RSS

surat terakhir tahun ini

25 Apr

“Wanita hebat, pintar dan punya daya tarik tersendiri. Siapa yang tidak ingin bercinta denganmu, pikirku.” Demikian tulis sampeyan…

“Apa kau ingin bercinta denganku, Iam?”

Dear Iam,
Surat sampeyan sudah saya terima. Berikut kartu ucapan, dan hadiah-hadiah lain. Ya, surat itu datang satu jam sebelum surat yang lainnya datang. Am, sekarang saya serupa kupu-kupu yang enggan terbang.

Saya membacanya berulang-ulang, kuatir salah mengartikan surat kecil itu. Tiba-tiba, saya seperti ingin membalas surat sampeyan. Karena, malam ini tak akan ada apa-apa. Tak akan ada siapa-siapa. Seperti tahun-tahun yang sudah. Jadi sampeyan tak perlu merasa sangsi.

Mungkin saya akan meniup lilin tanpa kue tart sendirian. Dengan senyum saya akan membagikan beberapa doa kecil pada banyak orang, pada sampeyan juga tentu saja. Adakah sampeyan cemburu pada lilin tanpa kue itu, Am? Tentu tidak.

Memang hanya lilin yang akan bersama saya nanti malam. Kalau saya menyalakannya di atas telapak tangan saya, ia secepatnya akan menyala. Cairan-cairan yang menetes dan mengalir di telapak tangan saya begitu jujur. Serupa nyeri di telapak tangan itulah, kepedihan lahir dari surat sampeyan siang tadi. Adakah saya melakukan sebuah kesalahan baru, Am? Sampai tak lagi harapan di gantungkan serupa layang-layang? Baik, kita tak harus membahasnya.

Iam, apakah saya nampak palsu di hadapan sampeyan? Apakah saya nampak tidak apa adanya di mata sampeyan? Apakah sedemikian sunyinya saya? sampai sampeyan tidak bisa mendengar apa yang suara-suara itu bunyikan? Maafkanlah saya Am…

Jika saya hadir serupa godaan yang berujung malapetaka bagi sampeyan, maafkanlah saya. Dan apabila saya nampak serupa rayuan dan ciuman tak tertahankan bagi sampeyan, maafkanlah saya.

Hanya surat ini yang bisa saya kirimkan sebagai ucapan terimakasih dari hadiah-hadiah manis yang sampeyan kirim. Mungkin sampeyan menganggap tak mungkin berseorangan melewatkan hari yang bisa saja sangat istimewa. Tapi ini hari biasa Am, sangat biasa, atau bahkan bisa lebih biasa dibanding hari-hari sebelumnya. Saya tak harus keluar membeli beberapa botol minuman, buah, coklat, dan kue. Ini sungguh hari biasa…

Apa yang harus dirayakan? Tidak ada. Usia semakin tua. Akan bertambah banyak pertanyaan baru lahir. Serupa, Sekarang kerja dimana? Kapan menikah atau sudah? Punya berapa anak? Jadi calon suami kerja dimana? Saya tak mau merayakan pertanyaan-pertanyan itu.

Apa yang harus disyukuri? Ketika semakin dekat kita pada janji Tuhan. Kematian. Aih, Am. Adakah janji dari sampeyan yang bisa lebih pasti dari itu? Perjalanan hampir sampai. Sekarang akan nampak semakin sia-sia, jika tak bisa meraih sesuatu yang baru. Apakah ada banyak orang yang dilahirkan untuk gagal, Am?

Masih ada empat jam lagi. Sampeyan bisa saja menelepon, sebelum batrenya benar-benar pecah dan saya tak lagi bisa menerima telepon sampeyan. Ya, e90 yang sekarang tergeletak di samping komputer akan mulai berbunyi, menggantikan yang lama. Haruskah begitu, Am?

Ya, saya tak akan kemana-mana, Am. Jadi begitu sampeyan mengulang pertanyaan, ”Malam ini akan kemana?” jawabannya tetap akan sama, ”Di rumah saja Am, merokok dan ngopi seperti biasanya.” Jangan mencurigai saya Am, jangan. Bukan karena saya tak suka dicurigai, tapi itu tak akan baik bagi pertemanan kita. Teman tak mengenal curiga, Am. Seperti kekasih yang tak mengenal cemburu. Begitu?

Nah, saya ingat sebuah kalimat lagi dalam surat sampeyan, “Ah masalah cinta. Tak perlu dibahas. Kamu tidak menyukainya. Kurasa.” Am…adakah yang bisa -lagi- dibahas?

“Biarkan harapan tetap lahir sebagai layang-layang di tanganmu, di tanganku…sampai saatnya. Semoga tak harus menunggu esok untuk sampeyan membaca surat ini. Tiki sudah tutup Am, lebih cepat dengan ini.”

Dengan surat kecil ini, saya akan merayakan ulang tahun saya malam nanti…

25 April 2008

 

Tags: ,

7 responses to “surat terakhir tahun ini

  1. langitjiwa

    April 26, 2008 at 2:52 am

    kalau begitu selamat merayakan ulang tahunnya.

    bagaimana khbar,mbak disana?

     
  2. yos

    April 28, 2008 at 4:03 am

    di usiamu yang telah berkurang
    menjadi bait-bait puisi
    smoga hari-harimu makin bercerita
    tentang semua
    selamat ulangtahun
    bagi yang merayakannya.

     
  3. LA

    May 1, 2008 at 7:21 am

    sudah seminggu lebih tak ol dan mampir kesini…aku hanya tersenyum teman…dan janji itu… aku tunggu bila suatu saat kan ada. ok!!
    Am… akankah kau cabik2 hati temanku ini??
    bila iya… derai tawa aku dan ia kan meledak di telingamu begitu deras. mampus ane… katanya!

     
  4. novika

    May 3, 2008 at 6:54 am

    slmt ultah … maaf br sempat ngucapi. jarang ol buat sy hampir lupa cara membuka fs da sebagaina. suer sy gak boong….sukses trus buat km n bhrp sy akan trus mengagumi km. sy rasa adik km lebih menarik ketimbang km. jgn khawatir sy pun demikian.

     
  5. JenGis

    May 10, 2008 at 8:01 am

    hahahhahahaa…selesaikanlah! saya tunggu.

     
  6. asalnama

    May 14, 2008 at 1:41 pm

    selamat ulang tahun sayang

     
  7. herlinatiens

    May 18, 2008 at 5:21 pm

    terimakasih…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: