RSS

Category Archives: Cerita-cerita Pendek

suami yang lupa

Dia nampak lain. Seperti tak biasa, dia akan diam-diam saja kalau rokoknya saya ambil dan saya simpan ke dalam tas. Dia menghilang diam-diam. Seperti tampak sembunyi dan bosan. Tapi selalu diam.
Kalau saya tanya, ”Kenapa Mas?” dia akan tersenyum lalu menggeleng. Saya tak ingin peduli, memang begitulah seharusnya. Bukan hobi saya untuk berakrab-akraban dengan orang lain. Saya tak kenal siapa dia, selain karena saya satu kantor dengannya. Anggaplah begitu.

Biasanya dia akan menjemput saya di kost. Atau mengantarkan saya pulang tengah malam begitu ada lembur. Tapi saya tak ingin bertanya-tanya tentangnya. Apalagi iseng bertanya siapa pacar dia dan semacamnya. Bagi saya, dia memang nampak sendiri dan tak berkawan.

Saya tak ingat, kapan dia menelepon dan menerima telepon seseorang saat bersama. Jadi tak ada alasan bagi saya untuk memikirkan apakah dia seorang suami atau seorang bapak dalam sebuah keluarga. Saya juga tidak dengan sengaja melihat jari manisnya yang tanpa cincin.

Tapi selepas makan siang, dia bilang pada saya dengan nada yang aneh, ”Ren, nanti jam empat aku musti pulang sebentar, ada urusan kecil. Jadi aku bisa mengantarmu sekalian kalau mau pulang ke kost, sebelum kita ke luar kota.”
”Ah tidak, terimakasih, aku bisa pulang sendiri nanti.”
”Bukan begitu maksudku, nanti kan bisa aku jemput lagi.”
”Lho, aku juga ndak ada maksud. Cuma rasanya pulang sendiri lebih enak.”
”Ya sudah, aku ndak jadi pulang.”

Nah, sejak sore itu saya rasa ada yang berbeda. Dia menjadi lebih sering melamun. Kalau saya bertanya ada apa, dia akan tersenyum dan menggeleng. Ya sudah, sekali lagi, itu bukan urusan saya.
Sepanjang jalan, saat ke luar kota atau saat menjemput dan mengantar pulang ke kost, kami masih seringkali hanya diam. Ini tentu saja membuat saya bertanya-tanya, kiranya hubungan seperti apa yang tanpa kami sadari telah lahir. Tapi lagi-lagi, saya tak memiliki keinginan untuk membahasnya.

Saya rasa, pertengkaran dan diam yang terjadi antara kami begitu santun. Perselisihan-persilihan yang wajarnya hanya terjadi di antara sepasang kekasih. Ah, saya tak peduli. Saya menganggapnya sebagai teman kantor belaka.

Suatu hari dia dengan tanpa alasan, menunjukkan email-email dia dengan seorang perempuan, ”Nah, ini perempuan yang dulu kucintai.”
Saya tersenyum mendengarnya. Membaca email-email itu tanpa cemas apalagi prasangka. Tanpa beban yang berarti, saya memperhatikan tahun dan tanggal yang tercetak.
”Pernah atau masih? Wew, masih disimpan yang beginian?”
”Pernah saja.”
”Kalau aku mana mau punya pacar yang beginian Mas.”
”Maksudnya?”
”Ya, berhadapan dengan kenangan jauh lebih sulit daripada dengan seseorang itu sendiri.”
”Kok?”
”Iya, kenapa? Yang pernah patah hati aku tak mau, yang pernah ditolak aku tak sudi. Apalagi yang berkali-kali. Aku mau yang tak tersentuh.”
”Kok begitu?”
”Ya memang begitu.”
”Sama bayi saja kalau gitu.”
”Itu lebih baik.”
”Ini hanya buat catatan saja kok.”
”Wew, bukan jamannya lagi memiliki romantisme senja begini.”

Tiba-tiba saya seperti salah bicara. Diapun terlihat seperti merasa salah bersikap. Tapi saya hanya cengar-cengir, mencoba mengabaikan pertanda yang hampir sampai. Dengan cepat dia menutup laptopnya, mengajak saya ke kantin berdua saja. Dengan tanpa banyak bicara, saya mengikutinya. Berjalan berdua begitu, kami hanya diam.

Hal-hal ganjil memang lebih banyak lahir. Misalkan, mengapa kami harus merasa tak enak akan
pertengkaran kecil itu. Mengapa kami begitu sungkan sekaligus lugas tiap hari berebut membayar bill di kantin. Mengapa kami begitu aneh saat berebut mengambil minuman tambahan. Bukankah kami hanya sepasang sahabat?

Kalau saya menerima telepon dari banyak laki-laki yang sedang mendekati saya tanpa harus menyingkir dari hadapan dia, itu sudah pasti karena memang saya merasa itu hal yang paling benar. Meski saya melihatnya sering pura-pura tak mendengar pembicaraan saya. Ah, memang tak ada yang harus dipedulikan.

Siang itu, dia meninggalkan saya begitu saja saat sedang mendiskusikan sebuah proyek baru. Tiba-tiba dia datang sambil meletakkan dua botol minuman di hadapan saya, juga dua kotak kecil es krim. Belum selesai kaget saya, dia mengulurkan tangannya, memberikan sesuatu dalam bungkusan kecil berwarna bening sembari berkata, ”Rambutmu berantakan tu.”

Oh, saya hanya diam tanpa mengucapkan terimakasih. Ada tali berwarna ungu di dalam plastik itu. Pilihan yang sangat buruk, pikir saya. Norak sekali tali rambut itu di mata saya. Hanya untuk menghargainya saja, saya berpura-pura senang dan memakai tali itu di rambut saya.

Nah, saat jemari saya sibuk merapikan rambut itulah saya sadar. Pagi saat dia menjemput saya, saya bicara ”Duh, aku kok pingin es krim ya.” Saya rasa, apa yang dilakukannya kebetulan saja. Lagipula saya tak ingin memakan es krim itu. Lagi-lagi pilihan yang salah. Saya mana suka es krim vanila begitu. Rasanya aneh di lidah.

***

”Lupa juga? Dulu aku bilang, aneh mengapa menyimpan email-email dari masa lalu. Kalau sampeyan ngerti, mustinya tanpa kubilang sampeyan sudah tahu, kalau itu tidak menyenangkan buatku. Duh, masak gitu aja musti dijelasin juga.”
”Iya, maaf, Mas nggak ada maksud apa-apa.”
”Wew, gini deh gini, jangan segala hal musti diajari. Ini bukan perkara diajari dan mengajari. Aku bukan guru dan sampeyan bukan murid. Lama-lama aku bosan dan berasa mau pergi saja.”

Ya, sekarang, saya telah menjadi istrinya. Dan masih ada banyak hal yang selalu salah. Misalkan, mengapa dia selalu salah memesankan kentang goreng dengan taburan keju di atasnya. Atau salah memilihkan parfum kesukaan saya. Atau juga salah menakar gula ke dalam kopi panas saya. Itu pasti karena dia tidak mencintai saya. Sampai melupakan hal-hal kecil tentang saya.

Sementara saya tahu, butuh berapa sendok gula untuk secangkir teh-nya. Butuh telur sematang apa untuk makan malamnya. Pendeknya saya hafal kebiasaan dia. Saya selalu marah, dan dia selalu diam sembari minta maaf. Saya tak senang dan bosan mendengarnya.

Saya tahu, mawar-mawar putih di hari ulang tahun perkawinan kami akan membuatnya terharu. Tapi dia lupa, saya benci bepergian di tahun baru dan di banyak hari yang lain. Saya tahu dia suka kalau saya memasak semur ayam berasa aneh itu, di hari-hari spesial kami. Tapi dia lupa, saya akan mual dan berasa akan muntah kalau makan bubur ayam dan nasi goreng. Saya tahu dia akan senang kalau bangun tidur sudah ada segelas teh hangat untuk dia. Tapi dia tak ingat, saya harus berpura-pura senang atas coklat putih yang dia berikan untuk kejutan di hari minggu pagi.

Nah, saya memang mulai sering merasa kesal dengan cara kerja ingatan dia. Saya tak suka kalau harus menjelaskan sesuatu berulang kali. Menjawab pertanyaan yang sama, dan selera makan yang menghilang karena pesanan yang salah.

Saya mulai yakin, dia memang tidak mencintai saya. Bagaimana mungkin hal-hal kecil bisa terlupa. Sementara saya bisa tahu, jam berapa dia akan mendengkur dan suara apa yang bisa membangunkan lelapnya. Saya bosan, sangat bosan. Saya mulai benci dengan kalimatnya, “Maaf, Mas lupa. Mas salah karena Mas pelupa!”

Sore tadi, saat dia mandi, saya membuka-buka handphonenya. Ini bukan hobi saya, tapi entah mengapa saya begitu ingin membuka barang kecil itu. Dalam sebuah folder, saya menemukan sebuah catatan kecil yang membuat saya harus menahan tawa sekaligus haru. Friedchicken harus pedas dan sayap. Tidak suka wortel dan buncis. Benci sosis. Kopi; gulanya sesendok kecil. Parfum merk; lupa lagi. Es krim hanya yang ada chocochipnya! Celana ekstra small merk Dust. Dan begitulah daftar itu terus memanjang.

Dia juga mencatat, kapan, dimana, kenapa dan berapa lama saya marah. Dia menandai setiap tanggal dengan beberapa istilah. Oh, saya begitu merindukannya. Tiba-tiba saya tahu, betapa saya menginginkan dia untuk saya. Begitu mendengar dia keluar dari kamar mandi, saya cepat-cepat mengembalikan handphone itu ke atas meja. Dengan cekatan, saya meraih sebuah majalah dan berbaring di ranjang. ”Sudah mandinya, Mas?”

”Sudah, oiya, ini kan malam minggu kita jalan-jalan yuk, makan nasi goreng di jalan Wonosari.” belum sempat aku menjawab, dia sudah bicara lagi, ”Eh maaf, sayang kan nggak suka nasi goreng, makan di rumah saja. Mas buatin telur ya?”
”Siapa bilang? Sekarang suka kok. Tapi cium dulu!”

Yogyakarta, 2008

Advertisements
 
7 Comments

Posted by on June 28, 2008 in Cerita-cerita Pendek

 

Tags: , , ,

orang bodoh dilarang bunuh diri!

; catatan pagi buta

sudah hampir pagi saat saya menuliskan ini.
seorang teman, wartawan di sebuah media entertainment di Jakarta mengirimkan sms pada saya yang isinya; aku ingin mati, bunuh diri apa ya?
tentu saja itu bukan sms pertama kalinya dari dia perihal ingin mati dan bunuh diri. saya tak lagi kaget membaca sms-nya ini. lantas saya mengirimkan sms balasan yang panjang padanya. kira-kira begini isinya;

sebelum bunuh diri baca tata tertibnya dulu! agar kamu tau mengapa orang bunuh diri…
1. terlalu cakep.
2. kehabisan kata-kata untuk meninggalkan selingkuhan.
3. hidup berkecukupan dan tidak punya masalah.
4. hanya orang hebat yang terpilih yang berhak bunuh diri.
5. bisa memilih mau mati dengan cara apa, bagaimana, dan dimana.
6. ingin bersedekah dengan mewariskan harta ke seseorang.
7. selalu menjadi pemenang dalam setiap permainan.
8. sudah mengunjungi semua tempat menjanjikan di dunia.
9. tak ada lagi orang yang lebih cerdas dan pintar.
10. dikejar-kejar banyak orang cakep.

nah, kalau kamu sudah paham dan tahu siapa dan mengapa orang memutuskan untuk bunuh diri, itu artinya kamu memenuhi standart. silahkan ambil tindakan. kabari aku secepatnya, dan selamat mencoba!
beberapa menit kemudian telpon darinya masuk. tawa dia pecah…

“kenapa tertawa?”
“wong edan”
“bunuh diri kok bilang-bilang.”
“agar kau tau aku sedang pusing.”
“aku mana perduli ma rasa pusingmu”
“aku tau kamu peduli. kau kan selalu peduli!”
“jadi sudah nemu alasannya belum? harus pinter, kaya, banyak pacar, dll. kalau ndak masuk kriteria ya kamu ndak berhak. kalau aku sampai bunuh diri, itu wajar. kalau kamu ya nanti dulu.”
“hahahahaha, edan.”
“kau kan bodoh jadi ndak boleh bunuh diri.”
“setan!”
“wes, aku ngantuk katene bobo. oiya, selamat bunuh diri. itupun kalau jadi dan berani! kan lu pecundang.”
“hahahaha, setan. thanks sista i love you.”
“yo, nuwun.”

saya rasa ide bunuh diri lucu juga. hanya butuh memikirkan cara, waktu, dan tempat saja…tapi membaca tatib di atas membuat saya mengantuk. sekarang saya mau tidur, karena tak pantas dan tak layak bagi saya untuk bunuh diri. sama sekali tidak masuk kriteria. jelasnya karena tak ada siapa-siapa di samping saya selain sunyi dan malam yang semakin tua ini.

(saat esok hari terasa lebih lama dari biasanya)

 

Tags: , , ,

Ode Jari Manis

s4031745.jpg
Begitu memiliki Ode sebagai suami, aku menjadi harus berpikir ulang untuk merencanakan liburan pribadi seperti yang biasa aku lakukan. Maksudku adalah; pergi sendirian membeli paket wisata ke suatu tempat. Tentu saja dengan bonus-bonus perjalanan yang menjanjikan, semacam sepotong bibir ataupun airmata dari pemuja baru. Membingkai sepekan perjalanan dan petualangan di ranjang dalam vanity case. Ya, aku memang musti memikirkannya berulang-ulang kali untuk bepergian sendiri -lagi-.
Tidak hanya itu, untuk urusan selera baju dan jam makan pun, aku harus menyesuaikan diri. Dari yang semula aku menyukai kaus tanpa lengan menjadi musti -paling tidak- sedikit berlengan. Dari yang aku biasa makan di sembarang jam, menjadi aku musti menyediakan waktu khusus untuk sarapan, makan siang dan makan malam bersama. Ode akan mengucapkan terimakasih untuk perubahan yang telah kulakukan dan lalu dia menghadiahi kecupan lembut di bibirku sekian menit. Sebuah pembayaran yang cukup bagus..
Pendeknya, aku masih seringkali tergagap menyadari hal-hal baru yang musti aku lakukan juga segala perubahan. Menghentikan kebiasaan ngobrol sampai larut malam dengan banyak orang. Menjauhkan diri dari botol-botol manis yang melenakan. Tidak lagi bebas menggelayutkan tangan di lengan orang lain. Dan tentu saja, menghentikan segala kesenangan yang bisa dianggap tidak etis untuk seorang istri.
Sesungguhnya aku merindukan liburan yang biasa aku lakukan setiap akhir tahun. Tiga tahun yang lalu aku berlibur ke Dayak, menghitung bebatuan pada sebuah pantai dan mendapatkan pemuja baru yang menangis begitu aku mengatakan, “Ya, kita hanya berteman, anggap saja yang kemarin sebagai pelengkap liburan, bonus perjalanan. Jangan dianggap seriuslah.”
Aku pulang dengan tenang. Sementara nomor handphone laki-laki itu terus masuk dan terekam dalam catatan blacklist handphone. Sebulan kemudian lahir lukisan baru dalam kanvas yang siap diperebutkan orang. Sebagai pelukis, aku tahu dimana letak kelebihanku, dan tentu saja bagaimana cara aku mendapatkannya.
Tidak seperti orang lain, yang konon kabarnya perlu menyendiri dulu untuk menghasilkan sesuatu. Aku lebih senang menikmati cara orang ketika berada di sampingku saat melakukannya. Adakah yang salah?
Tapi sudah tiga tahun ini, aku selalu menghabiskan waktu liburan bersama Ode. Jadi? Sama dengan orang-orang lain yang berjemur di pasir atau menanam tubuh mereka dalam-dalam pada lumpur berempah. Aku tak ada bedanya dengan pasangan suami istri lain, yang tengah menghangatkan hubungan dengan bulan madu kesekian. Bukan pejalan yang tengah menikmati sesuatu dengan seadanya.
Sepertinya aku mulai merindukan kebiasaan-kebiasaan lamaku. Membeli paket wisata ke Bali mungkin. Memakai baju super ketat untuk memamerkan perutku yang indah. Meminta bantuan guide laki-laki yang kebetulan lewat untuk mengoleskan cream pelindung di sekujur tubuh. Dan, sedikit berbuat iseng sembari menikmati suara sekitar.
Aku kangen berjalan sepanjang jalan telanjang kaki sembari merokok dan memotret hal-hal yang tak menarik bagi orang lain. Tahi kuda yang terlindas ban sepeda, orang-orang yang meremas payudaranya sendiri karena gatal, atau bungkus rokok yang tersisih di pinggir jalan. Oh, aku kangen melakukan semua itu tanpa musti memikirkan teh hangat untuk suami atau pertanyaan-pertanyaan yang bisa saja dibisikkannya di telingaku sebelum kami berangkat bercinta.
Aku akan melukis sesuatu yang lain, yang kata para kurator lukisan adalah sebuah lukisan yang bahkan tak terbayangkan oleh pelukis lain. Aku melukis angin sebelum pelukis lain bersentuhan dengan udara. Aku melukis alis saat pelukis lain melukis rambut dan bulu. Begitu lukisan itu jadi, kolektor akan berebut untuk memilikinya.
Ada saatnya aku memerlukan berdekatan dengan seseorang, tanpa mempertimbangkan peluang yang terbuka lebar untuk mereka jatuh cinta dan tergila-gila padaku. Ya, kenyataannya orang-orang yang menjadi jalan bagiku mencari objek lukisan itu merasa telah kuberi jalan untuk jatuh cinta dan bertekuk lutut pada senyumku. Dan tentu saja, mereka salah besar. Kebenarannya memang tak ada yang lebih menarik dibandingkan diriku sendiri.
Begitu seseorang merasa telah aku manfaatkan untuk menjadi objek lukisan dengan nempil melirik ukuran penisnya, atau menghitung jumlah rambut yang tumbuh di dadanya, mereka akan berteriak-teriak menganggapku keparat cinta. Kalau kuhitung-hitung, aku memang telah sangat bersalah. Tapi benarkah salah hanya karena seseorang terluka?
Bagiku, seorang yang bodoh memang jauh lebih mudah merasa sakit hati. Manusia konyol mudah terpuruk karena patah hati. Dan karena aku hanya menciptakan sebuah lukisan dari situ, baiklah kalau aku mengamieni saja. Apakah aku tampak seperti penyeleweng?
Ya, aku kangen pada hidupku yang lama. Melukis tanpa siapapun di sampingku. Tapi sekarang semua menjadi sulit. Ode tidak akan pernah mengijinkanku untuk sendirian bepergian. Alasannya simpel saja, dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padaku. Baginya, yang aman-aman sajalah, tidak perlu sok seniman katanya. Aku sendiri bingung, apakah aku nampak seperti orang yang tidak sehat baginya? Waw….
Kalau aku melukis sedikit aneh, suamiku yang baik itu akan bilang, ”Kok begitu, nggak takut diserbu kelompok agamais?” atau dia akan sekonyong-konyong melarangku mengadakan pameran tunggal untuk lukisan-lukisan itu. Kalau sudah begitu, aku akan kesal dan mencoret-coret kanvas yang sudah dipenuhi impian. Dia akan tersenyum, menatapku sedikit ganjil lalu membelaiku.
Tapi kenyamanan tidak lantas kudapat dari situ. Aku telah merindukan apa yang bertahun-tahun aku lakukan sebelum menikah dengannya. Aku lebih senang disebut gila daripada tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku lebih senang disebut pengkhianat daripada tidak bisa melakukan apa yang telah aku rindukan.
Berulangkali aku sampaikan, kalau aku akan baik-baik saja dengan bepergian sendirian. Tapi dia selalu saja mengatakan tidak. Kalau aku mencoba membongkar baju-bajuku yang dulu, dia akan dengan mudah tersenyum sembari mengembalikan baju-baju itu ke tempatnya. Tidak sopan dipakai, katanya.
Perkawinan adalah jual beli yang rumit dan mahal. Dan aku telah membeli sesuatu dengan menjual banyak hal dari diriku. Begitu aku menyadarinya, aku akan menarik nafas mempelajari segalanya dengan perlahan. Ya, kenyataannya segalanya memang tak akan pernah sama ketika seseorang nyaman memanggilku sayang dalam sebuah lubang perkawinan.
Baginya, aku telah mendapatkan hak sebagai istri dengan memberikan apa yang wajib dia lakukan untukku. Dan karenanyalah dia juga menuntut haknya sebagai seorang suami yang mencintaiku dengan kewajiban yang musti aku lakukan. Segalanya memang tak sama. Benar, ada hal-hal yang bisa aku pertahankan, tapi banyak dari itu semua yang musti aku ubah karena seseorang telah memanggilku sayang dalam perkawinan yang telah kupilih.
Jari manisku menjentik-jentik seakan menularkan pemahaman yang tertunda untuk disadari. Aku memainkan cincin yang melingkar sejak tiga tahun itu. Beberapa kali aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cepat tanpa memberi kesempatan untuk berlama-lama di rongga pernafasan.
Kulepas cincin yang kadang-kadang membuat jemariku gatal. Pada beberapa bagian permukaannya telah tergores. Mungkin tergores kuas saat melukis. Mungkin tergores gelas saat minum. Atau bisa juga tergores kaleng cat di sebuah sore. Kalau saja melepas pernikahan semudah melepas cincin bermata berlian itu, aku tak akan bimbang untuk mencoba melakukannya sesekali saja. Karena begitu aku rindu suasana perkawinan aku akan memasukinya kembali semudah memasukkan jari manis ke lubang cincin.
Kenyataannya semua memang tak semudah yang kukira. Ya, memang ada beberapa hal simpel yang boleh kupertahankan. Tapi nyatanya, terlalu banyak hal besar yang musti kutinggalkan untuk jual beli bernama perkawinan.

Yogyakarta, Januari 2007

 
6 Comments

Posted by on March 29, 2008 in Cerita-cerita Pendek

 

WURUNG (Mingguan, Minggu Pagi 5 Agustus 2007)

Pada hari yang telah terpilih, meski tak kau tunggu. Burung-burung pipit yang kau curigai sebagai pembawa pesan dari masa kanak-kanakmu akan lewat, melaluimu sebagai beban yang musti ditandai dengan cara tersendiri. Saat itulah, kau akan lupa menghitung bulu-bulu seekor peri masa lalu yang runtuh di dadamu.
Mereka berlalu, setelah kau siapkan sangkar bermacam raya bagi mereka. Ada yang bersolek, tersenyum melihat caramu tertawa. Kau segera lupa, taman-taman bunga yang kau buat. Kau segera tak ingat warna dini hari kembang matahari yang kau sembunyikan dari aku.
Tapi aku sering merasa tak ingin mengingatkanmu untuk jujur saja. Kita telah menyepakatinya, aku dengan ponyet kecil, dan kau dengan kembang matahari itu. Karenanyalah, kita membiarkan rumput dan karat tumbuh bersama. Sayang, berapa banyak kastil dan harapan telah kau bangun di luar sana? Aku tak ingin tahu.
Burung-burung pipit itu, mereka menyelinap pergi sore lalu. Mencari harapan yang telah kau kutuk membatu. Ada saatnya mereka tak ingin mengingat Jonggrang yang resah dengan kebatuan Bandung Bondowoso. Atau melupakan bagaimana Nawang Wulan dengan sembunyi-sembunyi menciumi tiap helai rambut Jaka Tarub dengan nyaru menjadi bulan pada malam terpilih itu. Kau lupa, untuk menyebut dirimu apa!
Nah, burung-burung pipit itupun mencuri dongeng sendiri. Mereka melepaskan satu persatu helai bulunya. Membakarnya pada persajian kecil yang kau namai aku sebagai apinya, melembutkan abunya untuk dilukiskan pada warna langit. Kau akan segera tahu. Seperti aku, burung-burung pipit itu selalu ingin lupa jalan pulang.
Ada yang datang di antara mereka. Seekor burung gagak dengan pistol kecil terselip di paruhnya. Ah, aku begitu mengenal pistol itu. Pelatuknya akan mengeluarkan bunyi yang tak lagi kita namai. Seperti sunyi dan senyum yang jarang lagi kita sebut. Begitulah, burung gagak itu melepaskan suara seperti burung-burung pipitmu.
Dari sejak mula, Nawang Wulanlah yang melakukan kesalahan, tidak semustinya dia meninggalkan kayangan untuk mencuri sejuk dari telaga Wurung. Oh, mengertilah, ini bukan perkara Tarub yang telah lancang mencuri jiwa seorang bidadari dari atas batu. Sejak mula, sejuk tak boleh diambil dengan diam-diam. Terkutuklah bagi mereka yang tak malu mencuri sejuk dengan melupakan beku dalam hatinya.
Kau akan menjelma Jaka Tarub, dan aku menjadi batu candi. Menyempurnakan sunyi dan harapan yang abadi di Brambanan. Tapi serupa burung penghabisan, aku terlanjur memilih menjadi lempengan pertama tangga wurung. Kau akan melaluiku, meski tak ingin! Aku akan mengejarmu, meski tak mau.
Pada malam bulan tak penuh, dimana kekuatan semesta memuja anasir mula bumi. Kita telah meminum seperempat air telaga di pinggang Lawu. Kau melarangku, aku melarangmu, tapi kita melakukannya bersama. Rambut kita basah, bibir kita basah, burung-burung pipit itu, basah. Tapi kita terlanjur, menantang kutukan telaga Wurung di Lawu.
Batu-batu yang sunyi berdiri, mereka bicara, tersenyum menyambut kekasih baru. Aku kaunamai batu, kau kunamai batu. Burung-burung pipit, berlalu. Jangan cengeng, tak perlu menangis, sudah semustinya aku tak mencuri sejuk darimu! Jadi kau tak perlu menyimpanku sebagai batu.
Tapi burung-burung pipit penyampai pesan masa kanak-kanak telah datang menyemangatimu. Mereka menyimpan cerita sungai, mereka mengantungi cerita laut, mereka menyembunyikan cerita gunung. Kau mempercayai mereka, seperti kepatuhan seorang anak kepada ibunya.
***

Hari bagi mempelaimu telah dipersiapkan. Mahkotanya wangi dupa Arab. Daun pacar ditumbuk lebih halus. Tandu dihias lebih megah. Kelambu putih dihiasi kenanga juga melati. Emas diambil lebih banyak. Kepala-kepala kerbau dihias bersama permata dan pita merah. Kau lupa bertanya padaku, apa sesaji kesukaanku, sebagai penyempurna lamaranmu.
Kuku-kukuku masih pendek, mereka lupa cara tumbuh. Rambutku belum panjang, mereka suka berubah ikal. Pipiku masih coklat, mereka benci kemerahan. Mataku masih terpejam, keduanya lupa cara bersinar. Kau harus mengecup ubun-ubunku, terlebih dulu untuk membangunkan harapanku.
Aku akan memilih kebaya sutra dengan prodo paruh burung-burung pipitmu. Pada tiap kancingnya, musti kau tuliskan sajak cinta dari warna putih kedua bola matamu. Aku menginginkan rambutmu, untukku berjalan melalui tanah bebatu kelopak mawar hari itu. Maka kau tak punya pilihan, selain pergi berlalu.
Kau telah mempersiapkan warna gincu untuk mempelaimu yang jelita. Tapi kau lupa kepada siapa meminta pengantinmu. Kau akan selalu berharap Nawang Wulan mengulang kesalahannya, mencuri sejuk dari telaga Wurung di Lawu. Sementara kau sibuk mengubah mantra kutukan, agar Jonggrang tak selamanya menjadi batu.
“Ibalah padaku, sedikit saja, kasihanilah aku, kumohon.”
Tapi ini bukan perkara iba, kasihan dan permohonan. Ini tentang Tuhan yang berjudi dengan Dewa. Kalah dan menang kitalah tumbalnya. Kau menangis, terlanjur memetik pelaminan yang dipersunting oleh angin. Mari, kuajari kau bercinta tanpa mahar!
Kau harus menjadi angin, selalu menjadi angin, untukku bisa memenuhimu. Karena dunia hanyalah pinjaman, seperti Mendut yang meminjamkan tangannya pada perempuan-perempuan pelinting asap tanpa beha. Kau telah kucandu, seperti burung-burung pipit yang mencandumu.
Perjalanan demi perjalanan telah memasuki ingatan dari taman yang kau bangun. Bawalah serta kenangan, karena padanya kau menggantungkan separuh ingatan tentang jalan pulang. Kau harus pulang, kau musti mempersiapkan cara membayar hutang mempelai pada ibu yang menyusuimu. Karena hanya dengan kepulangan, maka kepergianmu dimulai dengan upacara dan persajian yang kau minta.
Ceritakanlah pada Ibu, perihal telaga wurung di Lawu. Tentang lutung dan siamang yang mengeroyok kita minta dibagi hangat. Tentang pohon-pohon jati dan hijau sawi yang menghidupi kita. Tentang harapan dan janji yang mengajari kita hikayat mimpi. Tentang perempuan yang mengganti sunyimu dengan embun pagi.
Maka, ceritakanlah pula padaku tentang senyum Ibu. Cara Ibu menyambutku di depan pintu rumah panggungmu. Cara Ibu mengajariku merapikan ranjang pengantin kita. Cara Ibu mengajariku memeluk dan menciummu. Juga cara Ibu mengajariku menyalakan api untuk menanak nasi. Ceritakanlah padaku, cara Ibu mengenalkan aku pada tanahmu di pulau itu. Sebagai menantu Ibu, ceritakanlah semua padaku.
Pada daun-daun nyiur yang menari. Pada angin yang mengedip pada ombak. Pada biji-biji kelapa perkebunan yang siap digarap. Dan cerita api kecil dalam gorong-gorong yang kau bisikkan pada anak-anakmu kelak. Kau telah tampak perkasa memenuhiku. Alismu melengkung sempurna pengantin pria yang cemas berbahagia.
Aku menyulamkan benang-benang emas pada baju yang akan kau kenakan hari itu. Kain beludru berwarna hitam, beberapa butir permata peninggalan dan emas berbentuk kelopak bunga. Kau pasti tampan saat mengenakannya.
Mungkin, aku dan Ibu akan membahas warna dadamu. Caramu menggelung rambut yang kekal. Caramu meminangku di atas kastil tua dalam sembalik cemara. Oh, aku akan tersenyum malu-malu, Ibu akan tertawa senang, dan adik-adikmu berebut haru. Sementara burung-burung pipitmu, berdiam dalam cemas, menghitung detik yang akan segera datang, menutup kisah Cinderela tepat waktu.
Di luar, suara ombak menawarkan perdamaian. Sunyi suling menggiring ingatan kita tentang gembala-gembala kecil yang menghalau kerbau mereka dari sawah dan lumpur yang bukan miliknya. Aku merasa, semua nyiur dan bakau berhasil meniru sunyi kita. Impian-impian yang membatu pelan-pelan.
Aku telah menjelma Cinderela, dan kau pangeran yang mencari pengantinnya. Sepatu kacaku perlahan segera berubah menjadi abu. Burung-burung pipitmu, ramai memperingatkan kita untuk segera pamit pulang. Tapi kita terlalu asyik. Aku terlalu kerasan lelap di ayunan mata Ibumu. Dan kau diam-diam membaca mantra untuk mengutuk burung-burung pipit menjadi batu. Tapi kau lupa Sayang, hanya Jonggrang saja yang sanggup menjelma batu karena kutukanmu.

Juli, 2007

 
11 Comments

Posted by on August 16, 2007 in Cerita-cerita Pendek

 

Tags: , , , ,