RSS

+98, namanya teddy sedikit suhail

28 Dec

98

Dia teman saya. Dia memang teman saya. Akan selalu menjadi teman saya. Dia teman rahasia saya. Dialah rahasia saya. Yang paling rahasia di antara yang ter rahasia. Sepasang matanya selalu seperti itu. Tampak seperti pasir yang membuat mata yang memandangnya mengerjap. Sekarang saya membaginya, sebagai sebuah rahasia yang siap ditutup kembali. Atau tetap menjadi misteri meski sudah saya bagi.

Kami berbagi. Berbagi banyak hal. Buku-buku bacaan. Kesenangan sedikit liar. Tawa-tawa konyol. Kesedihan-kesedihan. Kebohongan-kebohongan. Menulis fantasi kenangan. Menciptakan dunia kami dalam persembunyian. Tapi tidak satupun yang kami mengerti dengan cepat mengapa dan kenapa. Oh, mengapa dia harus bertanya, dan mengapa saya juga tak pandai menjawab, itu sudah pasti karena saya teman dia dan dia teman saya.

Dia menyebut Kerala. Saya menyebut Yogyakarta.
Dia menceritakan laut, tanah-tanah basah dimana dia mendirikan hotel-hotel kecil dan perayaan adat. Saya menceritakan pasir-pasir putih di pantai selatan, meja kecil tempat saya menulis kata-kata.

Kerala, menjadi puisi baru bagi kami. Saya pun menuliskannya dalam sebuah naskah novel saya yang baru. Dia menganggap saya selalu tahu banyak hal tentangnya, padahal itu tidak benar. Saya hanya tahu dia dari apa yang dia ceritakan pada saya. Tidak semuanya.

Suatu hari, kami bertengkar hebat. Tepatnya, saya yang tersinggung sangat. Saya mengeluhkan banyak hal. Dia merasa tak melakukan sesuatu yang membuat saya tersinggung. Saya menjauh dari dia. Mengganti nomor telepon. Memblog segala id dia dalam catatan saya. Tidak membalas pesan-pesan yang dia kirim. Tapi sebenarnya, saya tak pernah benar-benar cukup lama mengabaikannya.
Bagaimanapun teman tetap dan akan selalu menjadi teman.

Dia terus meninggalkan pesan untuk saya. Menuliskannya seperti hari-hari biasa. Saya melihatnya sambil lalu dan mendeletenya dengan serta merta. Delapan belas bulan berlalu, saya masih mengabaikannya, entah karena apa.

Tapi kemarin, saat hujan jatuh di samping saya, saya membiarkan jemari saya membalas pesan-pesan dia. Kami berjanji bertemu lagi. Saya mulai mencintai hujan, rintik yang membawa saya padanya. Beginilah mula-mula saya mulai menerima hujan kembali.
Hari ini tadi, saya membuka diri untuknya lagi. Sebagai teman yang tak hilang. Sebagai kawan yang selalu ada, meski sempat terselip. Lagi-lagi, kami bersitegang. Lalu dia menelepon, “Why you kept away from me?” begitu dia selalu bicara keras. Menit2 berlalu, dia masih menjelaskan banyak hal, saya berulang kali bilang, “Iam not liar! Iam not liar!”
Percuma menjelaskan banyak hal padanya, dia sedang kesal. Saya hanya memandangi wajahnya di layar. Matanya menahan amarah. Saya tahu, saya sangat kenal dia!

Namanya Suhail, Teddy sedikit Suhail. Tidak, tidak, memang namanya Suhail. Meski kalau sedang marah, saya akan memanggilnya “big liar.” Begitupun dia, akan memanggil saya, “big liar.” Saya tak tahu, bagaimana teman-temannya memanggilnya Teddy. Dan saya tak ingin mencari tahu.

Kalau dia menelepon saya, saya pasti akan -lagi- menjawabnya. Tapi, kalau dia datang -lagi-, saya tidak berjanji akan menemuinya.
Begitulah, hubungan kami diciptakan untuk demikian. Kami tidak akan tersesat. Kami tidak akan membuat peta. Karena peta-peta itu tergambar dengan sendirinya, tanpa kami minta.

Kami tak akan kehilangan satu sama lain, kami sudah melaluinya. Waktu begitu berdamai dengan kami. Adakah keinginan lain dari yang sangat sempit dan sedikit ini? Selain mencoba menerima. Kira-kira, begitu juga yang saya selalu katakan padanya. Pelan-pelan, kami juga akan berdamai melalui hari istimewa sendirian. Kelak, kami akan saling mengingat, bahkan bila kami tetap bersama. Saya, dia, tak pernah tahu apa yang terjadi di esok hari. Kami, kawan lama yang bertemu lagi.

Tak ada rencana yang batal, karena kami tak pernah memiliki rencana. Tak ada janji yang diingkari, karena kami tak saling janji. Tak ada tempat-tempat yang manis, karena kamipun tak menodai sebuah tempat.

Saya kira, bagian tersulit dari pertemanan kami, adalah apabila malam teralu larut dan kami harus berangkat tidur. Kami selalu hanya saling melempar senyum, seakan berharap kebahagiaan selalu menyertai saya, menyertai dia. Sebagai teman, kami tak boleh merasa takut kehilangan satu sama lain.

Saya selalu berharap dia bercerita tentang seseorang yang baru. Dia pun berharap saya menceritakan seseorang padanya. Tapi siapa yang harus kami ceritakan? Saya senang, dia akan selamanya memanggil saya big liar.

Kami akan berhenti. Mengakhiri semuanya untuk memulai sesuatu. Dia teman saya. Akan selalu menjadi teman saya. Dia rahasia saya. Yang paling rahasia. Suhail namanya….

Dubai-Kerala

kau akan tersenyum
menatapku seperti santun bersinggung
sambil mengelus dadamu sendiri
ataupun tanpa keduanya, kau akan selalu tersenyum

seperti busur lupa jalan pulang
anak-anak panah kau tancapkan pelan di punggungku
ini rahasia, sayang
tak boleh dibuka-buka

kita selalu di tempat yang sama bukan?
tak sedikitpun boleh bersijingkat
tidak juga untuk mundur
dan menutupnya sebagai buku yang tak tuntas terbaca

tak ada lagi yang bisa dikorbankan
sebagai perapian penghangat jalan
tinggal tubuh kita bersunyi
akankah kita mengorbankan yang tersisa?

lebatkan dulu jambangmu, sayang. agar tampak wajahmu yang jalang.

(Hujan di antara mu, 28 Desember 2007)

 

18 responses to “+98, namanya teddy sedikit suhail

  1. she

    January 7, 2008 at 12:48 pm

    saya juga ingin mencintai hujan berserta rintiknya,
    agar dapat membawakan dia padaku,mbak…

    bukan hanya hujan berserta rintik saja…
    namun bersamaan dengan kencangnya angin, tak jua dia datang untukku.

     
  2. herlinatiens

    January 8, 2008 at 4:12 am

    begitulah, semesta selalu memberikan tugas masing2 untuk kita menjalaninya….
    kalau saja aku jatuh cinta sekarang ini, aku mau malam menyembunyikan kekasihku itu untuk diabadikan dalam masa yang tak pernah lalu…

     
  3. she

    January 10, 2008 at 12:00 am

    kok ‘ kalau saja ‘ mbak ?!😀

     
  4. herlinatiens

    January 10, 2008 at 2:35 pm

    sebenarnya memang tidak “kalau saja” seterusnya sudah benar🙂

     
  5. zen

    January 14, 2008 at 4:14 pm

    aku tadi nemu buku Revolusi Harapan, aku langsung ingat kowe. ingat gak dulu kamu pernah muji2 buku itu? kita baru dilantik di Paris.

     
  6. zen

    January 15, 2008 at 7:56 am

    komen di blogspot aja di pejalanjauh.blogspot.com. begitu aku dapat dan nemu Revolusi Harapan itu, aku langsung link di-blogmu. aku lagi eling mbien2, barusan nemu foto lamaku yg culun bgt di fs-nya rodhi. walah… waktu wes rak iso balen ya? dan sekarang, kt susah bisa bicara dg pribadi yg otentik. sadar atau tak, diakui atau tak, jika bicara dg teman2 seangkatan, serasa ada sehelai tipis kain yang dipasang. kangen kowe aku. kali ini tenanan!

     
  7. herlinatiens

    January 24, 2008 at 3:14 pm

    yang tenan Zen…mosok? yang tenan? iya revolusi harapan erich fromm…hehe

     
  8. riris

    February 12, 2008 at 1:17 am

    gimana ya, aku baca cerpenmu imlek terakhir kok nggak ada maknyuss-nya. serasa ‘ wis lah pokoke uwis’

     
  9. sister

    February 12, 2008 at 9:52 am

    kamu janda ya?jadi tersindir dengan cerpen mbak Lina.

     
  10. riris

    February 13, 2008 at 6:13 am

    emange janda trus nggak ada harganya

     
  11. saiful

    February 13, 2008 at 6:55 am

    hmmm seru tuh
    masih banyak stok tulisan???
    masih dengan pendekatan yang mutualisme?
    hahahaha
    aku lagi denger “hello” so i try to find you

     
  12. saiful

    February 13, 2008 at 7:02 am

    ehhh tanya lagi
    masih siaran di TV??

     
  13. herlinatiens

    February 13, 2008 at 11:05 am

    @ RIRIS, selalu ada yang suka dan tak suka Ris, dalam setiap karya yang kita buat.Ya kan?kebetulan saja sampeyan tidak suka, ya tidak masalah, yang lain suka. Pendeknya, kita tak bisa menuntaskan sesuatu pada banyak orang dengan bersamaan.ajaib kalau bisa begitu. Nah, makasih untuk masukkannya ya.
    @ SISTER, wew…mang imlek ttg janda ya? kekekek, evan bilang dia suka ma cerpen itu tapi keknya dia bilang bukan tentang janda deh.
    @SAIFUL, duh akhirnya ketemu lagi.dimana sekarang? irian? belanda? atau jerman? atau US? aku buka blog sampeyan, tapi tak ada tempat untuk menulis pesan😦. dah lama ndak lagi Ful, sejak ngurus sanggar dll.berkabarlah, kapan itu temen2 ekspresi pada kumpul di kaliurang, seru..

     
  14. riris

    February 19, 2008 at 8:00 am

    ada yang liat film horror = takut
    ada yang baca novelnya jk rowling = tegang
    ada yang lihat / baca retorika bung karno = terbakar semangatnya
    bukan masalah janda atau bukan, substansinya itu lho.
    (eh kritik kok harus sembur wacana dulu trus menerangkan maksudnya)

     
  15. riris

    February 19, 2008 at 8:12 am

    walaah aku yang baca malah suruh nerangkan pada yang nulis.
    substansi kuwi isi, isinya itu sedekah pada janda sudahi aja, pokoknya udah lagi, nggak ada sedekah buat janda di imlek ini. Trus yang baca itu rasanya ya seperti merasa terlibat dalam tokoh tulisan tersebut.
    bukan masalah suka ato ndak suka pada cerpen tersebut.
    kesimpulannya antara judul isi dan pembacanya menurutku sesuai.
    walaah padune ngerti nek kritik positif weee

     
  16. herlinatiens

    February 19, 2008 at 3:22 pm

    waduw..saya mana tau kritik positif.kebanyakan dimaki begini.kekeke.maksud saya imlek bukan tentang janda di atas itu,adalah cerpen saya imlek pertama tidak bercerita ttg janda.hanya tokoh tersebut memang biasa melakukan itu di imlek.kalau dirasa tidak ya gpp juga.nah,kalau lebaran bagi kado juga sebenarnya tak apa.budaya di indo kan macem2 itu.keyakinan yg berbeda2 membuat beberapa yang lain patuh taat pada sistem yg dikenalnya belaka.intinya, saya pasti menghargai yg memberi masukan.karena yg memuji biasanya basa-basi.kekke.ok Ris?nuwun lah pokoknya.kalau ayam betelur juga tidak semuanya menetas dengan baik,bukan?saya lebih suka lagi banyak ayam yg bertelur,meski tidak selalu menetas.

     
  17. wawan

    May 28, 2008 at 6:30 pm

    Nek kui ireng banget Her

     
  18. Jessus My Salvation

    July 17, 2008 at 6:36 am

    Mbak,
    aku juga pingin mencintai hujan yang turun dengan lembut perlahan, namun setelah renungan hati akan kedewasaan diri menyeruak tiba-tiba mengalahkan emosi jiwa barulah pisau tajam menyayat dalam hati merah jingga. aku heran menelan pahit ludah dan keringat yang panasnya bagaikan dingin.

    apakah kau tau knp hujan dapat begitu sendunya pada ku ???? katakan mbak jika kau tahu.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: