RSS

Category Archives: Merayu Api

Masak-memasak memang selalu menyenangkan…

Kami Menyebutnya Lapis

“…di luar mulai ramai lagi anak-anak pulang sekolah dengan kebaya dan beskap mereka…”

lapis di hari kedua

lapis di hari kedua

Lebaran Idul Adha beberapa tahun lalu, saya sempat memasak menu ini untuk keluarga dan teman. Mereka menyebutnya rendang. Dengan kalimat, “Tapi kok manis ya?” Apapun itu, yang menyenangkan, mereka merasa senang dengan masakan ini dan menanyakan resep masakan yang saya buat ini.

Pulang dari sarapan di soto Pak Soleh, saya ke supermarket untuk membeli daging. Meski Ibu (di Ngawi) beberapa kali mengingatkan, “jangan masak daging dulu, ini daging Ibu siapa yang makan?” Karena memang Ibu di rumah tahun ini masih diberi kesempatan untuk memotong hewan korban), Nah kembali soal belanja daging di supermarket, dagingnya jelas lebih murah ketimbang beli di pasar. Kita bisa memilih daging yang jenis apa, tentu dengan harga yang berbeda, dan bersih. Meski bukan berarti saya kurang senang berbelanja di pasar tradisional ya. Karena nyaris setiap hari mbak Tami dan mbak Rita yang membantu mengurus rumah juga berbelanja di pasar.

Hari ini keluarga memesan “daging lapis” lagi, karena kemarin saya sempat memasak ini dari jatah korban kami. Baiklah akhirnya saya memutuskan memasak daging lapis lagi, dengan sambal goreng ati (https://herlinatiens.wordpress.com/2014/10/04/opor-di-idul-adha-menu-pesanan-hari-ini/) juga membuat acar, karena memikirkan tensi. Heheheh…

Saya tidak tahu apa nama masakan ini…Tapi seingat saya, menu ini sering dihidangkan saat acara pernikahan (Waktu itu masih musim piring terbang, bersama acar, capcay putih dan kerupuk udang. Kalau sekatang kan modelnya prasmanan). Oke singkatnya begini resep sederhana dari daging lapis ini.

Bahan:

  • Daging sapi 1kg
  • Telur 1 atau 2 butir
  • 1/5 sendok teh merica
  • 1/5 sendok makan ketumbar
  • Margarin blue band 1 bukungkus
  • Santan (pake kara kotak itu 1 juga cukup kalau nggak mau pake santan asli)
  • Kemiri (saya pake separuh saja)
  • Bawang merah 14 siung (atau sesuai selera)
  • Bawang putih 12 siung (atau sesuai selera juga)
  • 1 cm kunyit
  • 3 lembar daun salam
  • 5 buah cengkeh
  • Kayu manis seukuran ibu jari
  • Gula merah
  • Kecap
  • Jahe (bagi yg suka, saya sih nggak pake)

Bumbu seperti bawang merah dan putih, kunyit dihaluskan atau bisa juga diiris tipis2 lalu digoreng. Ketumbar, merica, kemiri digongso dulu baru dihaluskan juga. Setelah itu semua bumbu dimasukkan ke dalam daging yang sudah diiris tipis, potong berlawanan dengan seratnya ya kalau bisa, tambahkan kecap, blue band, dan telur. Diremas-remas lalu biarkan beberapa saat, kura-kira 30 menitlah. Nah kalau sudah langsung dimasak (jangan sampai kena minyak goreng ya, karena daging bisa nggak ngembang dan keras) dengan api yang kecil. Begini penampakkannya;

Ini karena daging sempat saya masukkan lemari es, makanya menteganya nggak mau nyampur dengan daging

Ini karena daging sempat saya masukkan lemari es, makanya menteganya nggak mau nyampur dengan daging

Karena diremas tadi kan, daging keluar airnya to? Nah begini ini penampakan setelah 1menit di atas kompor. Kalau dirasa kurang air ya tambahin aja dikit, sembari masukkan bumbu pelengkap lain seperti cengkeh dan kayu manis, juga gula merah dan bumbu penyedapnya. Kalau sudah empuk ya tinggal masukin santan. Jangan lupa setelah santan dituang ke masakan, diaduk terus sampai mendidih lagi, agar nggak pecah santannya. Dan oh ya, kalau pake kara, biasakan cuerkan dulu karanya dengan air.

Selamat mencoba dan Selamat Ulang Tahun Yogyakarta

ini hasil masak daging lapis di hari sebelumnya...

ini hasil masak daging lapis di hari sebelumnya…

Yogyakarta, 7 Oktober 2014

(menulis ini saya sembari ngobrol via fesbuk dengan mas Te, sahabat lama saya)

 
1 Comment

Posted by on October 7, 2014 in Merayu Api

 

Tags: , , , , ,

OPOR AYAM di Idul Adha; menu pesanan hari ini.

Hari ini, sebagian dari keluarga saya sudah melaksanakan sholat Idul Adha. Sementara saya sendiri baru akan berangkat besok. Dari informasi yang saya dapat dari akun twitter @infosenijogja di sekitar tempat saya tinggal, akan diadakan sholat Idul Adha di samsat. Ah, jalan kaki tidak akan lebih dari lima menit.

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA, teman-teman….Di hari raya Idul Adha, biasanya kami akan rame-rame ngumpul dengan teman dan kerabat sehari atau dua hari setelah pemotongan daging qurban untuk maenan api bareng. Karenanya, mungkin esok hari kami akan sekali lagi merayakan lebaran Idul Adha bersama kawan-kawan. Sementara hari ini, sengaja kami memilih menu seperti lebaran Idul Fitri, opor ayam dan sambal goreng ati (aduh, ini makanan nggak sehat ya? hahahah)

sudah ditambah dengan bawang merah goreng, dan bubuk kedelai, siap untuk dimakan..

sudah ditambah dengan bawang merah goreng, dan bubuk kedelai, siap untuk dimakan

Karena beberapa hari sudah sibuk dengan santan, karenanya menu pesanan keluarga hari ini saya pastikan TIDAK boleh terlalu kental, dengan maksud mengurangi asupan santan yang selama seminggu ini asyik disajikan dari dapur. Kebetulan mbak Tami hari ini belum pulang ke Boyolali dan memang tidak memasak. Jadi dapur sementara aman untuk saya gunakan sendiri. Tugas mbak Tami kali ini, duduk manis nonton tv, meskipun doski merasa tidak enak dan memaksa saya untuk memperbolehkan membantu.

OK jadi saya berangkat ke pasar terlebih dahulu untuk belanja, pikir saya lebih cepat saya yang belanja ketimbang mbak Tami, karena doski musti membersihkan rumah dan menyetrika baju. Pasar lumayan sepi, penjualnya pun banyak yang masih sholat Idul Adha, sementara dagangan mereka titipkan ke teman sebelah lapak.

Selama di pasar saya mengenang lebaran di rumah saya sendiri, saat saya masih kecil dan tinggal bersama bapak dan ibu serta dua adik saya. Lebaran selalu menjadi hari isimewa bagi kami, keluarga besar akan pulang. Tak ada menu spesial, tidak ada makanan mewah, selain kebahagiaan yang kami nikmati dengan cara sederhana. Menu opor, menjadi menu wajib di keluarga kami setelah kami (anak-anak bapak dan ibu) meninggalkan rumah untuk sekolah. Sering sebelum lebaran Ibu lebih memilih untuk bertanya kepada kami, akan masak apa di hari raya. Sop khas Ibu menjadi favorit kami di lebaran. Selain memang sangat sangat sangat enak, juga nggak gampang bikin kenyang to?

Bertahun-tahun kemudian opor, menjadi menu wajib di antara menu lain di meja makan saat lebaran Idul Fitri tiba. Sementara di hari raya Idul Adha, Ibu yang biasanya menyembelih hewan korban, memasak daging yang diterimakan padanya. Karena hanya tinggal berdua dengan Bapak, sering juga daging itu kemudian dimasak oleh Ibu untuk dibagikan kembali kepada tetangga atau kerabat.

Sementara asyik mengenang lebaran dan masa kecil, saya ingat komentar seseorang yang belakangan menjadi Vegetarian. “Yang bisa dan tega menyembelih binatang itu, bisa membunuh orang pasti.” Saya kesal dengan komentar ini, cenderung menyayangkan komentar yang saya kira kurang masuk akal. Karena saya agak malas berdebat terlalu lama, saya hanya komentar, “Saya juga bisa membunuh manusia, meski saya sendiri belum pernah menyembelih ayam atau cenderung memilih melepaskan semut yang menggigit saya, apalagi kalau orang itu menyakiti orangtua saya misalnya, mengancam keselamatan ayah ibu saya, saya bisa dan sangat mungkin to jadi pembunuh?”

Sayangnya memang, diskusi ini memang bukan soal lebih mungkin mana menjadi pembunuh, antara yang pernah menyembelih binatang atau yang tidak pernah. Seingat saya diskusi ini berputar-putar seputar alasan tidak makan daging, meski masih makan telur dan keju serta susu. Tidak berarti saya menertawakan pilihan tersebut, saya hanya sedikit menyayangkan komentar si kawan yang seperti meremehkan sisi kemanusiaan (atau perikebinatangan?) seseorang yang makan daging? Toh saya sendiri menghabiskan banyak tahu tidak makan daging. Bukan karena sok idealis karena ini dan itu, tapi memang karena saya tidak doyan daging. Pilihan saya untuk makan daging lebih karena ingin mengolok diri saya sendiri yang saat itu tergoda untuk menjadi vegan. Saya kurang senang apabila diri saya fanatik akan sesuatu. Karenanya dalam hal apapun, saat saya mulai fanatik pada sesuatu dan mencari penguat alasan, saya cenderung memotong mata rantai yang ada.

OK, kapan-kapan lagi ngobrolnya soal vegan, vegetarian bla bla bla….

(karena saya sudah mulai mual, membandingkan kalimat “You are what you eat” dengan membandingkan keseharian si kawan. Well ini tidak berarti apapun soal nilai ya???)

OPOR AYAM

Opor ayam pagi ini

Opor ayam pagi ini

Bahan:

  • 1 kg ayam
  • 1 kg telur ayam
  • 1,5 kelapa (tergantung selera)
  • 12 siung bawang merah (kalau besar ya 8 aja deh)
  • 12 siung bawang putih (karena saya suka bawang)
  • 1,5 butir kemiri (semakin banyak kemiri menurut saya makin bikin enek)
  • 1/2 sendok makan ketumbar
  • 1/4 sendok makan jintan
  • 1 sendok teh merica
  • 1 cm laos (memarkan)
  • 3 lembar daun salam
  • 6 lembar daun jeruk (sesukanya deh)
  • 3 batang sereh (atau sesuaikanlah ya)
  • 1,5 sendok makan gula merah
  • 1/5 cm cm kuntit. (ingat kan saya nggak suka kunyit hehe)
  • Seibu jari jahe
  • 1/5 cm kencur (ibu saya sedikit menambah temu kunci)

Ada alasan mengapa saya tidak menggunakan bawang merah terlalu banyak, karena semakin banyak bawang merahnya, akan semakin asam opornya. Karenanya, setelah matang, rasa gurih dari bawang merah saya ambil dengan cara menambahkan bawang merah goreng setelah opor matang. Setiap keluarga memiliki resep dan cara memasaknya sendiri, ini juga keyakinan saya soal enak dan tidaknya makanan… hehehe

Kalau saya, semua bumbu kecuali laos, daun jeruk,  daun salam, dan sereh, saya haluskan. Setelah halus saya gongso langsung di panci, saya tambah laos, kemudian masuklah daging ayam, menyusul santan cair (agar tidak pecah sebaiknya diaduk terus hingga mendidih) masukkan daun salam, laos, sereh dan daun jeruk serta bumbu (garam dan gula, silahkan yang biasa dengan micin, saya mengganti micin dengan masako heheh) lalu telur, sesudah itu tambahkan santan kentalnya. Udah deh jadi…kekentalan opor sesuai selera ya…saat masih di atas kompor itulah, saya memasukkan bawang merah goreng dan saya aduk.

Nah lalu memasak sambal goreng ati….

nggak sehat ya?

nggak sehat ya

Bahan:

  • 1/5 kg hati ayam
  • 1 ons krecek
  • 1/5 butir kelapa
  • 10 siung bawang merah
  • 10 siung bawang putih
  • 7 buah cabe merah (buang isinya) atau sesuai selera pedasnya
  • 3 lembar daun salam
  • 1cm laos
  • 1 batang sereh
  • 1,5 sendok makan gula merah
  • garam dan bumbu penyedap

Bagi yang suka pedas bisa menambah cabe merahnya. Sementara kami sekeluarga tidak bisa makan pedas (perut protes, lho jangan salah, sampai masuk UGD lho) karenanya semua bumbu cukup saya iris, termasuk si vabe ini tadi. Sementara beberapa orang akan menghaluskan separuh bumbu, separuh yang lain diiris. Atau ada juga yang memilih semua cabe dihaluskan. Warnanya juga akan lebih bagus, karena jadi merah…tapi ya gitu deh, kami nggak tahan pedas….

Yaaaaaaaaaah, sudah adzan Dhuhur…sudah dulu ya…Siapa tahu nanti malam kita bisa ngerumpi lagi…Nah, hari ini, teman-teman masak apa???

Sekali lagi selamat hari raya Idul Adha bagi teman-teman yang merayakan….

Yogyakarta, 4 Oktober 2014

 
1 Comment

Posted by on October 4, 2014 in Merayu Api

 

Tags: , , , , , ,

Sorbet Mangga

Kalau sedang musim mangga, saya memang senang mewajibkan diri untuk stock buah paling yepyu ini di almari es, khususnya mangga manalagi (di Ngawi Jawa Timur kami menyebutnya begitu) di Yogya disebut juga arum manis. Seringkali buah satu ini hanya saya kupas dan makan begitu saja, sesekali saya juice dan belakangan saya membuatnya sebagai sorbet agar bisa dimakan kapan saja tanpa perlu repot terlebih dulu.1898176_10152784945861473_168985465029124721_n

ini saat juice dilembutkan/diblender/digaruk2 pake garpu untuk ketiga kalinya

ini saat juice dilembutkan/diblender/digaruk2 pake garpu untuk ketiga kalinya

Adapun bahan-bahan membuat sorbet banyak yang sudah upload di website…sementara saya sendiri memilihnya menjadi seperti saat saya membuat jus-jus buah pada hari-hari biasanya…

> daging buah mangga
> air gula (manisnya sesuai tingkat keasaman mangga atau bisa juga diganti susu cair)
> 1 buah jeruk lemon/nipis diambil airnya.

Cara Membuat:
blender buah daging buah mangga dengan air gula (saya memilih tidak menggunakan terlalu banyak air) dengan perasan jeruk. Setelah benar-benar halus, masukkan ke wadah plastik (tupperware misalnya) dan simpan di freezer. Setelah mengeras, ambil dan blender lagi, atau bisa juga menggunakan garpu dan digaruk2 (aduh bahasane ya ampun) lalu masukkan lagi ke freezer, ulang sampai 3 kali…Dan beginilah hasilnya…

sorbet mangga

sorbet mangga

 
Leave a comment

Posted by on October 1, 2014 in Merayu Api

 

Tags: , , , , , ,