RSS

Monthly Archives: February 2009

Tak Mudah Mempelajari(mu)

image0101Dia sedang belajar nyetir saat saya asyik menghitung ada berapa ransel dalam bagasi mobil yang akan mengantar saya pergi ke sebuah kota. Tapi hari itu, saya lupa bahwa dia cepat belajar dengan cara yang teramat sederhana. Cara menginjak rem juga mengatur kopling.

Hampir setengah tahun berlalu, dia kembali meneguhkan dirinya memegang stir tapi tanpa sepengetahuan saya, dari dalam rumah saya lihat dia memasukkan mobil ke dalam garasi. Sedikit sulit karena menikung dan naik. Di depannya ada tong yang membuatnya jirih kalau-kalau menginjak gas terlalu keras.

Rusli namanya, dia pembelajar yang tangguh. Tidak seperti saya yang pembosan -selain badung dan juga pemalas- dia menghitung dengan benar seberapa kuat kakinya musti menginjak rem dan mengatur kecepatan laju kendaraan. Karenanya saya percaya, kelak akan mudah bagi saya mempercayainya mengantar saya ke suatu tempat.

Kalau saja kehidupan dan Kau bisa kupelajari dengan dan seperti cara Rusli mempelajari kendaraan beroda empat itu, pasti akan lebih mudah bagiku mempercayai seseorang membawaku ke jalan-jalan yang menjanjikan banyak hal.

Tapi begitulah, tak mudah mengerti dengan cepat bagaimana menghargai segala rahasia yang dijanjikan hari kelak. Sebelum hari sekali lagi kita namai masa lalu, percayalah bahwa tak akan pernah mudah menjalani jalan-jalan itu bersamaku.

Yogyakarta, 14 Februari 2009
(taken from herlinatiens.multiply.com)

 
5 Comments

Posted by on February 15, 2009 in Catatan Hari Ini

 

Tags:

pada langitjiwa (http://langitjiwa.wordpress.com/)

lelaki puisi

pada langitjiwa
; lelaki puisi yang senyumnya serupa
keberangkatan musim dingin dan
kepak sayap merpati
dimana puisi hendak kau dirikan lagi?
sebab huruf dan kata menjadi begitu purba untuk
kita menari di atasnya

mari kuceritakan kisah kecil
tentang sebuah kota dimana tak
lagi kutemukan puisi dan kata
; manusianya derita
gedung-gedung seluruhnya palsu
kembang dan buah tak lekas
dan jejak sepatu hanya meninggalkan
kenangan yang kejar bayang

maka padamu wahai
langitjiwa kekasih huruf dan kata
selamatkanlah kota dengan puisimu
sebab langit cemas menunggu

Yogyakarta, 5 Februari 2009 (5.13 wib)

 
2 Comments

Posted by on February 5, 2009 in Puisi

 

Tags:

Apakah Menulis itu Mudah?

Apakah Menulis itu Mudah?

Saya mencoba mengumpulkan pertanyaan yang biasa saya terima perihal menulis.

1. Bagimana cara menulis sih Mbak?
Sama kek kita bernafas. Sama kek saya membaca. Mengapa saya menulis? Sebab saya suka membaca.

2. Buku apa yang biasa dibaca?
Pada dasarnya semua buku saya suka baca kok. Cuma kadangkala tergantung juga dengan kebutuhan. Misalkan saya sedang ingin menulis suatu makalah, tentu saya mengulang buku-buku yang ada kaitannya dengan makalah tersebut. Dalam kondisi santai saya suka membaca buku-buku yang membuat saya mengerti hal-hal yang sering jadi pro dan kontra. Pernah di suatu waktu saya membaca buku-buku tentang PKI. Tapi kemudian saya merasa harus tahu apa itu komunisme. Lalu kurang lagi saya baca siapa Karl Marx, dll. Membaca selalu membuat saya ketagihan untuk meneruskannya pada hal lain. Serupa mata rantai.

3. Bagaimana mencari ide?
Entah juga, Tuhan terlalu sayang sama saya. Kalau sekarang saya punya buku, itu sudah pasti karena ide-ide itu tanpa sengaja saya temukan begitu saja. Nah mungkin terbit ide itu dengan sukanya saya pada melamun, berkhayal dan mendengarkan banyak orang di sekitar saya membicarakan masalah mereka.
Kata orang bisa juga menemukan ide dengan banyak membaca, hm…saya juga hampir percaya dengan itu.

4. Kalau menulis tiba-tiba macet di tengah jalan? Atau bahkan ada tema tapi tidak bisa menuangkannya kek mana?
Mungkin bensinnya habis, karenanya jadi macet ya? huehuehue. Atau jalanan sedah penuh sesak dengan kendaraan lain. Atau ada kecelakaan di perempatan depan. Jadi cari jalan yang paling aman saja. Kekeke
Jangan ada beban, jangan ada beban, jangan ada beban. Menulis adalah membaca dengan cara lain. Saat menulis niatkan untuk seluruh. Sebab terlalu banyak beban (teori, ketakutan, horison harapan, dll) justru akan membuat kita berhenti menulis.
Jadi intinya membaca bukan? Sebab dengan membaca kita akan dengan mudah memiliki dan mengatur barometer kebenaran kita sendiri memandang suatu tema/hal.
Menulis adalah proses belajar juga, jadi semakin giat belajar akan semakin menguatkan insting dan cara kita dekat dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam menulis.

5. Apakah tulisan saya bagus, Mbak?
Aduh mak, sampean salah orang kalau bertanya begitu pada saya, sebab bagi saya semua tulisan selalu bagus. Misalkan saya tidak suka, mungkin karena saya bukan pembaca yang pas untuk tulisan sampean. Nah, jangan lupa setiap pembaca selalu memiliki horison harapan yang berbeda-beda. Tentu itu tidak lepas dari wacana yang ada dalam tiap pembaca juga kan?
Saya juga orang yang selalu berpikir bahwa setiap tulisan yang kita baca selalu memberikan sesuatu. Baik dan buruk, salah dan benar sebuah teks tergantung dari bagaimana dan sejauh mana kita melibatkan diri di dalamnya.
Tapi menghibur diri sendiri; kita hanya menulis, mengkritik itu tugas kritikus sastra berikut pembaca yang mungkin tak suka. Tapi biarlah, begitulah semua memiliki tugas sendiri. hehehehe….

Sementara ini dulu. Semoga hutang saya lunas pada yang menagihnya pada saya….

salam sayang untuk semua

 
3 Comments

Posted by on February 5, 2009 in Catatan Hari Ini, Essay

 

Tags: ,

fuckin decision (eh maaf…)

janji apakah lagi yang ingin kau dengar?
apakah tak cukup semua sekian? kenyataan
lagi kutenggelam dalam diam
yang bahkan kau tak sempat hitung juga kenang
ingin apakah kau dari tubuh rinduku sebab
kau sempurna menciumku saat perpisahan kita dirikan
dengar sayang, kenanglah sekali lagi

sebab dalam jauh aku selalu padamu
dalam senyap dan sunyi yang derita
jauh dari senyum dan senja keparat
aku tak lagi bisa lebih lama tak mendengar
selalu dalam kau segala kisah menjadi sampai
padamu kelak aku mengemis takdir

kematian apakah dariku yang ingin kau saksikan
apakah tak cukup dengan hilangnya ingatan pelan-pelan
dariku di antara senyap dan cara lama sebab di hari
yang kemarin kita pernah bersama dan sekali lagi
ingin kutenggelamkan tangis di dadamu bersama kopi dan sunyi
kau apakan aku sayang? tak bisakah
saksikan aku yang mencukupkan diri dari tempatku

Yogyakarta, 30 januari 2009

 
3 Comments

Posted by on February 5, 2009 in Puisi

 

Sebab Aku Marah

Kelak jangan salahkan aku bila kutanam biji yang sama dalam rumah kita. Sebab kau ajari aku berkebun dengan cara yang paling benar. Bukankah bagiku kau akan menjelma guru? menjelma Tuhan dan jalan?

Kelak jangan hukum aku bila kusimpan kelopak bunga yang sama, toh mereka hanya buah dari biji yang pernah kita tanam. Bukankah kau lebih pandai menyimpan teratai juga edelweis? Aku hanya punya mawar juga kamboja.

Kelak bukan hari ini. Sebab aku bisa saja mengalah dan memperbaiki. Seluas apa janji bisa memenuhi. Sedalam apa kasih bisa melindungi? Sebab padamu aku berguru cara baru merangkai rumput juga keladi.

Yogyakarta 2 feb 2009.
was taken from http://herlinatiens.multiply.com