RSS

OPOR AYAM di Idul Adha; menu pesanan hari ini.

04 Oct

Hari ini, sebagian dari keluarga saya sudah melaksanakan sholat Idul Adha. Sementara saya sendiri baru akan berangkat besok. Dari informasi yang saya dapat dari akun twitter @infosenijogja di sekitar tempat saya tinggal, akan diadakan sholat Idul Adha di samsat. Ah, jalan kaki tidak akan lebih dari lima menit.

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA, teman-teman….Di hari raya Idul Adha, biasanya kami akan rame-rame ngumpul dengan teman dan kerabat sehari atau dua hari setelah pemotongan daging qurban untuk maenan api bareng. Karenanya, mungkin esok hari kami akan sekali lagi merayakan lebaran Idul Adha bersama kawan-kawan. Sementara hari ini, sengaja kami memilih menu seperti lebaran Idul Fitri, opor ayam dan sambal goreng ati (aduh, ini makanan nggak sehat ya? hahahah)

sudah ditambah dengan bawang merah goreng, dan bubuk kedelai, siap untuk dimakan..

sudah ditambah dengan bawang merah goreng, dan bubuk kedelai, siap untuk dimakan

Karena beberapa hari sudah sibuk dengan santan, karenanya menu pesanan keluarga hari ini saya pastikan TIDAK boleh terlalu kental, dengan maksud mengurangi asupan santan yang selama seminggu ini asyik disajikan dari dapur. Kebetulan mbak Tami hari ini belum pulang ke Boyolali dan memang tidak memasak. Jadi dapur sementara aman untuk saya gunakan sendiri. Tugas mbak Tami kali ini, duduk manis nonton tv, meskipun doski merasa tidak enak dan memaksa saya untuk memperbolehkan membantu.

OK jadi saya berangkat ke pasar terlebih dahulu untuk belanja, pikir saya lebih cepat saya yang belanja ketimbang mbak Tami, karena doski musti membersihkan rumah dan menyetrika baju. Pasar lumayan sepi, penjualnya pun banyak yang masih sholat Idul Adha, sementara dagangan mereka titipkan ke teman sebelah lapak.

Selama di pasar saya mengenang lebaran di rumah saya sendiri, saat saya masih kecil dan tinggal bersama bapak dan ibu serta dua adik saya. Lebaran selalu menjadi hari isimewa bagi kami, keluarga besar akan pulang. Tak ada menu spesial, tidak ada makanan mewah, selain kebahagiaan yang kami nikmati dengan cara sederhana. Menu opor, menjadi menu wajib di keluarga kami setelah kami (anak-anak bapak dan ibu) meninggalkan rumah untuk sekolah. Sering sebelum lebaran Ibu lebih memilih untuk bertanya kepada kami, akan masak apa di hari raya. Sop khas Ibu menjadi favorit kami di lebaran. Selain memang sangat sangat sangat enak, juga nggak gampang bikin kenyang to?

Bertahun-tahun kemudian opor, menjadi menu wajib di antara menu lain di meja makan saat lebaran Idul Fitri tiba. Sementara di hari raya Idul Adha, Ibu yang biasanya menyembelih hewan korban, memasak daging yang diterimakan padanya. Karena hanya tinggal berdua dengan Bapak, sering juga daging itu kemudian dimasak oleh Ibu untuk dibagikan kembali kepada tetangga atau kerabat.

Sementara asyik mengenang lebaran dan masa kecil, saya ingat komentar seseorang yang belakangan menjadi Vegetarian. “Yang bisa dan tega menyembelih binatang itu, bisa membunuh orang pasti.” Saya kesal dengan komentar ini, cenderung menyayangkan komentar yang saya kira kurang masuk akal. Karena saya agak malas berdebat terlalu lama, saya hanya komentar, “Saya juga bisa membunuh manusia, meski saya sendiri belum pernah menyembelih ayam atau cenderung memilih melepaskan semut yang menggigit saya, apalagi kalau orang itu menyakiti orangtua saya misalnya, mengancam keselamatan ayah ibu saya, saya bisa dan sangat mungkin to jadi pembunuh?”

Sayangnya memang, diskusi ini memang bukan soal lebih mungkin mana menjadi pembunuh, antara yang pernah menyembelih binatang atau yang tidak pernah. Seingat saya diskusi ini berputar-putar seputar alasan tidak makan daging, meski masih makan telur dan keju serta susu. Tidak berarti saya menertawakan pilihan tersebut, saya hanya sedikit menyayangkan komentar si kawan yang seperti meremehkan sisi kemanusiaan (atau perikebinatangan?) seseorang yang makan daging? Toh saya sendiri menghabiskan banyak tahu tidak makan daging. Bukan karena sok idealis karena ini dan itu, tapi memang karena saya tidak doyan daging. Pilihan saya untuk makan daging lebih karena ingin mengolok diri saya sendiri yang saat itu tergoda untuk menjadi vegan. Saya kurang senang apabila diri saya fanatik akan sesuatu. Karenanya dalam hal apapun, saat saya mulai fanatik pada sesuatu dan mencari penguat alasan, saya cenderung memotong mata rantai yang ada.

OK, kapan-kapan lagi ngobrolnya soal vegan, vegetarian bla bla bla….

(karena saya sudah mulai mual, membandingkan kalimat “You are what you eat” dengan membandingkan keseharian si kawan. Well ini tidak berarti apapun soal nilai ya???)

OPOR AYAM

Opor ayam pagi ini

Opor ayam pagi ini

Bahan:

  • 1 kg ayam
  • 1 kg telur ayam
  • 1,5 kelapa (tergantung selera)
  • 12 siung bawang merah (kalau besar ya 8 aja deh)
  • 12 siung bawang putih (karena saya suka bawang)
  • 1,5 butir kemiri (semakin banyak kemiri menurut saya makin bikin enek)
  • 1/2 sendok makan ketumbar
  • 1/4 sendok makan jintan
  • 1 sendok teh merica
  • 1 cm laos (memarkan)
  • 3 lembar daun salam
  • 6 lembar daun jeruk (sesukanya deh)
  • 3 batang sereh (atau sesuaikanlah ya)
  • 1,5 sendok makan gula merah
  • 1/5 cm cm kuntit. (ingat kan saya nggak suka kunyit hehe)
  • Seibu jari jahe
  • 1/5 cm kencur (ibu saya sedikit menambah temu kunci)

Ada alasan mengapa saya tidak menggunakan bawang merah terlalu banyak, karena semakin banyak bawang merahnya, akan semakin asam opornya. Karenanya, setelah matang, rasa gurih dari bawang merah saya ambil dengan cara menambahkan bawang merah goreng setelah opor matang. Setiap keluarga memiliki resep dan cara memasaknya sendiri, ini juga keyakinan saya soal enak dan tidaknya makanan… hehehe

Kalau saya, semua bumbu kecuali laos, daun jeruk,  daun salam, dan sereh, saya haluskan. Setelah halus saya gongso langsung di panci, saya tambah laos, kemudian masuklah daging ayam, menyusul santan cair (agar tidak pecah sebaiknya diaduk terus hingga mendidih) masukkan daun salam, laos, sereh dan daun jeruk serta bumbu (garam dan gula, silahkan yang biasa dengan micin, saya mengganti micin dengan masako heheh) lalu telur, sesudah itu tambahkan santan kentalnya. Udah deh jadi…kekentalan opor sesuai selera ya…saat masih di atas kompor itulah, saya memasukkan bawang merah goreng dan saya aduk.

Nah lalu memasak sambal goreng ati….

nggak sehat ya?

nggak sehat ya

Bahan:

  • 1/5 kg hati ayam
  • 1 ons krecek
  • 1/5 butir kelapa
  • 10 siung bawang merah
  • 10 siung bawang putih
  • 7 buah cabe merah (buang isinya) atau sesuai selera pedasnya
  • 3 lembar daun salam
  • 1cm laos
  • 1 batang sereh
  • 1,5 sendok makan gula merah
  • garam dan bumbu penyedap

Bagi yang suka pedas bisa menambah cabe merahnya. Sementara kami sekeluarga tidak bisa makan pedas (perut protes, lho jangan salah, sampai masuk UGD lho) karenanya semua bumbu cukup saya iris, termasuk si vabe ini tadi. Sementara beberapa orang akan menghaluskan separuh bumbu, separuh yang lain diiris. Atau ada juga yang memilih semua cabe dihaluskan. Warnanya juga akan lebih bagus, karena jadi merah…tapi ya gitu deh, kami nggak tahan pedas….

Yaaaaaaaaaah, sudah adzan Dhuhur…sudah dulu ya…Siapa tahu nanti malam kita bisa ngerumpi lagi…Nah, hari ini, teman-teman masak apa???

Sekali lagi selamat hari raya Idul Adha bagi teman-teman yang merayakan….

Yogyakarta, 4 Oktober 2014

 
1 Comment

Posted by on October 4, 2014 in Merayu Api

 

Tags: , , , , , ,

One response to “OPOR AYAM di Idul Adha; menu pesanan hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: