RSS

Monthly Archives: July 2008

kubuang kau di antara koran bekas dan kupon belanja

Kutemukan lagi suratmu di antara selipan koran bekas dan kupon-kupon belanja yang hendak kubuang. Kubaca ulang, tulisanmu yang mengapung di atas kertas mimpi bertahun dulu. Juga selembar foto yang ada di dalamnya, senyummu tak pernah nampak Pou. Sebagai lelaki bibirmu terkatup dengan cara yang seirama dengan mata yang layu.
Mengapa aku terus bersedih saat mengingatmu. Begitulah, pinggangmu seolah diterampilkan Tuhan sesuai dengan dadamu yang datar. Masih aku ingat kata-kataku sendiri; sayang, aku mencintai pinggangmu sebanyak aku mencintai hal-hal yang cerdas dan jenius.

Maka sekali lagi, seperti yang sudah, aku memasukkan surat itu ke dalam amplopnya yang berwarna kuning dengan lambang berayun di sudutnya. Bangganya kau di sana. Tapi ita berbeda, sangat berbeda. Senjataku hanya kata, bukan peluru dan mesiu seperti yang kau punya.

Kelak tak akan kita kenang. Bunyi cericit sepatumu yang licin oleh waktu. Gelang-gelang kecil untuk kita melempar harapan pada bibir-bibir botol yang digelar di pasar malam. Segalanya tak lucu untuk dingat sekalipun hanya sekian menit.

Kita membicarakan banyak hal. Tentang perwira-perwira muda yang merayakan kecemburuan dengan kudeta. Perihal gengsi masa kini sesame matra. Juga Munir yang menurutmu memang pantas mati karena terlalu banyak bicara. Kalau aku tak setuju, maka aku akan tersenyum. Tapi kau selalu tahu; “Kau pasti tak suka pendapatku.”

Kau dengan semangat yang jalang, bicara para prajurit kecil yang menjaga laut dan rempah. Pesawat-pesawat yang kau tertawakan. Kapal-kapal tempur yang musti dibesi tuakan. “Apa kau ingat Am? Dulu kita suka menyebut mereka penjahat masyarakat?”

“Itu dulu.”
Ya, memang itu dulu, saat rambutmu masih disisir dengan cara yg kusenangi. Berjalan dengan tatap mata yang alami. Bukan sekarang, saat kau mulai dan harus menata rambutmu sekian senti dan menajamkan mata meski tak ada yang mesti kau pertahankan selain harga diri dan usia.

Suatu sore, saat kau bangga dalam barisan lokananta di pesta agustus bertahun lalu, kita berdebat hebat. Kau kira kebebasan seperti apa yang bisa diraih seorang seperti aku? Atau seperti masyarakat yang kau kira buta dan tak bisa melihat kebenaran di luar sana? Kau menyebutnya doktris, tapi aku menyebutnya kebenaran. Kau menyebutnya letupan, tapi aku menyebutnya kematian!

Tapi Pou, surat-suratmu selalu manis. Meski bicara sekedar dan seadanya. Bukan perihal bertele-tele yang menggelambir bila keremajaanku yang kau kira alami memudar. Dan bukan rayuan yang bisa musnah bila cemburu bersahabat dengan jiwamu. Kita seringkali merasa seirama, meski tak senada. Kau lupa, kita memang sama sekali berbeda.

Kau bahagia, Pou?
Apa kau bahagia? Berapa banya teori Mao Tze Dong yang sudah dipraktikkan? Dan apa kau tetap tak suka jika aku mengutip Erich Fromm? Kau tak suka bila aku membaca buku-buku yang kau anggap konyol itu? Kau tak suka kalau aku menirukan bapakku ular-ular? Meski suaraku teramat busuk dan nadanya jadi blingsatan?

Benar katamu, butuh banyak waktu untuk menutup ini semua, meski tanpa menguras energi yang berarti. Ah, apa kau bahagia Pou?

Yogyakarta, 24Juli2008

 
7 Comments

Posted by on July 30, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Saya Jatuh Cinta….benar-benar….


Dini hari tadi dia datang, duduk dengan cara provokatif memandangi saya. Matanya kecil, serupa gemerlap berlian yang seakan selalu siap diciumi. Bibirnya mengembang oleh senyum, selalu bersedia untuk saya manjakan. Aduh Tuhan, saya jatuh cinta. Aduh setan, saya terpesona. Bergetar dada saya memandanginya begitu. Ada denyar-denyar halus yang sumpah mati belum pernah saya rasakan selain pada dia.

Matanya terus memandangi saya, seolah saya kebanggaan abadi baginya. Diabaikannya kanak-kanak yang menangis karena dicubit Ibu mereka. Diabaikannya perempuan-perempuan lain yang mencoba menarik perhatiannya. Dia memang hanya mendambakan saya. Sebagai kasih sayang yang tulus sepanjang jalan.

Dia memakai kaus berwarna putih, celana pendeknya memiliki saku di masing-masing sisinya. Pasti penuh dengan permen. Saya bohong kalau saya katakan tak bahagia saat memperhatikan lelaki yang terasa begitu karib itu dalam saya. Rambutnya ikal, ditarikan oleh angin laut. Aduh Tuhan, saya jatuh cinta lagi dan lagi padanya.

“Bunda, jangan lama-lama.”

“Bentar sayang. Duduk yang manis ya.”

Tak bisa tidak, seharian saya terus memikirkan laki-laki itu. Mungkin cinta yang sementara. Mungkin juga kerinduan sesaat. Sepertinya begitu. Maka esok hari, saya berharap semuanya berakhir. Saya tak merasa siap untuk menyediakan diri untuk bisa memilikinya.

Maka saya mencoba memanjakan mata saya dengan melihat-lihat banyak wajah yang menarik di kotak ajaib ini. Memang tak ada yang seistimewa dia. Tak ada yang semanis dia.

Dia memang anak saya, anak yang -akan- lahir dari rahim saya. Begitulah, kelak. Menunggumu sayang, hari-hari akan terasa lama. Detik menjadi sunyi dan dingin. Tapi telah kupertaruhkan hidup dan cinta hanya untuk memenangkanmu kelak.

an kasi na

kaulah kemerdekaan baru yang lahir dariku
kebenaran paling sejati dan purba dari dunia
dari segala rahasia yang tak terduga

kelak kau memerdekakan karib dan lawan
memiskinkan bicara dengan sikap dan perilaku
anakku!

maka kau akan pernah capai
maka kau akan pernah terluka
maka kau akan pernah menangis
maka kau akan pernah marah
karena kau berjiwa
bukan segumpal daging bernyawa

tanganmu tak pegang senjata
karena kami mengajarimu aksara
hatimu tak membatu
karena kami memahatmu dari doa
kakimu tak menginjak luka
karena kami meminangnya dari sejarah

maka kau akan pernah kecewa
maka kau akan pernah menyesal
maka kau akan pernah bersedih
maka kau akan pernah patah
karena kau manusia biasa

Yogyakarta, 23Juli08

 
5 Comments

Posted by on July 24, 2008 in Catatan Hari Ini, Puisi

 

Tags: , , ,

Ankasina Anakku

Ankasina, Bunda akan bercerita padamu Nak.

Ayahmu tak pernah benar-benar lahir dari rahim manusia. Dia lahir dari langit, saat matahari pelan-pelan menyergap bumi. Itulah mengapa, ayahmu menjelma menjadi manusia yang bijak dan kasih pada sesama.

Bila kesedihan meraihnya, karena Bunda membuatnya kesal, dia akan terlebih dulu memaafkan dan dengan cepat tersenyum pada Bunda.

Ayahmu Nak, laki-laki yang menjadikanmu remaja tangguh, adalah laki-laki hebat terakhir yang dimiliki dunia. Dialah satu-satunya kejujuran yang dimiliki manusia, milik semesta, milik perempuan, milik kami, milik kita. Milik Bunda seluruhnya. Kebenaran berikut cinta dan jiwanya.

Maka kau tak dilahirkan untuk menjadi pecundang pada segala hal. Kau merdeka, karena lahir dari rahim yang merdeka. Kami tenun kau dengan kasih dan doa semua manusia. Tapi begitulah, dialah laki-laki hebat terakhir yang dimiliki dunia. Maka, bila suatu saat kau melakukan satu kesalahan, Bunda dan dia Ayahmu akan menerima, akan memaafkan. Tapi ingatlah sayang, kau tidak kami lahirkan untuk menjadi lemah. Kami lahirkan kau untuk menjadi tangguh.

Kau boleh memilih untuk menjadi miskin, tapi bukan bodoh. Kau boleh memilih menjadi pendiam, tapi bukan pecundang. Kau merdeka, tapi kemerdekaan yang kau punya semata untuk memerdekakan manusia yang lain yang tertindas dan direbut kemerdekaannya.

Kelak, kau akan mendengar cerita-cerita yang kurang menyenangkan, tapi percayalah; hanya ayahmulah satu kebenaran. Kau boleh tak percaya Bunda, tapi jangan ingkari apa yang ayahmu katakan. Sebab itulah Bunda memilihnya, menjadikannya laki-laki yang tak tersentuh perempuan lain. Dia nak, ayahmu yang lelaki bersenyum purba itu.

Dalam hidup yang pernah Bunda jalani nak, pernah ada saat Bunda tak setia. Tapi ayahmu laki-laki hebat, bukan bodoh, karena baginya mencintai hanya berarti mencintai saja. Di matanya Bundalah cinta itu.

Jangan pernah kau kira ayahlah yang beruntung mendapatkan Bunda, karena sesuangguhnya Bundalah yang beruntung mendapatkannya, sebagai manusia, sebagai karib, sebagai cinta.

Kau Ankasina, anak kami, dilahirkan untuk menjadi tangguh dan merdeka. Kelak, Bunda akan bercerita bagaimana cara ayah dan bunda bertemu. Sekarang , tanamkanlah dalam dirimu; ayahmu laki-laki sempurna terakhir yang dimiliki dunia.

peluk sayang
bunda

Yogyakarta, 23Juli2008 (2.09)

 
4 Comments

Posted by on July 23, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , ,

Surat pada Am, ii

Dear Am
Am, sahabatku sayang. Mari aku ceritakan yang selanjutnya. Karena malam kemarin jemariku begitu lunglai, sampai-sampai tak sanggup menata satu kalimatpun dengan baik.
Jangan, jangan terburu-buru mencemaskanku. Ini hanya cerita kecil. Dongeng sebelum tidur yang akan menjadi biasa 5 menit setelah ini. Dilupakan esok hari. Dan tak berbekas selanjutnya.

Begini Am,
Dia, perempuan yang pandai menanak sunyi itu akan kehilangan gelap setelah hari ini. Hari-hari yang sunyi akan meriah oleh duka. Sebentar lagi, dia akan kehilangan dirinya yang tak pernah meriah oleh duka bagi tubuhnya sendiri.

Ajaib, kerinduan telah berhasil –sekali lagi- merubah seseorang dalam dia, malam tadi.

Begitulah, dia menemukan seseorang dalam situasi yang serba hiruk. Menjadi perempuan yang manis. Matanya berbinar meski kesal menyergapnya. Segala sikapnya menjadi begitu remaja dan menarik di mata seseorang itu. bahkan seseorang itu menjadi tak sangsi lagi; dialah perempuan itu! Satu-satunya milik lelaki!

Adakah dia jatuh cinta? Tentu tidak, tapi apa? Sekali lagi Am, dia merasa bersalah. Dalam dirinya tertanam; Ah, lagi, aku seperti remaja culas yang membuat seorang tua menangis sembari menenggak tawa.
Ah bodoh dia ya?

Am, apakah kau mengerti apa yang sedang kubicarakan sekarang ini? Pasti tidak. Aku sendiri tak yakin saat menuliskan ini.

Kubuka rahasia kecil tentangnya padamu ya Am. Perempuan itu, yang pandai menanak sunyi itu memiliki seribu pintu yang membelitnya serupa ular-ular kecil. Pada hari-hari tertentu dia merasa yakin akan mati begitu malam menyergapnya. Tapi di hari lain, dia merasa Tuhan terlalu jahat dan berlaku tak adil karena memberinya umur panjang. Begitulah, maka hari-harinya dihabiskan dengan menyiksa diri sendiri.

Kalau seseorang mendekatinya Am, dia akan cepat-cepat menutup diri. Kalau seseorang berusaha meraihnya, dia akan menjadi belati bagi dirinya sendiri. Kau bilang dia racun? Bukan, jangan, dia hanya seorang perempuan.

Aduh, bagaimana aku hendak menuliskannya? Kau paham tidak Am? Aku memang tak pandai bercerita. Tak pandai menuliskannya. Pendeknya Am, perempuan yang kau bilang gila itu, secepatnya akan kehilangan sunyi. Secepatnya…..

Am, kau mengerti tidak dengan maksudku? Dia Am, dia, duh bagaimana mengatakannya? Seorang lelaki Am, membawa linggis bercahaya untuk mencongkel pintu dalam hatinya. Dan kau tahu Am? Kau tahu mengapa perempuan gila itu cemas? Karena, begitulah…entah

Pelan
Pelan

Salam sayang

 
9 Comments

Posted by on July 21, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags:

Surat pada Am

Dear Am,
Am, kurasa memang hanya ada kamu yang bisa menjadi karib saat kecemasan menyergap malam tadi. Meski aku memaksamu untuk diam dan tak banyak bertanya selain basa-basi seperti; sudah makan apa belum, pulang jam berapa, dan atau baik-baikkah hari ini.

Sekali lagi, aku harus berterimakasih padamu sebagai karib. Teman jauh yang hanya bisa bicara lewat tulisan-tulisan kecil di sini. Sesekali kawat warna-warnimu terlihat menggodaku untuk tersenyum. Tapi begitulah, bila ada waktu untuk tersenyum, maka ada waktu juga untuk tak tersenyum.
Kalau kutanya; kau lelah? Capek? Mau istirahat? Dengan cepat kamu akan menjawab, “Ndak, saya ndak capek.” Padahal punggungmu yang meliuk seumpama kaca itu sudah retak dan butuh direbahkan. Maka dengan culas kumemandangimu dalam kotak kecil di monitor, “Jahatnya aku membuatmu menunggu.”

Kau selalu baik, meski mencurigai banyak hal dalam aku. Tapi begitulah sebagai karib, kau selalu mengerti. Pengertian yang lebih dari apa yang kau berikan pada kekasihmu mungkin. Nampaknya aku sudah berlaku tak adil padamu.
Jadi, sebagai karib, aku minta maaf.

Tadi memang sangat melelahkan. Bahkan untuk mengulangnya sebagai cerita padamu, aku tak punya kekuatan. Tak ada keinginan. Tak ada waktu. Sungguh.

Ada orang-orang yang mengatakan peduli padaku. Banyak yang lain mengatakan sayang. Tapi kurasa, sebagai karib, kau lebih tulus dari mereka. Bukankah begitu, Am?

Kalau aku pergi larut, kau menungguku. Kalau aku nampak lelah, kau selalu punya cara membuatku percaya bahwa hari esok masih ada, jadi tak harus takut untuk lelap. Begitulah, maka bila aku membuka kaca ajaib ini, akan muncul pesan-pesanmu yang serupa doa-doa lampau selalu berupaya menjeratku. Wajahmu Am, wajah yang ajaib itu selalu tersenyum, bahkan saat aku sangat membosankan dan jemu.
“herlina, kau menyebalkan.” berkata begitu kau lantas tersenyum dengan cepat sebelum aku sempat membalas, “Kalau ndak menyebalkan bukan aku, Am”

Aku seringkali mengulangnya, “Teman tak butuh penjelasan dan selalu bisa memberi maaf tanpa harus diminta.” Nah, kau lebih pandai mempraktikannya daripada aku yang gemar sekali memikirkan kalimat itu. Aku butuh waktu 5 menit untuk menerima segala hal, memberi maaf, dan melupakan. Tapi kau? Bahkan detik belum sempurna membulat, kau sudah melakukannya.

Am, di mataku, kau selalu nampak sederhana
dan apa adanya. Memiliki cara pandang yang seadanya dan sewajarnya saja. Kalau aku bilang, “Am, siapa bilang dia pendosa?” dengan cepat kau akan tersenyum dan bilang, “Iya, dia mungkin tidak berdosa di matamu herlina, tapi Tuhan punya cara lain menimbangnya.”

Maka bila kutanya, “Am? Kau mengapa tak suka menyanyi di gereja?” dengan lekas pula kau menjawab “Karena aku merasa bukan pelayan yang baik bagi Tuhan, rasanya seperti keparat kecil saat aku memimpin mereka memuji Tuhan, sementara aku melakukan sesuatu yang kurasa Tuhan tak pernah suka.”

Am, kau tak pernah berpintu satu. Tapi matamu itu Am, dari matamu itulah aku memasukimu serupa musafir kecil yang membaca dan mengenal isi rumahmu.

Sudah pagi Am, semoga lekas sampai mimpimu….

Salam sayang
20Juli2008

 
9 Comments

Posted by on July 19, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: ,

jilbab vs g-string


tuhan kecil

; beginilah saya nampak jelata sahaya dalam cinta
maka bila kau ratakan rumah sampai kepala

kau tetap pahala
akulah dosa

saat pagi merubahku menjadi kepompong padamu
dan siang tak sempat jadi kupu
itu juga kebenaran
kau tetap tu an

tu an
kuterima kau sebagai jahitan
sebab surga hanya neraka yang tak lekas
dari kebaikan yang tak kau benarkan

tak akan kuselimuti tubuhku
sebab dengan telanjang aku menantangmu

(yogya, 14Juli2008)

 
20 Comments

Posted by on July 14, 2008 in Puisi

 

Tags: , ,

menjahit puisi, 2

(ni berpura-pura menjadi tokoh Banowati) Bhisma sedang belajar menjadi sepatu. Di kampung yang lain seorang pemburu sedang membakar surat-surat untuk babinya, mencampurnya dengan darah sendiri, lantas menjahit puisi baru dari situ.

Seorang perempuan, sebut saja Banowati, begitu kata Bhisma, adalah perempuan yang kabarnya agak genit dan pernah naksir Arjuna. Saat ini si perempuan yang senja hari menjelma Sriti tengah mematung membaca tulisan-tulisan bersayap yang menceritakan perjalanan-perjalanan kecil.

Diam-diam, saya mencuri selinap masuk ke dalam kamar Banowati, merebut puisi-puisi yang ada untuk saya baca diam-diam tanpa sepengetahuan ketiganya.

.: jalan pulang :.

maka lahirlah puisi dari sol sepatu tua itu
bersama kelahiran penyair bernama batu
berjalan berdua mereka bertemu perempuan yang disangkanya babi banowati
berangkat ke selatan, bertiga sampai di utara

“tak ada lagi sriti di kota ini, tuan.”

mari kita rayakan pertemuan dengan berpisah
bawalah serta kopi dan tikar
cukup untuk bertiga meluruskan hati
tak ada pertanyaan
masing-masing akan pulang dengan jawaban

“saling belajar mengenal sepatu dulu saja tuan!”

jangan tergesa menjadi
karena sepatu-sepatu tak pernah sesetia yang kau kira
pada tahun yang datang
sepatu mendekap terlalu erat

oh, tahun belum juga berganti, tapi kau telah berubah, sayang!

(yogyakarta, 9Juli2008)

 
10 Comments

Posted by on July 9, 2008 in Catatan Hari Ini, Puisi

 

Tags: