RSS

kawin, kawin, dan kawin!

15 Jun

.: dia bilang asu, saya menyebutnya segawon!

1.
Gadis itu, yang menyediakan diri pada kehidupan, sedianya dia tak menangis. Harusnya dia tertawa, atau cukuplah berdiam. Disuruh kawin bukannya enak? Tapi menikah, bukan untuknya. Bukan tugasnya.
Mulut tetangga akan terus berbunyi serupa daun-daun yang terusik angin.
Kalau dia bahagia dengan pilihan hidupnya, tetangga akan cemburu dan iri “mengapa anak gadisku tak seperti dia juga?”

Kalau dia menderita, tetangga akan senang meski berpura-pura simpati dengan bilang, ”oh, sabarlah, mungkin itu cobaan.” Tapi sungguh, dalam hati mereka akan tertawa. ”Makanya, jangan sok pintar dan sok lebih tahu.”

Tapi, otak dan pikiran para tetangga tentunya dibebat oleh tradisi dan nilai adat yang seringkali kurang benar (atau salah bahkan). Jadi dia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kalau orangtuanya bertanya, ”Kapan menikah? Semua perawan di kampung sudah menikah, orang-orang mempertanyakanmu, nak.”

Orangtua si gadis lupa, bahwa anaknya tidak dilahirkan sebagai perempuan bodoh yang yang menyelesaikan pendidikannya dengan apa adanya, tanpa cita-cita yang berarti, tanpa impian menjelajah tempat-tempat yang jauh. Bukan gadis-gadis sederhana yang menghabiskan waktu dengan berdiam di kampung halaman, menunggu seorang lelaki, menikah, memiliki anak, dan mengulang tradisi yang sama; menggunjing orang!

Ya, menjadi sederhana memang tidak salah. Tapi akan berubah keparat kalau mulai menggunjingkan orang seolah tak ada pekerjaan yang lebih menyehatkan selain membuat orang lain merasa tertekan jiwanya.

Gadis itu punya cita-cita. Punya kemauan yang sama kuatnya dengan tradisi yang berlangsung. Tapi, sekarang si gadis sedang bersedih. Dia menangis tapi merasa semakin konyol bila mempedulikan mulut usil.

2.
”Ibu, perihal saya tidak menyegerakan pernikahan, itu jelas karena alasan yang berbeda.”
“Iya Ibu tahu.”
“Tidak, Ibu tidak tahu. Gadis-gadis kampung itu, mereka hampir tidak memiliki pilihan selain menikah. Mereka tidak tahu apa itu tujuan hidup, cita-cita, dan impian. Mereka tidak tahu kalau pepaya bangkok memiliki warna yang berbeda dengan pepaya yang ditanam di samping rumah mereka. Mereka menganggap kabar bahwa penyedap rasa tidak bagus untuk tubuh hanyalah sebuah mitos. Mereka tidak tahu ada banyak hal di luar kampung mereka selain gedung-gedung bertingkat dan kepulan asap pabrik di Jakarta, karena mereka merantau hanya untuk menjadi itu. Mereka tidak tahu, bahwa manusia memiliki cara bertahan hidup sendiri-sendiri. Oh, saya lupa, bahwa bergunjing adalah juga cara untuk bertahan hidup mereka.”
“Dek, tidak boleh begitu. Iya sebenarnya Ibu paham, tapi pahamilah Bapak dan Ibu.”
“Tidak, tentu Ibu tidak tahu. Bahwa kalau saya tidak menikah itu bukan karena saya tidak memiliki pilihan. Bukan karena tidak ada yang mau menikah dengan saya. Ada banyak yang menginginkan saya. Sekarang Ibu sebarkan angket pada mereka, kira-kira saya harus mendapatkan laki-laki seperti apa? calo karcis seperti suami T? tukang parkir seperti suami ini? pegawai kecamatan seperti anu? Atau pegawai kereta api seperti dia? Jadi mereka bisa mulai mencari bahan gunjingan baru untuk saya kelak. Atau Ibu sajalah, Ibu mau saya memberikan menantu untuk Ibu yang seperti apa? dokter itu? pengusaha yang itu? penyair yang disana itu? atau sopir pesawat di sana? yang mana yang Ibu mau?”

“Dek, bukan begitu.”
“Bukan begitu bagaimana Ibu, ini pasti urusannya tentang itu. Tentang menantu siapa yang paling hebat, tentang pernikahan siapa yang paling semegah. Kalau urusannya hanya itu saya bisa mendirikan pesta, yang orang kampung kita belum pernah dirikan. Tapi jangan pernah menyesal dan menderita kalau kelak anak Ibu tidak bahagia. Oh saya lupa, saya bisa saja menceraikannya selepas pesta meriah itu.”
“Kok sampeyan ngelantur dek?”
“Nah lagi kan? Ibu menangis. Ok, saya minta maaf. Sudah jangan dipenggalih, istirahatlah.”
“Belum bisa, masih menunggu Bapak bekerja.”

“Ibu, tidak capek memikirkan ulah tetangga? Kenapa jadi selalu menangis? Biarkan saja. Kalau mengikuti omongan orang tak akan pernah ada habisnya.”
“Ibu juga tahu.”
“Nah itu Ibu tahu. Mereka tak akan pernah senang bagaimanapun saya. Rasa cemburu dan iri membuat otak mereka serupa tahi babi.”
“Hush..”
“Oh maaf, sesekali bolehlah saya berlaku bodoh dengan bicara kasar sama seperti mereka Bu. Jadi biarkanlah saya marah-marah tak karuan begini. Tapi bukan pada Ibu. Ini hanya mengeluarkan rasa kesal saja karena sudah berulangkali hal beginian terjadi. Setiap musin kawin, selalu saja, hal beginian saya dengar.”
“Susah dek, tinggal di sini.”
“Saya paham dan sangat mengerti kondisi Ibu. Baik, kalau saya mau kirim surat peringatan pda mereka karena itu tindakan yang tidak menyenangkan di muka umum, nanti juga Ibu yang malu karena jadi bahan ejekan warga. Kalau saya mau bicara baik-baik sama dia, saya rasa dia juga nggak akan nyambung. Kalau saya marah-marah dan memakinya, saya juga merasa konyol. Kalau saya santet saja bagaimana Bu?”
“Hush.”
“Tapi bergunjing itukan kegiatan tanpa modal selain pikiran nakal. Jadi kalaupun saya santet satu, ya bisa lahir penggunjing baru. Kalau saya santet semuanya, nanti kita tidak punya tetangga. Jadi mendingan biarin saja. Sesekali, kasihlah bahan baru buat mereka Bu. Biar mereka senang dapat bahan gunjingan baru.”
“Kalau bungsu diapeli cowok, dengan mobil berganti-ganti, mereka bilang duh lihatlah perawannya bu anu, pacarnya ganti-ganti, murahan sekali, pasti di kota dia nyambi. Mata mereka buta atau kurang ide, suruh masuk ke rumah, lihat apakah lelakinya sama atau berbeda seperti yang mereka kira. Dan kalau saya tidak suka diapeli ke rumah mereka juga bilang, duh perawannya bu anu, kasihan tidak ada yang mau, tidak pernah punya pacar sejak yang dulu itu, kasihan ya.”
“Iya….”
“Nah, makanya Bu, mau gimanapun kita tetap salah di mata mereka karena sudah melanggar adat mereka, bahwa anak gadis tak seharusnya sekolah tinggi-tinggi, apalagi jauh dari rumah. Yang perjaka saja tinggal di rumah begitu lulus SMU. Paham Bu?”
“Ya memang sebenarnya Ibu tidak mau, kalau anak-anak Ibu digunjingkan.”
“Ya sudah kalau begitu saya akan pulang dan melempar batu ke mulut mereka?”

3.
Kelak, di kampung itu manusia akan lahir hanya berupa selembar lidah dalam sebuah mulut. Tuhan terlalu membenarkan sifat menggunjing. Jadi mari menggunjing….

15juni2008

 
12 Comments

Posted by on June 15, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

12 responses to “kawin, kawin, dan kawin!

  1. wangsit

    June 16, 2008 at 5:03 am

    he he he

     
  2. poligami

    June 16, 2008 at 8:50 am

    Mau po jadi istri saya yang ke-4, tapi carikan dulu saya istri ke-1,ke-2, dan ke-3

     
  3. wawan

    June 16, 2008 at 10:41 am

    Salah sendiri menolak lamaran, makanya sekarang dikejar-kejar kan?Turut prihatin bu.

     
  4. roeslioemar

    June 16, 2008 at 11:18 am

    dan kelak jika kau mati./….. cepatlah menikah sebelumnya

     
  5. roeslioemar

    June 16, 2008 at 11:22 am

    dipakai kemudian dibuang.itulah sejati dari semuanya.

     
  6. aRai

    June 17, 2008 at 10:13 am

    jadi pengen kawin … xixixi

     
  7. ashardi

    June 17, 2008 at 12:08 pm

    jadi binun… bukannya menyenangkan digunjingkan orang, yang sejatinaya mereka gak ngerti apa2, tapi ngomong knapa2…

    kita jadi bisa ketawa diatas ketololan mereka, hehehehehe…

    at least thats what i feel… and its quite fun😆

     
  8. yos

    June 18, 2008 at 3:59 am

    o o o dunia selebritis….

     
  9. mltz

    June 18, 2008 at 8:26 am

    mba font nya kekecilaaaaaaaaaaaan.

     
  10. wawan

    June 24, 2008 at 4:35 am

    Memang herlina sukanya yang kecil-kecil kok. Pacarnya saja juga milihnya yang kurus kecil. Minggat ah.

     
  11. langitjiwa

    June 29, 2008 at 3:19 am

    jadi kapan mau kawinnya tgl berapa bulan apa dan tahun berapa ? hihihi..
    selamat siang ,mbak Herli.

    salamku.

     
  12. huget

    September 7, 2008 at 1:35 pm

    menarik sekali non…
    sudah terjawab salah satu dari beberapa fenomena yang terjadi dalam pandangan masyarakat terhadap perempuan kampung..
    thanks elots..
    tulisan dan pemikiranmu menambah inspirasiku untuk terus berkarya dan berkarya..
    “kawin,kawin, dan kawin!” ini dah jadi buku,atau hanya sebatas seperti yang di atas ini..?? ( mungkin akan lebih menarik di buat sebuat buku,atau naskah. itu untuk yg tertulis.. untuk visualisasinya,naskahnya di filmkan insyaalloh akan menarik sekali non.. )
    pengen sekali bisa sharing langsung dengan kmu non…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: