RSS

Tag Archives: surat

Ankasina Anakku

Ankasina, Bunda akan bercerita padamu Nak.

Ayahmu tak pernah benar-benar lahir dari rahim manusia. Dia lahir dari langit, saat matahari pelan-pelan menyergap bumi. Itulah mengapa, ayahmu menjelma menjadi manusia yang bijak dan kasih pada sesama.

Bila kesedihan meraihnya, karena Bunda membuatnya kesal, dia akan terlebih dulu memaafkan dan dengan cepat tersenyum pada Bunda.

Ayahmu Nak, laki-laki yang menjadikanmu remaja tangguh, adalah laki-laki hebat terakhir yang dimiliki dunia. Dialah satu-satunya kejujuran yang dimiliki manusia, milik semesta, milik perempuan, milik kami, milik kita. Milik Bunda seluruhnya. Kebenaran berikut cinta dan jiwanya.

Maka kau tak dilahirkan untuk menjadi pecundang pada segala hal. Kau merdeka, karena lahir dari rahim yang merdeka. Kami tenun kau dengan kasih dan doa semua manusia. Tapi begitulah, dialah laki-laki hebat terakhir yang dimiliki dunia. Maka, bila suatu saat kau melakukan satu kesalahan, Bunda dan dia Ayahmu akan menerima, akan memaafkan. Tapi ingatlah sayang, kau tidak kami lahirkan untuk menjadi lemah. Kami lahirkan kau untuk menjadi tangguh.

Kau boleh memilih untuk menjadi miskin, tapi bukan bodoh. Kau boleh memilih menjadi pendiam, tapi bukan pecundang. Kau merdeka, tapi kemerdekaan yang kau punya semata untuk memerdekakan manusia yang lain yang tertindas dan direbut kemerdekaannya.

Kelak, kau akan mendengar cerita-cerita yang kurang menyenangkan, tapi percayalah; hanya ayahmulah satu kebenaran. Kau boleh tak percaya Bunda, tapi jangan ingkari apa yang ayahmu katakan. Sebab itulah Bunda memilihnya, menjadikannya laki-laki yang tak tersentuh perempuan lain. Dia nak, ayahmu yang lelaki bersenyum purba itu.

Dalam hidup yang pernah Bunda jalani nak, pernah ada saat Bunda tak setia. Tapi ayahmu laki-laki hebat, bukan bodoh, karena baginya mencintai hanya berarti mencintai saja. Di matanya Bundalah cinta itu.

Jangan pernah kau kira ayahlah yang beruntung mendapatkan Bunda, karena sesuangguhnya Bundalah yang beruntung mendapatkannya, sebagai manusia, sebagai karib, sebagai cinta.

Kau Ankasina, anak kami, dilahirkan untuk menjadi tangguh dan merdeka. Kelak, Bunda akan bercerita bagaimana cara ayah dan bunda bertemu. Sekarang , tanamkanlah dalam dirimu; ayahmu laki-laki sempurna terakhir yang dimiliki dunia.

peluk sayang
bunda

Yogyakarta, 23Juli2008 (2.09)

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on July 23, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , ,

lampu dan dia

Dear Al
Dia mengatakannya dengan tenang, “Honey, aku akan menikahinya, begitu semuanya berjalan sesuai rencana.” Aku dengan senang berkata, “Itu bagus buat sampeyan. Sangat bahkan, sayangi dia seluruhnya.”
”Masih ada padamu. Untuknya secukupnya saja.”

Oh Al, adakah cinta bisa diukur dengan menghitungnya sesuai dengan keinginan dan kemauan. Setinggi apa, sedalam apa dia telah mencintai perempuan itu? Tiba-tiba aku ingin tahu, tapi konyol rasanya kalau aku bertanya, ”Seperti apa sampeyan mencintainya?” Apa aku nampak cemburu?

Al, kami makan malam di tempat yang biasa. Kami memesan beberapa menu tanpa satupun pilihan dariku, karena kukira kami tak akan berlama-lama.

Baru belasan menit berlalu, tapi aku merasa segala menjadi kosong. Apa aku nampak terluka?

Dia mengenakan kemeja berwarna putih dengan garis-garis biru, serupa dirinya yang nampak putih. Wajahnya kemarau seperti biasa. Selalu tanpa senyum tapi manis. Kulitnya semakin legam, tapi begitulah dia nampak indah belaka. Apa aku sekali lagi jatuh cinta padanya?

”Terbiasa di tempat dingin, terasa panas di sini.”
”Semoga tak lantas menjadi dingin hati sampeyan.” Nah, aku seperti salah bicara. Tapi kalimat itu begitu saja meluncur tanpa bisa aku tarik lagi. Apa aku tampak menyedihkan? Aku tertawa. Mentertawakan dia atau aku sendiri? Aku seperti tak kenal dia sebagai seseorang dari masa lalu. Dia selalu baru, hanya senyumnya yang sesekali begitu karib bagi mataku.

Dia memberikan selembar surat kecil. Kurasa itu sebuah lirik lagu atau nyontek dari sebuah situs atau entah. Karena aku rasa dia tidak seromantis dan secerdas itu untuk bisa membuat kalimat manis.

When you find yourself in deep trouble. Like a ship lost in the mid-sea during a storm. You want to cry and need a shoulder to lean on. Seem hopeless and could not move on. Got no one around whom to count on. Maybe you have totally forgotten me. Have given up on me for somebody. Think I am useless and nothing but garbage. So you shun and make a mock on me.
You might be surprised when you turn your back. See me smile with open arms and extended hands. For unlike them whom you prefer to be with than me. I’ll never give up. Turn my back on you. I’ll be your candle. Offer you light so you may not stumble. Take my word. I love you more than forever.

Aku kira aku memang tersentuh membacanya. Bukan pada kalimat-kalimat itu. Tapi dari cara dia yang tak tahu malu bergaya ala pencinta yang sedang kepayang. Kami sudah tidak muda lagi. Dan aku bukan kekasihnya. Dia akan menikah. Maka sudah seharusnya dia menyegerakan apa yang bisa membuatnya bahagia.

Oh, apa aku nampak terluka mengatakan ini? Apa aku nampak perih menuliskan ini padamu? Tentu saja tidak. Apa aku nampak menyangkal sesuatu? Aku bohong padamu dengan mengatakan aku menghabiskan waktu di tempat orang mati. Kenyataannya, aku baru saja melewatkan waktu dengan seseorang yang kuanggap sudah mati.

Aku kirimkan lampu di atas kepala kami, untukmu.
lampu yang tak sendiri

memang pernah, sayang, aku mencintaimu sebanyak aku mencintai hal-hal yang cerdas dan jenius. tapi tahun sudah berganti, dan kau tak seharusnya kembali mengeja namaku lagi.

 
35 Comments

Posted by on June 4, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

surat terakhir tahun ini

“Wanita hebat, pintar dan punya daya tarik tersendiri. Siapa yang tidak ingin bercinta denganmu, pikirku.” Demikian tulis sampeyan…

“Apa kau ingin bercinta denganku, Iam?”

Dear Iam,
Surat sampeyan sudah saya terima. Berikut kartu ucapan, dan hadiah-hadiah lain. Ya, surat itu datang satu jam sebelum surat yang lainnya datang. Am, sekarang saya serupa kupu-kupu yang enggan terbang.

Saya membacanya berulang-ulang, kuatir salah mengartikan surat kecil itu. Tiba-tiba, saya seperti ingin membalas surat sampeyan. Karena, malam ini tak akan ada apa-apa. Tak akan ada siapa-siapa. Seperti tahun-tahun yang sudah. Jadi sampeyan tak perlu merasa sangsi.

Mungkin saya akan meniup lilin tanpa kue tart sendirian. Dengan senyum saya akan membagikan beberapa doa kecil pada banyak orang, pada sampeyan juga tentu saja. Adakah sampeyan cemburu pada lilin tanpa kue itu, Am? Tentu tidak.

Memang hanya lilin yang akan bersama saya nanti malam. Kalau saya menyalakannya di atas telapak tangan saya, ia secepatnya akan menyala. Cairan-cairan yang menetes dan mengalir di telapak tangan saya begitu jujur. Serupa nyeri di telapak tangan itulah, kepedihan lahir dari surat sampeyan siang tadi. Adakah saya melakukan sebuah kesalahan baru, Am? Sampai tak lagi harapan di gantungkan serupa layang-layang? Baik, kita tak harus membahasnya.

Iam, apakah saya nampak palsu di hadapan sampeyan? Apakah saya nampak tidak apa adanya di mata sampeyan? Apakah sedemikian sunyinya saya? sampai sampeyan tidak bisa mendengar apa yang suara-suara itu bunyikan? Maafkanlah saya Am…

Jika saya hadir serupa godaan yang berujung malapetaka bagi sampeyan, maafkanlah saya. Dan apabila saya nampak serupa rayuan dan ciuman tak tertahankan bagi sampeyan, maafkanlah saya.

Hanya surat ini yang bisa saya kirimkan sebagai ucapan terimakasih dari hadiah-hadiah manis yang sampeyan kirim. Mungkin sampeyan menganggap tak mungkin berseorangan melewatkan hari yang bisa saja sangat istimewa. Tapi ini hari biasa Am, sangat biasa, atau bahkan bisa lebih biasa dibanding hari-hari sebelumnya. Saya tak harus keluar membeli beberapa botol minuman, buah, coklat, dan kue. Ini sungguh hari biasa…

Apa yang harus dirayakan? Tidak ada. Usia semakin tua. Akan bertambah banyak pertanyaan baru lahir. Serupa, Sekarang kerja dimana? Kapan menikah atau sudah? Punya berapa anak? Jadi calon suami kerja dimana? Saya tak mau merayakan pertanyaan-pertanyan itu.

Apa yang harus disyukuri? Ketika semakin dekat kita pada janji Tuhan. Kematian. Aih, Am. Adakah janji dari sampeyan yang bisa lebih pasti dari itu? Perjalanan hampir sampai. Sekarang akan nampak semakin sia-sia, jika tak bisa meraih sesuatu yang baru. Apakah ada banyak orang yang dilahirkan untuk gagal, Am?

Masih ada empat jam lagi. Sampeyan bisa saja menelepon, sebelum batrenya benar-benar pecah dan saya tak lagi bisa menerima telepon sampeyan. Ya, e90 yang sekarang tergeletak di samping komputer akan mulai berbunyi, menggantikan yang lama. Haruskah begitu, Am?

Ya, saya tak akan kemana-mana, Am. Jadi begitu sampeyan mengulang pertanyaan, ”Malam ini akan kemana?” jawabannya tetap akan sama, ”Di rumah saja Am, merokok dan ngopi seperti biasanya.” Jangan mencurigai saya Am, jangan. Bukan karena saya tak suka dicurigai, tapi itu tak akan baik bagi pertemanan kita. Teman tak mengenal curiga, Am. Seperti kekasih yang tak mengenal cemburu. Begitu?

Nah, saya ingat sebuah kalimat lagi dalam surat sampeyan, “Ah masalah cinta. Tak perlu dibahas. Kamu tidak menyukainya. Kurasa.” Am…adakah yang bisa -lagi- dibahas?

“Biarkan harapan tetap lahir sebagai layang-layang di tanganmu, di tanganku…sampai saatnya. Semoga tak harus menunggu esok untuk sampeyan membaca surat ini. Tiki sudah tutup Am, lebih cepat dengan ini.”

Dengan surat kecil ini, saya akan merayakan ulang tahun saya malam nanti…

25 April 2008

 

Tags: ,

anjing di sekitar saya

.: ditulis atas permintaan seorang kawan, seusai saya bermimpi buruk itu :.

semalam saya telah bermimpi dalam keterjagaan saya. seorang kawan mengabarkan ada seekor anjing menyalak serupa syair untuk saya. anjing berbulu lebat, bertubuh pendek, berwarna hitam. dia menuntut balas dari apa yang tak dia ketahuinya sendiri tentang saya. meneriakkan nama saya. meminta saya mengelus tubuhnya.

saya tak harus perduli pada anjing-anjing yang menasbihkan diri dan nama di pelataran itu. yang menggonggong karena bangga bisa menyebutkan nama saya.

“warnanya apa tuan, anjing itu?”
“hitam, nona. tubuhnya pendek juga bau.”
“sampeyan kenal dia, tuan?”
“ya, sebagai anjing yang menggerusmu.”
“saya ucapkan terimakasih. dan salam untuk anjing itu.”
“anjing dekil, nona. tulislah surat untuknya nona.”
“baiklah…”

kepada yang terhormat anjing hitam.

pak anjing, saya tak tahu siapa anda. tapi mengapa anda bicara seolah tahu saya? apa anda jatuh cinta pada saya? atau anda begitu terobsesi pada saya? sehingga melahirkan gonggongan serupa syair menjijikkan itu? ah pak anjing, maaf ya pak, kok saya merasa anda agak demam dan butuh resep dari dokter. atau bapak butuh bantuan beberapa lembar uang dari saya untuk pergi berobat?

begini pak, saya senang anda menuliskan nama saya. tapi saya lupa cara dan bagaimana menamai orang semacam anda. baik, baik, saya akan mengikuti kata teman saya yang itu; “anjing parasit.”
sebenarnya saya lebih senang dengan istilah “anjing tanpa cakap” sajalah. saya tidak suka, kalau teman saya yang itu menyebut anda numpang tenar. ups!!!

nah pak, bagaimana pak? bisa tidak itu gonggongan serupa syair, sajak dan surat cinta yang anda sembunyikan di sembalik selimut saat anda berkencan dengan perempuan anda dijadikan sebuah tanda peringatan untuk mengantar anda ke perjalanan berikutnya?

pak anjing, apakah anda sakit? atau memang tak pernah sehat?

anda senang bukan? bangga? saya membalas surat cinta anda begini? ahai, tak perlu bangga dululah. saya rasa anda butuh sedikit berbenah. rapikanlah dulu kumis anda. sebentar ke salon mengganti model rambut anda, kalau tak ada uang sinilah sini saya tambah lagi beberapa lembar uang untuk anda. gantilah celana belel itu, sudah bau dan kumal. oiya, juga badan anda, rasanya kok malu kalau saya punya penggemar seperti anda. duh, maaf, kesannya kok kasar sekali ya.

dan sebenarnya yang lebih penting dari itu semua, tolong dipersantun gonggongan anda sebentar. begini, begini, jangan dulu tergesa ingin mencium telapak tangan saya, kalau anda masih belum bisa lebih canggih dari saya. lantas, bagaimana anda bisa menggonggongkan syair dan cerita tentang saya dengan cara yang benar? kalau di otak anda hanya ada kedunguan dan ketaktahuan. biasakanlah membaca pak anjing!!!jangan bergosip!

apakah saya nampak marah pada anda? tentu saja tidak. saya hanya kasihan pada anda. mencoba mengingatkan anda dengan cara yang anda ajarkan. sepertinya anda begitu terobsesi pada saya, lantas kalau teman saya yang itu bilang anda ingin numpang tenar belaka kan saya juga tidak terima. wong anda ini sedang sakit, tidak sehat, jadi kalau ‘nganeh-nganehi’ ya wajar saja bukan? duh, saya ini membela anda lho.

kalau anda bisa sedikit saja sopan, saya pasti dengan senang hati menerima anda sebagai anjing penjaga rumah sebelah. nah pak anjing? anda mengerti maksud saya? saya tidak marah, saya justru sedang mencoba menyembuhkan anda agar sempat merasakan bagaimana menjadi orang sehat. atau tak inginkah anda menjadi sehat?

nah pak anjing…saya senang lho kalau anak-anak anda lahir serupa anjing yang lebih manis. tidak lantaskan kedunguan membuat anda menjadi babi bukan? tak seharusnya seekor anjing seperti anda bermimpi tentang saya.

tiba-tiba saya terbangun dari mimpi buruk itu. seseorang menelepon saya dengan suara tasbihnya, “nona, nona baik-baik saja?”

yogyakarta. april 2008

 
6 Comments

Posted by on April 8, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,