RSS

Tag Archives: ibu

Saya Jatuh Cinta….benar-benar….


Dini hari tadi dia datang, duduk dengan cara provokatif memandangi saya. Matanya kecil, serupa gemerlap berlian yang seakan selalu siap diciumi. Bibirnya mengembang oleh senyum, selalu bersedia untuk saya manjakan. Aduh Tuhan, saya jatuh cinta. Aduh setan, saya terpesona. Bergetar dada saya memandanginya begitu. Ada denyar-denyar halus yang sumpah mati belum pernah saya rasakan selain pada dia.

Matanya terus memandangi saya, seolah saya kebanggaan abadi baginya. Diabaikannya kanak-kanak yang menangis karena dicubit Ibu mereka. Diabaikannya perempuan-perempuan lain yang mencoba menarik perhatiannya. Dia memang hanya mendambakan saya. Sebagai kasih sayang yang tulus sepanjang jalan.

Dia memakai kaus berwarna putih, celana pendeknya memiliki saku di masing-masing sisinya. Pasti penuh dengan permen. Saya bohong kalau saya katakan tak bahagia saat memperhatikan lelaki yang terasa begitu karib itu dalam saya. Rambutnya ikal, ditarikan oleh angin laut. Aduh Tuhan, saya jatuh cinta lagi dan lagi padanya.

“Bunda, jangan lama-lama.”

“Bentar sayang. Duduk yang manis ya.”

Tak bisa tidak, seharian saya terus memikirkan laki-laki itu. Mungkin cinta yang sementara. Mungkin juga kerinduan sesaat. Sepertinya begitu. Maka esok hari, saya berharap semuanya berakhir. Saya tak merasa siap untuk menyediakan diri untuk bisa memilikinya.

Maka saya mencoba memanjakan mata saya dengan melihat-lihat banyak wajah yang menarik di kotak ajaib ini. Memang tak ada yang seistimewa dia. Tak ada yang semanis dia.

Dia memang anak saya, anak yang -akan- lahir dari rahim saya. Begitulah, kelak. Menunggumu sayang, hari-hari akan terasa lama. Detik menjadi sunyi dan dingin. Tapi telah kupertaruhkan hidup dan cinta hanya untuk memenangkanmu kelak.

an kasi na

kaulah kemerdekaan baru yang lahir dariku
kebenaran paling sejati dan purba dari dunia
dari segala rahasia yang tak terduga

kelak kau memerdekakan karib dan lawan
memiskinkan bicara dengan sikap dan perilaku
anakku!

maka kau akan pernah capai
maka kau akan pernah terluka
maka kau akan pernah menangis
maka kau akan pernah marah
karena kau berjiwa
bukan segumpal daging bernyawa

tanganmu tak pegang senjata
karena kami mengajarimu aksara
hatimu tak membatu
karena kami memahatmu dari doa
kakimu tak menginjak luka
karena kami meminangnya dari sejarah

maka kau akan pernah kecewa
maka kau akan pernah menyesal
maka kau akan pernah bersedih
maka kau akan pernah patah
karena kau manusia biasa

Yogyakarta, 23Juli08

 
5 Comments

Posted by on July 24, 2008 in Catatan Hari Ini, Puisi

 

Tags: , , ,

Ankasina Anakku

Ankasina, Bunda akan bercerita padamu Nak.

Ayahmu tak pernah benar-benar lahir dari rahim manusia. Dia lahir dari langit, saat matahari pelan-pelan menyergap bumi. Itulah mengapa, ayahmu menjelma menjadi manusia yang bijak dan kasih pada sesama.

Bila kesedihan meraihnya, karena Bunda membuatnya kesal, dia akan terlebih dulu memaafkan dan dengan cepat tersenyum pada Bunda.

Ayahmu Nak, laki-laki yang menjadikanmu remaja tangguh, adalah laki-laki hebat terakhir yang dimiliki dunia. Dialah satu-satunya kejujuran yang dimiliki manusia, milik semesta, milik perempuan, milik kami, milik kita. Milik Bunda seluruhnya. Kebenaran berikut cinta dan jiwanya.

Maka kau tak dilahirkan untuk menjadi pecundang pada segala hal. Kau merdeka, karena lahir dari rahim yang merdeka. Kami tenun kau dengan kasih dan doa semua manusia. Tapi begitulah, dialah laki-laki hebat terakhir yang dimiliki dunia. Maka, bila suatu saat kau melakukan satu kesalahan, Bunda dan dia Ayahmu akan menerima, akan memaafkan. Tapi ingatlah sayang, kau tidak kami lahirkan untuk menjadi lemah. Kami lahirkan kau untuk menjadi tangguh.

Kau boleh memilih untuk menjadi miskin, tapi bukan bodoh. Kau boleh memilih menjadi pendiam, tapi bukan pecundang. Kau merdeka, tapi kemerdekaan yang kau punya semata untuk memerdekakan manusia yang lain yang tertindas dan direbut kemerdekaannya.

Kelak, kau akan mendengar cerita-cerita yang kurang menyenangkan, tapi percayalah; hanya ayahmulah satu kebenaran. Kau boleh tak percaya Bunda, tapi jangan ingkari apa yang ayahmu katakan. Sebab itulah Bunda memilihnya, menjadikannya laki-laki yang tak tersentuh perempuan lain. Dia nak, ayahmu yang lelaki bersenyum purba itu.

Dalam hidup yang pernah Bunda jalani nak, pernah ada saat Bunda tak setia. Tapi ayahmu laki-laki hebat, bukan bodoh, karena baginya mencintai hanya berarti mencintai saja. Di matanya Bundalah cinta itu.

Jangan pernah kau kira ayahlah yang beruntung mendapatkan Bunda, karena sesuangguhnya Bundalah yang beruntung mendapatkannya, sebagai manusia, sebagai karib, sebagai cinta.

Kau Ankasina, anak kami, dilahirkan untuk menjadi tangguh dan merdeka. Kelak, Bunda akan bercerita bagaimana cara ayah dan bunda bertemu. Sekarang , tanamkanlah dalam dirimu; ayahmu laki-laki sempurna terakhir yang dimiliki dunia.

peluk sayang
bunda

Yogyakarta, 23Juli2008 (2.09)

 
4 Comments

Posted by on July 23, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , ,