RSS

Tag Archives: cinta

Eleven Minutes with You

.: Di luar sana, Sayang. Jalan-jalan bercabang dan menunggu dipilih.

Mengapa kau nampak sedih, kekasihku? Adakah langit telah jahat padamu? Adakah musim-musim bergegas sebelum menghampirimu? Mengapa kau buat matamu serupa danau yang menggenang oleh demam.

Kekasih, semoga kesedihan lekas beranjak, meski kenangan akan tetap tinggal dan selalu abadi dalam hatimu. Tahukah kau sayangku? di matamu yang serupa mata air, telah bercerita kenangan-kenangan masa lalu. Dimana seseorang yang kau puja menusuk jantungmu dengan senyum termanisnya.
Kini, kau nampak serupa sampan yang membenamkan diri dalam-dalam di rawa-rawa keparat.

Tangkaplah hatiku. Karena serupa batu-batu yang tak nampak lebih mengkerut dari tahun sebelumnya, cintaku tak akan menua. Ia akan selalu padamu saja.

Dan bila airmata menghampirimu, biar kuluruhkan ia dengan bibirku.
Karena tubuhmu yang serupa akar beringin telah membebat jiwaku seluruh. Kekasih, nampakkah aku sebagai pencuri hatimu?

Tak ada yang mampu kucuri, Sayang.
Tak ada yang bisa kubawa tanpa seijinmu.
Maka bila kusucikan hati dengan menanggalkanmu di pucuk-pucuk cemara yang kudus, maafkan aku.

Sayang, adakah kau mengingatnya? Seseorang yang kepadanya pernah kau tanamkan harapan-harapan baru? Adakah kau merindukannya serupa sawah dan ladang kepada hujan? Adakah kini kau menjelma petani di penghujung kemarau?

Aku lupa, di dadamu, goresan pisau akan nampak indah belaka. Di keningmu sisa ciumannya membekas tanpa peduli sore dan musim. Maka, kinilah aku yang nampak serupa petani itu.

##
Saya harus berhenti di sini. Tepat jam 12 malam, ketika seseorang meminta saya menghentikan aktifitas saya di dalam kamar. Di luar langit penuh bintang. Seseorang tersenyum seperti sejak pertama saya mengenalnya.
Bertahun-tahun yang lalu di bulan Februari, saya menerima THE ALKHEMIST karya Paulo Coelho, dari pos. Sebuah buku yang kemudian teramat saya cintai. Dan sekarang, buku ELEVEN MINUTES dari penulis yang sama ada bersama saya sejak sekian menit tadi, dari seseorang yang selalu bersedia dan seharusnya saya cintai untuk seterusnya.
Adakah cinta semudah membuka-buka halaman buku? Membaca dan mempelajarinya dengan bijak dan tanpa prasangka?
Di luar angin terlalu sepoi, saya sudah di dalam kamar dan sendirian, tapi saya tahu di luar terlalu kacau. Angin malam tak bagus untuk saya.

Yogya, 0.44. 10juni2008

Advertisements
 
12 Comments

Posted by on June 9, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,

Lelaki yang -selalu- saya Cintai

(kumis pak Raden)
Ahai, saya tertawa malu-malu meski tiada seseorang di sekitar saya. Perkaranya sederhana saja sebenarnya. Hanya karena saya menemukan sebuah file lagu yang saya copy dari seorang kawan, ada judul Hitam Manis, Emillia Contesa. Nadanya lembut, seperti ada gaya-gaya Betawi atau Melayu ini saya kurang paham. Saya carilah di google, lagu ini pernah dulu dinyanyikan Bapak saya saat saya ngambek minta coklat dan belum terpenuhi.

Berulangkali saya memutar ulang lagu ini, pilihan lain-lain yang sedianya ingin saya dengar saya pending dulu. Saya senyum-senyum sendiri. Sesekali tertawa lagi. Kepala saya mulai asyik mengikuti lagu ini. Alamak, gila saya.

Tiba-tiba melintaslah satu persatu foto-foto kecil yang pernah menjadi milik saya. Foto gambar senyum malu-malu banyak orang. Teman-teman saya memang selalu hitam manis. Karena saya hitam kali ya? Jadi teman-teman saya hitam semua. Huik…

Saya kangen Bapak. Senyum Bapak saya manis sangat. Kawan-kawan sekolah saya bilang, Bapak mirip Rano Karno. Huaaaaaaaaa. Ada juga yang bilang kek Sophan Sopyan. Ah, ganteng Bapak saya dong. Tahi lalat ada di dagunya. Rambutnya selalu dicukur rapi, disisir dengan sederhana tapi selalu tampan. Bapak siapa dulu dong? Hehehe

Sepertinya Bapak saya tak pernah berubah, seperti batu-batu yang tak menua. Saya suka cemburu –mewakili Ibu- kalau mantan pacar Bapak saya yang kebetulan menjadi tetangga –suaminya seorang polisi di desa saya- suka melintas dan memanggil Bapak saya menggoda. Dih…menjijikkan…
(Pak Raden dan Adip, pacar de Ruli. sama hitamnya kan?)

Ibu saya, yang selalu nampak indah di mata Bapak akan tertawa menggoda Bapak. Bapak akan kesal dan mencium Ibu saya. Aih…mesra betul sepasang kekasih ini di mata saya dan adik-adik saya. Begitulah Bapak, selalu menatap Ibu penuh kasih, pun Ibu.

Pernah, istri teman sekantor Bapak kirim surat cinta pada Bapak –yang lain-lain juga banyak- Tapi duh menyedihkan nasib mereka, surat-surat itu oleh Bapak diberikan ke Ibu. Jadi Ibulah yang membuka amplop dan membaca surat-surat nista itu. Aih Bapak…..

Bapak saya memang tampan, nampak sebagai lelaki yang sederhana dan karib. Tapi begitulah Bapak, hanya pada Ibulah kebahagian lahir di matanya. Saya tak pernah seyakin ini pada seseorang, ya bahwasanya nampak nyata dan jujur belaka bahwa Bapak mencintai Ibu, sebagaimana Ibu yang tulus dan bersetia hanya pada Bapak saja.
SAYA mau suami kek Bapak saya…makanya seringkali pacar-pacar saya suka dibilang mirip ma Bapak. Huehehehe…kamfret…

Sekarang saya tersenyum lagi. Ada seseorang yang hitam manis berkelebatan di pikiran saya. Senyumnya itu, alamak, bikin jantung saya berdebar. Senyumnya selalu manis, bahkan saat dipaksakan sekalipun. Di antara kedua matanya yang kanak-kanak, saya ingin menyembunyikan diri dan mendengarkan lagu ini.

Aku teringat pandang pertama
Hitam Manis
Hitam manis hitam manis
Yang hitam manis
Pandang tak jemu pandang tak jemu
Yang hitam manis pandang tak jemu

Hitam manis hitam manis
Yang hitam manis
Paras mu cantii buah hati ku
Sian dan malam selalu ku rindu

Di waktu bulan terang cuaca aaa…
Ku pejam mata tapi tak lena
Yang hitam manis datang menjelma
Yang hitam manis datang menjelma
Kenangan yang menggoda
Aku teringat pandang pertama

Hitam manis hitam manis
Yang hitam manis
Pandang tak jemu pandang tak jemu
(ini anak yang kurang ajar)

 
12 Comments

Posted by on May 28, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , ,