RSS

Tag Archives: pertanda

Lelaki itu Mati

Mas, kau lupa memanggang ayam untukmu sendiri
sebelum pergi.
kau lupa mencuci piring dan menggoreng udang kali
ayam di kandang akan kehilanganmu
air sumur sudah 20 meter lebih dalamnya
siapa yang akan menggunakannya setelah kepergianmu?
kalau ke kuburan, siapa yang akan mengantar?
saat menangis di kubur kakak siapa yang menemani?
kau kira bijakkah pergi? tunggulah
semoga aku berangkat lekas.

Begitu adek saya bilang, “Mas Sugeng meninggal. Mau kondur tidak? Kata Ibu, kalau ndak pulang ya ndak apa-apa” Saya seperti tak kaget lagi. Malam sebelumnya dia sudah mengatakannya pada saya dalam mimpi.

Mustinya saya memanggilnya Paklik, karena dia adek Ibu saya. Tapi sejak kecil saya terbiasa memanggil adek-adek Ibu dengan sebutan Mas dan atau Mbak. Tapi paklik saya satu ini berbeda, sangat berbeda dengan bulik dan paklik yang lain.

Dia paling bodoh di antara yang lain. Lahir sewaktu kondisi keluarga sedang dicekam perkara PKI yang berkepanjangan. Satu persatu tanah hilang, rumah kebanggan berpindah tangan. Begitu kabarnya.

Oiya, tentang ketidakkagetan saya. Malam sebelumnya, kemarin malam artinya, saya bermimpi sedang berkumpul di rumah Simbah. Orang ramai berkumpul dan beberapa sibuk memanggang ayam. ”Mimpi makan ayam tidak baik, ada yang mau meninggal.” Begitu dulu Ibu saya pernah bilang. Mungkin ini memang kebetulan, setelah berbulan-bulan saya tidak pernah melihatnya.

Terbangun dari mimpi itu, saya bicara pada kawan dekat saya, ”Mas, saya mimpi, dan kurasa besok mas Sugeng meninggal setelah Magrib.” Kenyataannya memang itu terjadi. Atau sebenarnya perkataan saya ini sebagai salah satu doa, agar mas Sugeng meninggal? Ah tidak.

Dua tahun terakhir, kondisi kesehatan mas Sugeng memburuk. Mal praktek yang dilakukan sebuah laboratorium membuat kesehatannya memburuk. Tahun terakhir, tepatnya selepas lebaran kemarin, dia sudah tidak bisa berjalan, hanya berbaring di atas ranjangnya. Kemudian dia tidak lagi bisa bersuara.

Saya sedih, tapi sekaligus berharap Tuhan segera memudahkan jalannya. Dulu, sewaktu masih kecil, dia suka mencarikan saya udang di balik batu-batu kali dekat kuburan yang kelak menjadi rumah terakhirnya. Kalau mangga di kebun Simbah matang, sayalah keponakan yang diingatnya.

Kalau saya maen ke rumah Simbah, dia juga yang dengan senang hati membuatkan sambal bawang yang bahkan Ibu saya tak bisa menandingi kelezatannya. Tempe goreng dan ayam panggang buatannya sampai sekarang tidak ada yang bisa menandinginya. Maka tak heran, dia selalu mengiming-imingi saya ayam panggang kalau mau pulang ke Ngawi sewaktu masih SMU (di Yogyakarta).

”Rin, sok mben aku melu kowe ya?” dia tidak bisa memanggil Lin, meski selalu saya ingatkan.
”Melu piye?”
”Nek mbahe mati, aku melu kowe, ning bojomu oleh gak?”
”O, mesti oleh, nek gak oleh tak pegat. Aku golek bojo sing sayang sampeyan wae.”
”Tenan lho Rin.”
”Iyo.”

Tapi ternyata, belum sempat juga saya membuatkan kopi hangat untuk dia, dia sudah pergi, bahkan sebelum Simbah putri sedo.

Saya sengaja tak pulang. Saya rasa mas Sugeng tahu mengapa saya tak pulang. Saya sudah berjanji akan mengirim doa dengan cara sendiri untuknya. Kalau waktunya tiba, saya juga akan ke kuburnya, sebelum saya sendiri dikuburkan di kuburan yang sama.

Mas Sugeng tidak pandai. Tapi dia tidak pernah menyusahkan orang lain. Bahkan selalu memudahkan seseorang untuk mencapai sesuatu. Saat dek Ruli kecil bermain holahop sepanjang 3Km tanpa berhenti, dialah yang menemani dari pemberangkatan dan pemberhentian karnaval. Demikian, saya tahu sayalah keponakan yang paling dikasihinya. Sekarang, dia sudah mengenakan kain kebesaran, menemui Bapaknya, menunggu malaikat mengetuk pintunya.

Kalau saya pulang ke Ngawi, tak akan ada lagi tawa yang sama yang menyambut saya. Kalau saya ke kuburan, untuk mencabuti rumput kubur kakak laki-laki saya, tidak akan ada lagi yang menemani. Maklum, kedua adek saya, hampir tidak pernah ke kubur kakak saya. Saya kira keduanya merasa tak memiliki kakak selain saya. Kalau saya mau makan ayam panggang, tak akan ada lagi yang seenak olahan mas Sugeng.

Kalau seharian tadi saya seolah tak bersedih, sekarang mengingat itu semua ada yang berat menimpa saya. Saya pernah berjanji pada mas Sugeng untuk mengajaknya tinggal di rumah saya kelak. Sekarang, dia sendiri yang tak mengijinkan saya untuk menepati janji itu padanya.

Saya tahu, dia akan pergi malam tadi….Saya tahu pasti. Saya tak menangis, karena saya tak ingin menganggapnya mati!!!

Yogyakarta, 21mei08

 
17 Comments

Posted by on May 21, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,