RSS

perempuan yang -belum- menjadi selebriti, 2

19 Jun

Semalam, seorang teman lama -kenalan di pesawat menuju Jakarta beberapa tahun lalu- menelepon saya. Dia mungkin dengan sedikit mabuk bicara bahwa baru saja memutuskan untuk kembali menjalani profesi lama yang ditinggalkannya. ”Selamat, jadilah yang profesional kalau begitu. Jangan menjadi yang telentang, menyelesaikan jasa yang disewa dengan berpura-pura orgasme, sudah.”

Dia menangis saat saya bicara begitu. ”Mengapa menangis?”
”Kenapa kamu tidak menahanku, jangan itu dosa atau jangan penyakit menular akan mengejarmu seperti dulu. Kau tidak sayang lagi padaku?”
”Tentu aku masih sayang, tentu aku selalu menyayangi kamu. Justru itulah aku mendukungmu.”
”Tapi dulu kau bilang, kalau kau tak percaya ahli agam tidak apa-apa, tapi jangan sampai tak percaya Tuhan. Kalau kau tak percaya dosa, itu terserah, tapai jangan tak percaya penyakit menular seksual akan mengejar.”
”Itu dulu, saat aku merasa harus mengatakan itu. Tapi kurasa, tidak tepat aku mengulang kalimat yang sama.”
”Aku tidak mau, sebenarnya aku tidak mau.”
”Kau harusnya mengatakan, herlina mengapa aku tergoda kembali lagi. Bukannya, herlina aku memutuskan kembali lagi ke dunia itu.”
”Ya, aku butuh duit.”
”Itu jalan yang paling terbuka dan gampang bagimu saat ini? Silahkan, lanjutkan. Tapi pernahkah kau merasa benar-benar tak membutuhkan uang? Dan pernahkah kau berpikir? Kecantikanmu akan memudar suatu saat dan segera saja kau tak akan dikenang sebagai apapun selain perempuan yang membangkitkan gairah beberapa lelaki dalam semalam.”
”Sebenarnya kau tidak suka kan aku kembali? Tapi mengapa kamu tidak mengatakannya.”
”Mungkin, tapi kalau itu maumu ya sudah? Kalau mau jadi profesional, jangan seperti Maria, yang membaca buku-buku pengetahuan seksual dan menonton film-film bokep. Oh, maaf kamu tidak tahu siapa Maria. Beberapa hari kemarin, aku membaca buku Eleven Minutes tulisan Paulo. Nah, Maria ini si tokoh utama yang kebetulan juga dia seorang pelacur. Latihlah dirimu dengan membaca, jadi kalau pejabat datang mereka akan sedikit lebih senang kalau kau bisa nyambung berbincang dengan mereka.”
”Ah, mereka cuma mau itu dan sudah. Membayarku dan selesai.”
”Oh begitu? Tak pernah bertanyakah kau pada dirimu? Bahwa mereka datang untuk membeli kebahagian semu yang bisa dibayar? Apakah kau kira kebahagiaan itu hanyalah urusan seks semata? Oh mungkin aku salah, karena aku tidak tahu bagaimana duniamu terus berjalan dan aku hanya orang luar.”
“Jadi bagaimana? Malam besok aku ada janji dengan orang Jakarta.”
“Janji harus dibayar bukan? Tapi kau tidak harus melaksanakan sepenuhnya. Sudahlah, karena dulu uang begitu mudah kau dapat dari situ, berhasil mencukupi banyak hal dengan melakukan itu, kau tersiksa sekarang, ketika teman-temanmu bisa mengganti ini itu. Sebenarnya alasannya hanya uang kan? Bukan sesuatu yang harus kau penuhi karena tak ada. Semacam perut yang lapar dan Ibu yang sakit tak ada biaya periksa. Kalau hanya menjadi SPG memang tak cukup memenuhinya. Banyak yang mengatasnamakan memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai uang kuliah. Ah yang benar? Aku tidak harus menelentangkan tubuh serupa peta di ranjang untuk membiayai kuliahku dulu, sayang!”
“Tapi kau menulis.”
“Salah! Aku menjual mulutku untuk memberikan les privat ke anak2 sekolah dulu.”
“Tapi aku tidak pintar!”
“Kalau kau tekun juga bisa. Aku hanya lulusan SMK waktu itu.”
“Tapi kita kan berbeda, herlina, kau kira kau memahami? padahal kau sudah curang kalau melihat kita ini manusia yang sama. Jelas berbeda! Aku ingin bisa membuat usaha sendiri dari situ. Kalau sudah berhasil, aku akan berhenti.”
“Mungkin aku curang, karena berharap kau pun bisa. Tapi sudahlah, makanya tadi aku bilang, lanjutkanlah jadilah Mata Hari, atau siapapun yang bisa membuatmu senang. Kurasa, itu seperti candu. Saat kau berjanji akan berhenti, saat itu pulalah godaan yang lebih memikat datang menyergapmu.”
(Mungkin di sini dia mengira matahari yang terbit dari dari Timur dan Tenggelam di Barat. Sudah, saya capek menjelaskan padanya.)
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Besok bagaimana?”
“Sebenarnya kau hanya butuh orang untuk merantai kakimu agar tak kemana-mana besok kan? atau sebaliknya, kau membutuhkan orang yang terlalu mendukungmu hanya agar merasa punya kawan menanggung derita dan perasaan berdosa.”
“Aku besok berangkat.”
“Berangkatlah, jadilah besar dari situ. Jangan lupa pakai kondom!”

Masih panjang percakapan kami. Sesekali dia masih menangis. Saya tak sedih menutup telepon dari dia setelahnya. Benarkah hidup yang dia pilih itu salah? Saya ingat kata-kata di buku Eleven Minutes; Aku ini pelacur luar dalam, dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku sangat pelacur. Dan juga kalimat dalam buku saya sendiri di Sebuah Cinta yang Menangis; Aku hanya ingin menjadi pelacur. Bercinta dengan tiga orang perempuan sekaligus. Bersetubuh dengan tiga laki-laki sekaligus.

Kalau saja dia bisa dengan lugas mengatakan pekerjaannya sekarang seperti Maria. Bila seseorang bertanya, “Bekerja apa?” dia akan menjawab, “Menyewakan tubuh.” “Ha? Maksudnya?” “Ya saya pelacur.” Mungkin dia tidak menangis malam tadi. Tapi langsung saja, barisan orang-orang sok suci akan melemparinya dengan keranjang penuh tahi. Masyarakat -beberapa deh- yang phobia dan munafik akan menghujatnya seolah-olah paling tahu dosa apa yang akan diterimanya kelak sesudah mati.

Saat menuliskan ini, mungkin dia tengah tersenyum pada tamunya di sebuah lobby hotel. Saya berharap dia baik-baik saja malam ini dan seterusnya.

 
9 Comments

Posted by on June 19, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

9 responses to “perempuan yang -belum- menjadi selebriti, 2

  1. fisha17

    June 20, 2008 at 3:27 am

    halo non.. pa kabar? lama neh tak maen kesini. novelnya tambah keren2 ajah. Ada novel komedi gak?? aku lagi pengen baca2 yang bikin ketawa nih, biar gak manyuun terus…😆 . Bikin dong tulisan2 yang bikin ngikik..

     
  2. udah

    June 22, 2008 at 11:18 pm

    cerita yang udah biasa

     
  3. wawan

    June 24, 2008 at 4:33 am

    Tulisanmu.

     
  4. ashardi

    July 10, 2008 at 5:36 am

    wiiii… mbois… ini baru setara sama Pengakuan, 3

     
  5. ashardi

    July 10, 2008 at 7:14 am

    iya nih… lagi sok sibuk😆
    weh… MP itu apa to? Malang Post?

     
  6. herlinatiens

    July 10, 2008 at 7:18 am

    HAhaha..ngenyek ini, orang IT senengane ngenyek

     
  7. anton ashardi

    July 10, 2008 at 1:31 pm

    Mana ada orang IT senengane ngenyek… orang IT itu senengane utek2 komputer, maen game, sama baca komik… :p

    Ngeyek ini, penulis senengane ngenyek…😀

     
  8. herlinatiens

    July 10, 2008 at 3:52 pm

    Ada ya ini yg bis komentar🙂
    utak utik komp itu termasuk hacker, carding dll itu ya? heheheh😉
    jadi okley ada turun lagikah?

     
  9. ashardi

    July 11, 2008 at 2:10 pm

    Ya semacan itu tapi ndak bener2 kaya gitu yoo… cuman utek2, ndak sampe buat cari nafkah… kan haram😀

    btw, apanya yang turun?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: