RSS

suami yang lupa

28 Jun

Dia nampak lain. Seperti tak biasa, dia akan diam-diam saja kalau rokoknya saya ambil dan saya simpan ke dalam tas. Dia menghilang diam-diam. Seperti tampak sembunyi dan bosan. Tapi selalu diam.
Kalau saya tanya, ”Kenapa Mas?” dia akan tersenyum lalu menggeleng. Saya tak ingin peduli, memang begitulah seharusnya. Bukan hobi saya untuk berakrab-akraban dengan orang lain. Saya tak kenal siapa dia, selain karena saya satu kantor dengannya. Anggaplah begitu.

Biasanya dia akan menjemput saya di kost. Atau mengantarkan saya pulang tengah malam begitu ada lembur. Tapi saya tak ingin bertanya-tanya tentangnya. Apalagi iseng bertanya siapa pacar dia dan semacamnya. Bagi saya, dia memang nampak sendiri dan tak berkawan.

Saya tak ingat, kapan dia menelepon dan menerima telepon seseorang saat bersama. Jadi tak ada alasan bagi saya untuk memikirkan apakah dia seorang suami atau seorang bapak dalam sebuah keluarga. Saya juga tidak dengan sengaja melihat jari manisnya yang tanpa cincin.

Tapi selepas makan siang, dia bilang pada saya dengan nada yang aneh, ”Ren, nanti jam empat aku musti pulang sebentar, ada urusan kecil. Jadi aku bisa mengantarmu sekalian kalau mau pulang ke kost, sebelum kita ke luar kota.”
”Ah tidak, terimakasih, aku bisa pulang sendiri nanti.”
”Bukan begitu maksudku, nanti kan bisa aku jemput lagi.”
”Lho, aku juga ndak ada maksud. Cuma rasanya pulang sendiri lebih enak.”
”Ya sudah, aku ndak jadi pulang.”

Nah, sejak sore itu saya rasa ada yang berbeda. Dia menjadi lebih sering melamun. Kalau saya bertanya ada apa, dia akan tersenyum dan menggeleng. Ya sudah, sekali lagi, itu bukan urusan saya.
Sepanjang jalan, saat ke luar kota atau saat menjemput dan mengantar pulang ke kost, kami masih seringkali hanya diam. Ini tentu saja membuat saya bertanya-tanya, kiranya hubungan seperti apa yang tanpa kami sadari telah lahir. Tapi lagi-lagi, saya tak memiliki keinginan untuk membahasnya.

Saya rasa, pertengkaran dan diam yang terjadi antara kami begitu santun. Perselisihan-persilihan yang wajarnya hanya terjadi di antara sepasang kekasih. Ah, saya tak peduli. Saya menganggapnya sebagai teman kantor belaka.

Suatu hari dia dengan tanpa alasan, menunjukkan email-email dia dengan seorang perempuan, ”Nah, ini perempuan yang dulu kucintai.”
Saya tersenyum mendengarnya. Membaca email-email itu tanpa cemas apalagi prasangka. Tanpa beban yang berarti, saya memperhatikan tahun dan tanggal yang tercetak.
”Pernah atau masih? Wew, masih disimpan yang beginian?”
”Pernah saja.”
”Kalau aku mana mau punya pacar yang beginian Mas.”
”Maksudnya?”
”Ya, berhadapan dengan kenangan jauh lebih sulit daripada dengan seseorang itu sendiri.”
”Kok?”
”Iya, kenapa? Yang pernah patah hati aku tak mau, yang pernah ditolak aku tak sudi. Apalagi yang berkali-kali. Aku mau yang tak tersentuh.”
”Kok begitu?”
”Ya memang begitu.”
”Sama bayi saja kalau gitu.”
”Itu lebih baik.”
”Ini hanya buat catatan saja kok.”
”Wew, bukan jamannya lagi memiliki romantisme senja begini.”

Tiba-tiba saya seperti salah bicara. Diapun terlihat seperti merasa salah bersikap. Tapi saya hanya cengar-cengir, mencoba mengabaikan pertanda yang hampir sampai. Dengan cepat dia menutup laptopnya, mengajak saya ke kantin berdua saja. Dengan tanpa banyak bicara, saya mengikutinya. Berjalan berdua begitu, kami hanya diam.

Hal-hal ganjil memang lebih banyak lahir. Misalkan, mengapa kami harus merasa tak enak akan
pertengkaran kecil itu. Mengapa kami begitu sungkan sekaligus lugas tiap hari berebut membayar bill di kantin. Mengapa kami begitu aneh saat berebut mengambil minuman tambahan. Bukankah kami hanya sepasang sahabat?

Kalau saya menerima telepon dari banyak laki-laki yang sedang mendekati saya tanpa harus menyingkir dari hadapan dia, itu sudah pasti karena memang saya merasa itu hal yang paling benar. Meski saya melihatnya sering pura-pura tak mendengar pembicaraan saya. Ah, memang tak ada yang harus dipedulikan.

Siang itu, dia meninggalkan saya begitu saja saat sedang mendiskusikan sebuah proyek baru. Tiba-tiba dia datang sambil meletakkan dua botol minuman di hadapan saya, juga dua kotak kecil es krim. Belum selesai kaget saya, dia mengulurkan tangannya, memberikan sesuatu dalam bungkusan kecil berwarna bening sembari berkata, ”Rambutmu berantakan tu.”

Oh, saya hanya diam tanpa mengucapkan terimakasih. Ada tali berwarna ungu di dalam plastik itu. Pilihan yang sangat buruk, pikir saya. Norak sekali tali rambut itu di mata saya. Hanya untuk menghargainya saja, saya berpura-pura senang dan memakai tali itu di rambut saya.

Nah, saat jemari saya sibuk merapikan rambut itulah saya sadar. Pagi saat dia menjemput saya, saya bicara ”Duh, aku kok pingin es krim ya.” Saya rasa, apa yang dilakukannya kebetulan saja. Lagipula saya tak ingin memakan es krim itu. Lagi-lagi pilihan yang salah. Saya mana suka es krim vanila begitu. Rasanya aneh di lidah.

***

”Lupa juga? Dulu aku bilang, aneh mengapa menyimpan email-email dari masa lalu. Kalau sampeyan ngerti, mustinya tanpa kubilang sampeyan sudah tahu, kalau itu tidak menyenangkan buatku. Duh, masak gitu aja musti dijelasin juga.”
”Iya, maaf, Mas nggak ada maksud apa-apa.”
”Wew, gini deh gini, jangan segala hal musti diajari. Ini bukan perkara diajari dan mengajari. Aku bukan guru dan sampeyan bukan murid. Lama-lama aku bosan dan berasa mau pergi saja.”

Ya, sekarang, saya telah menjadi istrinya. Dan masih ada banyak hal yang selalu salah. Misalkan, mengapa dia selalu salah memesankan kentang goreng dengan taburan keju di atasnya. Atau salah memilihkan parfum kesukaan saya. Atau juga salah menakar gula ke dalam kopi panas saya. Itu pasti karena dia tidak mencintai saya. Sampai melupakan hal-hal kecil tentang saya.

Sementara saya tahu, butuh berapa sendok gula untuk secangkir teh-nya. Butuh telur sematang apa untuk makan malamnya. Pendeknya saya hafal kebiasaan dia. Saya selalu marah, dan dia selalu diam sembari minta maaf. Saya tak senang dan bosan mendengarnya.

Saya tahu, mawar-mawar putih di hari ulang tahun perkawinan kami akan membuatnya terharu. Tapi dia lupa, saya benci bepergian di tahun baru dan di banyak hari yang lain. Saya tahu dia suka kalau saya memasak semur ayam berasa aneh itu, di hari-hari spesial kami. Tapi dia lupa, saya akan mual dan berasa akan muntah kalau makan bubur ayam dan nasi goreng. Saya tahu dia akan senang kalau bangun tidur sudah ada segelas teh hangat untuk dia. Tapi dia tak ingat, saya harus berpura-pura senang atas coklat putih yang dia berikan untuk kejutan di hari minggu pagi.

Nah, saya memang mulai sering merasa kesal dengan cara kerja ingatan dia. Saya tak suka kalau harus menjelaskan sesuatu berulang kali. Menjawab pertanyaan yang sama, dan selera makan yang menghilang karena pesanan yang salah.

Saya mulai yakin, dia memang tidak mencintai saya. Bagaimana mungkin hal-hal kecil bisa terlupa. Sementara saya bisa tahu, jam berapa dia akan mendengkur dan suara apa yang bisa membangunkan lelapnya. Saya bosan, sangat bosan. Saya mulai benci dengan kalimatnya, “Maaf, Mas lupa. Mas salah karena Mas pelupa!”

Sore tadi, saat dia mandi, saya membuka-buka handphonenya. Ini bukan hobi saya, tapi entah mengapa saya begitu ingin membuka barang kecil itu. Dalam sebuah folder, saya menemukan sebuah catatan kecil yang membuat saya harus menahan tawa sekaligus haru. Friedchicken harus pedas dan sayap. Tidak suka wortel dan buncis. Benci sosis. Kopi; gulanya sesendok kecil. Parfum merk; lupa lagi. Es krim hanya yang ada chocochipnya! Celana ekstra small merk Dust. Dan begitulah daftar itu terus memanjang.

Dia juga mencatat, kapan, dimana, kenapa dan berapa lama saya marah. Dia menandai setiap tanggal dengan beberapa istilah. Oh, saya begitu merindukannya. Tiba-tiba saya tahu, betapa saya menginginkan dia untuk saya. Begitu mendengar dia keluar dari kamar mandi, saya cepat-cepat mengembalikan handphone itu ke atas meja. Dengan cekatan, saya meraih sebuah majalah dan berbaring di ranjang. ”Sudah mandinya, Mas?”

”Sudah, oiya, ini kan malam minggu kita jalan-jalan yuk, makan nasi goreng di jalan Wonosari.” belum sempat aku menjawab, dia sudah bicara lagi, ”Eh maaf, sayang kan nggak suka nasi goreng, makan di rumah saja. Mas buatin telur ya?”
”Siapa bilang? Sekarang suka kok. Tapi cium dulu!”

Yogyakarta, 2008

 
7 Comments

Posted by on June 28, 2008 in Cerita-cerita Pendek

 

Tags: , , ,

7 responses to “suami yang lupa

  1. suhadinet

    July 1, 2008 at 5:13 am

    Bagus sekali cerpennya. Mengupas sebuah hubungan yang begitu complicated. Salut.

     
  2. herlinatiens

    July 5, 2008 at 6:23 pm

    Terimakasih mas Suhadi🙂 Salam kenal ya…

     
  3. arief_dj

    July 10, 2008 at 1:10 am

    ..wah.. keren bener.. alur-nya itu lho.. jadi semacam cerpen penggugah jiwa..

     
  4. herlinatiens

    July 10, 2008 at 6:55 am

    Terimakasih mas Arief_dj, nanti saya belajar yang lain dari njenengan ya🙂

     
  5. arfan

    July 10, 2008 at 7:40 pm

    cerpennya bagus,
    tar saya inget2 kalau sudah ‘jadi’ 🙂

     
  6. Jessus My Salvation

    July 17, 2008 at 5:23 am

    Wah cerpen yang indah dan romantis sangat mengalun saya cukup salut pada mbak her, saya mulai terkesima pada kalimat-kalimat awal, sip banget.

    Salut, salut.

     
  7. herlinatiens

    July 19, 2008 at 9:47 pm

    @ arfan: Jadi apa kamsudnya? Oh kalau jadi suami? menikahi seorang perempuan? Tidak semua perempuan bersikap/bersifat sama dengan tokoh di dalam SUAMI YANG LUPA kok…

    @ Jessus My Salvation: Salut salut atau Saut Saut? Kalau Saut itu penyair di Yogya. Terimakasih komentarnya…semoga saya bisa terus belajar dari banyak hal. Amien dan puji tuhan.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: