RSS

Tag Archives: Sastra

Sejauh Utan Kayu

.: saya seperti salah menulis ini

Ada seorang teman dari jakarta, dia bertanya pada saya. “Hei, gimana yogya? sudah berbaikkan dengan Utan Kayu?”
“Ha? maksudnya?”
“Kampungan sekali kalau ribut seperti itu, tak ada bedanya ma politikus.”
“Ha? saya tidak paham maksud sampeyan. Well, sebenarnya dengar, tapi saya bukan termasuk bagian dari itu.”
“Kau kan sastrawan!”
“Bukan.”
“Menulis novel dan puisi juga cerpen, itu apa namanya?”
“Hobi nulis aja.”
“Mengamankan diri?”
“Terserah sampeyan. Yang ribut-ribut itu orang pinter. Orang besar, atau merasa besar? Saya kurang paham.”
“Hahahaha. Penulis kita satu ini aneh.”
“Saya seorang penulis, tugas saya menulis, bukan bergosip sastra gosip.”
“Wah sastra gosip?”
“Hahahaha.”
“Bagaimanapun sebenarnya, mau tak mau kau juga musti terlibat dong. Ini masalah masa depan sastra.”
“Masa depan? sastra? atau diri sendiri? bagi yang berseteru?”
“Orang Yogya aneh.”
“Saya lahir dan besar di Ngawi. Memang tinggal di Yogya sementara ini. Kalau sudah begini, mengapa sampeyan sebut aku orang Yogya. Yang Yogya dan bukan siapa yang tahu? Hehehe, saya orang Indonesia sajalah.”

Memangnya kenapa dengan Utan Kayu? dan siapa yang berseteru? mungkin saya memang tahu, pernah dengar tepatnya. Tapi saya memang tidak tahu -benar- apa yang terjadi. Mungkin memang tak ingin tahu, mungkin juga pura-pura tidak tahu.

Memang saya tidak tahu apa-apa. Dan tidak merasa harus ikut-ikutan tahu. Sekedar mendengar sih tak apa. Mungkin bisa jadi bahan ajar untuk bisa lebih baik dari suatu titik pencapaian yang ada. Mungkin bisa untuk memperbaiki diri bersifat lebih arif dan lain-lain.

Mungkin terkesan pecundang. Tapi siapa peduli? Katakanlah saya memang penulis. Katakanlah saya memang sastrawan, tapi saya rasa itu bukan legalitas untuk saya ikut campur urusan orang besar.

Utan Kayu besar dengan caranya sendiri. Yang mungkin sedikit kurang suka dengan mereka juga -bisa saja- tengah berupaya membesarkan diri. Kalau cara-cara -Utan Kayu- yang ditempuh kurang disukai banyak orang, ya itu perihal lain. Saya rasa, kalau ada banyak yang tidak suka, itu juga tak lantas begitu saja apa yang dilakukan Utan Kayu salah.

Taruhlah ini semacam permainan marketing. Memperkenalkan seorang penulis misalkan, dan lantas si penulis menjadi besar. Ya itu pilihan, bertahan atau tidak ya itu urusan si penulis ‘itu’.

Saya ingat, seorang teman saya yang sekarang bekerja di sebuah koran nasional bicara, “Ayu Utami menjadi seperti sekarang karena GM, Dee karena Tommy F Awuy, Stefanny dan Fira Basuki karena Budi Darma, Djenar Maesa Ayu karena Sitok Srengenge.” Saya bisa karena kalian semua. Itu saja, cukup!

Oh tiba-tiba saya ingat karib-karib saya Wachid Eko Purwanto, Dadang Afriady, Thomas Ari Wibowo, Sri Suprapti, merekalah yang menemani saya melalui banyak hal.

Advertisements
 
11 Comments

Posted by on May 14, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,

dejavu, Sayap yang Pecah, 279

Sisa salju, dingin dan mandul. Kelopak senja sedikit telat menurunkan tabir kehiduapn. Tak ada lagi senja yang sama, seperti saat Mahendra memasrahkan nafasnya pada rumput yang menyimpan air seni domba-domba.

Salju yang mulai meleleh. Diam-diam tanah kembali siap terluka. Lalu dengan sedikit senyum kutitipkan isyarat pada siapapun yang mengingat aku. Jika sisa senja menuntut banyak perhatian dan hembus angin lupa berderit, jangan berpura-pura diam dan memanggul sedih. Cepatlah bergegas mainkan kecapimu dan menarilah bersama liukan daun dan celoteh rumput.

Aku di sini pada bilik yang tenang, jauh tersembunyi meski bukan di dalam hutan. Sungai kecil yang berkilauan airnya saat matahari sedikit berbagi hangat, juga bintang-bintang yang mengedip pada pintu yang terbuka, mengisyaratkan semua padamu tentang rahasia di balik semua naskah.

Kekasih, bilakah rindu ini sampai di pelabuhan hatimu, biarkanlah tetap terkemas rapi dan manis, dengan pita merah dan kecupan bibirku sebagai pembungkusnya. Malam-malamku yang padam baru saja mengeja setia, berharap cinta masih berderap di hatimu. Hingga panas semesta tak terasa menesap ke lukaku.

…………
Namaku akan terpahat pada papan kosong atau mungkin batu hitam yang berhati mulia; karena memperbolehkanku menitipkan nama padanya di sebuah acara pemakaman. Aku pergi bersamaan menghilangnya mimpi-mimpi juga elegi. Sudahlah biarkan semuanya berakhir sebegini saja.

Kepergianku tidak membutuhkan penjelasan. Perpisahan bukanlah sesuatu yang pantas dipaparkan. Biarlah semua datang dan pergi dengan keinginannya sendiri. Bahkan tinta seorang penyair pun tak akan sanggup menghentikanku.

Aku pergi dengan sayap terbakar
Kurobek jantungku sendiri dengan kedua tanganku
Meremas detaknya hingga tersiar kabar ke negeri seberang
Hingga darah yang menetes memprasastikan setia dan cintaku
Di dalamnya ada namamu, entah kapan kau tahu
Biarlah dengan demikian cintaku terbalas

Pergilah sudah harapan. Dan hikayat yang tinggal biarlah menjadi catatan bagi sang ahli sejarah, jika itu pantas dijadikan sejarah. Sejarah yang mungkin bisa menjadi dongeng sebelum tidur bagi semua saja.

Biarlah kepergian menjadi sesuatu yang sakral. Jangan mengharap penjelasan. Kelak, aku kan lahir dengan senyum yang sama untuk mengejarmu, menuntut jawaban dari sekian dendam yang belum kau sampaikan padaku.

 
17 Comments

Posted by on July 27, 2007 in Novel

 

Tags: , , , ,