RSS

Category Archives: Puisi

salomo [pernah saya upload di fans page – facebook]

setelah ini tak ada puisi
cacat otak melanda kota kami
bendera-bendera telah diturunkan
kapal-kapal kembali berlayar
mencari dermaga paling wingit

sedang tak benar rumusan wingit dalam otak geladaknya
selain bahwa palung-palung paling marabahaya
selalu lebih menggairahkan untuk menjadikan
mereka disebut wira pejuang

kira-kira masih pantaskah
keledai-keledai ladang
menyebut diri mereka jiwa babtis kota jerusalem
sedang tiga kali disebutnya aku kembang kota jahanam

“sundal yang kemayang
tubuhmu oh mengapung menjadi mimpi burukku sore itu.”

sayup-sayup terdengar perempuan magdala disebut

“maria ya maria
lonte yang ngangkang di mulut gua
lonte yang menari di kubur tuhan
apa kau mengenal raja salomo?”

kiranya banyak orang mendengar
bahwa pemuda yang kutunggu pergi menghilang
dengan menunggang keledai
bermata picak
digiringnya semut kecoak ular gurun juga cacing
menuju perkemahan
sebab di sana telah dia siapkan jamuan para raja
berikut sundal yang perutnya pernah kulihat
di mulut lokalisasi pinggir kota

sedang kabar sepatu kaca telah sampai di negeri-negeri jauh
menetas di dermaga menjadi pengumuman penting
bahwa seorang wira tengah mencari perempuan
untuk pesta dansa dan kawan menaikkan layar kapal
tapi wira itu kekasihku!
dia kekasihku!

apakah aku bersedih?
apakah aku menangis?
apakah aku berduka?
apakah aku terluka?

sebagai perempuan gurun
yang menyusu pada beludru korma
takdirku menerima setiap kehilangan
dengan bibir menyerupai senyum

kami dipersiapkan untuk berduka
pada lelaki-lelaki kami
anak-anak kami
pemuda-pemuda kami
untuk
mati dalam peperangan
atau tersesat di pusar perempuan pemetik kecapi

dan dari bola kristal milik perempuan gypsi
telah kusaksikan kekasihku
menjauhi tendaku
dengan menggantung lukisan-lukisan
yang menjadi harta paling berharga sukunya
; semoga dia tidak melupakan pundi air dalam perjalanan
dan secepatnya menemukan mimpinya

sebab telah kudoakan dia menemukan rahasia alam raya
dengan menukar setahun usiaku
atas namanya

“oh kekasihku yang elok wajahmu umpama
benteng kota bethlehem
semoga gurun-gurun yang kau lalui
selalu menjadi jiwa bagimu.”

dari pelepah-pelepah korma sekali lagi terdengar ratapan

“saya bukan lonte tuan
saya tak mengenal raja salomo”

aku pulang ke rumah tuhan melalui jalan santiago
menunggu jatuhnya hosti
di lidahku untuk dia
kekasih yang sukaria meninggalkanku

Yogyakarta, 9 Februari 2010

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on March 22, 2010 in Puisi

 

Tags: , , , ,

yang sundal

dia yang senang kupanggil sundal
begitu saja mendatangiku
sembari membawa anjing kecil
yang dinamainya binal

maka sundal binal
menjadi tamu di rumah
tanpa kusajikan teh dan kue coklat
di atas meja

dia yang berani dibenci
dialah yang siap dicintai
[oh tapi aku tidak mencintai]

dia yang sudi dilecehkan
dialah yang bisa dihargai
[oh tapi akupun tak sedang melecehkan]

dia yang berani telanjang
dialah yang bisa kulempar
di atas ranjang
tanpa beban

*terinspirasi video rekaman saya berisi chubby dan poly

 
4 Comments

Posted by on December 8, 2009 in Puisi

 

surat untuk tamu hari ini (tulisan yang tidak sengaja saya temukan di draft akun ini)

dear Nn,

apa kabar? baik-baik? kalau yang ini memang benar surat untuk sampeyan. bukan untuk dia, bukan untuk yang di sana, bukan juga untuk seseorang yang lainnya. begini, hari-hari terakhir sedikit busuk. ada beberapa hal tertunda. kebohongan-kebohongan baru lahir dan tentu saja perasaan konyol dan tolol. sedikit telat membalas surat di sini.

memang tugasku untuk menjamu tamu. menyediakan apa-apa yang bisa terhidang di meja. meski ala kadarnya saja. hanya itu yang kubisa bukan? perkara hati dan senyum itu urusan lain. aku orang Jawa. tamu menjadi raja di rumah-rumah kecil kami. menghormatinya serupa pendeta yang singgah sebentar ke rumah. jadi jangan sangsikan dan menilai yang lain.

aku ceritakan padamu tentang sebuah cerita kecil di desaku. suatu saat ada sepasang suami istri yang menerima seorang tamu dari jauh. tak ada apa-apa di meja makan. tak ada ubi bakar. tak ada nasi dan lauk. tak ada gula untuk pemanis minuman. suami istri itu teramat kekurangan.

lantas ingatlah keduanya pada sebutir kelapa muda di belakang rumah pemberian dari seorang tetangga yang merasa iba pada keduanya. si suami meminta si istri menyiapkan cawan perak untuk menghidangkan air kelapa. sementara dia bersiap mengasah golok untuk membelah kelapa muda.

“jangan, itu untuk sampeyan, pak.”
“tapi kita kedatangan tamu.”
“tapi akan terisi apa perut kita malam nanti?”
“kita bisa mencarinya lagi nanti. tapi tamu kita bisa jadi kehabisan bekal dan kelaparan.”

begitulah, kemudian keduanya menghidangkan air kelapa berikut dagingnya pada si tamu. sebelumnya suami istri itu membasuh mukanya dengan air dari sumur. agar nampak pada tamu, kalau keduanya baik-baik saja malam itu. begitulah, malam hari begitu si tamu pulang, suami istri itu terlelap setelah membebat perut mereka dengan kain.

tak ada semangka berisi emas keesokkan harinya seperti cerita bawang merah dan bawang putih. tak ada biji buncis yang membawa mereka ke langit untuk mengambil telur-telur emas. memang keduanya tak mengharapkan itu.

jadi kalau aku menjamu kalian dengan yang ada kemarin itu. sudah pasti karena begitulah kebiasaan di tempat kami. seterusnya, tamu akan selalu menjadi raja-raja baru di rumah-rumah kecil kami. karena sesuangguhnya kita tak pernah benar-benar menjadi raja tanpa menjadikan seseorang raja di rumah kita.

sore itu, begitu sampeyan kuantar pulang. aku sempatkan diri membeli sebuah syal berwarna coklat. alih-alih menghadiahi diri sendiri di hari ulang tahun. kujamu diriku sendiri dengan coklat-coklat manis dan kejutan-kejutan yang sengaja kubuat. sendirian begitu aku menjadi prajurit kecil yang bersembunyi dari para raja.

sekarang, apa sampeyan masih merasa tak enak dengan tak membawa kado untukku? ah, sudahlah. aku biasa menghadiahi diriku sendiri dengan bingkisan-bingkisan manis. Nn, bukan tugasku menjamu kalian. tapi memang tugasku menghargai tamu. meski itu tamu tak tahu diri sekalipun. lagipula aku tidak menjamu sampeyan di rumahku, tapi di rumah makan yang seringkali terlalu dingin bagimu. hehehehe.

alasannya jelas, sebenarnya aku tak suka menerima tamu. aku tak suka terlalu banyak orang tahu dimana aku tinggal dan bagaimana aku mengatur buku-bukuku. tapi aku tetap orang Jawa bukan? meski aku tak suka menjamu tamu dalam rumahku sendiri…maaf

salam sayang,

Yogyakarta, April 2008

 
Leave a comment

Posted by on December 8, 2009 in Puisi

 

PENGUMUMAN!!!!

suatu kali saya merencanakan mengatakan ini…

halo-halo PENGUMUMAN….kepada para mantan pacar dan selingkuhan dan TTM-an dan lain-lain sebagainya yang saking RAHASIAnya bahkan saya TIDAK KENAL….
sekarang SAYA PUNYA KEKASIH…
BERITA ACARANYA akan saya kirimkan secepatnya kepada kalian semua…muach…

KIRA-KIRA…kalau saya sebrutal ini, adakah kalian percaya? tidakkah mungkin bagi saya menulis begini….

aduhai…yang AL [ALLAH?], terimakasih pada kasihmu melaluinya…dan AM [MAREA?] yang mempercayakan satu perkandungan kasih melaluinya….amien….

 
5 Comments

Posted by on December 1, 2009 in Puisi

 

Semoga Lekas Sembuh

; catatan kecil untuk seorang teman (was taken from herlinatiens.multiply.com)
12 maret 2009

padamu yang darahnya dicumbui nyamuk
dan cinta
semoga lekas sembuh

sebab di luar gadis-gadis menunggu
sarat doa dan kembang
kue serta coklat manis

tak ada mawar dariku
seperti yang kau minta
dari pesan singkat yang ramai
bersama

tapi semoga lekas sembuh
semoga nadi dan jiwa terjaga
karenanya
amien

Yogya, saat mengingatmu seperti ikan

 
4 Comments

Posted by on March 13, 2009 in Puisi

 

confused, 2

; thanks sehari itu

sebab kita berbeda
meski kuceritakan kolam di antara ikan
padamu yang retak

dan di hari yang
hujan serta panas tak begitu terlalu
kau singkap dunia baru
untukku lari bersama

namamu sayang
kubaca di banyak perempatan
di antara lampu merah dan polisi yang
sibuk menata kantuk dan pejalan

sementara sibuk kubuat nama sendiri
di sampul buku yang musti sengaja
kau cari di rak-rak berdebu

begini sudah menyiksa
sebab rindu hanya nama lain
dari derita pecinta

sayang tak bisakah kau akhiri lebih cepat
demi aku?

yoyakarta, 6 maret 2009

 
8 Comments

Posted by on March 6, 2009 in Puisi

 

CONFUSED

image051

sebentar autis sebentar klorofil sebentar blackberry sebentar melirik sebentar menjulurkan lidah….

copy-of-image048

sebentar kemudian ikan sebentar kemudian kolam sebentar kemudian mangga sebentar kemudian balcony sebentar kemudian diam….

dsc00767-001

sebentar kucuri dari wajah lain sebentar kumenghilang sebentar kau termenung sebentar kau menelepon sebentar aku cemas sebentar kita bingung

apa yang kita cari setelah ini apa yang kita temukan sesudahnya dari kehidupan yang warna warni serupa kembang api di langit kau di langit aku di bumi kau mendengar aku bicara tak bisakah lebih sederhan dengan rahasia.

Yogya, sore busuk hari ini

 
6 Comments

Posted by on March 4, 2009 in Puisi