RSS

letih dan anak-anak

02 Jun

”Sorry, aku sedang capek sangat.”
”Yeah, can hear from your voice beib. Take shower after finishing your meal, ok? U will feel much better. Can’t wait to see you tonite.”
Ini pesan seseorang beberapa menit tadi, setelah seharian telponnya tak saya jawab dan pesan tak terbalas.

Saya tak pernah serindu ini. Padanya yang bersembunyi di bawah tanah sana. Saya tak pernah seresah sekarang, saat letih mendera saya. Saya sungguh mati ingin menghabisi rasa letih…
Saya kira, saya tak akan pernah seletih ini setelah bertahun-tahun silam. Kenyataanya, saya seperti hendak dibunuh letih. Malam ini.

Biasanya kalau letih, saya tak mengingat orang lain. Saya bukan manusia manja, saya kira. Tapi jahanam setan yang membuat saya jadi konyol begini. Tiba-tiba saya seperti ingin ditatap mata saya, ditanya ”Honey, what’s wrong?”
Mungkin saya tidak akan menjawab, apalagi menjelaskan. Tapi satu kalimat itu rasanya akan membantu saya untuk tersenyum.

“Leave them!” Mungkin begitu kata-kata yang bisa saja saya terima kalau saya bercerita. Atau “Oh honey, care of your self before!” Yang beginian sudah sering saya dengar soalnya. Cuih!

Anak-anak tersenyum. Pihak sekolah memperbolehkan mereka ikut ujian. SPP sudah terbayar, buku baru siap dibuka. Seragam baru juga menunggu tubuh mereka. Saya senang melihat mereka. Tapi adakah saya tersenyum untuk diri saya sendiri? Tentu tidak untuk hari-hari belakangan ini. Saya selalu sendiri.

Begitu sampai rumah, saya membaca-baca surat dari anak-anak. Beberapa membuat saya tersenyum karena keluguan cara mereka bicara. Dari semuanya hanya dua orang yang ingin menjadi penulis. *Penulis ndak punya uang, dek.*
Jadilah yang lain saja kalau mau banyak uang. Tapi saya berencana membawakan mereka buku-buku yang mungkin membuatnya bersemangat menjadi seorang penulis.

Tahun depan, beberapa akan lulus, dan banyak yang naik kelas. Saya menarik nafas sampai di sini. Semoga Tuhan melimpahkan banyak rezeki bagi mereka lewat tangan siapapun. Amien.

Saya tak ingin punya anak. Saya takut tak bisa memberikan pendidikan yang semustinya pada anak-anak saya. Sekarang, saya cukupkan diri saya dengan belajar mencintai anak-anak di sana. Tapi saya selalu menolak menatap mata mereka, saya takut jatuh cinta dan menjadi dekat dengan mereka. Karenanyalah, hubungan kami hanya melalui surat-surat pendek yang mereka tuliskan untuk saya. Saya TIDAK pernah membalasnya.

Puji Tuhan, yang mnyegerakan apa yang semustinya terjadi hari kemarin, hari ini dan esok hari…

yogya,2juni2008

note: surat seorang anak di http://herlinatiens.multiply.com

 
7 Comments

Posted by on June 2, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: ,

7 responses to “letih dan anak-anak

  1. ashardi

    June 2, 2008 at 10:56 pm

    *Penulis ndak punya uang, dek.*

    makanya cari suami yang kaya raya, anak tunggal, dan orang tuanya udah pada sekarat, lebih bagus lagi kalo orang tuanya yang sekarat tinggal bapak/ibunya aja… lebih gampang gitu…

     
  2. ashardi

    June 2, 2008 at 10:58 pm

    lho… kok waktu komenku June 2 @ 10:56 PM??
    harusnya June 3 @ 5:58 AM… settingan waktu-nya gak sampeyan ganti tho?

     
  3. herlinatiens

    June 3, 2008 at 1:37 am

    @ ashardi: Hehehe, iya ndak kuganti… *karo kedip-kedip mripat*
    Hadiuh…idenya Mas, Mas….kok begitu ya? OKE….

     
  4. ashardi

    June 3, 2008 at 2:35 am

    sebenarnya itu ide dari Budhe, sapa tau berguna bagi orang lain, karena ide tersebut ndak akan pernah digunakan… soalnya masih blom ada kesempatan… hahahaha…

    :p

     
  5. herlinatiens

    June 3, 2008 at 2:48 am

    Wadew…Kok ndak sekalian cari yang dah udzur, yang dah mau ninggal, jadi kan warisan terselamatkan. Ampun Tuhan…

     
  6. roeslioemar

    June 4, 2008 at 9:15 am

    seperti itu aku membaca blogmu. seakan menghapus rinduku setelah bertahun tahun tak bertemu.membaca blogmu seakan membacamu dengan gratis. tanpa perlu lagi membeli koran pagi

     
  7. yos

    June 4, 2008 at 9:42 am

    kayaknya bukan persoalan capek ato tidak, tapi negri ini sedang berproses untuk memantabkan kantibmas, dan ngegas laju ekonomi, hawa letihnya memang merasuk ke seluruh negri. Kan tugas penulis untuk membuat jiwa tersiram lagii…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: