RSS

Tag Archives: pelacur

perempuan yang -belum- menjadi selebriti, 2

Semalam, seorang teman lama -kenalan di pesawat menuju Jakarta beberapa tahun lalu- menelepon saya. Dia mungkin dengan sedikit mabuk bicara bahwa baru saja memutuskan untuk kembali menjalani profesi lama yang ditinggalkannya. ”Selamat, jadilah yang profesional kalau begitu. Jangan menjadi yang telentang, menyelesaikan jasa yang disewa dengan berpura-pura orgasme, sudah.”

Dia menangis saat saya bicara begitu. ”Mengapa menangis?”
”Kenapa kamu tidak menahanku, jangan itu dosa atau jangan penyakit menular akan mengejarmu seperti dulu. Kau tidak sayang lagi padaku?”
”Tentu aku masih sayang, tentu aku selalu menyayangi kamu. Justru itulah aku mendukungmu.”
”Tapi dulu kau bilang, kalau kau tak percaya ahli agam tidak apa-apa, tapi jangan sampai tak percaya Tuhan. Kalau kau tak percaya dosa, itu terserah, tapai jangan tak percaya penyakit menular seksual akan mengejar.”
”Itu dulu, saat aku merasa harus mengatakan itu. Tapi kurasa, tidak tepat aku mengulang kalimat yang sama.”
”Aku tidak mau, sebenarnya aku tidak mau.”
”Kau harusnya mengatakan, herlina mengapa aku tergoda kembali lagi. Bukannya, herlina aku memutuskan kembali lagi ke dunia itu.”
”Ya, aku butuh duit.”
”Itu jalan yang paling terbuka dan gampang bagimu saat ini? Silahkan, lanjutkan. Tapi pernahkah kau merasa benar-benar tak membutuhkan uang? Dan pernahkah kau berpikir? Kecantikanmu akan memudar suatu saat dan segera saja kau tak akan dikenang sebagai apapun selain perempuan yang membangkitkan gairah beberapa lelaki dalam semalam.”
”Sebenarnya kau tidak suka kan aku kembali? Tapi mengapa kamu tidak mengatakannya.”
”Mungkin, tapi kalau itu maumu ya sudah? Kalau mau jadi profesional, jangan seperti Maria, yang membaca buku-buku pengetahuan seksual dan menonton film-film bokep. Oh, maaf kamu tidak tahu siapa Maria. Beberapa hari kemarin, aku membaca buku Eleven Minutes tulisan Paulo. Nah, Maria ini si tokoh utama yang kebetulan juga dia seorang pelacur. Latihlah dirimu dengan membaca, jadi kalau pejabat datang mereka akan sedikit lebih senang kalau kau bisa nyambung berbincang dengan mereka.”
”Ah, mereka cuma mau itu dan sudah. Membayarku dan selesai.”
”Oh begitu? Tak pernah bertanyakah kau pada dirimu? Bahwa mereka datang untuk membeli kebahagian semu yang bisa dibayar? Apakah kau kira kebahagiaan itu hanyalah urusan seks semata? Oh mungkin aku salah, karena aku tidak tahu bagaimana duniamu terus berjalan dan aku hanya orang luar.”
“Jadi bagaimana? Malam besok aku ada janji dengan orang Jakarta.”
“Janji harus dibayar bukan? Tapi kau tidak harus melaksanakan sepenuhnya. Sudahlah, karena dulu uang begitu mudah kau dapat dari situ, berhasil mencukupi banyak hal dengan melakukan itu, kau tersiksa sekarang, ketika teman-temanmu bisa mengganti ini itu. Sebenarnya alasannya hanya uang kan? Bukan sesuatu yang harus kau penuhi karena tak ada. Semacam perut yang lapar dan Ibu yang sakit tak ada biaya periksa. Kalau hanya menjadi SPG memang tak cukup memenuhinya. Banyak yang mengatasnamakan memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai uang kuliah. Ah yang benar? Aku tidak harus menelentangkan tubuh serupa peta di ranjang untuk membiayai kuliahku dulu, sayang!”
“Tapi kau menulis.”
“Salah! Aku menjual mulutku untuk memberikan les privat ke anak2 sekolah dulu.”
“Tapi aku tidak pintar!”
“Kalau kau tekun juga bisa. Aku hanya lulusan SMK waktu itu.”
“Tapi kita kan berbeda, herlina, kau kira kau memahami? padahal kau sudah curang kalau melihat kita ini manusia yang sama. Jelas berbeda! Aku ingin bisa membuat usaha sendiri dari situ. Kalau sudah berhasil, aku akan berhenti.”
“Mungkin aku curang, karena berharap kau pun bisa. Tapi sudahlah, makanya tadi aku bilang, lanjutkanlah jadilah Mata Hari, atau siapapun yang bisa membuatmu senang. Kurasa, itu seperti candu. Saat kau berjanji akan berhenti, saat itu pulalah godaan yang lebih memikat datang menyergapmu.”
(Mungkin di sini dia mengira matahari yang terbit dari dari Timur dan Tenggelam di Barat. Sudah, saya capek menjelaskan padanya.)
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Besok bagaimana?”
“Sebenarnya kau hanya butuh orang untuk merantai kakimu agar tak kemana-mana besok kan? atau sebaliknya, kau membutuhkan orang yang terlalu mendukungmu hanya agar merasa punya kawan menanggung derita dan perasaan berdosa.”
“Aku besok berangkat.”
“Berangkatlah, jadilah besar dari situ. Jangan lupa pakai kondom!”

Masih panjang percakapan kami. Sesekali dia masih menangis. Saya tak sedih menutup telepon dari dia setelahnya. Benarkah hidup yang dia pilih itu salah? Saya ingat kata-kata di buku Eleven Minutes; Aku ini pelacur luar dalam, dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku sangat pelacur. Dan juga kalimat dalam buku saya sendiri di Sebuah Cinta yang Menangis; Aku hanya ingin menjadi pelacur. Bercinta dengan tiga orang perempuan sekaligus. Bersetubuh dengan tiga laki-laki sekaligus.

Kalau saja dia bisa dengan lugas mengatakan pekerjaannya sekarang seperti Maria. Bila seseorang bertanya, “Bekerja apa?” dia akan menjawab, “Menyewakan tubuh.” “Ha? Maksudnya?” “Ya saya pelacur.” Mungkin dia tidak menangis malam tadi. Tapi langsung saja, barisan orang-orang sok suci akan melemparinya dengan keranjang penuh tahi. Masyarakat -beberapa deh- yang phobia dan munafik akan menghujatnya seolah-olah paling tahu dosa apa yang akan diterimanya kelak sesudah mati.

Saat menuliskan ini, mungkin dia tengah tersenyum pada tamunya di sebuah lobby hotel. Saya berharap dia baik-baik saja malam ini dan seterusnya.

Advertisements
 
9 Comments

Posted by on June 19, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

Perempuan yang Menjadi Selebritis

Perempuan yang Menjadi Selebritis

Sekarang aku sangat berterimakasih pada siapapun yang telah mencintainya dan bersedia menerimanya sebagai suami ataupun selingkuhan.
Aku hanya ingin menjadi pelacur. Bercinta dengan tiga orang perempuan sekaligus. Bersetubuh dengan tiga laki-laki sekaligus. Kenyataannya aku telah berhasil membunuh dua perempuan dan satu laki-laki dalam hatiku!
(Sebuah Cinta yang Menangis: 16)

Tokoh yang mengucapkan kalimat itu Farlyna namanya. Perempuan dewasa, mapan, cerdas, memiliki daya tarik yang seolah selalu siap untuk membuat lawab bicaranya jatuh cinta. Farlyna, menjanjikan mimpi dan impian. Tak sedikit yang kemudian patah hati dan memutuskan pergi.

Tapi begitulah, ada saatnya kemudahan itu justru berbalik menjadi senjata. Saat dia kembali pada agama yang dipilihnya dengan mencintai seorang suami perempuan lain. Jelas, itu sesuatu yang sangat dihindarinya. Tapi rupanya ‘peta cinta’ tidak cukup membantunya melepaskan impian yang dimilikinya pada suami perempuan lain itu.

Lantas benarkah dia ingin menjadi pelacur?
Mungkin sampai kini, pelacur tampak seperti anti-tesis cinta. Sesuatu yang dijauhi. Yang memuakkan bagi banyak orang sekaligus didambakan oleh beberapa yang lain.

Dari hetairae pada Zaman Yunani kuno, hingga raja-raja (Jawa?) abad tujuh belas, pelacur sudah lama menjadi objek cinta bahkan sesuatu yang diinginkan. Konsep Geisha di Jepang, bagaimanapun orang melihatnya sebagai perempuan seniman, pada akhirnya lelang mizuage hampir tak memiliki perbedaan yang signifikan dengan pelacur. Para geisha magang akan diajari oleh kakak angkatnya cara melirik, cara berjalan, cara menari, dan memperlihatkan selembar kulit ranum mereka dari balik kimono yang mereka kenakan.

Mereka menemani laki-laki di rumah-rumah teh. Memberikan kenikmatan dunia luar rumah bagi para laki-laki yang royal membagikan uang dan bosan pada lembarang kulit yang dikawininnya. Ini tentu saja bukan perihal mencoba menilai dan memberikan penilaian bahwa geisha lebih tinggi atau lebih rendah dari pelacur. Baiklah,mungkin geisha adalah pelacur sejati tradisional yang lebih dari sekedar cantik di Jepang. Oiron atau pelacur senior adalah perempuan berpendidikan tinggi, terlatih dengan baik dalam hal musik, puisi, dan tentu saja seni bercinta.

Maka tak heran, pada jaman Yunani banyak pelacur yang menginspirasi para filsuf, pemahat, seniman dalam menciptakan karya besar mereka. Kabarnya, para pelacur ini mengajari mereka perihal cinta dan keluhuran. Bandingkan dengan pelacur sekarang? Ini bukan perihal dosa dan tidaknya melacurkan diri. Tapi alih-alih meminjam konsep teman-teman LSM yang konsen mendampingi teman-teman PS (Pekerja Seksual) yang mengatakan ini sebagai sebuah profesi.

Bagaimana degan Marea Magdalena? Perempuan dari Magdala itu? Begitu bangganya dia berhasil membuat Yesus melirik padanya (entah kagum, sayang, kasih, hormat. mana ane ngarti) dengan permainan musiknya. Mereka (Marea dan kawan-kawannya) menari, yang oleh orang-orang Farisi dianggap kerasukan tujuh roh jahat. Serupa perwakilan iblis, mereka dicaci. Begitu Marea membasuh kaki Yesus dengan rambut ikalnya yang hitam serta minyak yang wanginya membakar kecemburuan banyak laki-laki, disebutlah Marea pelacur. Meski banyak dari Umat Katolik yang menyangkal itu juga, “Tak ada satupun ayat yang menganggap Magdalena pelacur.”
(perihal perempuan yang membasuh kaki Yesus ini, juga belum jelas, apakah dia Marea dari Magdala atau yang lain.)

Namun, sampai sekarang Marea Magdalena dikenal sebagai pelacur paling terkenal sepanjang jaman. Linus Suryadi AG yang kebetulan beliau juga seorang Romo begini menulis sebuah puisi “Maria dari Magdala” yang sepenggalnya berbunyi;

Saya, Maria Magdalena,
lonte.
Tujuh setan nunggang kemolekan tubuhku.
Bibir, perut, penthil, dijilatinya pahaku.
Bahkan gawukku diubeg-ubeg komplit.
terbakarlah urat saraf dan jiwaku.
Tapi Ia berkata:
“Aku tak menghukum kamu. Malahan aku jatuh kasmaran. Tapi imanku menyelamatkan. Pergilah kamu dengan akal sehat.”

was taken by Forysca

was taken by Forysca

Bersama Wahid Eko, teman kuliah saya, saya sering membaca puisi ini dalam beberapa pentas teater. Wachid menjadi Yesus. Saya menjadi Marea Magdalena. Dan saya senang lantang menyebut; Marea Magdalena!

Yang terkenal lagi dan bangga pada dirinya adalah si Carmen-nya Bizet, Don Juan wanita. Dia adalah sosok ganas dan misterius. Dengan sensualitasnya yang bebas, dan kecantikan ragawinya serta kecermelangan otak, dia harus membayar semua itu dengan nyawanya. Tragis!

Dan di antara para pelacur terkenal yang menjadi selebritis di jamannya, ada juga TULLIA d’ARAGONA yang dikenal di kalangan cortegiane,di Italia pada jaman Renaisans. Dia seorang perempuan yang tulisan-tulisannya menawan hati banyak lelaki. Dan tentu saja, juga matanya yang nakal meluluhlantakkan hati mereka yang menatapnya.

 
21 Comments

Posted by on May 19, 2008 in Essay

 

Tags: , , ,