RSS

Tag Archives: anak-anak

Apakah Tidak Boleh Menjadi “Aku” Saja

IMG_1442

Kalau saya menikah dan hamil apakah lantas saya bahagia?

Beberapa tahun lalu saya asyik membuat status di fesbuk yang kira-kira berbunyi; betapa pertanyaan bersifat kepo dan mau tahu dari sekitar tidak akan pernah berhenti. Dari kapan menikah, kok nggak punya anak? atau jumlah momongan sampai seterusnya akan terus ada selama masyarakat kita masih melayan sistem dan nilai yang sama soal menjadi anak manis; lelaki jantan; perempuan sempura; orangtua baik.

Tahun itu saya dikejar-kejar orangtua untuk menyegerakan pernikahan. Saya sendiri tidak tertarik pada jenis komitmen sejenis ini pada waktu itu. Saya marah pada Ibu saya; Ibu percaya? Kalau ibu terus mengikuti omongan tetangga, saudara tua, ini nggak akan habis, dari “Lina kenapa sekolah jauh-jauh?” lalu “Lina kapan nikah?” terus kalau sudah nikah ganti ke “kok nggak segera punya anak?” lalu ganti lagi menjadi “mana adiknya?” Seterusnya dan seterusnya, berikut pertanyaan-pertanyaan lain seperti; “Suami kerja dimana?” dan atau “Sekarang tinggal dimana?”

Dua tahun lalu sewaktu usaha yang kami rintis dikisruh salah seorang -istri- pegawai, dan menimbulkan komunikasi yang tidak sehat perang status menjadi hari-hari yang menjijikkan. Atau sebenarnya saya lebih banyak menahan untuk diam sebab saya sadar itu rumus tolol untuk menyelesaikan masalah. Cara kerja sosial media dalam membunuh karakter seseorang dan perang psikologis memang dahsyat ya… Hal paling jahat yang perempuan ini (yang konon aktivis feminis dan sedang sibuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan ini,) lakukan adalah menyerang saya dengan hal-hal seputar kuasa dan tubuh perempuan.

Sebut saja salah satunya adalah status-status tentang; sepertinya ada yang tidak senang dengan kebahagiaan kita bertiga, tidak senang dengan kebahagiaan ayah dan bunda menunggumu sampai bla bla bla bla….lalu juga; bahagia itu seperti ini lho mbakyu (mbakyu di sini yang dimaksud tentu saya) dengan memamerkan foto anaknya.

Tiba-tiba kegelian sekaligus ketidaknyamanan saya soal kasus ini terbuka lagi begitu seorang kawan di fesbuk share sebuah link (https://flyingsolighttothesky.wordpress.com/2015/05/07/jika-hamil-itu-kompetisi-apakah-semua-perempuan-harus-jadi-pemenang/) yang saya baca beberapa paragraf saja namun sok PD merasa paham kira-kira apa yang dituliskannya.

Apa salah jika seseorang (perempuan misalnya) memilih tidak menikah?

Apa keliru jikapun sudah menikah memutuskan tidak memiliki anak?

Lebih daripada itu, apakah salah apabila tubuh perempuan dan atau laki-laki tidak digampang dibuahi dan atau membuahi?

Bagi saya, menyepelekan dengan dan atau mempertanyakan kuasa tubuh seseorang atas dirinya sendiri adalah tidak bijak, mempertanyakan bagaimana perempuan mengatur tubuhnya adalah jahat. Terlebih apabila yang bertanya belajar dan membaca kesetaraan gender dan “perempuan”. Atau jangan-jangan itu hanya sekedar wacana? pepesan kosong belaka?

Padahal saya berharap dari orang-orang sejenis merekalah, nilai dalam masyarakat dalam memandang tubuh perempuan bisa bergeser ke arah yang lebih baik; memerdekakan tubuh perempuan, meng”aku”kan tubuh perempuan. Lebih dari itu semua; MANUSIA.

Kemeriahan aktivis di Indonesia dalam gerakan sosial kemanusiaan di bidang apapun seringkali membuat saya menemu tubuh yang teralienasi dari dirinya sendiri. Di bagian lain saya menemukan kemegahan teori dari tubuh yang belum tuntas mengalami wacana yang disungginya. Orang-orang yang kadung dilabeli nabi ini membabi buta memperlakukan manusia lain yang dianggapnya tidak sepaham.

(nyambung besok ya)

baca juga ni: http://endahraharjo.blogspot.com/2015/05/dicari-perempuan-sempurna.html

18 Mei 2015

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2015 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

letih dan anak-anak

”Sorry, aku sedang capek sangat.”
”Yeah, can hear from your voice beib. Take shower after finishing your meal, ok? U will feel much better. Can’t wait to see you tonite.”
Ini pesan seseorang beberapa menit tadi, setelah seharian telponnya tak saya jawab dan pesan tak terbalas.

Saya tak pernah serindu ini. Padanya yang bersembunyi di bawah tanah sana. Saya tak pernah seresah sekarang, saat letih mendera saya. Saya sungguh mati ingin menghabisi rasa letih…
Saya kira, saya tak akan pernah seletih ini setelah bertahun-tahun silam. Kenyataanya, saya seperti hendak dibunuh letih. Malam ini.

Biasanya kalau letih, saya tak mengingat orang lain. Saya bukan manusia manja, saya kira. Tapi jahanam setan yang membuat saya jadi konyol begini. Tiba-tiba saya seperti ingin ditatap mata saya, ditanya ”Honey, what’s wrong?”
Mungkin saya tidak akan menjawab, apalagi menjelaskan. Tapi satu kalimat itu rasanya akan membantu saya untuk tersenyum.

“Leave them!” Mungkin begitu kata-kata yang bisa saja saya terima kalau saya bercerita. Atau “Oh honey, care of your self before!” Yang beginian sudah sering saya dengar soalnya. Cuih!

Anak-anak tersenyum. Pihak sekolah memperbolehkan mereka ikut ujian. SPP sudah terbayar, buku baru siap dibuka. Seragam baru juga menunggu tubuh mereka. Saya senang melihat mereka. Tapi adakah saya tersenyum untuk diri saya sendiri? Tentu tidak untuk hari-hari belakangan ini. Saya selalu sendiri.

Begitu sampai rumah, saya membaca-baca surat dari anak-anak. Beberapa membuat saya tersenyum karena keluguan cara mereka bicara. Dari semuanya hanya dua orang yang ingin menjadi penulis. *Penulis ndak punya uang, dek.*
Jadilah yang lain saja kalau mau banyak uang. Tapi saya berencana membawakan mereka buku-buku yang mungkin membuatnya bersemangat menjadi seorang penulis.

Tahun depan, beberapa akan lulus, dan banyak yang naik kelas. Saya menarik nafas sampai di sini. Semoga Tuhan melimpahkan banyak rezeki bagi mereka lewat tangan siapapun. Amien.

Saya tak ingin punya anak. Saya takut tak bisa memberikan pendidikan yang semustinya pada anak-anak saya. Sekarang, saya cukupkan diri saya dengan belajar mencintai anak-anak di sana. Tapi saya selalu menolak menatap mata mereka, saya takut jatuh cinta dan menjadi dekat dengan mereka. Karenanyalah, hubungan kami hanya melalui surat-surat pendek yang mereka tuliskan untuk saya. Saya TIDAK pernah membalasnya.

Puji Tuhan, yang mnyegerakan apa yang semustinya terjadi hari kemarin, hari ini dan esok hari…

yogya,2juni2008

note: surat seorang anak di http://herlinatiens.multiply.com

 
7 Comments

Posted by on June 2, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: ,