RSS

Monthly Archives: January 2009

sebab tak bisa kubiarkan diriku menjadi lebih keparat dengan memilikimu

; tulisan selepas mimpi Zen

kekinian banyak betul lahir lagu-lagu judulnya ‘selingkuh’ atau setidak-tidaknya yang bertema itulah ya. psikologis masyarakat -dalam hal ini pendengar- seperti dikondisikan atau memang jadi kek cermin kondisi masyarakat yang ada ya? well sebab, suatu karya tidak pernah lahir dari kekosongan belaka kan?

itung punya itung, dalam banyak kajian dan karya, mengapa perempuan yang datang belakangan selalu dibilang perebut hayo? atau kenapa selalu disebut sebagai si brengsek karena mencintai lelaki/perempuan orang lain? kenapa ndak coba lihat sisi yang lain?

sebab yang pertama -dianggap- selalu setia, dan yang kedua yang menggatal.

dalam novel yang sudah-sudah, saya sering menempatkan si tokoh sebagai penjahat beradab yang menghindari manusia yang sudah berpasangan. ini berbeda dengan tokoh saya dalam sebuah cinta yang menangis. ya, iyalah, kek mana ndak lha wong tokoh ‘aku dan dia’ dalam novel tersebut jatuh cinta -lagi- dengan seseorang yang dikenalnya di masa kecil. seorang teman sekolah, gitu katanya. eh atau memang tak pernah benar-benar berhenti mencintai lelaki kecil itu? ketahuan dueh…

seorang teman, Nana namanya bicara pada saya, “sampean kurang jahat, nontonlah sinetron biar bisa jahat.”
Nah kan, sinetron pun banyak ngajari kita pada ritual-ritual ‘ayeaaah’ pada masyarakat. belum lagi pembagian tokoh yang terlalu hitam putih. terlalu benar dan salah. terlalu antogonis dan protagonis.
yang hitam yang ndak punya kasih. yang putih yang setia. beuh….mak…

jika salah mencintaimu, maka biarkan ini tetap menjadi salah.
sebab tak harus menjadi benar untuk menciptakan surgaku sendiri.
dalam diam aku menang. dalam bicara akupun terus menang.
sebab pertempuran ini hanya milikku saja. bukan denganmu.
bukan dengannya.
sebab musuh yang mencoba merebutku darimu hanyalah aku sendiri.
dan tak bisa kubiarkan diriku menjadi lebih keparat dengan memilikimu.

Yogyakarta, 25 Januari 2009

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on January 25, 2009 in Catatan Hari Ini

 

perihal lama, 2

f a n g
(1996 – 2009)

sebab aku menemukanmu kembali, fang. dalam tubuh yang sama teguhnya. dan kita tak lagi kanak-kanak yang nampak ranum oleh seragam pramuka juga tas sekolah dan pensil-pensil berujung runcing.

kau masih memiliki senyum yang mengundang. dengan dua biji mata di bawah lengkungan alis yang teramat sederhana. dan kita tak lagi kanak-kanak, yang sedia diri menyimpan cinta. kau kira kanak-kanakkah aku hanya karena menyimpan waktu? membiarkan tahun berganti sebanyak tiga belas kali tanpa bicara ya atau bahkan tidak saja?

lantas mengapa kau mulai sekarang? tidak saat dengan kegigihan seorang lelaki kecil kau sulamkan namaku di sebuah kain perak warnanya. kukira hanya aku, tapi itu kita. bukan aku tapi juga kau. bukan kau tapi juga aku. kita.

kita terlambat bukan?
menyampaikan semua dengan kata-kata. mengapa dulu tak cukup untuk kita mengerti dalam diam saja?

mustinya aku miliki keberanian yang sama seperti hari kemarin. mustinya kau miliki kegigihan yang lebih mengawalinya dulu. tapi kau mengira hanya kau saja yang menyimpan cinta yang kau kira kanak-kanak. tapi kukira hanya aku saja yang menyimpan cinta yang kukira kanak-kanak.

kita tak lagi kanak-kanak, karenanya mungkin tak seharusnya mendirikan pertemuan dengan cium dan sesal. tidak lagi merencanakan pertemuan diam-diam di belakang perempuan lain yang menunggu kau maharkan.

kita tak lagi kanak-kanak, fang. aku ingin merebutmu dariku. aku ingin kau merebutku darimu. tapi mengapa tak mudah, sebab kita memang tak lagi kanak-kanak. semustinya kita bisa sekadar mencintai saja. tapi begitulah, jiwa kanak-kanak jugakah yang telah memenuhi kita sekarang?

mengapa kita terlambat? apa karena kita bukan manusia pemberani? tentu bukan. tapi hatiku tak jauh, fang. tapi hatimu tak tandus. sebab tahun yang berganti tiga belas kali hanya soal angka belaka. aku masih ingat kau seluruh.

caramu berjalan.
caramu menyisir rambut yang hitam.
caramu berlalu dari air ke mushola sekolah kita.
caramu tak suka.
caramu tertawa.
caramu menyentuhkan ujung jari di lenganku.
caramu penuh seluruh.
dulu kita kanak-kanak.tapi sekarang tidak.

bukankah sekarang segala masa lalu tak lagi bisa kita sebut sia-sia? bahkan bila kau kuminta tetap memaharnya…sebab kita memang ada.

Yogyakarta, 2009

 
13 Comments

Posted by on January 24, 2009 in PERJALANAN semacam PETUALANGAN

 

perihal lama

fang

pernahkah kau mengingatku?
-atau tidak sama sekali-
pada jarak yang jauh dan rawan
sebagai teman sementara bersama
bangku-bangku coklat yang menghitam di sisinya
;sekolah lama kita juga seragam pramuka

di sebuah sudut pernah kuharapkan dirimu
serupa kebahagiaan yang tertunda belaka
sebab aku mengenangmu penuh seluruh
sebagai lelaki yang selalu tersenyum
juga ingatanku sendiri

padamu tak pernah menjadi alasan untuk
bersama kelak

kulupakan cara wajahmu melukis senang
menanggalkan jalanan tua dan rel kereta tempatku
belajar mempercayaimu
tapi semua menambah panjang mimpi buruk dan masa lalu
yang tak ingin lenyap dalam aku

memang tak pernah ada kita
maka kau tak harus mengingatku
selain tentang perempuan kecil yang
padanya kau dapatkan salam dari gadis lain

telah kukenang mimpi paling sirna
memugarnya menjadi mimpi buruk baru
lantas selain diam apalagi yang kumiliki?

Oh kapankah kau mengenali aku
betapa kupersiapkan segala suka untuk
menyambutmu

mungkin tak akan pernah singgah segala harapan
sementara orang-orang lebih pandai lagi menghitungku
pada hal-hal yang tak kupahami
sementara kau semakin jauh
sejak semula jauh

dan sekali lagi aku takut menemuimu
sebab pertemuan lebih banyak menawarkan ngilu
sedang dalam diam aku tetap menjagamu

jakarta – 2005

 
1 Comment

Posted by on January 24, 2009 in PERJALANAN semacam PETUALANGAN, Puisi