RSS

damned

11 Oct

Saya memutuskan untuk memulai semuanya dengan cara yang paling alami; mencintainya -lagi- sebagai kenangan yang tak harus saya singkirkan dari kepala saya. Bagaimanapun juga dia memang selalu mudah membuat saya mengulang lagi dan lagi menoleh ke arahnya.

Tentu bukan karena dia memang memiliki senyum yang selalu nampak baru itu. Juga bukan karena matanya mengedip dengan cara yang terlihat istimewa bagi saya. Bukan, bukan hanya karena itu. Jelas bukan saja karena itu saja…

Sebentar lagi dia akan menikah. Bukan dengan seseorang yang saya duga, tapi dengan perempuan lain yang katanya memiliki cara tertawa yang sama dengan saya. Saya sering merasa masih memilikinya, meski kenyataannya tidak lagi. Saya masih sering bermimpi tentangnya, meski tak senang saat mengingatnya begitu terjaga.

Saya tahu, memaafkan adalah cara saya memberikan ruang untuk kenangan-kenangan itu mengapung bersama hidup yang musti dijalani. Saya pernah menyesal mengundurkan diri, sekarang saya tak ingin menyesal lagi dengan melupakannya sebagai harapan tak bertuan.

Sekali lagi saya akan membenci perayaan itu; pesta-pesta lebaran dimana orang akan bertanya dan menuduh. Sekali saya akan tak suka pada pesta pertemuan dan senyuman yang dia berikan. Karena dialah dulu yang selalu saya harapkan saat takbir mulai saya dengar beradu dengan suara petasan.

Jadi, saya memutuskan untuk berhenti berusaha melupakannya; demikianlah dia akan selalu bersama saya sebagai kekasih tanpa nama yang pernah saya perjuangkan di masa remaja saya. Seseorang yang karenanya saya melacurkan diri pada hujan yang membuat gigil dan merindu, oh saya membenci hujan sejak saat itu. Seseorang yang berhasil meruntuhkan dunia kecil saya dengan selembar kalimat; “Aku tak menyangka, kau tahu alasannya?”

Ngawi-Yogyakarta 4 Oktober 2008

 

3 responses to “damned

  1. uhuik

    October 13, 2008 at 2:07 pm

    komentar kok seringnya ke penulis bukan ke tulisannya, tapi memang sulit membedakan aroma cinta ini menempel pada tulisan atau pada penulis.

     
  2. missyou

    October 13, 2008 at 11:33 pm

    aura penulisnya membuat tak pernah jauh darinya

     
  3. jeunglala

    October 27, 2008 at 10:00 am

    Saya tidak ingin terpaksa untuk melupakan seseorang.
    Biarlah semua perasaan berakhir secara alami…
    Karena kalau dipaksa, itu sama saja seperti menyimpan sepotong baju di dalam lemari, yang ketika suatu saat kita membukanya, kita akan menemukannya secara tidak sengaja…

    It’s always there.

    Jadi dinikmati saja..
    Dikunyah saja…
    Sampai rasanya tawar,
    lalu menghabis..🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: