RSS

Ankasina Anakku

23 Jul

Ankasina, Bunda akan bercerita padamu Nak.

Ayahmu tak pernah benar-benar lahir dari rahim manusia. Dia lahir dari langit, saat matahari pelan-pelan menyergap bumi. Itulah mengapa, ayahmu menjelma menjadi manusia yang bijak dan kasih pada sesama.

Bila kesedihan meraihnya, karena Bunda membuatnya kesal, dia akan terlebih dulu memaafkan dan dengan cepat tersenyum pada Bunda.

Ayahmu Nak, laki-laki yang menjadikanmu remaja tangguh, adalah laki-laki hebat terakhir yang dimiliki dunia. Dialah satu-satunya kejujuran yang dimiliki manusia, milik semesta, milik perempuan, milik kami, milik kita. Milik Bunda seluruhnya. Kebenaran berikut cinta dan jiwanya.

Maka kau tak dilahirkan untuk menjadi pecundang pada segala hal. Kau merdeka, karena lahir dari rahim yang merdeka. Kami tenun kau dengan kasih dan doa semua manusia. Tapi begitulah, dialah laki-laki hebat terakhir yang dimiliki dunia. Maka, bila suatu saat kau melakukan satu kesalahan, Bunda dan dia Ayahmu akan menerima, akan memaafkan. Tapi ingatlah sayang, kau tidak kami lahirkan untuk menjadi lemah. Kami lahirkan kau untuk menjadi tangguh.

Kau boleh memilih untuk menjadi miskin, tapi bukan bodoh. Kau boleh memilih menjadi pendiam, tapi bukan pecundang. Kau merdeka, tapi kemerdekaan yang kau punya semata untuk memerdekakan manusia yang lain yang tertindas dan direbut kemerdekaannya.

Kelak, kau akan mendengar cerita-cerita yang kurang menyenangkan, tapi percayalah; hanya ayahmulah satu kebenaran. Kau boleh tak percaya Bunda, tapi jangan ingkari apa yang ayahmu katakan. Sebab itulah Bunda memilihnya, menjadikannya laki-laki yang tak tersentuh perempuan lain. Dia nak, ayahmu yang lelaki bersenyum purba itu.

Dalam hidup yang pernah Bunda jalani nak, pernah ada saat Bunda tak setia. Tapi ayahmu laki-laki hebat, bukan bodoh, karena baginya mencintai hanya berarti mencintai saja. Di matanya Bundalah cinta itu.

Jangan pernah kau kira ayahlah yang beruntung mendapatkan Bunda, karena sesuangguhnya Bundalah yang beruntung mendapatkannya, sebagai manusia, sebagai karib, sebagai cinta.

Kau Ankasina, anak kami, dilahirkan untuk menjadi tangguh dan merdeka. Kelak, Bunda akan bercerita bagaimana cara ayah dan bunda bertemu. Sekarang , tanamkanlah dalam dirimu; ayahmu laki-laki sempurna terakhir yang dimiliki dunia.

peluk sayang
bunda

Yogyakarta, 23Juli2008 (2.09)

 
4 Comments

Posted by on July 23, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , ,

4 responses to “Ankasina Anakku

  1. artja

    July 24, 2008 at 8:29 am

    duh…

     
  2. baderiani

    July 24, 2008 at 9:47 am

    hemmmm mbak salut dechh

     
  3. Jessus My Salvation

    July 31, 2008 at 10:50 am

    Mbak keren banget
    seorang anak pasti menanamkan kebanggaannya akan ayahnya dalam dirinya, sesuatu hal yang luar biasa.

    duh sampai mau nangis bacanya hehehehe.

    hebat banget, ini keren banget duh sampai habis kata2 buat kagumi tulisan ini. aku jd inget ayah ku yang selalu aku kagumi entah karena dirinya entah karena hidupnya tapi aku benar2 kagum akan semua dari diri Ayah ku tercinta yang buat aku bangga akan dirinya dan selalu bercita-cita akan menjadi seperti dirinya kelak.

    Sekali lagi, keren banget mbak.

     
  4. herlinatiens

    August 2, 2008 at 3:47 pm

    Makasih ya🙂
    Seperti saya yang selalu bangga pada ayah saya. Saya juga mau kalau anak-anak saya kelak bangga pada ayah mereka..😀
    Duh, kalau dikasih kesempatan ma Tuhan kamsudnya ya😀

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: