RSS

Tag Archives: bumil

Senam Hamil Hari Ini…

20150705_111300
Minggu pagi adalah jadwal saya senam hamil, sebelum siangnya jadwal kontrol. Seperti biasa, hari ini saya ikut senam diantar suami, mama, dan papa mertua. Tahu menantunya sedang ingin makan belut sawah, mama dan papa mertua tidak langsung pulang ke rumah tapi berputar-putar ke beberapa pasar dan tempat untuk mendapatkannya.
Saya kecil tidak pernah tidak selalu lahap saat Ibu saya menggoreng belut sawah yang dibelinya dari tetangga jauh yang datang ke rumah. Cara Ibu menggoreng belutnya tidak terlalu kering, tapi juga tidak basah…mungkin kalau bisa saya jelaskan kering di luar, basah di dalam…#halah. Karenanya saya cenderung tidak doyan dengan belut-belut goreng yang banyak dijual di pasaran. Biasanya mereka menggorengnya dengan tepung, atau kalau tidak ya terlalu kering. Kalaupun ada yang lumayan mendekati cara ibu saya menggoreng belut, hbiasanya si belut tidak dibersihkan dengan baik, karenanya menyisakan rasa pahit di lidah.
Senam hamil biasanya dibagi menjadi dua bagian, pemanasan dan latihan inti. Pemanasan ya diisi dengan latihan pernafasan selama kurang lebih 20 menit, sementara latihan inti biasanya berupa latihan mengejan. Jeda di antara latihan pernafasan dengan mengejan itu biasanya kami gunakan untuk istirahat sejenak, pipis dan atau minum.
Hari ini saya kehilangan konsentrasi sebab ibu hamil di samping saya menggunakan parfum yang aromanya ya ampuuuuun….Tahu sendiri kan kalau bumil penciumannya cenderung lebih sensitif dan mudah terganggu dengan aroma-aroma yang pada akhirnya membuat mereka mual. EHEH…saya mual dan nahan muntyaaaah….udah gitu si ibu satu ini membawa serta anaknya yang kira-kira berusia enam tahun. Walhasil, jarak antara saya dan dia jadi lebih sempit dan otomatis mengganggu saya bergerak mengikuti gerakan senam. gpp gpp, ibu hamil katanya musti dan wajib lebih sabar. #halah lagi….nggak juga, kalau saya justru memilih lebih asertif dalam menyampaikan ketidaknyamanan saya.
JADI saran saya buat bumil, kalau senam nggak usah pake parfum berlebihan…atau lebih bagus lagi nggak pake atau pilih saja cologne untuk baby. Mungkin jadi lebih bisa diterima penciuman ibu lain. EH serius yang tadi aromanya…uhuk…#nyinyir ya? mbok ben…
Saat istirahat selama 15 menitan itu, meski si mbak bidan bilang istirahatnya hanya 5 menit, saya memperhatikan si adik yang datang bersama ibunya tersebut. Lalu saya ingat masa kecil saya. Saya pernah sekecil itu dan sebentar lagi saya akan memiliki anak seusia dia…Saya ingat karib saya de Yaya dan saat kami sekolah di taman kanak-kanak. Saya ingat keriangan kami saat kemewahan yang datang dua minggu sekali mendatangi kami di hari Sabtu; ibu guru (bu Kus, bu Sri, dan bu Gin dibantu pak Kliwon) memasak bubur kacang hijau dan bubur ketan hitam. Lalu minggu berikutnya kami membawa bekal dari rumah, biasanya saya dan de Yaya berbagi lauk yang kami bawa. Begitu terus bergantiang antara masakan ibu guru dan bekal dari rumah…
Anak de Yaya sudah dua, saya sendiri baru akan melahirkan yang menurut HPL adalah bulan depan ini. Saya tidak mengharap siapapun datang menengok apalagi membawakan kado untuk kemewahan saya kali ini….selain doa, doa, doa, doa, dan doa untuk keselamatan saya dan jabang bayi saya di hari yang paling saya tunggu ini…
Sudah ah, ibu hamil mau melanjutkan bacaan sembari menunggu jam ketemu dokter di rumah sakit ring road Utara situ…
Kali ini bumil sedang mengulang membaca, Akar Kekerasan milik Erich Fromm…

27 Desember 2015

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 27, 2015 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , , ,

Apakah Tidak Boleh Menjadi “Aku” Saja

IMG_1442

Kalau saya menikah dan hamil apakah lantas saya bahagia?

Beberapa tahun lalu saya asyik membuat status di fesbuk yang kira-kira berbunyi; betapa pertanyaan bersifat kepo dan mau tahu dari sekitar tidak akan pernah berhenti. Dari kapan menikah, kok nggak punya anak? atau jumlah momongan sampai seterusnya akan terus ada selama masyarakat kita masih melayan sistem dan nilai yang sama soal menjadi anak manis; lelaki jantan; perempuan sempura; orangtua baik.

Tahun itu saya dikejar-kejar orangtua untuk menyegerakan pernikahan. Saya sendiri tidak tertarik pada jenis komitmen sejenis ini pada waktu itu. Saya marah pada Ibu saya; Ibu percaya? Kalau ibu terus mengikuti omongan tetangga, saudara tua, ini nggak akan habis, dari “Lina kenapa sekolah jauh-jauh?” lalu “Lina kapan nikah?” terus kalau sudah nikah ganti ke “kok nggak segera punya anak?” lalu ganti lagi menjadi “mana adiknya?” Seterusnya dan seterusnya, berikut pertanyaan-pertanyaan lain seperti; “Suami kerja dimana?” dan atau “Sekarang tinggal dimana?”

Dua tahun lalu sewaktu usaha yang kami rintis dikisruh salah seorang -istri- pegawai, dan menimbulkan komunikasi yang tidak sehat perang status menjadi hari-hari yang menjijikkan. Atau sebenarnya saya lebih banyak menahan untuk diam sebab saya sadar itu rumus tolol untuk menyelesaikan masalah. Cara kerja sosial media dalam membunuh karakter seseorang dan perang psikologis memang dahsyat ya… Hal paling jahat yang perempuan ini (yang konon aktivis feminis dan sedang sibuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan ini,) lakukan adalah menyerang saya dengan hal-hal seputar kuasa dan tubuh perempuan.

Sebut saja salah satunya adalah status-status tentang; sepertinya ada yang tidak senang dengan kebahagiaan kita bertiga, tidak senang dengan kebahagiaan ayah dan bunda menunggumu sampai bla bla bla bla….lalu juga; bahagia itu seperti ini lho mbakyu (mbakyu di sini yang dimaksud tentu saya) dengan memamerkan foto anaknya.

Tiba-tiba kegelian sekaligus ketidaknyamanan saya soal kasus ini terbuka lagi begitu seorang kawan di fesbuk share sebuah link (https://flyingsolighttothesky.wordpress.com/2015/05/07/jika-hamil-itu-kompetisi-apakah-semua-perempuan-harus-jadi-pemenang/) yang saya baca beberapa paragraf saja namun sok PD merasa paham kira-kira apa yang dituliskannya.

Apa salah jika seseorang (perempuan misalnya) memilih tidak menikah?

Apa keliru jikapun sudah menikah memutuskan tidak memiliki anak?

Lebih daripada itu, apakah salah apabila tubuh perempuan dan atau laki-laki tidak digampang dibuahi dan atau membuahi?

Bagi saya, menyepelekan dengan dan atau mempertanyakan kuasa tubuh seseorang atas dirinya sendiri adalah tidak bijak, mempertanyakan bagaimana perempuan mengatur tubuhnya adalah jahat. Terlebih apabila yang bertanya belajar dan membaca kesetaraan gender dan “perempuan”. Atau jangan-jangan itu hanya sekedar wacana? pepesan kosong belaka?

Padahal saya berharap dari orang-orang sejenis merekalah, nilai dalam masyarakat dalam memandang tubuh perempuan bisa bergeser ke arah yang lebih baik; memerdekakan tubuh perempuan, meng”aku”kan tubuh perempuan. Lebih dari itu semua; MANUSIA.

Kemeriahan aktivis di Indonesia dalam gerakan sosial kemanusiaan di bidang apapun seringkali membuat saya menemu tubuh yang teralienasi dari dirinya sendiri. Di bagian lain saya menemukan kemegahan teori dari tubuh yang belum tuntas mengalami wacana yang disungginya. Orang-orang yang kadung dilabeli nabi ini membabi buta memperlakukan manusia lain yang dianggapnya tidak sepaham.

(nyambung besok ya)

baca juga ni: http://endahraharjo.blogspot.com/2015/05/dicari-perempuan-sempurna.html

18 Mei 2015

 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2015 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,