RSS

Monthly Archives: June 2008

surat balasan

Sekarang…katakanlah dengan jujur. Seperti cara-cara petani menebar benih di tanah-tanah basah. Serupa lumpur yang menggenang, tenggelamkanlah jiwamu pada cerita masa lalu. Maka kau tak akan pernah bisa kembali tanpa menyudahi segala rahasia.

Kekasih, pernahkah kau serindu aku? Seperti rindu yang kutanam dan mati karena musim yang licin tak lagi datang. Serupa masa lalu yang mengkeparatkan masa depan; kau datang membawa petaka kecil dalam selembar benang yang siap ditenun, tadi malam.

Jangan datang lagi. Kasihanilah aku. Aku tak berharap apa-apa lagi. Jadi, jangan kau sangsikan lagi apa yang musti kau percaya dan yakini.

Maafkan aku tak pandai menulis surat cinta. Segala yang kutulis untukmu telah menjadi musuh baru bagiku. Mereka menyergap segala penjuru, menyesatkan arah sujudku. Suatu hari, sebuah mayat menuliskan pesan pada peti matinya.

Sayangku, kiranya aku salah telah memilihmu menjadi rumahku. Aku jatuh cinta pada peti mati yang jauh di seberang laut sana. Bisakah kau melupakan aku?

Maka sebagai mayat, bisakah kuminta padamu ciptakan keajaiban? Aku mau kita berpisah, jadi tak bisakah kau tanggalkan aku lebih cepat?

 
7 Comments

Posted by on June 28, 2008 in Puisi

 

Tags:

suami yang lupa

Dia nampak lain. Seperti tak biasa, dia akan diam-diam saja kalau rokoknya saya ambil dan saya simpan ke dalam tas. Dia menghilang diam-diam. Seperti tampak sembunyi dan bosan. Tapi selalu diam.
Kalau saya tanya, ”Kenapa Mas?” dia akan tersenyum lalu menggeleng. Saya tak ingin peduli, memang begitulah seharusnya. Bukan hobi saya untuk berakrab-akraban dengan orang lain. Saya tak kenal siapa dia, selain karena saya satu kantor dengannya. Anggaplah begitu.

Biasanya dia akan menjemput saya di kost. Atau mengantarkan saya pulang tengah malam begitu ada lembur. Tapi saya tak ingin bertanya-tanya tentangnya. Apalagi iseng bertanya siapa pacar dia dan semacamnya. Bagi saya, dia memang nampak sendiri dan tak berkawan.

Saya tak ingat, kapan dia menelepon dan menerima telepon seseorang saat bersama. Jadi tak ada alasan bagi saya untuk memikirkan apakah dia seorang suami atau seorang bapak dalam sebuah keluarga. Saya juga tidak dengan sengaja melihat jari manisnya yang tanpa cincin.

Tapi selepas makan siang, dia bilang pada saya dengan nada yang aneh, ”Ren, nanti jam empat aku musti pulang sebentar, ada urusan kecil. Jadi aku bisa mengantarmu sekalian kalau mau pulang ke kost, sebelum kita ke luar kota.”
”Ah tidak, terimakasih, aku bisa pulang sendiri nanti.”
”Bukan begitu maksudku, nanti kan bisa aku jemput lagi.”
”Lho, aku juga ndak ada maksud. Cuma rasanya pulang sendiri lebih enak.”
”Ya sudah, aku ndak jadi pulang.”

Nah, sejak sore itu saya rasa ada yang berbeda. Dia menjadi lebih sering melamun. Kalau saya bertanya ada apa, dia akan tersenyum dan menggeleng. Ya sudah, sekali lagi, itu bukan urusan saya.
Sepanjang jalan, saat ke luar kota atau saat menjemput dan mengantar pulang ke kost, kami masih seringkali hanya diam. Ini tentu saja membuat saya bertanya-tanya, kiranya hubungan seperti apa yang tanpa kami sadari telah lahir. Tapi lagi-lagi, saya tak memiliki keinginan untuk membahasnya.

Saya rasa, pertengkaran dan diam yang terjadi antara kami begitu santun. Perselisihan-persilihan yang wajarnya hanya terjadi di antara sepasang kekasih. Ah, saya tak peduli. Saya menganggapnya sebagai teman kantor belaka.

Suatu hari dia dengan tanpa alasan, menunjukkan email-email dia dengan seorang perempuan, ”Nah, ini perempuan yang dulu kucintai.”
Saya tersenyum mendengarnya. Membaca email-email itu tanpa cemas apalagi prasangka. Tanpa beban yang berarti, saya memperhatikan tahun dan tanggal yang tercetak.
”Pernah atau masih? Wew, masih disimpan yang beginian?”
”Pernah saja.”
”Kalau aku mana mau punya pacar yang beginian Mas.”
”Maksudnya?”
”Ya, berhadapan dengan kenangan jauh lebih sulit daripada dengan seseorang itu sendiri.”
”Kok?”
”Iya, kenapa? Yang pernah patah hati aku tak mau, yang pernah ditolak aku tak sudi. Apalagi yang berkali-kali. Aku mau yang tak tersentuh.”
”Kok begitu?”
”Ya memang begitu.”
”Sama bayi saja kalau gitu.”
”Itu lebih baik.”
”Ini hanya buat catatan saja kok.”
”Wew, bukan jamannya lagi memiliki romantisme senja begini.”

Tiba-tiba saya seperti salah bicara. Diapun terlihat seperti merasa salah bersikap. Tapi saya hanya cengar-cengir, mencoba mengabaikan pertanda yang hampir sampai. Dengan cepat dia menutup laptopnya, mengajak saya ke kantin berdua saja. Dengan tanpa banyak bicara, saya mengikutinya. Berjalan berdua begitu, kami hanya diam.

Hal-hal ganjil memang lebih banyak lahir. Misalkan, mengapa kami harus merasa tak enak akan
pertengkaran kecil itu. Mengapa kami begitu sungkan sekaligus lugas tiap hari berebut membayar bill di kantin. Mengapa kami begitu aneh saat berebut mengambil minuman tambahan. Bukankah kami hanya sepasang sahabat?

Kalau saya menerima telepon dari banyak laki-laki yang sedang mendekati saya tanpa harus menyingkir dari hadapan dia, itu sudah pasti karena memang saya merasa itu hal yang paling benar. Meski saya melihatnya sering pura-pura tak mendengar pembicaraan saya. Ah, memang tak ada yang harus dipedulikan.

Siang itu, dia meninggalkan saya begitu saja saat sedang mendiskusikan sebuah proyek baru. Tiba-tiba dia datang sambil meletakkan dua botol minuman di hadapan saya, juga dua kotak kecil es krim. Belum selesai kaget saya, dia mengulurkan tangannya, memberikan sesuatu dalam bungkusan kecil berwarna bening sembari berkata, ”Rambutmu berantakan tu.”

Oh, saya hanya diam tanpa mengucapkan terimakasih. Ada tali berwarna ungu di dalam plastik itu. Pilihan yang sangat buruk, pikir saya. Norak sekali tali rambut itu di mata saya. Hanya untuk menghargainya saja, saya berpura-pura senang dan memakai tali itu di rambut saya.

Nah, saat jemari saya sibuk merapikan rambut itulah saya sadar. Pagi saat dia menjemput saya, saya bicara ”Duh, aku kok pingin es krim ya.” Saya rasa, apa yang dilakukannya kebetulan saja. Lagipula saya tak ingin memakan es krim itu. Lagi-lagi pilihan yang salah. Saya mana suka es krim vanila begitu. Rasanya aneh di lidah.

***

”Lupa juga? Dulu aku bilang, aneh mengapa menyimpan email-email dari masa lalu. Kalau sampeyan ngerti, mustinya tanpa kubilang sampeyan sudah tahu, kalau itu tidak menyenangkan buatku. Duh, masak gitu aja musti dijelasin juga.”
”Iya, maaf, Mas nggak ada maksud apa-apa.”
”Wew, gini deh gini, jangan segala hal musti diajari. Ini bukan perkara diajari dan mengajari. Aku bukan guru dan sampeyan bukan murid. Lama-lama aku bosan dan berasa mau pergi saja.”

Ya, sekarang, saya telah menjadi istrinya. Dan masih ada banyak hal yang selalu salah. Misalkan, mengapa dia selalu salah memesankan kentang goreng dengan taburan keju di atasnya. Atau salah memilihkan parfum kesukaan saya. Atau juga salah menakar gula ke dalam kopi panas saya. Itu pasti karena dia tidak mencintai saya. Sampai melupakan hal-hal kecil tentang saya.

Sementara saya tahu, butuh berapa sendok gula untuk secangkir teh-nya. Butuh telur sematang apa untuk makan malamnya. Pendeknya saya hafal kebiasaan dia. Saya selalu marah, dan dia selalu diam sembari minta maaf. Saya tak senang dan bosan mendengarnya.

Saya tahu, mawar-mawar putih di hari ulang tahun perkawinan kami akan membuatnya terharu. Tapi dia lupa, saya benci bepergian di tahun baru dan di banyak hari yang lain. Saya tahu dia suka kalau saya memasak semur ayam berasa aneh itu, di hari-hari spesial kami. Tapi dia lupa, saya akan mual dan berasa akan muntah kalau makan bubur ayam dan nasi goreng. Saya tahu dia akan senang kalau bangun tidur sudah ada segelas teh hangat untuk dia. Tapi dia tak ingat, saya harus berpura-pura senang atas coklat putih yang dia berikan untuk kejutan di hari minggu pagi.

Nah, saya memang mulai sering merasa kesal dengan cara kerja ingatan dia. Saya tak suka kalau harus menjelaskan sesuatu berulang kali. Menjawab pertanyaan yang sama, dan selera makan yang menghilang karena pesanan yang salah.

Saya mulai yakin, dia memang tidak mencintai saya. Bagaimana mungkin hal-hal kecil bisa terlupa. Sementara saya bisa tahu, jam berapa dia akan mendengkur dan suara apa yang bisa membangunkan lelapnya. Saya bosan, sangat bosan. Saya mulai benci dengan kalimatnya, “Maaf, Mas lupa. Mas salah karena Mas pelupa!”

Sore tadi, saat dia mandi, saya membuka-buka handphonenya. Ini bukan hobi saya, tapi entah mengapa saya begitu ingin membuka barang kecil itu. Dalam sebuah folder, saya menemukan sebuah catatan kecil yang membuat saya harus menahan tawa sekaligus haru. Friedchicken harus pedas dan sayap. Tidak suka wortel dan buncis. Benci sosis. Kopi; gulanya sesendok kecil. Parfum merk; lupa lagi. Es krim hanya yang ada chocochipnya! Celana ekstra small merk Dust. Dan begitulah daftar itu terus memanjang.

Dia juga mencatat, kapan, dimana, kenapa dan berapa lama saya marah. Dia menandai setiap tanggal dengan beberapa istilah. Oh, saya begitu merindukannya. Tiba-tiba saya tahu, betapa saya menginginkan dia untuk saya. Begitu mendengar dia keluar dari kamar mandi, saya cepat-cepat mengembalikan handphone itu ke atas meja. Dengan cekatan, saya meraih sebuah majalah dan berbaring di ranjang. ”Sudah mandinya, Mas?”

”Sudah, oiya, ini kan malam minggu kita jalan-jalan yuk, makan nasi goreng di jalan Wonosari.” belum sempat aku menjawab, dia sudah bicara lagi, ”Eh maaf, sayang kan nggak suka nasi goreng, makan di rumah saja. Mas buatin telur ya?”
”Siapa bilang? Sekarang suka kok. Tapi cium dulu!”

Yogyakarta, 2008

 
7 Comments

Posted by on June 28, 2008 in Cerita-cerita Pendek

 

Tags: , , ,

Penyanyi Jaman Batu

Selain menulis cerita yang dibukukan, saya suka menulis lirik lagu, beberapa saya buat utuh menjadi lagu dan saya rekam kemudian di laptop. Nah dua dari lagu itu (Lamareta dan Sedih Tak Bernama) saya upload di http://herlinatiens.multiply.com. Tapi kemudian ada seseorang yang baik hati menguploadnya juga di http://genialbutuhsomay.multiply.com
Senang kalau teman-teman mau mendengarnya 🙂
Resiko telinga pecah ya saya tidak menanggungnya. huehehehe

 
7 Comments

Posted by on June 28, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , , ,

mbuh

tak ada hari ini
kemarin sudah lewat
besok aku sudah lupa
jadi?
bisakah kau tanggalkannya lebih cepat?

 
6 Comments

Posted by on June 23, 2008 in Puisi

 

Tags:

the other of me

Kau akan pulang pada negeri yang membawamu
Disana padi tumbuh serupa gedung
Tak ada luka seperti ceritamu
Karena lumbung tak harus diisi hasil ladang

Kiranya panen gagal
Oleh hama dan serangan hujan
Tapi kubiasakan diri menerimamu untuk pergi
Seperti kusediakan tempat untukmu datang

Memanenmu sayang,
Serupa hujan di celah siang
Tak ada yang lebih menjanjikan
Selain ketakpastian itu sendiri

Sayang, betapa hari begitu melelahkan. Betapa jarak tak dapat menukar.

 
5 Comments

Posted by on June 20, 2008 in Puisi

 

Tags:

perempuan yang -belum- menjadi selebriti, 2

Semalam, seorang teman lama -kenalan di pesawat menuju Jakarta beberapa tahun lalu- menelepon saya. Dia mungkin dengan sedikit mabuk bicara bahwa baru saja memutuskan untuk kembali menjalani profesi lama yang ditinggalkannya. ”Selamat, jadilah yang profesional kalau begitu. Jangan menjadi yang telentang, menyelesaikan jasa yang disewa dengan berpura-pura orgasme, sudah.”

Dia menangis saat saya bicara begitu. ”Mengapa menangis?”
”Kenapa kamu tidak menahanku, jangan itu dosa atau jangan penyakit menular akan mengejarmu seperti dulu. Kau tidak sayang lagi padaku?”
”Tentu aku masih sayang, tentu aku selalu menyayangi kamu. Justru itulah aku mendukungmu.”
”Tapi dulu kau bilang, kalau kau tak percaya ahli agam tidak apa-apa, tapi jangan sampai tak percaya Tuhan. Kalau kau tak percaya dosa, itu terserah, tapai jangan tak percaya penyakit menular seksual akan mengejar.”
”Itu dulu, saat aku merasa harus mengatakan itu. Tapi kurasa, tidak tepat aku mengulang kalimat yang sama.”
”Aku tidak mau, sebenarnya aku tidak mau.”
”Kau harusnya mengatakan, herlina mengapa aku tergoda kembali lagi. Bukannya, herlina aku memutuskan kembali lagi ke dunia itu.”
”Ya, aku butuh duit.”
”Itu jalan yang paling terbuka dan gampang bagimu saat ini? Silahkan, lanjutkan. Tapi pernahkah kau merasa benar-benar tak membutuhkan uang? Dan pernahkah kau berpikir? Kecantikanmu akan memudar suatu saat dan segera saja kau tak akan dikenang sebagai apapun selain perempuan yang membangkitkan gairah beberapa lelaki dalam semalam.”
”Sebenarnya kau tidak suka kan aku kembali? Tapi mengapa kamu tidak mengatakannya.”
”Mungkin, tapi kalau itu maumu ya sudah? Kalau mau jadi profesional, jangan seperti Maria, yang membaca buku-buku pengetahuan seksual dan menonton film-film bokep. Oh, maaf kamu tidak tahu siapa Maria. Beberapa hari kemarin, aku membaca buku Eleven Minutes tulisan Paulo. Nah, Maria ini si tokoh utama yang kebetulan juga dia seorang pelacur. Latihlah dirimu dengan membaca, jadi kalau pejabat datang mereka akan sedikit lebih senang kalau kau bisa nyambung berbincang dengan mereka.”
”Ah, mereka cuma mau itu dan sudah. Membayarku dan selesai.”
”Oh begitu? Tak pernah bertanyakah kau pada dirimu? Bahwa mereka datang untuk membeli kebahagian semu yang bisa dibayar? Apakah kau kira kebahagiaan itu hanyalah urusan seks semata? Oh mungkin aku salah, karena aku tidak tahu bagaimana duniamu terus berjalan dan aku hanya orang luar.”
“Jadi bagaimana? Malam besok aku ada janji dengan orang Jakarta.”
“Janji harus dibayar bukan? Tapi kau tidak harus melaksanakan sepenuhnya. Sudahlah, karena dulu uang begitu mudah kau dapat dari situ, berhasil mencukupi banyak hal dengan melakukan itu, kau tersiksa sekarang, ketika teman-temanmu bisa mengganti ini itu. Sebenarnya alasannya hanya uang kan? Bukan sesuatu yang harus kau penuhi karena tak ada. Semacam perut yang lapar dan Ibu yang sakit tak ada biaya periksa. Kalau hanya menjadi SPG memang tak cukup memenuhinya. Banyak yang mengatasnamakan memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai uang kuliah. Ah yang benar? Aku tidak harus menelentangkan tubuh serupa peta di ranjang untuk membiayai kuliahku dulu, sayang!”
“Tapi kau menulis.”
“Salah! Aku menjual mulutku untuk memberikan les privat ke anak2 sekolah dulu.”
“Tapi aku tidak pintar!”
“Kalau kau tekun juga bisa. Aku hanya lulusan SMK waktu itu.”
“Tapi kita kan berbeda, herlina, kau kira kau memahami? padahal kau sudah curang kalau melihat kita ini manusia yang sama. Jelas berbeda! Aku ingin bisa membuat usaha sendiri dari situ. Kalau sudah berhasil, aku akan berhenti.”
“Mungkin aku curang, karena berharap kau pun bisa. Tapi sudahlah, makanya tadi aku bilang, lanjutkanlah jadilah Mata Hari, atau siapapun yang bisa membuatmu senang. Kurasa, itu seperti candu. Saat kau berjanji akan berhenti, saat itu pulalah godaan yang lebih memikat datang menyergapmu.”
(Mungkin di sini dia mengira matahari yang terbit dari dari Timur dan Tenggelam di Barat. Sudah, saya capek menjelaskan padanya.)
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Besok bagaimana?”
“Sebenarnya kau hanya butuh orang untuk merantai kakimu agar tak kemana-mana besok kan? atau sebaliknya, kau membutuhkan orang yang terlalu mendukungmu hanya agar merasa punya kawan menanggung derita dan perasaan berdosa.”
“Aku besok berangkat.”
“Berangkatlah, jadilah besar dari situ. Jangan lupa pakai kondom!”

Masih panjang percakapan kami. Sesekali dia masih menangis. Saya tak sedih menutup telepon dari dia setelahnya. Benarkah hidup yang dia pilih itu salah? Saya ingat kata-kata di buku Eleven Minutes; Aku ini pelacur luar dalam, dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku sangat pelacur. Dan juga kalimat dalam buku saya sendiri di Sebuah Cinta yang Menangis; Aku hanya ingin menjadi pelacur. Bercinta dengan tiga orang perempuan sekaligus. Bersetubuh dengan tiga laki-laki sekaligus.

Kalau saja dia bisa dengan lugas mengatakan pekerjaannya sekarang seperti Maria. Bila seseorang bertanya, “Bekerja apa?” dia akan menjawab, “Menyewakan tubuh.” “Ha? Maksudnya?” “Ya saya pelacur.” Mungkin dia tidak menangis malam tadi. Tapi langsung saja, barisan orang-orang sok suci akan melemparinya dengan keranjang penuh tahi. Masyarakat -beberapa deh- yang phobia dan munafik akan menghujatnya seolah-olah paling tahu dosa apa yang akan diterimanya kelak sesudah mati.

Saat menuliskan ini, mungkin dia tengah tersenyum pada tamunya di sebuah lobby hotel. Saya berharap dia baik-baik saja malam ini dan seterusnya.

 
9 Comments

Posted by on June 19, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,

kawin, kawin, dan kawin!

.: dia bilang asu, saya menyebutnya segawon!

1.
Gadis itu, yang menyediakan diri pada kehidupan, sedianya dia tak menangis. Harusnya dia tertawa, atau cukuplah berdiam. Disuruh kawin bukannya enak? Tapi menikah, bukan untuknya. Bukan tugasnya.
Mulut tetangga akan terus berbunyi serupa daun-daun yang terusik angin.
Kalau dia bahagia dengan pilihan hidupnya, tetangga akan cemburu dan iri “mengapa anak gadisku tak seperti dia juga?”

Kalau dia menderita, tetangga akan senang meski berpura-pura simpati dengan bilang, ”oh, sabarlah, mungkin itu cobaan.” Tapi sungguh, dalam hati mereka akan tertawa. ”Makanya, jangan sok pintar dan sok lebih tahu.”

Tapi, otak dan pikiran para tetangga tentunya dibebat oleh tradisi dan nilai adat yang seringkali kurang benar (atau salah bahkan). Jadi dia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kalau orangtuanya bertanya, ”Kapan menikah? Semua perawan di kampung sudah menikah, orang-orang mempertanyakanmu, nak.”

Orangtua si gadis lupa, bahwa anaknya tidak dilahirkan sebagai perempuan bodoh yang yang menyelesaikan pendidikannya dengan apa adanya, tanpa cita-cita yang berarti, tanpa impian menjelajah tempat-tempat yang jauh. Bukan gadis-gadis sederhana yang menghabiskan waktu dengan berdiam di kampung halaman, menunggu seorang lelaki, menikah, memiliki anak, dan mengulang tradisi yang sama; menggunjing orang!

Ya, menjadi sederhana memang tidak salah. Tapi akan berubah keparat kalau mulai menggunjingkan orang seolah tak ada pekerjaan yang lebih menyehatkan selain membuat orang lain merasa tertekan jiwanya.

Gadis itu punya cita-cita. Punya kemauan yang sama kuatnya dengan tradisi yang berlangsung. Tapi, sekarang si gadis sedang bersedih. Dia menangis tapi merasa semakin konyol bila mempedulikan mulut usil.

2.
”Ibu, perihal saya tidak menyegerakan pernikahan, itu jelas karena alasan yang berbeda.”
“Iya Ibu tahu.”
“Tidak, Ibu tidak tahu. Gadis-gadis kampung itu, mereka hampir tidak memiliki pilihan selain menikah. Mereka tidak tahu apa itu tujuan hidup, cita-cita, dan impian. Mereka tidak tahu kalau pepaya bangkok memiliki warna yang berbeda dengan pepaya yang ditanam di samping rumah mereka. Mereka menganggap kabar bahwa penyedap rasa tidak bagus untuk tubuh hanyalah sebuah mitos. Mereka tidak tahu ada banyak hal di luar kampung mereka selain gedung-gedung bertingkat dan kepulan asap pabrik di Jakarta, karena mereka merantau hanya untuk menjadi itu. Mereka tidak tahu, bahwa manusia memiliki cara bertahan hidup sendiri-sendiri. Oh, saya lupa, bahwa bergunjing adalah juga cara untuk bertahan hidup mereka.”
“Dek, tidak boleh begitu. Iya sebenarnya Ibu paham, tapi pahamilah Bapak dan Ibu.”
“Tidak, tentu Ibu tidak tahu. Bahwa kalau saya tidak menikah itu bukan karena saya tidak memiliki pilihan. Bukan karena tidak ada yang mau menikah dengan saya. Ada banyak yang menginginkan saya. Sekarang Ibu sebarkan angket pada mereka, kira-kira saya harus mendapatkan laki-laki seperti apa? calo karcis seperti suami T? tukang parkir seperti suami ini? pegawai kecamatan seperti anu? Atau pegawai kereta api seperti dia? Jadi mereka bisa mulai mencari bahan gunjingan baru untuk saya kelak. Atau Ibu sajalah, Ibu mau saya memberikan menantu untuk Ibu yang seperti apa? dokter itu? pengusaha yang itu? penyair yang disana itu? atau sopir pesawat di sana? yang mana yang Ibu mau?”

“Dek, bukan begitu.”
“Bukan begitu bagaimana Ibu, ini pasti urusannya tentang itu. Tentang menantu siapa yang paling hebat, tentang pernikahan siapa yang paling semegah. Kalau urusannya hanya itu saya bisa mendirikan pesta, yang orang kampung kita belum pernah dirikan. Tapi jangan pernah menyesal dan menderita kalau kelak anak Ibu tidak bahagia. Oh saya lupa, saya bisa saja menceraikannya selepas pesta meriah itu.”
“Kok sampeyan ngelantur dek?”
“Nah lagi kan? Ibu menangis. Ok, saya minta maaf. Sudah jangan dipenggalih, istirahatlah.”
“Belum bisa, masih menunggu Bapak bekerja.”

“Ibu, tidak capek memikirkan ulah tetangga? Kenapa jadi selalu menangis? Biarkan saja. Kalau mengikuti omongan orang tak akan pernah ada habisnya.”
“Ibu juga tahu.”
“Nah itu Ibu tahu. Mereka tak akan pernah senang bagaimanapun saya. Rasa cemburu dan iri membuat otak mereka serupa tahi babi.”
“Hush..”
“Oh maaf, sesekali bolehlah saya berlaku bodoh dengan bicara kasar sama seperti mereka Bu. Jadi biarkanlah saya marah-marah tak karuan begini. Tapi bukan pada Ibu. Ini hanya mengeluarkan rasa kesal saja karena sudah berulangkali hal beginian terjadi. Setiap musin kawin, selalu saja, hal beginian saya dengar.”
“Susah dek, tinggal di sini.”
“Saya paham dan sangat mengerti kondisi Ibu. Baik, kalau saya mau kirim surat peringatan pda mereka karena itu tindakan yang tidak menyenangkan di muka umum, nanti juga Ibu yang malu karena jadi bahan ejekan warga. Kalau saya mau bicara baik-baik sama dia, saya rasa dia juga nggak akan nyambung. Kalau saya marah-marah dan memakinya, saya juga merasa konyol. Kalau saya santet saja bagaimana Bu?”
“Hush.”
“Tapi bergunjing itukan kegiatan tanpa modal selain pikiran nakal. Jadi kalaupun saya santet satu, ya bisa lahir penggunjing baru. Kalau saya santet semuanya, nanti kita tidak punya tetangga. Jadi mendingan biarin saja. Sesekali, kasihlah bahan baru buat mereka Bu. Biar mereka senang dapat bahan gunjingan baru.”
“Kalau bungsu diapeli cowok, dengan mobil berganti-ganti, mereka bilang duh lihatlah perawannya bu anu, pacarnya ganti-ganti, murahan sekali, pasti di kota dia nyambi. Mata mereka buta atau kurang ide, suruh masuk ke rumah, lihat apakah lelakinya sama atau berbeda seperti yang mereka kira. Dan kalau saya tidak suka diapeli ke rumah mereka juga bilang, duh perawannya bu anu, kasihan tidak ada yang mau, tidak pernah punya pacar sejak yang dulu itu, kasihan ya.”
“Iya….”
“Nah, makanya Bu, mau gimanapun kita tetap salah di mata mereka karena sudah melanggar adat mereka, bahwa anak gadis tak seharusnya sekolah tinggi-tinggi, apalagi jauh dari rumah. Yang perjaka saja tinggal di rumah begitu lulus SMU. Paham Bu?”
“Ya memang sebenarnya Ibu tidak mau, kalau anak-anak Ibu digunjingkan.”
“Ya sudah kalau begitu saya akan pulang dan melempar batu ke mulut mereka?”

3.
Kelak, di kampung itu manusia akan lahir hanya berupa selembar lidah dalam sebuah mulut. Tuhan terlalu membenarkan sifat menggunjing. Jadi mari menggunjing….

15juni2008

 
12 Comments

Posted by on June 15, 2008 in Catatan Hari Ini

 

Tags: , , , ,