RSS

Ode Jari Manis

29 Mar

s4031745.jpg
Begitu memiliki Ode sebagai suami, aku menjadi harus berpikir ulang untuk merencanakan liburan pribadi seperti yang biasa aku lakukan. Maksudku adalah; pergi sendirian membeli paket wisata ke suatu tempat. Tentu saja dengan bonus-bonus perjalanan yang menjanjikan, semacam sepotong bibir ataupun airmata dari pemuja baru. Membingkai sepekan perjalanan dan petualangan di ranjang dalam vanity case. Ya, aku memang musti memikirkannya berulang-ulang kali untuk bepergian sendiri -lagi-.
Tidak hanya itu, untuk urusan selera baju dan jam makan pun, aku harus menyesuaikan diri. Dari yang semula aku menyukai kaus tanpa lengan menjadi musti -paling tidak- sedikit berlengan. Dari yang aku biasa makan di sembarang jam, menjadi aku musti menyediakan waktu khusus untuk sarapan, makan siang dan makan malam bersama. Ode akan mengucapkan terimakasih untuk perubahan yang telah kulakukan dan lalu dia menghadiahi kecupan lembut di bibirku sekian menit. Sebuah pembayaran yang cukup bagus..
Pendeknya, aku masih seringkali tergagap menyadari hal-hal baru yang musti aku lakukan juga segala perubahan. Menghentikan kebiasaan ngobrol sampai larut malam dengan banyak orang. Menjauhkan diri dari botol-botol manis yang melenakan. Tidak lagi bebas menggelayutkan tangan di lengan orang lain. Dan tentu saja, menghentikan segala kesenangan yang bisa dianggap tidak etis untuk seorang istri.
Sesungguhnya aku merindukan liburan yang biasa aku lakukan setiap akhir tahun. Tiga tahun yang lalu aku berlibur ke Dayak, menghitung bebatuan pada sebuah pantai dan mendapatkan pemuja baru yang menangis begitu aku mengatakan, “Ya, kita hanya berteman, anggap saja yang kemarin sebagai pelengkap liburan, bonus perjalanan. Jangan dianggap seriuslah.”
Aku pulang dengan tenang. Sementara nomor handphone laki-laki itu terus masuk dan terekam dalam catatan blacklist handphone. Sebulan kemudian lahir lukisan baru dalam kanvas yang siap diperebutkan orang. Sebagai pelukis, aku tahu dimana letak kelebihanku, dan tentu saja bagaimana cara aku mendapatkannya.
Tidak seperti orang lain, yang konon kabarnya perlu menyendiri dulu untuk menghasilkan sesuatu. Aku lebih senang menikmati cara orang ketika berada di sampingku saat melakukannya. Adakah yang salah?
Tapi sudah tiga tahun ini, aku selalu menghabiskan waktu liburan bersama Ode. Jadi? Sama dengan orang-orang lain yang berjemur di pasir atau menanam tubuh mereka dalam-dalam pada lumpur berempah. Aku tak ada bedanya dengan pasangan suami istri lain, yang tengah menghangatkan hubungan dengan bulan madu kesekian. Bukan pejalan yang tengah menikmati sesuatu dengan seadanya.
Sepertinya aku mulai merindukan kebiasaan-kebiasaan lamaku. Membeli paket wisata ke Bali mungkin. Memakai baju super ketat untuk memamerkan perutku yang indah. Meminta bantuan guide laki-laki yang kebetulan lewat untuk mengoleskan cream pelindung di sekujur tubuh. Dan, sedikit berbuat iseng sembari menikmati suara sekitar.
Aku kangen berjalan sepanjang jalan telanjang kaki sembari merokok dan memotret hal-hal yang tak menarik bagi orang lain. Tahi kuda yang terlindas ban sepeda, orang-orang yang meremas payudaranya sendiri karena gatal, atau bungkus rokok yang tersisih di pinggir jalan. Oh, aku kangen melakukan semua itu tanpa musti memikirkan teh hangat untuk suami atau pertanyaan-pertanyaan yang bisa saja dibisikkannya di telingaku sebelum kami berangkat bercinta.
Aku akan melukis sesuatu yang lain, yang kata para kurator lukisan adalah sebuah lukisan yang bahkan tak terbayangkan oleh pelukis lain. Aku melukis angin sebelum pelukis lain bersentuhan dengan udara. Aku melukis alis saat pelukis lain melukis rambut dan bulu. Begitu lukisan itu jadi, kolektor akan berebut untuk memilikinya.
Ada saatnya aku memerlukan berdekatan dengan seseorang, tanpa mempertimbangkan peluang yang terbuka lebar untuk mereka jatuh cinta dan tergila-gila padaku. Ya, kenyataannya orang-orang yang menjadi jalan bagiku mencari objek lukisan itu merasa telah kuberi jalan untuk jatuh cinta dan bertekuk lutut pada senyumku. Dan tentu saja, mereka salah besar. Kebenarannya memang tak ada yang lebih menarik dibandingkan diriku sendiri.
Begitu seseorang merasa telah aku manfaatkan untuk menjadi objek lukisan dengan nempil melirik ukuran penisnya, atau menghitung jumlah rambut yang tumbuh di dadanya, mereka akan berteriak-teriak menganggapku keparat cinta. Kalau kuhitung-hitung, aku memang telah sangat bersalah. Tapi benarkah salah hanya karena seseorang terluka?
Bagiku, seorang yang bodoh memang jauh lebih mudah merasa sakit hati. Manusia konyol mudah terpuruk karena patah hati. Dan karena aku hanya menciptakan sebuah lukisan dari situ, baiklah kalau aku mengamieni saja. Apakah aku tampak seperti penyeleweng?
Ya, aku kangen pada hidupku yang lama. Melukis tanpa siapapun di sampingku. Tapi sekarang semua menjadi sulit. Ode tidak akan pernah mengijinkanku untuk sendirian bepergian. Alasannya simpel saja, dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padaku. Baginya, yang aman-aman sajalah, tidak perlu sok seniman katanya. Aku sendiri bingung, apakah aku nampak seperti orang yang tidak sehat baginya? Waw….
Kalau aku melukis sedikit aneh, suamiku yang baik itu akan bilang, ”Kok begitu, nggak takut diserbu kelompok agamais?” atau dia akan sekonyong-konyong melarangku mengadakan pameran tunggal untuk lukisan-lukisan itu. Kalau sudah begitu, aku akan kesal dan mencoret-coret kanvas yang sudah dipenuhi impian. Dia akan tersenyum, menatapku sedikit ganjil lalu membelaiku.
Tapi kenyamanan tidak lantas kudapat dari situ. Aku telah merindukan apa yang bertahun-tahun aku lakukan sebelum menikah dengannya. Aku lebih senang disebut gila daripada tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku lebih senang disebut pengkhianat daripada tidak bisa melakukan apa yang telah aku rindukan.
Berulangkali aku sampaikan, kalau aku akan baik-baik saja dengan bepergian sendirian. Tapi dia selalu saja mengatakan tidak. Kalau aku mencoba membongkar baju-bajuku yang dulu, dia akan dengan mudah tersenyum sembari mengembalikan baju-baju itu ke tempatnya. Tidak sopan dipakai, katanya.
Perkawinan adalah jual beli yang rumit dan mahal. Dan aku telah membeli sesuatu dengan menjual banyak hal dari diriku. Begitu aku menyadarinya, aku akan menarik nafas mempelajari segalanya dengan perlahan. Ya, kenyataannya segalanya memang tak akan pernah sama ketika seseorang nyaman memanggilku sayang dalam sebuah lubang perkawinan.
Baginya, aku telah mendapatkan hak sebagai istri dengan memberikan apa yang wajib dia lakukan untukku. Dan karenanyalah dia juga menuntut haknya sebagai seorang suami yang mencintaiku dengan kewajiban yang musti aku lakukan. Segalanya memang tak sama. Benar, ada hal-hal yang bisa aku pertahankan, tapi banyak dari itu semua yang musti aku ubah karena seseorang telah memanggilku sayang dalam perkawinan yang telah kupilih.
Jari manisku menjentik-jentik seakan menularkan pemahaman yang tertunda untuk disadari. Aku memainkan cincin yang melingkar sejak tiga tahun itu. Beberapa kali aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cepat tanpa memberi kesempatan untuk berlama-lama di rongga pernafasan.
Kulepas cincin yang kadang-kadang membuat jemariku gatal. Pada beberapa bagian permukaannya telah tergores. Mungkin tergores kuas saat melukis. Mungkin tergores gelas saat minum. Atau bisa juga tergores kaleng cat di sebuah sore. Kalau saja melepas pernikahan semudah melepas cincin bermata berlian itu, aku tak akan bimbang untuk mencoba melakukannya sesekali saja. Karena begitu aku rindu suasana perkawinan aku akan memasukinya kembali semudah memasukkan jari manis ke lubang cincin.
Kenyataannya semua memang tak semudah yang kukira. Ya, memang ada beberapa hal simpel yang boleh kupertahankan. Tapi nyatanya, terlalu banyak hal besar yang musti kutinggalkan untuk jual beli bernama perkawinan.

Yogyakarta, Januari 2007

 
6 Comments

Posted by on March 29, 2008 in Cerita-cerita Pendek

 

6 responses to “Ode Jari Manis

  1. astri

    March 30, 2008 at 5:02 am

    apakah ini bagian juga dari yang akan menetes mbak herlin? heheheheh
    idiihh.. napa aku ikut2an panggil sampeyan “mbak”.. kayak she aja..hehehe.. yaa gpp lah mbak..
    btw, gimana project kite berdua mbak, itu tuh, profesi baru mbak.. bisa jalankah?hahahahah

     
  2. enno

    March 30, 2008 at 6:37 am

    aku mampir… cerpen yang menggugah… mungkin aku juga akan mengalami yg seperti ini suatu hari nanti kalau sdh menikah😀

     
  3. herlinatiens

    March 31, 2008 at 6:26 am

    terimakasih enno. untuk response-nya juga. bagi-bagilah blognya, biar saya bisa gantian baca tulisan sampeyan..🙂

     
  4. opungnaburju

    April 1, 2008 at 4:27 am

    dalam perkawinan….
    semua yang ada didunia ini (suami, harta, dll..), tidaklah sebanding dengan mulut kecil si buah cinta yang terpejam sambil menetek

     
  5. yos

    April 1, 2008 at 8:23 am

    kenapa kau menangis sayang
    tlah kaulalui hari-harimu
    yang sepi
    dan
    terluka,
    di kereta
    tlah kutaburkan debu cemburu
    bukan api cemburu
    karna
    api akan membakar habis apasaja
    sedangkan debu
    mampu mengotori
    mampu mensucikan */malah tayammum/*
    hingga berkilau
    siapakah cinta sejatimu
    memang cinta tak terbatas */cintane habib/*
    tapi engkau bebas memilih.
    engkau perlu tahu
    seorang suami, kapan saja bisa berubah
    jadi ayah
    jadi teman
    jadi kakak
    jadi adik
    kadang manja seperti anak
    jadi selimut ataupun bantalguling.
    tapi memang andaikata engkau menikah
    ceritamu pasti akan berubah
    takutkah engkau akan perubahan?
    tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri
    Apakah hendak kau sia-siakan gaun putih pengantin itu
    yang disertai kembang anggrek putih.
    menikah takkan menghapus sahabat
    cuma kau akan merasa mudah
    untuk membangunkan ataupun menidurkan burung pipit

     
  6. desi.krist

    September 17, 2013 at 8:57 pm

    Suka

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: