RSS

Kalau Saya MATI

28 Nov

; Pada karib yang hendak merayakan mahar
20042007008
Kalau saya mati sampean melayat ndak? melihat bangkai saya mungkin. Sekali lagi menyelam di kedua mata saya, meski tidak lagi terbuka. Atau bolehlah sampean kecup kening saya untuk yang pertama sekaligus terakhir kalinya.

Kalau saya mati, entah karena sakit atau tertabrak becak di depan rumah, sampean datang ndak? Mungkin memberi saya kembang mawar sekali lagi, yang putih saja ya. Atau mungkin kembang lain. Gimana? Tak takut pada tubuh tanpa nyawa kan?

Roh saya mungkin melayang. Melintasi sampean, menari-nari di dada sampean yang telanjang melayang. Kalau-kalau sampean lewatkan malam seperti saat kita bersama membaca puisi Gandrung* saya akan mencuri kecup di bibir sampean yang ranum aduhai sayang. Jadi bagaimana? Masih bersabahat dengan tubuh tanpa nyawa -itu-?

Kalau saya mati, saya titipkan kenangan tentang saya pada sampean. Itu satu-satunya harta saya. Saya percayakan bukti kita pernah saling belajar menjadi binatang dengan diam. Dulu. Ya dulu, saat kita masih kanak-kanak dan begitu belia menyebut kota Santiago dan Buenos Aires.

Tolong catat nama saya sekali lagi. Meski hanya di pojok kertas lusuh atau sudut dinding kamar mandi sampean. Dengan begitu saya mengerti kita saling menepati janji. Ya itu sih kalau saya mati siang nanti, atau setidak-tidaknya lebih dulu dari sampean. Karena kalau sampean yang mati lebih dulu, saya sudah pasti akan menuliskan nama sampean di buku harian saya -eh saya musti beli dulu keknya-. Ya, meski tidak dengan tinta emas, saya kan bukan pujangga atau juragan emas…

Lahir
Kawin
Mati…

Sampean kan sudah lahir, buktinya saya kenal sampean. Nah kawinnya sebentar lagi to? Tinggal matinya saja. Wah dapat nilai 100 sampean ya…Mungkin saya kebagian nilai 60 saja…lahir dan mati. Tapi bisa jadi lho ya dapat 130, lha kalau kawin dua kali? 160 kalau menciptakan duda 3 kali. Hehehe..maybe yes maybe not kan kek iklan…

Benar kan? Memang tidak pernah ada yang istimewa yang bisa saya berikan ke sampean. Bahkan saat dengan keberanian seorang lelaki, sampean memahar seorang pengantin; hanya ada ini dari saya untuk sampean. Saya sih punya keinginan mendoakan sampean, tapi saya lagi jarang berdoa. Daripada sekali lagi saya disebut ingkar janji, jadi sementara ini saja dulu ya. Cukup kan?

Selamat dan semoga bahagia…Amien

*) Gandrung itu salah judul puisi Gus Mus dalam antologi puisi beliau GANDRUNG.

Yogyakarta, 28 Nov 2008

 
1 Comment

Posted by on November 28, 2008 in Catatan Hari Ini

 

One response to “Kalau Saya MATI

  1. warmorning

    November 29, 2008 at 4:26 pm

    pertanyaannya ,, berat !!
    sungguh ..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: