RSS

Tag Archives: Soe Hok Gie

Malam Bersama GIE

.: tak cukup berhenti di Malam Untuk Soe Hok Gie

semalam saya bermimpi, bermain ke sebuah rumah. si pemilik rumah mengaku orangtua Soe Hok Gie. dalam sebuah kamar yang semula kosong, nampak sebuah ranjang dengan sprei kusut masai berwarna putih. pada beberapa bagian nampak terkena karat yang memudar. di samping ranjang ada sebuah meja kecil yang berdebu dan penuh buku. sebuah buku terbuka seolah ditinggalkan pemilik sebelum selesai dibaca.

saya tak berani memasuki kamar itu. hanya berdiri saja di luar memperhatikan seluruh isi ruangan yang memudar cat putih di dindingnya. mengapa saya tak berani masuk? dalam mimpi itu saya ingat bahwa Gie telah mati di puncak Semeru. kabar yang beredar, dia terkena gas beracun Semeru. yang lain mengatakan itu spekulasi Angkatan Darat untuk mengubur satu otak dengan cepat.

saya tak mau sunyi, sekalipun hanya di dunia mimpi….

saya lantas ingat catatan harian milik Gie yang pernah diterbitkan. membaca lembar-lembar gelora seorang Gie. pada bagian-bagian tertentu nampaklah dia begitu asing, ini yang saya suka.

Gie bergelimang cinta sekaligus terbuang. ada saatnya dia mencintai. tapi pada saat bersamaan dia seperti diasingkan oleh perasaannya sendiri. kadang-kadang saya merasa, Gie tak pernah benar-benar mencintai seseorang selain dirinya sendiri.

saya sendiri tak tahu mengapa saya bermimpi tentang Gie. sekarang saya ingat, saya terbangun malam tadi dan tertidur lagi. memimpikan seseorang yang lain lagi, kali ini seorang teman jauh.

Gie menemukan harapannya; mati muda. sungguhkah itu benar kemauannya? seperti kemauan seseorang siang ini yang mengatakan banyak hal pada saya? entahlah. Tuhan saja barangkali yang tahu.

saya memang tak peduli. seperti seorang pemburu, saya sudah lama menggantungkan senapan sampai berkarat. seperti seorang penulis, saya sudah menjauhkan tinta dan kertas-kertas dari meja saya. saya hanya mau diam. menjalani semua seturut perintah alam.

saya pernah menulis tentang Gie. sekarang saya harus membacanya lagi…kali-kali saya menemukan tanda baru dari situ. bahwa perjuangan hidup tak bisa berhenti pada satu romansa kecil. Gie pernah melakukannya…saya rasa.

Gie, bisakah kau tak terus berpura-pura mencintai?

Ada Maria, ada Nining, ada siapa lagi yang lain. Saya hanya punya Kalsita untuk Gie. melahirkannya serupa maut yang menjemput. kenyataannya, saya tak pernah yakin apakah bila berumur panjang, Gie akan tetap bisa berpura-pura mencintai seseorang.

selamatkanlah dirimu selagi sempat….

memang rasanya tak enak, berpura-pura mencintai. sebaliknya, rasanya tak enak sangat berpura-pura tak peduli dan tak membutuhkan. Gie bagi saya serupa sebuah cerita yang tak tuntas. seperti buku terbuka yang nampak dalam mimpi saya semalam. begitulah….kelahiran baru hanya berarti sebuah kematian siap berpulang. tapi bagaimanapun juga, Soe Hok Gie tak berhak memberi saya mimpi, malam tadi.

yogya, 6mei08

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on May 6, 2008 in Puisi

 

Tags: ,