RSS

Tag Archives: dadu

Bermain Dadu

; Rusli Hariyanto vs dadu..

(ssst, ini Rusli lagi mencari dadu…)

sebenarnya saya hampir tak pernah berhasil menebak dadu. saya selalu salah, seringkali salah. mengapa bisa salah? tentu saja salah, karena saya tak berani mengatakan itu dadu besar atau kecil. keluar berapa. saya malu kalau terlanjur menebak dan salah. tapi untuk menjaga harga diri, saya suka bilang, “ah sudahlah, saya tak suka bermain dadu.”

sekarang saya sedang bermain dadu. tapi sungguh mati saya tak berani membuka tempurung kelapa yang menyembunyikan dadu itu. saya berharap-harap cemas, kali-kali tempurung itu terbuka dan saya melihatnya dengan tanpa cemas dan rasa malu kalau salah menebak.

sebenarnya saya yakin, dadu kecil yang akan keluar. kalau taruhan, saya pasti akan menang, dan Rusli kecil itu tak akan memaksa saya minum sebotol beer bintang yang membuat perut saya mual dan terkapar di ranjang tanpa sempat cuci muka dan gosok gigi.

saya terus saja menatap tempurung kelapa itu. tergoda mencoba mengintip ke dalamnya. ah konyol, tentu saja tak bisa. sekarang saya serupa pandir kecil yang sibuk mengusap keringat karena cemas hati menyergap saya penuh seluruh.

dadu kecil akan keluar. begitu pastinya. tapi sumpah, saya tak berani menebaknya. kalau salah, saya akan malu pada diri sendiri. kalau benar, saya akan kehilangan cemas dan bosan pada permainannya. nah, kalau sudah bosan saya akan mencari permainan baru yang lebih menantang otak dan pikiran saya.

bermain dadu begini, serupa terkena candu. meski saya tak pernah menghisap ganja atau candu-candu lainnya. tapi saya tau, cemas karena bermain dadu ini seimbang dengan pengaruh candu. serba tak yakin -padahal yakin sih- begini menjadi kemewahan tersendiri bagi saya.

melihat orang-orang yang merayakan kemewahan dengan membakar langit menjadi warna-warna pelangi, saya tak heran. menyaksikan Rusli memainkan handphone-nya serupa lego, saya tak tergoda. memperhatikan anak-anak bermain engklang saya akan lebih cepat bosan. karena saya tahu, saya selalu menjadi pemenang bermain-main yang seperti itu.

bermain dadu membuat saya tertawa, sekaligus bertanya-tanya kiranya terbuat dari apakah benda persegi itu. sembari mengira-ira, saya bisa menikmati kopi, merokok, sambil menyanyikan lagu “aku cinta kau dan dia.” eh, jangan dikira tak ada hubungannya antara dadu dan lagu ini. begini, kalau disuruh memilih antara kopi dan rokok, saya tak akan bisa memutuskan dengan cepat. kalau disuruh memilih tempurung kelapa atau dadunya, saya juga pasti kesulitan memilihnya.

memang benar. bisa saja saya memilih dadu, lantas memainkannya dengan telapak tangan saya sendiri. ah, tapi itu kurang afdol bukan? kalau telapak tangan saya sibuk menutupi biji dadu, lantas bagaimana saya merokok? lantas bagaimana saya memegang cangkir kopi? memang bisa saja, saya minum dengan kaki saya. ah, tapi saya tak mau, saya kan biasa hilir mudik kalau sedang bermain dadu.

(yang ini dia sedang mencoba merayu dadu…)

Rusli, laki-laki kecil yang memanggil saya, “Mbak, guru, sista, dll” itu, memaksa saya untuk berhenti bermain dadu. Katanya, “Kasian dadu-dadunya, kalau lecet dan hilang bulatannya kan repot. Apa masih kurang dadu yang rusak karena ulahmu?”
“Dih, salah sendiri jadi dadu. Kalau ndak dimainkan juga apa gunanya jadi dadu? Aku cuma menjalankan tugasku, bermain dadu. Dadu tugasnya ya diem aja di tempurung. Sesekali dilempar, sesekali disembunyikan, sesekali juga dihentakkan.”
“Tapi sebenarnya salah si dadu sendiri sih, ngapain deket-deket kamu.”
“Nah, itu juga kau tahu. Dah cari dadumu sendiri, mari kita mainkan….”

 

Tags: , ,