RSS

Surat pada Am

19 Jul

Dear Am,
Am, kurasa memang hanya ada kamu yang bisa menjadi karib saat kecemasan menyergap malam tadi. Meski aku memaksamu untuk diam dan tak banyak bertanya selain basa-basi seperti; sudah makan apa belum, pulang jam berapa, dan atau baik-baikkah hari ini.

Sekali lagi, aku harus berterimakasih padamu sebagai karib. Teman jauh yang hanya bisa bicara lewat tulisan-tulisan kecil di sini. Sesekali kawat warna-warnimu terlihat menggodaku untuk tersenyum. Tapi begitulah, bila ada waktu untuk tersenyum, maka ada waktu juga untuk tak tersenyum.
Kalau kutanya; kau lelah? Capek? Mau istirahat? Dengan cepat kamu akan menjawab, “Ndak, saya ndak capek.” Padahal punggungmu yang meliuk seumpama kaca itu sudah retak dan butuh direbahkan. Maka dengan culas kumemandangimu dalam kotak kecil di monitor, “Jahatnya aku membuatmu menunggu.”

Kau selalu baik, meski mencurigai banyak hal dalam aku. Tapi begitulah sebagai karib, kau selalu mengerti. Pengertian yang lebih dari apa yang kau berikan pada kekasihmu mungkin. Nampaknya aku sudah berlaku tak adil padamu.
Jadi, sebagai karib, aku minta maaf.

Tadi memang sangat melelahkan. Bahkan untuk mengulangnya sebagai cerita padamu, aku tak punya kekuatan. Tak ada keinginan. Tak ada waktu. Sungguh.

Ada orang-orang yang mengatakan peduli padaku. Banyak yang lain mengatakan sayang. Tapi kurasa, sebagai karib, kau lebih tulus dari mereka. Bukankah begitu, Am?

Kalau aku pergi larut, kau menungguku. Kalau aku nampak lelah, kau selalu punya cara membuatku percaya bahwa hari esok masih ada, jadi tak harus takut untuk lelap. Begitulah, maka bila aku membuka kaca ajaib ini, akan muncul pesan-pesanmu yang serupa doa-doa lampau selalu berupaya menjeratku. Wajahmu Am, wajah yang ajaib itu selalu tersenyum, bahkan saat aku sangat membosankan dan jemu.
“herlina, kau menyebalkan.” berkata begitu kau lantas tersenyum dengan cepat sebelum aku sempat membalas, “Kalau ndak menyebalkan bukan aku, Am”

Aku seringkali mengulangnya, “Teman tak butuh penjelasan dan selalu bisa memberi maaf tanpa harus diminta.” Nah, kau lebih pandai mempraktikannya daripada aku yang gemar sekali memikirkan kalimat itu. Aku butuh waktu 5 menit untuk menerima segala hal, memberi maaf, dan melupakan. Tapi kau? Bahkan detik belum sempurna membulat, kau sudah melakukannya.

Am, di mataku, kau selalu nampak sederhana
dan apa adanya. Memiliki cara pandang yang seadanya dan sewajarnya saja. Kalau aku bilang, “Am, siapa bilang dia pendosa?” dengan cepat kau akan tersenyum dan bilang, “Iya, dia mungkin tidak berdosa di matamu herlina, tapi Tuhan punya cara lain menimbangnya.”

Maka bila kutanya, “Am? Kau mengapa tak suka menyanyi di gereja?” dengan lekas pula kau menjawab “Karena aku merasa bukan pelayan yang baik bagi Tuhan, rasanya seperti keparat kecil saat aku memimpin mereka memuji Tuhan, sementara aku melakukan sesuatu yang kurasa Tuhan tak pernah suka.”

Am, kau tak pernah berpintu satu. Tapi matamu itu Am, dari matamu itulah aku memasukimu serupa musafir kecil yang membaca dan mengenal isi rumahmu.

Sudah pagi Am, semoga lekas sampai mimpimu….

Salam sayang
20Juli2008

 
9 Comments

Posted by on July 19, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: ,

9 responses to “Surat pada Am

  1. Iloveyou

    July 20, 2008 at 4:55 pm

    Sopo itu cinta?

     
  2. Amrozi

    July 21, 2008 at 12:03 pm

    makasih, babe! (Amrozi)

     
  3. plutolove

    July 21, 2008 at 12:53 pm

    aku melentur seumpama karet yang terendam minyak tanah,,,memanjang,,bagai doa yang kuratapi tengah malam,,,sepotong kisah yang sempat menjerat hariku,,,memutus tawa,,,merenggut sukaku,,,alangkah damai memiliki sahabat tuk berbagi,,,am where a’u?

     
  4. ubadbmarko

    July 21, 2008 at 4:04 pm

    Romantissssss, salam kenal.

     
  5. Iloveyou

    July 21, 2008 at 5:15 pm

    Selamat sore cinta

     
  6. KiRa

    July 22, 2008 at 2:10 am

    Am, adakah kau cemburu??? Herlina kan memang menyebalkan, jadi tak ada guna mencemburuinya.. ;p

     
  7. herlinatiens

    July 22, 2008 at 3:04 am

    Am memang tak pernah cemburu, tapi kau yang selalu cemburu KiRa..puas nak? Kalau cinta bilang saja, masih pake mengatasnamakan behel. Hih…hehehe.

     
  8. plutolove

    July 22, 2008 at 1:06 pm

    cinta adalah segala muara,,,menjadikannya kata,rasa,,,so dimana kau tambatkan bening hatimu cah ayu,,,aku merasakannya senantiasa.makna dan jerat pada lukisan kata,,,seperti bintangkah?cemerlang,,,teduh,indah dan didamba,,,???

     
  9. herlinatiens

    July 23, 2008 at 2:14 am

    Terimakasih plutolove🙂
    Belum ketemu tambatan ini, bagaimana dong ya? Bagaimana? hehehe. Nuwun sudah main-main ke sini, sangat🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: