RSS

kubuang kau di antara koran bekas dan kupon belanja

30 Jul

Kutemukan lagi suratmu di antara selipan koran bekas dan kupon-kupon belanja yang hendak kubuang. Kubaca ulang, tulisanmu yang mengapung di atas kertas mimpi bertahun dulu. Juga selembar foto yang ada di dalamnya, senyummu tak pernah nampak Pou. Sebagai lelaki bibirmu terkatup dengan cara yang seirama dengan mata yang layu.
Mengapa aku terus bersedih saat mengingatmu. Begitulah, pinggangmu seolah diterampilkan Tuhan sesuai dengan dadamu yang datar. Masih aku ingat kata-kataku sendiri; sayang, aku mencintai pinggangmu sebanyak aku mencintai hal-hal yang cerdas dan jenius.

Maka sekali lagi, seperti yang sudah, aku memasukkan surat itu ke dalam amplopnya yang berwarna kuning dengan lambang berayun di sudutnya. Bangganya kau di sana. Tapi ita berbeda, sangat berbeda. Senjataku hanya kata, bukan peluru dan mesiu seperti yang kau punya.

Kelak tak akan kita kenang. Bunyi cericit sepatumu yang licin oleh waktu. Gelang-gelang kecil untuk kita melempar harapan pada bibir-bibir botol yang digelar di pasar malam. Segalanya tak lucu untuk dingat sekalipun hanya sekian menit.

Kita membicarakan banyak hal. Tentang perwira-perwira muda yang merayakan kecemburuan dengan kudeta. Perihal gengsi masa kini sesame matra. Juga Munir yang menurutmu memang pantas mati karena terlalu banyak bicara. Kalau aku tak setuju, maka aku akan tersenyum. Tapi kau selalu tahu; “Kau pasti tak suka pendapatku.”

Kau dengan semangat yang jalang, bicara para prajurit kecil yang menjaga laut dan rempah. Pesawat-pesawat yang kau tertawakan. Kapal-kapal tempur yang musti dibesi tuakan. “Apa kau ingat Am? Dulu kita suka menyebut mereka penjahat masyarakat?”

“Itu dulu.”
Ya, memang itu dulu, saat rambutmu masih disisir dengan cara yg kusenangi. Berjalan dengan tatap mata yang alami. Bukan sekarang, saat kau mulai dan harus menata rambutmu sekian senti dan menajamkan mata meski tak ada yang mesti kau pertahankan selain harga diri dan usia.

Suatu sore, saat kau bangga dalam barisan lokananta di pesta agustus bertahun lalu, kita berdebat hebat. Kau kira kebebasan seperti apa yang bisa diraih seorang seperti aku? Atau seperti masyarakat yang kau kira buta dan tak bisa melihat kebenaran di luar sana? Kau menyebutnya doktris, tapi aku menyebutnya kebenaran. Kau menyebutnya letupan, tapi aku menyebutnya kematian!

Tapi Pou, surat-suratmu selalu manis. Meski bicara sekedar dan seadanya. Bukan perihal bertele-tele yang menggelambir bila keremajaanku yang kau kira alami memudar. Dan bukan rayuan yang bisa musnah bila cemburu bersahabat dengan jiwamu. Kita seringkali merasa seirama, meski tak senada. Kau lupa, kita memang sama sekali berbeda.

Kau bahagia, Pou?
Apa kau bahagia? Berapa banya teori Mao Tze Dong yang sudah dipraktikkan? Dan apa kau tetap tak suka jika aku mengutip Erich Fromm? Kau tak suka bila aku membaca buku-buku yang kau anggap konyol itu? Kau tak suka kalau aku menirukan bapakku ular-ular? Meski suaraku teramat busuk dan nadanya jadi blingsatan?

Benar katamu, butuh banyak waktu untuk menutup ini semua, meski tanpa menguras energi yang berarti. Ah, apa kau bahagia Pou?

Yogyakarta, 24Juli2008

 
7 Comments

Posted by on July 30, 2008 in Catatan Hari Ini

 

7 responses to “kubuang kau di antara koran bekas dan kupon belanja

  1. qizinklaziva

    July 30, 2008 at 11:12 am

    prajurit dari kesatuan mana dia???

     
  2. seutas tali

    July 30, 2008 at 4:45 pm

    cinta dan kehidupan akan selalu beriak, seperti air… membara seperti api, tapi semua tak terlepas dari diri sendiri.

     
  3. herlinatiens

    August 2, 2008 at 3:48 pm

    @ qizinklavia: hehehehe….lurus jalan turus pertanyaannya😀

    @ seutas tali: hehehe, ini juga benar😀

     
  4. she

    August 4, 2008 at 10:36 am

    dan.. sedang bahagia kah si mbak sekarang ? apa kabar mbak… sehat khan?!

     
  5. Aiyuu

    August 4, 2008 at 11:02 am

    bahagia kan ya non?

     
  6. tembolok

    August 19, 2008 at 2:56 pm

    pekerjaanmu kan membuang hati to nduk?kok baru sadar ya?kemarin kemana aja?

     
  7. herlinatiens

    August 23, 2008 at 7:32 pm

    @ she: Bahagia terus dek. Sehat sangat. Makasih.

    @ Aiyuu: Bahagia kok…

    @ tembolok: Hati sapi? hati ayam? apa hati-hati? du du du du..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: