RSS

Tag Archives: love poem

TURN PALE


.: turn pale :.

like a song without rhythm
when you said you can defeat anything
so i give you a melody

as an empty touch on your eyes
I never judge

are you the special one?

you often said
we are closer than ever
more than that close every day

and I
am like a glass shattered on a rock
turn pale in your capable hand

so beib, save the last from
every last thing there

yogyakarta, 12 Agustus 2008

Advertisements
 
8 Comments

Posted by on August 14, 2008 in Puisi

 

Tags:

lampu dan dia

Dear Al
Dia mengatakannya dengan tenang, “Honey, aku akan menikahinya, begitu semuanya berjalan sesuai rencana.” Aku dengan senang berkata, “Itu bagus buat sampeyan. Sangat bahkan, sayangi dia seluruhnya.”
”Masih ada padamu. Untuknya secukupnya saja.”

Oh Al, adakah cinta bisa diukur dengan menghitungnya sesuai dengan keinginan dan kemauan. Setinggi apa, sedalam apa dia telah mencintai perempuan itu? Tiba-tiba aku ingin tahu, tapi konyol rasanya kalau aku bertanya, ”Seperti apa sampeyan mencintainya?” Apa aku nampak cemburu?

Al, kami makan malam di tempat yang biasa. Kami memesan beberapa menu tanpa satupun pilihan dariku, karena kukira kami tak akan berlama-lama.

Baru belasan menit berlalu, tapi aku merasa segala menjadi kosong. Apa aku nampak terluka?

Dia mengenakan kemeja berwarna putih dengan garis-garis biru, serupa dirinya yang nampak putih. Wajahnya kemarau seperti biasa. Selalu tanpa senyum tapi manis. Kulitnya semakin legam, tapi begitulah dia nampak indah belaka. Apa aku sekali lagi jatuh cinta padanya?

”Terbiasa di tempat dingin, terasa panas di sini.”
”Semoga tak lantas menjadi dingin hati sampeyan.” Nah, aku seperti salah bicara. Tapi kalimat itu begitu saja meluncur tanpa bisa aku tarik lagi. Apa aku tampak menyedihkan? Aku tertawa. Mentertawakan dia atau aku sendiri? Aku seperti tak kenal dia sebagai seseorang dari masa lalu. Dia selalu baru, hanya senyumnya yang sesekali begitu karib bagi mataku.

Dia memberikan selembar surat kecil. Kurasa itu sebuah lirik lagu atau nyontek dari sebuah situs atau entah. Karena aku rasa dia tidak seromantis dan secerdas itu untuk bisa membuat kalimat manis.

When you find yourself in deep trouble. Like a ship lost in the mid-sea during a storm. You want to cry and need a shoulder to lean on. Seem hopeless and could not move on. Got no one around whom to count on. Maybe you have totally forgotten me. Have given up on me for somebody. Think I am useless and nothing but garbage. So you shun and make a mock on me.
You might be surprised when you turn your back. See me smile with open arms and extended hands. For unlike them whom you prefer to be with than me. I’ll never give up. Turn my back on you. I’ll be your candle. Offer you light so you may not stumble. Take my word. I love you more than forever.

Aku kira aku memang tersentuh membacanya. Bukan pada kalimat-kalimat itu. Tapi dari cara dia yang tak tahu malu bergaya ala pencinta yang sedang kepayang. Kami sudah tidak muda lagi. Dan aku bukan kekasihnya. Dia akan menikah. Maka sudah seharusnya dia menyegerakan apa yang bisa membuatnya bahagia.

Oh, apa aku nampak terluka mengatakan ini? Apa aku nampak perih menuliskan ini padamu? Tentu saja tidak. Apa aku nampak menyangkal sesuatu? Aku bohong padamu dengan mengatakan aku menghabiskan waktu di tempat orang mati. Kenyataannya, aku baru saja melewatkan waktu dengan seseorang yang kuanggap sudah mati.

Aku kirimkan lampu di atas kepala kami, untukmu.
lampu yang tak sendiri

memang pernah, sayang, aku mencintaimu sebanyak aku mencintai hal-hal yang cerdas dan jenius. tapi tahun sudah berganti, dan kau tak seharusnya kembali mengeja namaku lagi.

 
35 Comments

Posted by on June 4, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,