RSS

parismestha semalam tadi; DPT, HIB, IPV

06 Apr

Ketepatan waktu imunisasi membuat emak-emak baru panik saat musti indent vaksinnya. Menurut jadwal DPT kombo dengan HiB dan IPV, mustinya diberikan saat bayi berusia 2 bulan, tapi antrian di JIH 400 lebih bulan lalu. Dari dokter anaknya, Ansa yang semula mendapat antrian 44, lalu 32, lalu 13 sore tadi (inipun musti dilakukan di klinik lain) membuat saya musti memutuskan memakai vaksin buatan Bogor yang memungkinkan si bayi demam, sedang dua vaksin lain beruntung dapat buatan Perancis. (Bagi yang belum tahu, negara kita belum bisa membuat vaksin tanpa demam. Kita belum bisa memisahkan bagian yang membuat demam dari bakteri dalam membuat si vaksin ini)

PADAHAL ini padahal, semalam itu saya hanya iseng kangen sama si dokter ganteng eh cantik ini, sekalian menemani ponakan saya, Aruna, yang sedang batuk. Jadi saat mendaftarkan nama anak saya dan si perawat tanya, “ada keluhan?” Saya jawab, “Kangen sama dokternya.”  Dalam hati saya bersumpah dan berjanji, akan bertanya kabar vaksin yang belum juga nongol. Meski sebenarnya bisa tanya lewat BBM si dokter sih, atau kalau sungkan ya epon epon aja ke asisten.

Langkanya beberapa vaksin seperti polio (DIY memberlakukan IPV, bila-bila ada yang tanya kenapa kemarin tidak ikut PIN, dan sebab DIY merupakan satu-satunya propinsi yang dianggap bebas polio beberapa tahun terakhir) pasti membuat beberapa Ibu yang menjadi umat imunisasi (maaf bagi yang mengharamkan imunisasi) galau galau kesal cemas dll…eheh…

Sebenarnya kalau mau tak tepat waktu, vaksin DPT import kabarnya akan lancar sejak akhir April besok. Sebulan lalu si dokter bilang, “Kita tunggu sampai awal April ya, ini memang sedang kosong, DPT, Polio kosong semua. Antrian sudah 400an lho.” Karenanyalah saya memutuskan memilih bersiap menerima demam di tubuh si baby, yang berarti menggunakan vaksin buatan Bogor. Beruntung vaksin HIB dan Polio bukanlah vaksin buatan Bogor.

Sementara ini, pilihan imunisasi di puskesmas atau bidan dengan di Rumah Sakit yang berarti pada dokter sering menjadi nyinyir-nyinyiran di sosial media, sama halnya dengan ASI atau SuFor, dengan baby sitter atau tidak, ibu yang bekerja di luar rumah atau yang klumbrak klumbruk seperti saya.

Sebenarnya pilihan imunisasi di puskesmas (dengan kemungkinan demam) atau RS (biasanya tanpa demam) memang keputusan si orangtua. Saya sih percaya mereka punya banyak alasan yang masuk akal. Bagi orangtua yang memilih datang ke bidan atau puskesmas untuk imunisasi putra putrinya tidaklah salah. Saya juga percaya itu bukan -melulu- soal harga yang harus dibayarkan, meski hmmm haha hehe perbedaannya memang jauh sih. Katakanlah untuk imunisasi tambahan sejenis Rotavirus dan PCV kami musti bayar 1,4 di RS dimana dokter spesialis yang melakukannya. Sementara imunisasi BCG kami musti membayar sekitar 300 ribu yang konon bila dilakukan di puskesmas atau janjian dengan bidan di sekitar tempat tinggal hanya beberapa ribu saja, malah ada kawan yang bilang imunisasi gratis di puskesmas.

Lagi-lagi ini sih soal kemantapan hati ya, sama dengan saat kita memilih dokter mana satu yang bakal memegang anak kita untuk pertama kali, lalu dokter siapa yang bakal mengawal kesehatan si baby.  dr. Yasmini Fitriyati, Sp.OG. adalah dokter yang mengawal kesehatan dan kesiapan tubuh saya selama setahun sebelum pada akhirnya hamil dan melahirkan Ansasienna Parismestha Sinukarta. Sedang dr. Ade Indrisari, M.Kes, Sp.A adalah dokter yang mengawal kesehatan si bayi sampai hari ini. Memilih keduanya untuk mempercayakan hal yang penting tentu juga berdasarkan beberapa “uji coba” ke beberapa dokter ya.Kembali soal imunisasi, bagi saya sih menariknya melakukan imunisasi pada dokter yang aware soal itu (tentu saja dokter anak yang biasanya di RS) kita bisa tahu, apa tujuan vaksin yang akan bayi kita dapatkan, apa saja dampak temporary setelah diberikan, dan segala hal terkait si vaksin. Mengapa misalnya kita bisa memilih antara vaksin yang berasal dari 13 bakteri buatan Jerman atau vaksin yang berasal dari 10 bakteri buatan Amerika ketimbang buatan Bogor (hmmmm nggak tahu ding jumlah bakteri dari Bogor berapa). Nah kalau kejang akibat demam pada bayi memungkinkan matinya sel di otak bayi, mengapa saya musti ragu memilih imunisasi ke dokter?  yang berarti dengan menggunakan vaksin tanpa demam yang belum bisa dibuat oleh negara kita sendiri.

Meski, ya, demam memang tidak selalu datang bila imunisasi menggunakan vaksin buatan Bogor itu, dan yaaah kalaupun demam konon juga gitu-gitu doang. Lho tapi ketahanan bayi kan beda-beda? Iya kalau anak saya tahan dengan demam yang katanya “gitu-gitu doang” itu, kalau tidak lalu kejang-kejang berulang? apa nggak saya ikut kejang??? wong sini mbok anyaran…

Lebih dari itu, setiap kali datang untuk imunisasi, tanpa kami minta, perawat atau asisten si dokter akan mengukur tidak saja panjang dan berat tubuh bayi saya, akan tetapi juga lingkar kepala anak saya. Oh heloooo ini penting lho teman-teman.

(sampai di sini nulis saya terhenti, sebab anak saya tiba-tiba demam dan akhirnya begadangan untuk mengawal suhu badannya sampai pagi ini)

.12920496_10154165797421473_3160955145404398745_n

Meski saya sudah mempersiapkan diri soal demam pada bayi, kejang, dan imunisasi, jauh sebelum saya melahirkan anak saya, tetap saja semalaman saya lumayan panik dan bergantian dengan si ayah membaca apa saja perihal demam setelah imunisasi. Untung ada mas Wachid teman ciamik -dalam segala suasana- saya yang menenangkan saya di group gerombolan si berat. Paling tidak saya jadi tahu musti bagaimana bila-bila demam si bayi tak kunjung turun tadi malam…

Seminggu lagi usia baby 3 bulan, semalam berat badannya 5100 gr, cukup menggembirakan kata si dokter. Panjangnya sudah 59 cm, yang berarti sudah naik 10 cm dari saat dia lahir dan lingkar kepalanya juga bagus 38, 2 cm. Saban hari terkejut dan terharu sekaligus senang dengan perkembangan anak saya, teman-teman pasti juga -pernah- mengalaminya. Semoga kesehatan, panjang umur, dan kebahagiaan selalu untuk anak-anak dan keluarga kita…

12961651_10154165811071473_709586584342834061_n

Sampun dulu, saya mau menemani anak saya yang sedang bobo…

Rabu, 6 April 2016

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2016 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: