RSS

stasiun di antara kereta -Bima-, 8

15 May

Apakah aku nampak tak baik-baik saja?
Apa aku nampak tak lagi bernyawa?

1.
Saya melihat penumpang kereta Bima itu turun dari dalam kereta. Tak ada kehidupan dalam jiwanya. Tapi tidak juga derita. Serupa langit yang sederhana saja perempuan itu menghampiri saya dan bercerita.
”Mengapa tak jadi berangkat?”
”Pernahkah tidak saat saya belum berkata iya.”
”Lho, saya pikir sampeyan mau naek Bima ke sebuah kota.”
”Saya butuh secangkir kopi, dan sebatang rokok, maukah berbagi dengan saya?”

Saya lantas menuju kantin stasiun, mencari sebungkus rokok dan secangkir kopi panas, seperti mau dia. Saya iba padanya, bagaimanapun dia mencoba terlihat manis, dia masih nampak teramat letih. Adakah seseorang merebut jiwanya?

Bukan mungkin lagi, tapi dia memang pecah. Saatnya berangkat mulai diperhitungkan dengan cepat. Belum sempat diterimanya kau sebagai kekasih, dia sempurna mengucapkan selamat tinggal. Kau telah nampak seperti seseorang yang mengucapkan SELAMAT JALAN baginya.

Sekarang dia ingin bersembunyi dari pagi. Dadanya terlanjur retak. Dia butuh waktu sembunyi dalam pot bunga yang kau kirimkan. Dia merasa tak seharusnya tumbuh dalam pot yang pernah kau pakai menanam kembang lain. Apakah bungamu sudah mati? Tentu belum. Jadi ada apa sebenarnya? Bisakah kau yang menjelaskannya?

Apakah dia hancur? Atau sungguh pecah? Kau temukankah sisanya? Berdiri dia menunggu dirinya sendiri, bukan kau. Seharusnya kau pulang pada kembang yang lama kau tanam dan siram. Bukan padanya yang belum tentu menjadi. Sungguhpun dia mulai ragu pada keinginannya sendiri.

Kalau kau lihat asap membumbung tinggi. Di sanalah dia membakar dirinya serupa mestia. Tapi tak disisirnya rambut yang tergerai. Dijauhinya bedak dan pemerah bibir. Dia tak ingin sempurna. Apakah dia nampak pucat? Bibirnya memang biru, bukan karena perpisahan. Tapi begitulah hari berjalan dan kesuciannya terjaga. Hati yang terjaga. Yang sama….

Dia tak menangis. Berkaca-kacapun tidak. Tapi terdiam begitu, membuat saya ingin memeluknya. Sekarang sebagai seorang aku, tak bisa tidak saya harus memeluknya selagi sempat. Meski saya tahu dia tak membutuhkannya. Dia terbiasa bisa dengan sendiri bukan? Kau sedang apa di kota sana? Menata hiasan dinding? Mengecat ulang rumahmu? Atau mengganti sprei dan pewangi ruangan?

Tahukah kau? Dia terlalu pandai berpura-pura untuk nampak baik-baik saja. Dia ingin bersembunyi dari mimpinya. Sepi yang menyergap, hadir serupa bayanganmu yang semakin jauh. Meski dia tahu kau tak pernah benar-benar sendiri. Tapi begitulah dia enggan melepas semua lamunan dan impian.

2.
Mas, Amerika itu letaknya di bawah kursiku ini. Tepat dimana aku duduk terdiam begini. Kalau di sini siang, di sana sedang malam. Kalau aku sedang terjaga begini, sampeyan sedang lelap menjaga mimpi. Tak pernah sama bukan? Memang begitu, kita bertemu sebagai pecundang. Jadi biasa saja kalau berakhir dengan sebuah kekalahan baru.

Di pagar Mas, ada empat burung kecil. Salah satu dari mereka nampak seperti seseorang yang menangis. Bulu-bulunya berdiri, dan suaranya tak seperti yang lainnya. Sementara yang lain sibuk berkicau, dia sibuk menata deritanya sendiri.

Mungkin Mas, ketiga temannya itu sibuk membicarakan rumput yang mulai kering. Atau seluruh buah srikaya yang kering di pohon samping mereka. Aku tak yakin, sibuk memperhatikan si burung kecil yang meratap itu. Baru pagi tadi dia bertengger di pagar itu.

Oiya Mas, sekarang mendung. Padahal tadi terik sangat. Bahkan terasa menyengat meski AC kunyalakan dan di luar angin kencang. Begitulah, cuaca sering berganti. Terlalu cepat dan mudah bahkan. Entah.

Jangan bertanya apa-apa. Aku tak terbiasa menjelaskan bila sedang begini. Karena penjelasan hanya akan mengundang pertanyaan baru. Lebih mudah bagiku diam dan menjaga segala hal sendirian. Tak bisakah ini dipahami dengan lebih sederhana? Memang bagitulah seharusnya bukan? Oiya, aku terserang amnesia mendadak. Lupa sampeyan tadi cerita apa…

Yogyakarta,15mei08

 

Tags: ,

9 responses to “stasiun di antara kereta -Bima-, 8

  1. TheRainbow

    May 15, 2008 at 8:32 am

    Gilee…keren banGeT. Gue dong udah baca novel Garis Tepi Seorang Lesbian.Keren abis. Dengan bahasa sastra yang apik dan kadang juga bikin orang ingin terus baca n baca… apa akhir dari kisah ini.. once again akhir dari cerita ini mengejutkan.Sekarang dong, gue nemu blognya si empu cerita. Makin gemezzzzzz gue…salut

     
  2. bukanasalnama

    May 15, 2008 at 11:11 am

    Tapi sesuai pesenanku ini kan?Bagus kok bagus.

     
  3. ashardi

    May 16, 2008 at 6:50 am

    “Oiya, aku terserang amnesia mendadak. Lupa sampeyan tadi cerita apa…”

    Seperti kata2 seorang pacar yang sedang marahan

    :p

     
  4. yos

    May 16, 2008 at 2:10 pm

    tepatnya lagi sibuuuuuuk banget.
    tulisan yang beraura letih.
    //ikut pilu//

     
  5. kw

    May 16, 2008 at 3:20 pm

    produktip sekali…. kash tips semangat menulis dong..

     
  6. realylife

    May 17, 2008 at 10:56 am

    kalo ditanya ama saya , pasti saya bingung juga jawabnya

     
  7. anton ashardi

    May 17, 2008 at 12:12 pm

    weh…weh… makanya kalo nulis buku (baca:Garis Tepi Seorang Lesbian) ndak usah terlalu nyelem, jadinya gini deh…semacam tingkat keparahan sudah mencapai stadium 17.

    Kalo pacar itu biasanya marah2 kalo sms ndak dibales2 ama telpon gak diangkat2, huehuehueheuhue… bawaannya curiga… kira2 seperti itu…

    nggg… semacam sudah ada target operasi nih, kok ampe nanya2 hal2 seperti ini…

     
  8. kenthir

    May 19, 2008 at 8:17 am

    “Perempuan dimalioboro pake kaos “MENDERITA AKU”
    aku juga baru duduk2 di situ lha tak kirain perempuan itu herlinatiens, yang duduk minum kopi selebritas… eh ternyata wek kekek

     
  9. kenthir

    May 27, 2008 at 2:51 am

    nyanyian kenthir:
    Gugusan hari-hari
    indah bersamamu mbak herlina
    tak sebiduk pun jemari mengajakmu kesana
    tiba tiba langkahku terhenti

    berhenti? woow youwish
    adaptasi prom camelia ebiet ade

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: