RSS

Monthly Archives: March 2008

Ode Jari Manis

s4031745.jpg
Begitu memiliki Ode sebagai suami, aku menjadi harus berpikir ulang untuk merencanakan liburan pribadi seperti yang biasa aku lakukan. Maksudku adalah; pergi sendirian membeli paket wisata ke suatu tempat. Tentu saja dengan bonus-bonus perjalanan yang menjanjikan, semacam sepotong bibir ataupun airmata dari pemuja baru. Membingkai sepekan perjalanan dan petualangan di ranjang dalam vanity case. Ya, aku memang musti memikirkannya berulang-ulang kali untuk bepergian sendiri -lagi-.
Tidak hanya itu, untuk urusan selera baju dan jam makan pun, aku harus menyesuaikan diri. Dari yang semula aku menyukai kaus tanpa lengan menjadi musti -paling tidak- sedikit berlengan. Dari yang aku biasa makan di sembarang jam, menjadi aku musti menyediakan waktu khusus untuk sarapan, makan siang dan makan malam bersama. Ode akan mengucapkan terimakasih untuk perubahan yang telah kulakukan dan lalu dia menghadiahi kecupan lembut di bibirku sekian menit. Sebuah pembayaran yang cukup bagus..
Pendeknya, aku masih seringkali tergagap menyadari hal-hal baru yang musti aku lakukan juga segala perubahan. Menghentikan kebiasaan ngobrol sampai larut malam dengan banyak orang. Menjauhkan diri dari botol-botol manis yang melenakan. Tidak lagi bebas menggelayutkan tangan di lengan orang lain. Dan tentu saja, menghentikan segala kesenangan yang bisa dianggap tidak etis untuk seorang istri.
Sesungguhnya aku merindukan liburan yang biasa aku lakukan setiap akhir tahun. Tiga tahun yang lalu aku berlibur ke Dayak, menghitung bebatuan pada sebuah pantai dan mendapatkan pemuja baru yang menangis begitu aku mengatakan, “Ya, kita hanya berteman, anggap saja yang kemarin sebagai pelengkap liburan, bonus perjalanan. Jangan dianggap seriuslah.”
Aku pulang dengan tenang. Sementara nomor handphone laki-laki itu terus masuk dan terekam dalam catatan blacklist handphone. Sebulan kemudian lahir lukisan baru dalam kanvas yang siap diperebutkan orang. Sebagai pelukis, aku tahu dimana letak kelebihanku, dan tentu saja bagaimana cara aku mendapatkannya.
Tidak seperti orang lain, yang konon kabarnya perlu menyendiri dulu untuk menghasilkan sesuatu. Aku lebih senang menikmati cara orang ketika berada di sampingku saat melakukannya. Adakah yang salah?
Tapi sudah tiga tahun ini, aku selalu menghabiskan waktu liburan bersama Ode. Jadi? Sama dengan orang-orang lain yang berjemur di pasir atau menanam tubuh mereka dalam-dalam pada lumpur berempah. Aku tak ada bedanya dengan pasangan suami istri lain, yang tengah menghangatkan hubungan dengan bulan madu kesekian. Bukan pejalan yang tengah menikmati sesuatu dengan seadanya.
Sepertinya aku mulai merindukan kebiasaan-kebiasaan lamaku. Membeli paket wisata ke Bali mungkin. Memakai baju super ketat untuk memamerkan perutku yang indah. Meminta bantuan guide laki-laki yang kebetulan lewat untuk mengoleskan cream pelindung di sekujur tubuh. Dan, sedikit berbuat iseng sembari menikmati suara sekitar.
Aku kangen berjalan sepanjang jalan telanjang kaki sembari merokok dan memotret hal-hal yang tak menarik bagi orang lain. Tahi kuda yang terlindas ban sepeda, orang-orang yang meremas payudaranya sendiri karena gatal, atau bungkus rokok yang tersisih di pinggir jalan. Oh, aku kangen melakukan semua itu tanpa musti memikirkan teh hangat untuk suami atau pertanyaan-pertanyaan yang bisa saja dibisikkannya di telingaku sebelum kami berangkat bercinta.
Aku akan melukis sesuatu yang lain, yang kata para kurator lukisan adalah sebuah lukisan yang bahkan tak terbayangkan oleh pelukis lain. Aku melukis angin sebelum pelukis lain bersentuhan dengan udara. Aku melukis alis saat pelukis lain melukis rambut dan bulu. Begitu lukisan itu jadi, kolektor akan berebut untuk memilikinya.
Ada saatnya aku memerlukan berdekatan dengan seseorang, tanpa mempertimbangkan peluang yang terbuka lebar untuk mereka jatuh cinta dan tergila-gila padaku. Ya, kenyataannya orang-orang yang menjadi jalan bagiku mencari objek lukisan itu merasa telah kuberi jalan untuk jatuh cinta dan bertekuk lutut pada senyumku. Dan tentu saja, mereka salah besar. Kebenarannya memang tak ada yang lebih menarik dibandingkan diriku sendiri.
Begitu seseorang merasa telah aku manfaatkan untuk menjadi objek lukisan dengan nempil melirik ukuran penisnya, atau menghitung jumlah rambut yang tumbuh di dadanya, mereka akan berteriak-teriak menganggapku keparat cinta. Kalau kuhitung-hitung, aku memang telah sangat bersalah. Tapi benarkah salah hanya karena seseorang terluka?
Bagiku, seorang yang bodoh memang jauh lebih mudah merasa sakit hati. Manusia konyol mudah terpuruk karena patah hati. Dan karena aku hanya menciptakan sebuah lukisan dari situ, baiklah kalau aku mengamieni saja. Apakah aku tampak seperti penyeleweng?
Ya, aku kangen pada hidupku yang lama. Melukis tanpa siapapun di sampingku. Tapi sekarang semua menjadi sulit. Ode tidak akan pernah mengijinkanku untuk sendirian bepergian. Alasannya simpel saja, dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padaku. Baginya, yang aman-aman sajalah, tidak perlu sok seniman katanya. Aku sendiri bingung, apakah aku nampak seperti orang yang tidak sehat baginya? Waw….
Kalau aku melukis sedikit aneh, suamiku yang baik itu akan bilang, ”Kok begitu, nggak takut diserbu kelompok agamais?” atau dia akan sekonyong-konyong melarangku mengadakan pameran tunggal untuk lukisan-lukisan itu. Kalau sudah begitu, aku akan kesal dan mencoret-coret kanvas yang sudah dipenuhi impian. Dia akan tersenyum, menatapku sedikit ganjil lalu membelaiku.
Tapi kenyamanan tidak lantas kudapat dari situ. Aku telah merindukan apa yang bertahun-tahun aku lakukan sebelum menikah dengannya. Aku lebih senang disebut gila daripada tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku lebih senang disebut pengkhianat daripada tidak bisa melakukan apa yang telah aku rindukan.
Berulangkali aku sampaikan, kalau aku akan baik-baik saja dengan bepergian sendirian. Tapi dia selalu saja mengatakan tidak. Kalau aku mencoba membongkar baju-bajuku yang dulu, dia akan dengan mudah tersenyum sembari mengembalikan baju-baju itu ke tempatnya. Tidak sopan dipakai, katanya.
Perkawinan adalah jual beli yang rumit dan mahal. Dan aku telah membeli sesuatu dengan menjual banyak hal dari diriku. Begitu aku menyadarinya, aku akan menarik nafas mempelajari segalanya dengan perlahan. Ya, kenyataannya segalanya memang tak akan pernah sama ketika seseorang nyaman memanggilku sayang dalam sebuah lubang perkawinan.
Baginya, aku telah mendapatkan hak sebagai istri dengan memberikan apa yang wajib dia lakukan untukku. Dan karenanyalah dia juga menuntut haknya sebagai seorang suami yang mencintaiku dengan kewajiban yang musti aku lakukan. Segalanya memang tak sama. Benar, ada hal-hal yang bisa aku pertahankan, tapi banyak dari itu semua yang musti aku ubah karena seseorang telah memanggilku sayang dalam perkawinan yang telah kupilih.
Jari manisku menjentik-jentik seakan menularkan pemahaman yang tertunda untuk disadari. Aku memainkan cincin yang melingkar sejak tiga tahun itu. Beberapa kali aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cepat tanpa memberi kesempatan untuk berlama-lama di rongga pernafasan.
Kulepas cincin yang kadang-kadang membuat jemariku gatal. Pada beberapa bagian permukaannya telah tergores. Mungkin tergores kuas saat melukis. Mungkin tergores gelas saat minum. Atau bisa juga tergores kaleng cat di sebuah sore. Kalau saja melepas pernikahan semudah melepas cincin bermata berlian itu, aku tak akan bimbang untuk mencoba melakukannya sesekali saja. Karena begitu aku rindu suasana perkawinan aku akan memasukinya kembali semudah memasukkan jari manis ke lubang cincin.
Kenyataannya semua memang tak semudah yang kukira. Ya, memang ada beberapa hal simpel yang boleh kupertahankan. Tapi nyatanya, terlalu banyak hal besar yang musti kutinggalkan untuk jual beli bernama perkawinan.

Yogyakarta, Januari 2007

 
6 Comments

Posted by on March 29, 2008 in Cerita-cerita Pendek

 

Selingkuh = Sexual Aberration?

.: Hati-hati dengan efek samping :.

Namanya Rusli, dia akan menanyakan sesuatu dengan cara kanak-kanak pada saya. Seperti biasa, baru saja sms dia masuk. From:nicebro (+6281826****) sudah selingkuhkah anda hari ini? Selingkuh 5kali sehari akan menghilangkan stress. Eh becanda. Mantap mantap.
Saya dengan cekatan membalas sms-nya; Sudah dong, tapi tenang, segalanya aman. Tak ada satu menit, balasannya masuk; ok perhatikan kanan kiri anda sebelum selingkuh. Pastikan tempat dan waktu aman. Save first. Aku juga mau selingkuh ini. Ma monyet dan kambing. Mbeek. Mau kuliah ah.
Nah, saya tersenyum seperti menemukan ide dengan membalas; Ya lah sana. Kalau kuliah belum bener, saya sarankan anda jangan selingkuh dulu. Karena, efek sampingnya sangat tidak menguntungkan bagi jantung anda. Dia membalas; Asu, Asu, Asu!!!

Saya tertawa sesudahnya. Bagi dia, saya memang selalu nampak sebagai peselingkuh yang handal. Tanpa perlu merayu dan menggombal, laki-laki dan perempuan akan mudah mendekat pada saya. Tapi benarkah saya begitu? Tentu saja itu tidak benar. Tentu itu tidak tepat. Lagipula selingkuh dari apa? dari siapa? dengan siapa? dimana? Ah dia mengada-ada, bukan? Berselingkuh adalah ketika kita melanggar suatu kesepakatan bersama. Pertanyaannya adalah bersama dengan siapa? Kalau tidak ada siapa-siapa masih dikatakan selingkuh itu pasti dia menganggap saya terlalu mencintai diri sendiri. Otomatis, maksud dia adalah berselingkuh dari diri saya sendiri, “AKU.”
Tiba-tiba juga saya ingat kajian “Aspek Penyimpangan Seksual dalam Karya Sastra” dalam skrisi saya. Dalam sebuah paparan tersendiri, saya mencoba mengupas apa-apa saja yang dimaksud dengan penyimpangan seksual.

Meminjam penjelasan dari Marzuki Umar S, “Bagaimana mungkin manusia tidak terperangkap senggama pra-nikah jika setiap hari antara laki-laki dan perempuan bertemu dan bercengkrama? Bagaimana mungkin tidak ada kisah suami yang selingkuh jika pertemuan laki-laki dan perempuan dengan penampilan terbaik mereka, laki-laki dengan dandanan sempurna dan perempuan dengan obsesi seksi dan memikatnya, sering terjadi?”
Ah, sebenarnya saya kurang sepakat dengan kalimat-kalimat barusan itu. Kok lantas begitu? Selingkuh itu apa? seperti apa sajakah yang termasuk selingkuh? Bahkan beberapa orang menganggap bahwa perselingkuhan adalah sebuah penyakit. Yang mengarah ke suatu hubungan seksual juga dianggap sebagai penyimpangan seksual (abnormal). Sejajar dengan prostitusi, promiscuity, adultery, satyriasis, anorgasme, frigiditas, dysparenia, vaginismus, initial coitus difficulties, ejakulasi prematur, copulatory impotensi/psychogenic aspermia, dan impotensi. Tentu aneh bagi saya membayangkan laki-laki yang impoten lantas disebut memiliki penyimpangan seksual. Yang hampir setingkat (hampir disejajarkan) dengan zoofilia, nekrofilia, pornografi/obsceniti, pedofilia, fethisme, incest dan beberapa lagi yang lain.

Nah, kalau misal saya menuliskan homoseksual sebagai salah satu bentuk penyimpangan seksual, (seperti psikoanalisisnya Sigmund Freud) tentu akan ada teman-teman yang menganggap teori itu tidak benar. Sebagian yang termasuk dalam yang hobi selingkuh akan menganggap bahwa perselingkuhan mereka tentu saja tidak sama dengan homoseksual apalagi zoofilia.
Tentu saja ‘perselingkuhan’ yang menjadi bahan candaan antara saya dan Rusli tidak sama dengan ‘perselingkuhan’ yang dimaksud oleh si Marzuki dalam teori2teorinya. Atau sebenarnya sama saja? Mungkin patut ditanya, perselingkuhan yang seperti apa? Yang , melibatkan apa saja. Tapi hitung punya hitung, memasng bisa saja mengarah ke teori yang dipaparkannya. Kalau semisal saya hoby selingkuh, entah dengan melibatkan ‘komunikasi fisik’ atau tidak tetap masuk dalam penyimpangan seksual. Tentu saja, kita musti ingat, bahwa relasi seksual, tidak hanya melibatkan fisik, tapi juga jiwa dan manifestasi seksual lain. Mungkin -saja- saya bukan termasuk orang-orang setia, tapi saya juga tidak hoby selingkuh apalagi jatuh cinta…apa ini juga penyimpangan? Pelanggaran kata Bayu, teman saya bilang.

Dalam psikoanalisis om Sigmund Freud, dunia bawah sadar manusia semata-mata hanyalah sebatas dunia seksual semata. Keyakinan ini ditentang oleh muridnya sendiri Carl Gustav Jung yang menganggap bahwa dunia bawah sadar tidak sebatas ‘dunia seksual.’ Nah dunia bawah sadar inilah yang mencakup ranah yang lebih luas.
Yang selanjutnya sebenarnya bisa saja kita mendiskusikan perihal objek seksual dengan tujuan seksual. Karena, saya pikir, dua hal inilah yang membuat seseorang bisa dikategorikan menjadi orang yang abnormal atau normal. Perselingkuhan bila dikaji dari tujuan dan objeknya, bisa-bisa saja diyakini orang sebagai salah satu bentuk penyimpangan seksual, sexual abrration. Wew….
Kalau homoseksual yang menurut Sigmund Freud termasuk sexual aberration saja tidak mau mengakui/merasa kalau mereka menyimpang, apalagi yang hoby selingkuh yang bisa saja berpikir wajar-wajar saja. Tapi kalau selingkuhnya dengan kambing atau anjing tetangga kek mana itu? Doh..lengkaplah sudah.

****
Belum selesai saya menulis ini, sms dari seorang kawan masuk, from: Diah Ayu (+62817685***) katanya kamu punya pacar baru di Bali ya? Lalu yang di Bandung bagaimana?

Saya mungkin tahu siapa yang Diah Ayu maksud, tentang Bandung dan Bali. Tapi saya tak tahu, mengapa dia menduga saya memiliki ikatan dengan keduanya. Saya kira Diah Ayu inilah yang sebenarnya mengalami penyimpangan seksual. Puas hasratnya, kalau berhasil membuat saya kesal. Hehehehe.

 
24 Comments

Posted by on March 25, 2008 in Essay

 

Tags: , , , ,

Cupido atau Floria Aemelia?

Tiada setetes pun dimurnikan oleh jejampi di tengah malam, tak ada seni tiada mantra, yang akan pernah mampu mengisi, dengan gejolak selain dirimu, kasihku.
-Laurence Binyon-

Saat saya sedang membuka-buka lagi Gunung Jiwa pagi tadi karena suatu hal, tiba-tiba sebuah sms masuk. “apakah kau fana dan nyata belaka?” Saya tersenyum, tanpa beban, saya membalasnya, dengan terlebih dulu memasukkan kode 001 di depan nomornya, “cinta adalah anak penipuan dan bapaknya ilusi.” Sebenarnya ungkapan ini saya dapat dari The Tragic Sense of Life, milik Miguel de Unamuno.
Lagi-lagi sms darinya masuk, “Kecurigaanmu sungguh membabi buta, nona.” aih….
Jangan salah sangka, saya bukannya sedang berhenti merasakan nikmat mencintai dengan tiba-tiba dan tanpa alasan, lantas menuliskan sms itu padanya. Saya bahkan tak sempat merasakan patah hati yang sangat. Tak sempat merengek, tak sempat menjerit, tak sempat menjerit. Kalau sempat menangis itu pasti karena sebuah kewajaran belaka. Tak berlebihan.
Shakespeare bilang: orang gila, manusia yang kasmaran dan penyair, sama-sama pengkhayal.” Aih, sedap betul ungkapan itu. Ini yang membantu saya melewati banyak hal.
meski kadang-kadang iseng saya bertanya. Lantas, Om Shakespeare yang ganteng, mengapa ada Hesiodes dengan Eros-nya. Aphrodite-nya mbah Homerus. Cupido si putra Venus. Cupido si bandel kecil yang menjadi guru terbaik dengan suka secara acak dan sewenang-wenang melepaskan panah-panah cintanya tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang dilukainya? Saya ikutan ah…
Pengaruh kuat cinta seringkali terasa lebih magis dengan intensitas dan ketiba-tibaanya yang membuat orang menjadi buta dan kehilangan akal. Maka jangan salahkan orang di luar sana kalau berhenti mencintai anda dan jatuh cinta pada yang lain dengan tiba-tiba dan terasa tergesa.
Banyak kekasih yang menciptkan pertemuan-pertemuan rahasia lantas berakhir dengan kematian saja. Anda berhak memilih.
manis pahitnya mencintai sangatlah berimbang. Kalau anda kebagian pahitnya, ya mungkin karena di luar sana ada yang merasakan manisnya. Anda tentu senang menjadi penyeimbang kehidupan? kekekke
tapi, biasanya kisah-kisah cinta yang berakhir tragis yang mudah dikenang oleh banyak orang. Di abad pertengahan, hal ini dilambangkan oleh pasangan kekasih dari Perancis, Abelard dan Heloise. Yang tenggelam dalam sesak cinta terlarang antara seorang guru dan muridnya. Belum lagi patah hati perempuan Afrika bernama Floria Aemilia pada kekasih yang meninggalkannya dengan mengatasnamakan Tuhan; uskup Hippo, Santo Agustinus.
Jadi kalau mau dikenang, mending kita merakit cinta yang berakhir tragis saja. Uhuy…siapa berani mencoba?

“Hidup ini singkat, Floria….” Vita Brevis.

 
12 Comments

Posted by on March 11, 2008 in Essay