RSS

Tag Archives: pernikahan

akhirnya dia menikah

; tulisan saat goblok mendera karena dingin dan kabar

satu lagi sahabat saya akan menikah. tapi saya tak memiliki alasan -lagi- untuk datang. begitulah, sejak lama saya menjauhi suasana pesta perayaan itu, khususnya pesta-pesta pernikahan sahabat-sahabat saya sendiri. kebetulan selalu saja ada acara yang tak bisa tinggal. tapi bulan depan itu? adakah alasan untuk saya tak datang ke acara itu?

yang akan menikah adalah sahabat masa kecil. kami boleh saja menyebutnya, ‘mantan pacar’ tapi hubungan kami tak pernah lebih dari keakraban dua manusia kecil yang sibuk membahas banyak hal. tiba-tiba saya bersedih, bukan karena cemburu, sama sekali bukan. tapi karena merasa ditinggalkan oleh kawan-kawan saya dahulu. oh, saya tentu saja senang dengan kabar itu. saya bahkan berharap dia ‘baik-baik’ saja dalam pernikahan yang dia dirikan bersama pengantin pilihannya.

tapi mengapa saya tak memiliki kemantapan hati untuk datang? saya bisa saja memberi alasan; terlalu jauh, cinta (begitu kami biasa saling memanggil setelah perpisahan sekian tahun dulu). atau; kau tahu aku tak mudah menghafal jalan, aku pasti kesasar. memang segala alasan terbuka lebar untuk saya, tapi sering saya merasa ini tidak adil untuk saya sendiri jika menerus menjauhi pesta pernikahan.

kiranya kemantapan hati seperti apakah yang bisa dimiliki seorang sahabat pada karibnya di pesta pernikahan? saya lebih senang tiba-tiba tahu mereka semua sudah menikah, dengan ataupun belum adanya seorang anak.

dari sekian banyak teman saya, ada satu orang yang membuat saya cemas menunggu sekaligus tak berharap mendengar kabar pernikahan darinya. seseorang yang pernah mengajari saya menyeberang sebuah jalan dengan cara yang paling aman dan benar. seseorang yang saya rindukan sekaligus tinggalkan. seseorang yang selalu membuat saya bergetar saat dia menatap saya lembut dan santun. akan butuh waktu untuk saya menuliskan ini lagi suatu saat nanti, bila dia yang memberikan selembar undangan untuk saya.

sekali lagi, saya akan ditinggalkan sahabat-sahabat terbaik saya. lagi dan lagi.

Advertisements
 
7 Comments

Posted by on November 3, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags:

suami yang lupa

Dia nampak lain. Seperti tak biasa, dia akan diam-diam saja kalau rokoknya saya ambil dan saya simpan ke dalam tas. Dia menghilang diam-diam. Seperti tampak sembunyi dan bosan. Tapi selalu diam.
Kalau saya tanya, ”Kenapa Mas?” dia akan tersenyum lalu menggeleng. Saya tak ingin peduli, memang begitulah seharusnya. Bukan hobi saya untuk berakrab-akraban dengan orang lain. Saya tak kenal siapa dia, selain karena saya satu kantor dengannya. Anggaplah begitu.

Biasanya dia akan menjemput saya di kost. Atau mengantarkan saya pulang tengah malam begitu ada lembur. Tapi saya tak ingin bertanya-tanya tentangnya. Apalagi iseng bertanya siapa pacar dia dan semacamnya. Bagi saya, dia memang nampak sendiri dan tak berkawan.

Saya tak ingat, kapan dia menelepon dan menerima telepon seseorang saat bersama. Jadi tak ada alasan bagi saya untuk memikirkan apakah dia seorang suami atau seorang bapak dalam sebuah keluarga. Saya juga tidak dengan sengaja melihat jari manisnya yang tanpa cincin.

Tapi selepas makan siang, dia bilang pada saya dengan nada yang aneh, ”Ren, nanti jam empat aku musti pulang sebentar, ada urusan kecil. Jadi aku bisa mengantarmu sekalian kalau mau pulang ke kost, sebelum kita ke luar kota.”
”Ah tidak, terimakasih, aku bisa pulang sendiri nanti.”
”Bukan begitu maksudku, nanti kan bisa aku jemput lagi.”
”Lho, aku juga ndak ada maksud. Cuma rasanya pulang sendiri lebih enak.”
”Ya sudah, aku ndak jadi pulang.”

Nah, sejak sore itu saya rasa ada yang berbeda. Dia menjadi lebih sering melamun. Kalau saya bertanya ada apa, dia akan tersenyum dan menggeleng. Ya sudah, sekali lagi, itu bukan urusan saya.
Sepanjang jalan, saat ke luar kota atau saat menjemput dan mengantar pulang ke kost, kami masih seringkali hanya diam. Ini tentu saja membuat saya bertanya-tanya, kiranya hubungan seperti apa yang tanpa kami sadari telah lahir. Tapi lagi-lagi, saya tak memiliki keinginan untuk membahasnya.

Saya rasa, pertengkaran dan diam yang terjadi antara kami begitu santun. Perselisihan-persilihan yang wajarnya hanya terjadi di antara sepasang kekasih. Ah, saya tak peduli. Saya menganggapnya sebagai teman kantor belaka.

Suatu hari dia dengan tanpa alasan, menunjukkan email-email dia dengan seorang perempuan, ”Nah, ini perempuan yang dulu kucintai.”
Saya tersenyum mendengarnya. Membaca email-email itu tanpa cemas apalagi prasangka. Tanpa beban yang berarti, saya memperhatikan tahun dan tanggal yang tercetak.
”Pernah atau masih? Wew, masih disimpan yang beginian?”
”Pernah saja.”
”Kalau aku mana mau punya pacar yang beginian Mas.”
”Maksudnya?”
”Ya, berhadapan dengan kenangan jauh lebih sulit daripada dengan seseorang itu sendiri.”
”Kok?”
”Iya, kenapa? Yang pernah patah hati aku tak mau, yang pernah ditolak aku tak sudi. Apalagi yang berkali-kali. Aku mau yang tak tersentuh.”
”Kok begitu?”
”Ya memang begitu.”
”Sama bayi saja kalau gitu.”
”Itu lebih baik.”
”Ini hanya buat catatan saja kok.”
”Wew, bukan jamannya lagi memiliki romantisme senja begini.”

Tiba-tiba saya seperti salah bicara. Diapun terlihat seperti merasa salah bersikap. Tapi saya hanya cengar-cengir, mencoba mengabaikan pertanda yang hampir sampai. Dengan cepat dia menutup laptopnya, mengajak saya ke kantin berdua saja. Dengan tanpa banyak bicara, saya mengikutinya. Berjalan berdua begitu, kami hanya diam.

Hal-hal ganjil memang lebih banyak lahir. Misalkan, mengapa kami harus merasa tak enak akan
pertengkaran kecil itu. Mengapa kami begitu sungkan sekaligus lugas tiap hari berebut membayar bill di kantin. Mengapa kami begitu aneh saat berebut mengambil minuman tambahan. Bukankah kami hanya sepasang sahabat?

Kalau saya menerima telepon dari banyak laki-laki yang sedang mendekati saya tanpa harus menyingkir dari hadapan dia, itu sudah pasti karena memang saya merasa itu hal yang paling benar. Meski saya melihatnya sering pura-pura tak mendengar pembicaraan saya. Ah, memang tak ada yang harus dipedulikan.

Siang itu, dia meninggalkan saya begitu saja saat sedang mendiskusikan sebuah proyek baru. Tiba-tiba dia datang sambil meletakkan dua botol minuman di hadapan saya, juga dua kotak kecil es krim. Belum selesai kaget saya, dia mengulurkan tangannya, memberikan sesuatu dalam bungkusan kecil berwarna bening sembari berkata, ”Rambutmu berantakan tu.”

Oh, saya hanya diam tanpa mengucapkan terimakasih. Ada tali berwarna ungu di dalam plastik itu. Pilihan yang sangat buruk, pikir saya. Norak sekali tali rambut itu di mata saya. Hanya untuk menghargainya saja, saya berpura-pura senang dan memakai tali itu di rambut saya.

Nah, saat jemari saya sibuk merapikan rambut itulah saya sadar. Pagi saat dia menjemput saya, saya bicara ”Duh, aku kok pingin es krim ya.” Saya rasa, apa yang dilakukannya kebetulan saja. Lagipula saya tak ingin memakan es krim itu. Lagi-lagi pilihan yang salah. Saya mana suka es krim vanila begitu. Rasanya aneh di lidah.

***

”Lupa juga? Dulu aku bilang, aneh mengapa menyimpan email-email dari masa lalu. Kalau sampeyan ngerti, mustinya tanpa kubilang sampeyan sudah tahu, kalau itu tidak menyenangkan buatku. Duh, masak gitu aja musti dijelasin juga.”
”Iya, maaf, Mas nggak ada maksud apa-apa.”
”Wew, gini deh gini, jangan segala hal musti diajari. Ini bukan perkara diajari dan mengajari. Aku bukan guru dan sampeyan bukan murid. Lama-lama aku bosan dan berasa mau pergi saja.”

Ya, sekarang, saya telah menjadi istrinya. Dan masih ada banyak hal yang selalu salah. Misalkan, mengapa dia selalu salah memesankan kentang goreng dengan taburan keju di atasnya. Atau salah memilihkan parfum kesukaan saya. Atau juga salah menakar gula ke dalam kopi panas saya. Itu pasti karena dia tidak mencintai saya. Sampai melupakan hal-hal kecil tentang saya.

Sementara saya tahu, butuh berapa sendok gula untuk secangkir teh-nya. Butuh telur sematang apa untuk makan malamnya. Pendeknya saya hafal kebiasaan dia. Saya selalu marah, dan dia selalu diam sembari minta maaf. Saya tak senang dan bosan mendengarnya.

Saya tahu, mawar-mawar putih di hari ulang tahun perkawinan kami akan membuatnya terharu. Tapi dia lupa, saya benci bepergian di tahun baru dan di banyak hari yang lain. Saya tahu dia suka kalau saya memasak semur ayam berasa aneh itu, di hari-hari spesial kami. Tapi dia lupa, saya akan mual dan berasa akan muntah kalau makan bubur ayam dan nasi goreng. Saya tahu dia akan senang kalau bangun tidur sudah ada segelas teh hangat untuk dia. Tapi dia tak ingat, saya harus berpura-pura senang atas coklat putih yang dia berikan untuk kejutan di hari minggu pagi.

Nah, saya memang mulai sering merasa kesal dengan cara kerja ingatan dia. Saya tak suka kalau harus menjelaskan sesuatu berulang kali. Menjawab pertanyaan yang sama, dan selera makan yang menghilang karena pesanan yang salah.

Saya mulai yakin, dia memang tidak mencintai saya. Bagaimana mungkin hal-hal kecil bisa terlupa. Sementara saya bisa tahu, jam berapa dia akan mendengkur dan suara apa yang bisa membangunkan lelapnya. Saya bosan, sangat bosan. Saya mulai benci dengan kalimatnya, “Maaf, Mas lupa. Mas salah karena Mas pelupa!”

Sore tadi, saat dia mandi, saya membuka-buka handphonenya. Ini bukan hobi saya, tapi entah mengapa saya begitu ingin membuka barang kecil itu. Dalam sebuah folder, saya menemukan sebuah catatan kecil yang membuat saya harus menahan tawa sekaligus haru. Friedchicken harus pedas dan sayap. Tidak suka wortel dan buncis. Benci sosis. Kopi; gulanya sesendok kecil. Parfum merk; lupa lagi. Es krim hanya yang ada chocochipnya! Celana ekstra small merk Dust. Dan begitulah daftar itu terus memanjang.

Dia juga mencatat, kapan, dimana, kenapa dan berapa lama saya marah. Dia menandai setiap tanggal dengan beberapa istilah. Oh, saya begitu merindukannya. Tiba-tiba saya tahu, betapa saya menginginkan dia untuk saya. Begitu mendengar dia keluar dari kamar mandi, saya cepat-cepat mengembalikan handphone itu ke atas meja. Dengan cekatan, saya meraih sebuah majalah dan berbaring di ranjang. ”Sudah mandinya, Mas?”

”Sudah, oiya, ini kan malam minggu kita jalan-jalan yuk, makan nasi goreng di jalan Wonosari.” belum sempat aku menjawab, dia sudah bicara lagi, ”Eh maaf, sayang kan nggak suka nasi goreng, makan di rumah saja. Mas buatin telur ya?”
”Siapa bilang? Sekarang suka kok. Tapi cium dulu!”

Yogyakarta, 2008

 
7 Comments

Posted by on June 28, 2008 in Cerita-cerita Pendek

 

Tags: , , ,