoran mewah, serta mall-mall yang memenuhi kota, selain bisa dibaca sebagai usaha untuk legitimasi kekuasaan, saya rasa juga turut serta dalam embentuk tatanan memori kolektif baru yang lebih menjanjikan dan serba modern.

DAFTAR PUSTAKA

Kusno, Abidin. 2009. Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca Suharto, Yogyakarta: Ombak
Ajidarma, Seno Gumira. 2004. Affair. Obrolan Tentang Jakarta. Yogyakarta: Buku Baik
Ajidarma, Seno Gumira. 2001. Jakarta 2039. Yogayakarta: Galangpress.
Barker, Chris. 2004. The SAGE Dictionary of Cultural Studies, London: SAGE Publications
Crinson, Mark (ed). 2005. Urban Memory. History and Amnesia in Modern City. London&New York: Routledge
“Tragedi Mei 198. Jangan sampai di-‘X-FILE’-kan”. Dalam Kompas, 13 Mei 2005

 
4 Comments

Posted by on June 22, 2010 in Essay

 

Tags: , , , , , ,

Semacam Pengantar: Tentang Bidadari di Kampung Saya

Caos Dhahar untuk Keselamatan Walikukun

Any attempt to speak without speaking any particular language is not more hopeless than the attempt to have a religion that shall be no religion in particular . . . Thus every living and healthy religion has amarked idiosyncrasy. Its power consists in its special and surprising message and in the bias which that revelation gives to life. The vistas it opens and the mysteries it propounds are another world to live in; and another world to live in—whether we expect ever to pass wholly over into it or no—is what we mean by having a religion. SANTAYANA, Reason in Religion

Membaca Ngawi
Ngawi, sebuah kabupaten di ujung propinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan propinsi Jawa Tengah. Konon, nama Ngawi berasal dari kata “awi” atau bambu yang kemudian mendapat imbuhan “ng” menjadi Ngawi. Menurut catatan yang menjadi dasar kelahiran kabupaten ini dari penelitian benda-benda kuno, menunjukkan bahwa di Ngawi telah berlangsung suatu aktifitas keagamaan sejak pemerintahan Airlangga dan rupanya masih tetap bertahan hingga masa akhir Pemerintahan Raja Majapahit.

Fragmen dan model percandian menunjukkan sifat ke”Siwa”an yang erat hubungannya dengan pemujaan di dan untuk Gunung Lawu, Girindra. Pergeseran mulai terjadi dengan masuknya pengaruh Islam dan budaya Eropa, khususnya Belanda, yang sampai saat ini masih bisa ditemukan kuburan-kuburan Belanda yang menyatu dengan rumah penduduk, khususnya di desa Walikukun. Terlepas dari semua itu, Ngawi memiliki peranan cukup penting terkait posisi geostrategis yang dimilikinya.
Berdasarkan peninggalan benda-benda kuno dan rekaman sejarah dapat dicatat beberapa hal yang pada perjalananya nanti akan menjadi modal narasi selanjutnya perihal perkembangan agama yang terjadi di hampir seluruh desa di Ngawi. Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman pemerintahan raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280). Sebagai Daerah Narawita Sultan Yogyakarta dengan Palungguh Bupati – Wedono Monconegoro Wetan, tepatnya tanggal 10 Nopember 1828 M (tersebut dalam surat Piagam Sultan Hamengkubuwono V tertanggal 2 Jumadil awal 1756 AJ). Ngawi sebagai Onder-Regentschap yang dikepalai oleh Onder Regent (Bupati Anom) Raden Ngabehi Sumodigdo, tepatnya tertanggal 31 Agustus 1830.

Nama Van Den Bosch berkaitan dengan nama ”Benteng Van Den Bosch Di Ngawi, yang dibangun pada Tahun 1839 – 1845 untuk menghadapi kelanjutan Perjuangan Perlawanan dan serangan rakyat terhadap penjajah, diantaranya di Ngawi yang dipimpin oleh Wirotani, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diketahui dari buku ”De Java Oorlog” karangan Pjf. Louw Jilid I Tahun 1894 dengan sebutan (menurut sebutan dari penjajah) : ”Tentang Pemberontakan Wirotani di Ngawi.”
Prasati Canggu yang merupakan sumber data tertua, digunakan sebagai penetapan hari jadi Ngawi, yaitu pada tahun 1280 Saka atau pada tanggal 8 hari Sabtu Legi Bulan Rajab Tahun 1280 Saka, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1358 Masehi (berdasarkan perhitungan menurut Lc. Damais) dengan status Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira Pradesa. (http://www.kotangawi.com/).
Masuknya budaya Eropa dengan ajaran agama besar yang dibawa tidak begitu saja menghapus agama yang erat kaitannya dengan magi di Ngawi. Salah satu yang bisa dilihat tentang perjalan magi di Ngawi adalah di desa Walikukun, Widodaren.

Perihal nama Walikukun sendiri sebenarnya menimbulkan spekulasi tersendiri bagi masyarakat setempat. Sebagian orang mengatakan bahwa Walikukun berasal dari sebuah nama pohon yang bentuknya mirip dengan pohon jati. Kedua adalah, keyakinan bahwa di sekitar abad 14 atau 15 ada seorang wali yang melalui dan tinggal sejenak di daerah Kukun. Sampai kemudian daerah ini disebut Walikukun.

Caos Dhahar pada Mbok Rondo Ireng
“Let us, therefore, reduce our paradigm to a definition, for, although it is notorious that definitions establish nothing, in themselves they do, if they are carefully enough constructed, provide a useful orientation, or reorientation, of thought, such that an extended unpacking of them can be an effective way of developing and controlling a novel line of inquiry. They have the useful virtue of cxplicitness: they commit themselves in a way discursive prose, which, in this field especially, is always liable to substitute rhetoric for argument, does not. Without further ado, then, a religion is: (1) a system of symbols which acts to (2) establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by (3) formulating conceptions of a general order of existence and (4) clothing these conceptions with such an aura of factuality that (5) the moods and motivations seem uniquely realistic.” (Geertz, 1993: 90-91)

Mudahnya penerimaan masyarakat Jawa pada Hinduisme dan Buddhisme yang mungkin saja karena memiliki banyak kesamaan dengan spiritualisme kuno Jawa Pra-Hindu. Melihat konsepsi dasar Jawa mengenai dunia gaib yang didasarkan pada ide bahwa segala yang nampak dalam kehidupan disebabkan oleh makhluk berfikir dan berkepribadian dimana mereka memiliki kehendak dan tujuan
Roh-roh yang disembah oleh orang Jawa pada umumnya disebut hyang atau yang yang berarti tuhan. Tak mengherankan kemudian ada kata sembahyang dan danyang. Tentu saja, perihal danyang masih banyak diyakini oleh masyarakat Jawa, dimana mereka menganggap bahwa setiap desa memiliki roh penjaga sendiri yang biasanya tinggal di pohon-pohon rindang, beringin misalnya.

Masyarakat setempat membayangkan dan berpikir bahwa roh-roh itu berasal dari orang-orang suci atau penguasa di masa lalu yang mendatangi desa mereka jauh sebelum mereka sendiri lahir di desa tersebut. Karenanya tradisi ngalap berkah atau meminta berkah perlindungan dan keselamatan atas seluruh hajat dan niat yang hendak diselenggarakan dari danyang-danyang yang dianggap menjadi penjaga desa setempat.

***Perihal Keduanya
Mbok Rondo Ireng, menurut cerita yang berkembang adalah istri seorang raja kecil yang melarikan diri karena hendak diperistri patih Galigajaya, saat suaminya bertugas keluar daerah. Dia memiliki tiga orang anak yang ikut serta dalam pelarian, yaitu: Kencana Wulan, Hariyanti, dan Gandana.
Kencana Wulan pada akhirnya mati karena perahunya terguling, sampai sekarang perahunya masih ada di bawah sebuah jembatan di desa Walikukun yang saat itu hendak melarikan diri karena patih Galigajaya berhasil menemukan dia yang sudah menikah dengan pak Kunti. Daerah itu saat ini disebut Kedung Perahu. Hariyanti yang masih gadis sudah mati terlebih dulu dengan menceburkan diri ke sungai yang saat ini dikenal dengan nama Kedung Perawan.

Patih Galigajaya pada akhirnya menguburkan jenasah Kencana Wulan di tempat yang tidak jauh dengan kuburan ibunya, Mbok Rondo Ireng. Karena dia memiliki penyakit kuning, karenanya Kencana Wulan dikenal dengan nama Mbok Rondo Kuning.

Sebagian masyakarat ada yang mengatakan bahwa Mbok Rondo Ireng masih berkerabat dekat Aryo Bangsal, anak raja Majapahit atau lebih dikenal dengan Joko Gudik, karena memiliki banyak gudik, di tubuhnya. Aryo Bangsal ini adalah calon menantu Ratu Puan yang kerajaannya ada di gunung Lir-Liran, salah satu anak gunung Lawu, yang sampai saat ini, reruntuhan kerajaannya masih dapat ditemukan di gunung Lir-Liran.

Simbol-simbol dari kepercayaan bahwa Mbok Rondo Ireng adalah penjaga desa Walikukun ini nampak dari representasi perayaan dan situs-situs yang masih terjaga. Seperti pagar suatu tempat yang diyakini sebagai tumbuhnya pisang emas pupus cinde. Arca Mbok Rondo Kuning dan Mbok Rondo Ireng. Karena dianggap daerah yang banyak didatangi oleh putri dan ratu yang cantik inilah, Walikukun juga dikenal dengan nama Widodaren dari kata widodadri, bidadari.. Dalam kepercayaan Hinduisme selain percaya kepada dewa, masyarakat Jawa juga percaya pada dewa dan kepada widadari (bidadari) yang berasal dari Hinduisme. Sangat mungkin ini juga terkait dengan hal ini. Meskipun saat ini, tepatnya sejak tahun 2007, Widodaren menjadi nama kecamatan dan Walikukun menjadi salah satu desa di dalamnya

Rumah Mbok Rondo Ireng adalah sebuah rumah yang dinding-dindingnya berasal dari gedek (anyaman bambu) yang apabila hancur oleh usia akan diperbarui dengan gedek yang lain. Dari dalam rumah itu tumbuh pohon beringin menembus atap rumah yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya sang Mbok. Selain pohon beringin tersebut, di dala rumah juga ada arca si Mbok yang entah berasal dari tahun berapa.

Kalau melihat rekam sejarah, dimana Ngawi dianggap sebagai daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman pemerintahan raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358 Masehi, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280). Tradisi yang berjalan setelahnya nampak sangat dipengaruhi oleh Hindu Siwa.
Pernah diceritakan seorang tentara yang berperang melawan Belanda suatu hari menebas arca Mbok Rondo Kuning sampai kepalanya lepas, dua hari setelah itu sang tentara meninggal tertembak di lehernya tak jauh dari keberadaan rumah si Mbok Rondo Kuning. Saat ini nama tentara tersebut dijadikan nama jalan di seberang rumah Mbok Rondo Kuning, jalan Sukatminaris.

***Membaca Ngalap Berkah
Sampai saat ini, di rumah Mbok Rondo Ireng selalu diadakan perayaan atau ngalap berkah. Perayaan ini diadakah setiap tanggal 1 di bulan Sura. Mereka yakin, dengan menyediakan buceng kambing (normalnya ayam) akan membuat hati si Mbok merasa senang dan tetap menjaga serta melindungi desa dari seluruh bencana.

Dalam perayaan itu, akan digelar wayang tengul. Perayaan dimulai pagi hari dan selesai sore hari. Dipimpin oleh seorang dukun perempuan yang berdandan dengan menggunakan kebaya lengkap dengan sanggulnya. Dukun ini adalah juru kunci dari rumah Mbok Rondo Ireng. Apabila dia meninggal, salah seorang anak perempuannya akan menggantikannya sebagai juru kunci dan sekaligus menjadi pemimpin setiap ritual yang dilaksanakan di pepunden tersebut.

Segala sesaji disiapkan dengan cara yang terlampau hati-hati. Dari segala jenis kembang, makanan dan alat-alat lain. Meskipun menurut cerita, Mbok Rondo Ireng tidak lebih galak dibandingkan anaknya, Mbok Rondo Kuning, akan tetapi rasa hormat membuat mereka lebih banyak terdiam saat acara berlangsung.

Sepulang dari ngalap berkah, orang-orang akan merasa tenang karena telah menunaikan satu perayaan untuk menyenangkan hati Mbok Rondo Ireng. Menjamasi setiap pusaka milik mereka dan merencanakan niat-niat dan hajat di setahun ke depan.

Meskipun ngalap berkah sudah diadakan setiap tahunnya, masyarakat di Walikukun musti selalu caos dhahar (memberi makan) ke rumah Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning saat mereka memiliki hajat. Seperti menikahkan seorang anak, khitan dan hajat-hajat lain. Karenanya di tahun-tahun terakhir masih ada ditemukan anak-anak sekolah yang mengantarkan sesaji ke rumah Mbok Rondo Kuning dan Mbok Rondo Ireng sebelum ujian nasional diadakan.

Rasa tentram yang mereka dapatkan membuat diri merasa yakin dan percaya akan dimudahkan dalam melaksanakan hajat dan kemauannya. Semangat dan rasa percaya diri membuat orang menjadi lebih santai dalam menghadapi sesuatu karena merasa ada “the other” yang menemaninya untuk menjadi pemenang.

Ngalap berkah dan simbol-simbol serta sarana yang mengiringinya memberikan gambaran tentang cara pemaduan antara kepercayaan masyarakat di Walikukun yang animis dan Hindu Siwa yang membentuk konsepsi pokok sebuah desa. Jika seseorang ingin merayakan atau mengeramatkan peristiwa apapun yang berhubungan dengan upacara perseorangan atau jika ia hendak memperoleh berkah dan perlindungan, maka perayaan harus diadakan.

Sebagin orang bisa saja berpikir di sinilah peran Islam masuk dalam ambivalensi masyarakat memandang Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning. Peng”jin”an sang Mbok pada sesuatu yang bisa menjadi antagonis. Bagaimana mungkin seorang pelindung desa bisa menjadi perusak dan pendatang bencana? Sebab jin baik akan selalu baik dan jin jahat akan selalu jahat. Tidak bisa jin yang sama melakukan dua hal yang bertolak belakang. Saya cenderung mengira bahwa ini justru internalisasi dari Hindu Siwa pada masyarakat di Walikukun.

Siwa adalah dewa cinta kasih, dia adalah dewa yang selalu nampak sebagai dewa yang memancarkan kaih sayang bagi manusia yang hidup di jalan yang penuh amalan dan kasih pada sesama. Sebaliknya, bagi manusia yang hidupnya dipenuhi dengan dosa dan mengganggu manusia lain, dewa Siwa akan nampak menyeramkan dan selalu siap menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Dalam diri Dewa Siwa terdapat sakti dari Dewi Uma yang cantik dan lemah lembut, serta Dewi Durgha yang merupakan dewi kematian dengan muka yang menyeramkan.

Untuk itulah demi menjaga kasih sayang sang Mbok terhadap desa, masyarakat musti menjaga perilaku mereka dalam bermasyarakat. Membantu yang kekurangan, menolong yang membutuhkan dan membagi rezeki yang ada untuk sesama.

Kenduri dan mempercayakan banyak hal pada dukun atau juri kunci merupakan cara untuk berhubungan langsung dengan si Mbok. Akan tetapi merayu si Mbok agar tetap menjaga desa dan khususnya subyek personal adalah dengan melalui selametan dan caos dhahar.

Bagi sang dukun sendiri, yang mana juga seorang juru kunci di rumah Mbok Rondo Ireng memiliki keyakinan, bahwa untuk mencapai suatu kemenangan atas sebuah kebahagian dari penjagaan sang Mbok, musti tirakat dan penuh pemgorbanan.

Ia harus berpuasa selama sejumlah hari tertentu, dan berpantangan memakan beberapa jenis makanan. Seperti misalnya pisang raja dan lain sebagainya. Maka cara pengrobanan yang lain adalah dengan bertapa. Khususnya saat akan memimpin upacara besar setiap bulan Sura.

***Mbok Rondo Kuning
Masyarakat di Walikukun di tahun-tahun lalu, sebelum dakwah-dakwah Islam masuk dengan kuat begitu percaya kepada kemampuan dukun, meski sampai saat ini masih banyak juga yang mempercayainya.

Perkataan dukun sering menjadi panduan untuk mereka menghentikan atau melanjutkan hajat yang ingin diadakan. Ada sebuah kisah seorang, belum ada setahun perkawinan, sang perempuan kehilangan suaminya karena kecelakaan. Kisah itu berulang sampai empat kali perkawinananya. Sampai pada akhirnya sang dukun, juru kunci rumah Mbok Rondo Ireng menyucikan dia dengan mantra dan sesaji, berhasilah si perempuan memiliki seorang suami sampai saat ini.

Di Walikukun terdapat satu group ketoprak yang setiap akhir Minggu mementaskan sebuah cerita di gedung pertunjukkan sebelum dihancurkan. Kelompok ini selalu menampilkan banyak kisah, tapi tidak menampilkan cerita tentang Mbok Rondo Kuning di sekitar Walikukun. Menurut cerita yang berkembang, selalu selepas mementaskan cerita Mbok Rondo Kuning yang penuh derita itu, salah seorang pemainnya meninggal hanya dalam hitungan hari saja. Karenanya gedung pertunjukan tidak digunakan lagi, selain semakin jauhnya masyarakat dengan tradisi ketoprak terkait juga masalah 1965 yang melanda hampir seluruh daerah di Ngawi.

Sampai saat ini, sesaji untuk mereka yang hendak menikahkah anaknya masih terus dilakukan, terlepas keluarga tersebut menganut agama Kristen, Katolik, maupun Islam. Sebab kalau tidak, saat acara dilakukan bisa jadi datang rintangan, atau bahkan saat kelak sang pengantin menjalani rumah tangga mereka.

Upacara pokok dalam agama Jawa tradisional ialah slametan, dimana di dalamnya hampir selalu ada kenduri. Yang dalam kajian Geerzt dianggap sebagai hal yang paling umum di lakukan oleh para abangan. Melambangkan persatuan mistik dan sosial dari orang-orang yang ikut serta dalam slametan tersebut.

Slametan dan simbol-simbol inilah memberikan gambaran yang jelas tentang cara pemaduan antara kepercayaan abangan yang animis dan Buddhis-Hindu dengan unsur Islam serta membentuk nilai pokok masyarakat pedesaan.

Kenyataan yang menarik, slametan yang dilakukan oleh orang Jawa bukanlah cara atau ritual untuk minta kesenangan atau tambahan harta kekayaa, akan tetapi bertujuan untuk mendapatkan keselamatan dari sakit dan duka. Slametan semacam ini bagi para abangan melambangkan keharusan kerja sama dan ikatan sosial.

Clifford Geertz dalam The Religion of Java meyakini bahwa perkembangan ajaran Islam di Indonesia diwarnai oleh ajaran Hindu, Budha, dan bahkan animisme, sebagai ajaran-ajaran yang telah lama berkembang di Indonesia sebelum Islam. Sehingga terlihat praktik mistik Budha yang diberi nama Arab, raja Hindu berubah namanya menjadi Sultan, sedangkan rakyat kebanyakan masih mempraktikkan ajaran animisme.

Sebab yang mampu menyerap ajaran Islam asli hanyalah sekelompok kecil yakni kalangan santri. Sedang sebagian besar rakyat Indonesia masih dapat dikatakan belum mempraktikkan ajaran Islam sepenuhnya. Bukankah proses sinkretisasi yang paling kental adalah terjadi di Jawa oleh karena sebagian besar masyarakatnya memiliki prinsip bahwa semua agama adalah sama.

Walikukun hanyalah sebuah daerah kecil yang hampir tidak berbeda dengan daerah lain yang masih memiliki dna menjaga aliran-aliran yang lebih menonjolkan aspek-aspek animisme-dinamisme. Pada dasarnya gerakan mistik adalah dan seharusnya selalu independen (bebas).

“Pada umumnya seorang ahli mistik terkenal sebagai orang yang tidak mau tunduk kepada peraturan keduniawian. Dia percaya bahwa dengan jalan mistiknya, dia dapat berhubungan langsung dengan Tuhan dan dapat pula menerima petunjuk-petunjuk langsung dari Tuhan. Jika di dalam suatu daerah terdapat banyak penganut aliran-aliran mistik, khususnya yang telah berubah menjadi magi, maka besar sekali kemungkinannya bahwa para penganut ini tidak mau tunduk pada peraturan-peraturan pemerintah.

Di dalam sejarah kerap kali terjadi pengejaran-pengejaran terhadap ahli mistik, khususnya di luar negeri. Di Indonesia hal ini belum terdapat, meskipun telah terjadi gejala-gejala yang membahayakan. Yaitu misalnya pembunuhan (dengan cara pembedahan) seseorang oleh keluarganya sendiri, karena merasa dapat perintah gaib. Dalam pada itu pemerintah telah pula mengambil langkah-langkah penertiban. Di sini kita lihat ekses-ekses akibat-akibat yang negatif daripada mistik yang telah berubah sifatnya menjadi magi.”( Sosrodihardjo, 1972)

Di Masa kini masjid-masjid makin banyak didirikan, gereja Kristen dan Katolik hampir selalu ramai di hari Sabtu dan Minggu. Namun demikian setiap tahun masyarakat yang percaya pada kekuatan Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning masih terus mengadakan ngalap berkah. Biaya mementaskan wayang tengul dan membeli perelngkapan sesaji adalah uang hasil iuran hampir seluruh masyarakat setempat. Bagi yang kemudian lebih teguh belajar Islam dan Kristen Katolik, mereka tidak datang ke acara selamatan, kalaupun datang hanya untuk menyaksikan pementasan wayangnya saja. Atau bisa saja diam-diam di dalam hati mereka turut berdoa dan meminta perlindungan dari sang Mbok.

Berbeda dengan kyai dan pendeta serta pastur di sana yang melarang umatnya datang ke acara itu dan meninggalkan seluruh tradisi yang mengakar jauh sebelum mereka datang, dukun sakti pemimpin ritual itu tidak pernah melarang masyarakatnya untuk memeluk dan meyakini Tuhan-tuhan baru yang datang di masa kini. Dengan terus terang sekaligus diam-diam, umat beragama itu masih akan caos dhahar ke rumah Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning sebelum mereka menikahkan anak-anak mereka demi keselamatan selama hajat berlangsung dan seterusnya untuk kebahagian dan kemuliaan hidup sang pengantin.

Referensi:

Koentjaraningrat. 1988. Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta : Penerbit Jambatan.

Geertz, Clifford. 1993. Religion as a cultural system. In: The interpretation of cultures. Fontana Press.

http://www.indiana.edu/~wanthro/theory_pages/Geertz.htm

http://www.ngawi.com/ /

 
8 Comments

Posted by on June 21, 2010 in Essay

 

Tags: , , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers