RSS

surat untuk tamu hari ini (tulisan yang tidak sengaja saya temukan di draft akun ini)

08 Dec

dear Nn,

apa kabar? baik-baik? kalau yang ini memang benar surat untuk sampeyan. bukan untuk dia, bukan untuk yang di sana, bukan juga untuk seseorang yang lainnya. begini, hari-hari terakhir sedikit busuk. ada beberapa hal tertunda. kebohongan-kebohongan baru lahir dan tentu saja perasaan konyol dan tolol. sedikit telat membalas surat di sini.

memang tugasku untuk menjamu tamu. menyediakan apa-apa yang bisa terhidang di meja. meski ala kadarnya saja. hanya itu yang kubisa bukan? perkara hati dan senyum itu urusan lain. aku orang Jawa. tamu menjadi raja di rumah-rumah kecil kami. menghormatinya serupa pendeta yang singgah sebentar ke rumah. jadi jangan sangsikan dan menilai yang lain.

aku ceritakan padamu tentang sebuah cerita kecil di desaku. suatu saat ada sepasang suami istri yang menerima seorang tamu dari jauh. tak ada apa-apa di meja makan. tak ada ubi bakar. tak ada nasi dan lauk. tak ada gula untuk pemanis minuman. suami istri itu teramat kekurangan.

lantas ingatlah keduanya pada sebutir kelapa muda di belakang rumah pemberian dari seorang tetangga yang merasa iba pada keduanya. si suami meminta si istri menyiapkan cawan perak untuk menghidangkan air kelapa. sementara dia bersiap mengasah golok untuk membelah kelapa muda.

“jangan, itu untuk sampeyan, pak.”
“tapi kita kedatangan tamu.”
“tapi akan terisi apa perut kita malam nanti?”
“kita bisa mencarinya lagi nanti. tapi tamu kita bisa jadi kehabisan bekal dan kelaparan.”

begitulah, kemudian keduanya menghidangkan air kelapa berikut dagingnya pada si tamu. sebelumnya suami istri itu membasuh mukanya dengan air dari sumur. agar nampak pada tamu, kalau keduanya baik-baik saja malam itu. begitulah, malam hari begitu si tamu pulang, suami istri itu terlelap setelah membebat perut mereka dengan kain.

tak ada semangka berisi emas keesokkan harinya seperti cerita bawang merah dan bawang putih. tak ada biji buncis yang membawa mereka ke langit untuk mengambil telur-telur emas. memang keduanya tak mengharapkan itu.

jadi kalau aku menjamu kalian dengan yang ada kemarin itu. sudah pasti karena begitulah kebiasaan di tempat kami. seterusnya, tamu akan selalu menjadi raja-raja baru di rumah-rumah kecil kami. karena sesuangguhnya kita tak pernah benar-benar menjadi raja tanpa menjadikan seseorang raja di rumah kita.

sore itu, begitu sampeyan kuantar pulang. aku sempatkan diri membeli sebuah syal berwarna coklat. alih-alih menghadiahi diri sendiri di hari ulang tahun. kujamu diriku sendiri dengan coklat-coklat manis dan kejutan-kejutan yang sengaja kubuat. sendirian begitu aku menjadi prajurit kecil yang bersembunyi dari para raja.

sekarang, apa sampeyan masih merasa tak enak dengan tak membawa kado untukku? ah, sudahlah. aku biasa menghadiahi diriku sendiri dengan bingkisan-bingkisan manis. Nn, bukan tugasku menjamu kalian. tapi memang tugasku menghargai tamu. meski itu tamu tak tahu diri sekalipun. lagipula aku tidak menjamu sampeyan di rumahku, tapi di rumah makan yang seringkali terlalu dingin bagimu. hehehehe.

alasannya jelas, sebenarnya aku tak suka menerima tamu. aku tak suka terlalu banyak orang tahu dimana aku tinggal dan bagaimana aku mengatur buku-bukuku. tapi aku tetap orang Jawa bukan? meski aku tak suka menjamu tamu dalam rumahku sendiri…maaf

salam sayang,

Yogyakarta, April 2008

 
Leave a comment

Posted by on December 8, 2009 in Puisi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: