RSS

Tag Archives: surat untuk sahabat

Surat pada Am, ii

Dear Am
Am, sahabatku sayang. Mari aku ceritakan yang selanjutnya. Karena malam kemarin jemariku begitu lunglai, sampai-sampai tak sanggup menata satu kalimatpun dengan baik.
Jangan, jangan terburu-buru mencemaskanku. Ini hanya cerita kecil. Dongeng sebelum tidur yang akan menjadi biasa 5 menit setelah ini. Dilupakan esok hari. Dan tak berbekas selanjutnya.

Begini Am,
Dia, perempuan yang pandai menanak sunyi itu akan kehilangan gelap setelah hari ini. Hari-hari yang sunyi akan meriah oleh duka. Sebentar lagi, dia akan kehilangan dirinya yang tak pernah meriah oleh duka bagi tubuhnya sendiri.

Ajaib, kerinduan telah berhasil –sekali lagi- merubah seseorang dalam dia, malam tadi.

Begitulah, dia menemukan seseorang dalam situasi yang serba hiruk. Menjadi perempuan yang manis. Matanya berbinar meski kesal menyergapnya. Segala sikapnya menjadi begitu remaja dan menarik di mata seseorang itu. bahkan seseorang itu menjadi tak sangsi lagi; dialah perempuan itu! Satu-satunya milik lelaki!

Adakah dia jatuh cinta? Tentu tidak, tapi apa? Sekali lagi Am, dia merasa bersalah. Dalam dirinya tertanam; Ah, lagi, aku seperti remaja culas yang membuat seorang tua menangis sembari menenggak tawa.
Ah bodoh dia ya?

Am, apakah kau mengerti apa yang sedang kubicarakan sekarang ini? Pasti tidak. Aku sendiri tak yakin saat menuliskan ini.

Kubuka rahasia kecil tentangnya padamu ya Am. Perempuan itu, yang pandai menanak sunyi itu memiliki seribu pintu yang membelitnya serupa ular-ular kecil. Pada hari-hari tertentu dia merasa yakin akan mati begitu malam menyergapnya. Tapi di hari lain, dia merasa Tuhan terlalu jahat dan berlaku tak adil karena memberinya umur panjang. Begitulah, maka hari-harinya dihabiskan dengan menyiksa diri sendiri.

Kalau seseorang mendekatinya Am, dia akan cepat-cepat menutup diri. Kalau seseorang berusaha meraihnya, dia akan menjadi belati bagi dirinya sendiri. Kau bilang dia racun? Bukan, jangan, dia hanya seorang perempuan.

Aduh, bagaimana aku hendak menuliskannya? Kau paham tidak Am? Aku memang tak pandai bercerita. Tak pandai menuliskannya. Pendeknya Am, perempuan yang kau bilang gila itu, secepatnya akan kehilangan sunyi. Secepatnya…..

Am, kau mengerti tidak dengan maksudku? Dia Am, dia, duh bagaimana mengatakannya? Seorang lelaki Am, membawa linggis bercahaya untuk mencongkel pintu dalam hatinya. Dan kau tahu Am? Kau tahu mengapa perempuan gila itu cemas? Karena, begitulah…entah

Pelan
Pelan

Salam sayang

 
9 Comments

Posted by on July 21, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: