RSS

Monthly Archives: October 2008

istri yang lain

close to you

dia marah karena perempuan itu menyembunyikannya. dia kesal, karena perempuan itu lebih senang menemuinya dengan sembunyi-sembunyi di kota lain. dia merasa tak istimewa, maka mengatur segala sesuatunya agar nampak sempurna di mata si perempuan.

tak sekalipun perempuan itu menyebut namanya dalam pertemuan-pertemuan yang perempuan itu dirikan tanpanya. tak sekalipun perempuan itu menyelipkan foto-fotonya dalam segala catatan yang perempuan itu tasbihkan. seolah dia kekasih rahasia yang dicintai saat hanya berdua saja. tapi bukankah tak ada alasan untuknya tidak mempercayai kekasihnya sendiri? sudah jelas, perempuan itu hanya ingin mencintainya. mustinya, dia cukup mengerti itu.

sejujurnya senyumnya terlalu menawan. cara menatapnya selalu hangat dan jujur. tak ada alasan yang lebih menjanjikan selain cara dia mencintai perempuan itu. tapi benarkah segala hal hanya cukup berkutat pada cinta?

memang benar perempuan itu memikirkannya, sebentar lagi akan penuh seluruh perempuan itu menginginkannya. sama besarnya dengannya sendiri. rumah akan didirikan, jalan akan dilebarkan, segala rintangan akan pelan dibinasakan. maka menjadilah apa yang semustinya menjadi. tapi bisakah kita rahasiakan semuanya lelakiku?

saat merindumu terasa -lebih- menyenangkan, 10okt2008

Advertisements
 

damned

Saya memutuskan untuk memulai semuanya dengan cara yang paling alami; mencintainya -lagi- sebagai kenangan yang tak harus saya singkirkan dari kepala saya. Bagaimanapun juga dia memang selalu mudah membuat saya mengulang lagi dan lagi menoleh ke arahnya.

Tentu bukan karena dia memang memiliki senyum yang selalu nampak baru itu. Juga bukan karena matanya mengedip dengan cara yang terlihat istimewa bagi saya. Bukan, bukan hanya karena itu. Jelas bukan saja karena itu saja…

Sebentar lagi dia akan menikah. Bukan dengan seseorang yang saya duga, tapi dengan perempuan lain yang katanya memiliki cara tertawa yang sama dengan saya. Saya sering merasa masih memilikinya, meski kenyataannya tidak lagi. Saya masih sering bermimpi tentangnya, meski tak senang saat mengingatnya begitu terjaga.

Saya tahu, memaafkan adalah cara saya memberikan ruang untuk kenangan-kenangan itu mengapung bersama hidup yang musti dijalani. Saya pernah menyesal mengundurkan diri, sekarang saya tak ingin menyesal lagi dengan melupakannya sebagai harapan tak bertuan.

Sekali lagi saya akan membenci perayaan itu; pesta-pesta lebaran dimana orang akan bertanya dan menuduh. Sekali saya akan tak suka pada pesta pertemuan dan senyuman yang dia berikan. Karena dialah dulu yang selalu saya harapkan saat takbir mulai saya dengar beradu dengan suara petasan.

Jadi, saya memutuskan untuk berhenti berusaha melupakannya; demikianlah dia akan selalu bersama saya sebagai kekasih tanpa nama yang pernah saya perjuangkan di masa remaja saya. Seseorang yang karenanya saya melacurkan diri pada hujan yang membuat gigil dan merindu, oh saya membenci hujan sejak saat itu. Seseorang yang berhasil meruntuhkan dunia kecil saya dengan selembar kalimat; “Aku tak menyangka, kau tahu alasannya?”

Ngawi-Yogyakarta 4 Oktober 2008