RSS

Monthly Archives: December 2007

+98, namanya teddy sedikit suhail

98

Dia teman saya. Dia memang teman saya. Akan selalu menjadi teman saya. Dia teman rahasia saya. Dialah rahasia saya. Yang paling rahasia di antara yang ter rahasia. Sepasang matanya selalu seperti itu. Tampak seperti pasir yang membuat mata yang memandangnya mengerjap. Sekarang saya membaginya, sebagai sebuah rahasia yang siap ditutup kembali. Atau tetap menjadi misteri meski sudah saya bagi.

Kami berbagi. Berbagi banyak hal. Buku-buku bacaan. Kesenangan sedikit liar. Tawa-tawa konyol. Kesedihan-kesedihan. Kebohongan-kebohongan. Menulis fantasi kenangan. Menciptakan dunia kami dalam persembunyian. Tapi tidak satupun yang kami mengerti dengan cepat mengapa dan kenapa. Oh, mengapa dia harus bertanya, dan mengapa saya juga tak pandai menjawab, itu sudah pasti karena saya teman dia dan dia teman saya.

Dia menyebut Kerala. Saya menyebut Yogyakarta.
Dia menceritakan laut, tanah-tanah basah dimana dia mendirikan hotel-hotel kecil dan perayaan adat. Saya menceritakan pasir-pasir putih di pantai selatan, meja kecil tempat saya menulis kata-kata.

Kerala, menjadi puisi baru bagi kami. Saya pun menuliskannya dalam sebuah naskah novel saya yang baru. Dia menganggap saya selalu tahu banyak hal tentangnya, padahal itu tidak benar. Saya hanya tahu dia dari apa yang dia ceritakan pada saya. Tidak semuanya.

Suatu hari, kami bertengkar hebat. Tepatnya, saya yang tersinggung sangat. Saya mengeluhkan banyak hal. Dia merasa tak melakukan sesuatu yang membuat saya tersinggung. Saya menjauh dari dia. Mengganti nomor telepon. Memblog segala id dia dalam catatan saya. Tidak membalas pesan-pesan yang dia kirim. Tapi sebenarnya, saya tak pernah benar-benar cukup lama mengabaikannya.
Bagaimanapun teman tetap dan akan selalu menjadi teman.

Dia terus meninggalkan pesan untuk saya. Menuliskannya seperti hari-hari biasa. Saya melihatnya sambil lalu dan mendeletenya dengan serta merta. Delapan belas bulan berlalu, saya masih mengabaikannya, entah karena apa.

Tapi kemarin, saat hujan jatuh di samping saya, saya membiarkan jemari saya membalas pesan-pesan dia. Kami berjanji bertemu lagi. Saya mulai mencintai hujan, rintik yang membawa saya padanya. Beginilah mula-mula saya mulai menerima hujan kembali.
Hari ini tadi, saya membuka diri untuknya lagi. Sebagai teman yang tak hilang. Sebagai kawan yang selalu ada, meski sempat terselip. Lagi-lagi, kami bersitegang. Lalu dia menelepon, “Why you kept away from me?” begitu dia selalu bicara keras. Menit2 berlalu, dia masih menjelaskan banyak hal, saya berulang kali bilang, “Iam not liar! Iam not liar!”
Percuma menjelaskan banyak hal padanya, dia sedang kesal. Saya hanya memandangi wajahnya di layar. Matanya menahan amarah. Saya tahu, saya sangat kenal dia!

Namanya Suhail, Teddy sedikit Suhail. Tidak, tidak, memang namanya Suhail. Meski kalau sedang marah, saya akan memanggilnya “big liar.” Begitupun dia, akan memanggil saya, “big liar.” Saya tak tahu, bagaimana teman-temannya memanggilnya Teddy. Dan saya tak ingin mencari tahu.

Kalau dia menelepon saya, saya pasti akan -lagi- menjawabnya. Tapi, kalau dia datang -lagi-, saya tidak berjanji akan menemuinya.
Begitulah, hubungan kami diciptakan untuk demikian. Kami tidak akan tersesat. Kami tidak akan membuat peta. Karena peta-peta itu tergambar dengan sendirinya, tanpa kami minta.

Kami tak akan kehilangan satu sama lain, kami sudah melaluinya. Waktu begitu berdamai dengan kami. Adakah keinginan lain dari yang sangat sempit dan sedikit ini? Selain mencoba menerima. Kira-kira, begitu juga yang saya selalu katakan padanya. Pelan-pelan, kami juga akan berdamai melalui hari istimewa sendirian. Kelak, kami akan saling mengingat, bahkan bila kami tetap bersama. Saya, dia, tak pernah tahu apa yang terjadi di esok hari. Kami, kawan lama yang bertemu lagi.

Tak ada rencana yang batal, karena kami tak pernah memiliki rencana. Tak ada janji yang diingkari, karena kami tak saling janji. Tak ada tempat-tempat yang manis, karena kamipun tak menodai sebuah tempat.

Saya kira, bagian tersulit dari pertemanan kami, adalah apabila malam teralu larut dan kami harus berangkat tidur. Kami selalu hanya saling melempar senyum, seakan berharap kebahagiaan selalu menyertai saya, menyertai dia. Sebagai teman, kami tak boleh merasa takut kehilangan satu sama lain.

Saya selalu berharap dia bercerita tentang seseorang yang baru. Dia pun berharap saya menceritakan seseorang padanya. Tapi siapa yang harus kami ceritakan? Saya senang, dia akan selamanya memanggil saya big liar.

Kami akan berhenti. Mengakhiri semuanya untuk memulai sesuatu. Dia teman saya. Akan selalu menjadi teman saya. Dia rahasia saya. Yang paling rahasia. Suhail namanya….

Dubai-Kerala

kau akan tersenyum
menatapku seperti santun bersinggung
sambil mengelus dadamu sendiri
ataupun tanpa keduanya, kau akan selalu tersenyum

seperti busur lupa jalan pulang
anak-anak panah kau tancapkan pelan di punggungku
ini rahasia, sayang
tak boleh dibuka-buka

kita selalu di tempat yang sama bukan?
tak sedikitpun boleh bersijingkat
tidak juga untuk mundur
dan menutupnya sebagai buku yang tak tuntas terbaca

tak ada lagi yang bisa dikorbankan
sebagai perapian penghangat jalan
tinggal tubuh kita bersunyi
akankah kita mengorbankan yang tersisa?

lebatkan dulu jambangmu, sayang. agar tampak wajahmu yang jalang.

(Hujan di antara mu, 28 Desember 2007)

 

semacam rasa bosan

di sanalah ia memandangmu

mungkin ini semacam rasa bosan
seperti rasa sudah dan menerima yang saling bermaafan
kalau sesaat datang, begitulah detik jam mengatur peta kepergian
karena pada saat bersamaan kepergian juga keberangkatan

jadi apabila buku kecil ini menerimamu sebagai kekasih
biarkan ia mengucapkan selamat jalan

jika ia menyingkap-nyingkap gelap
dirasa-rasakannya dada yang bergetar
tak ada yang retak seperti yang kau bilang
ia telah hilang segala

hati yang kau sebut pecah
ia tak hancur, ia hilang
(kalau hancur, ia masih bersisa)

seperti malam yang sedih
ia akan terus memutarkan kenangan kekalahanmu
mengapa kau menepi?
mengapa ia membakar peta-peta?

kau akan membuat lintasan kecil
untuknya menuju padamu
tapi mengapa kau pikir ia akan datang padamu?
kau kira kau siapa?
misalkan ia mengenalmu
itu tidak lantas berarti ia pun menginginkanmu

“tahun belum juga berganti, tapi kau telah berubah sayang.”

mengapa ia tak boleh berubah?
bukankah ia memang selalu berubah?

ia tak lagi menunggu amarahmu di telepon
ia tak lagi ingin memutarkan dongeng anak padamu
(seseorang telah mencurinya darimu)

bukan, bukan begitu kalimat yang tepat untuk mengungkapkannya
ia yang ingin dicuri
buku kecil itu yang membiarkan seseorang itu datang

“sayangku, kau teramat tak sabar”
bermaafanlah dengan waktu
biarkan ia menanggalkanmu sebagai kenangan singkat

kalian; ia dan kau telah datang sebagai kekalahan
biar saja berakhir sebagai kenangan
ia dan kau telah mengunci pintu masalalu itu
lantas mengapa kau masih saja mengetuk pintunya?

di dunia ini ada 3 batu, sayang
batu yang pertama digunakan untuk memecahkan batu yang lain lalu dibuang, batu itu adalah waktu
yang kedua, batu yang hanya bisa menjadi sandungan bagi orang lain, itu adalah kau
dan yang ketiga batu yang hancur oleh ketulusan jiwa seseorang, batu itu adalah; ia

tahun baru nanti, sayang
kau tak akan lagi menunggunya seperti yang sudah-sudah
ia pun tetap tak ingin datang

seseorang telah mencurinya dari dirinya sendiri

 
5 Comments

Posted by on December 27, 2007 in Catatan Hari Ini

 

buku kecil; hari baru akan menjadi lama

sekian tahun lalu

ia tuntas menjadi sunyi
sebenarnya, ia ingin menerima orang dalam hidupnya
tapi seperti layar yang enggan mengembang
ia takut menerima peristiwa-peristiwa baru yang akan menjadi usang dan sumbing

dalam dunianya yang gelap
iapun ingin mencintai dan dicintai
tapi rapat, hati dan jiwanya tersembunyi

jangan salahkan ia
ia hanya takut terluka
dan luka hanya lahir dari peristiwa

kalau ia bermimpi
ia akan cepat terjaga

“kita tak bisa memotret mimpi.”

ia tentu memiliki impian; mencintaimu
tapi apakah ia ingin memilikimu?
tidak
dengan memilikimu, hidupnya akan berakhir

seperti sedih dan sudah
seperti malam yang tak gelap
seperti dingin dan peluk
dia menerimamu

sebagai kekasih
sebagai kenangan
sebagai harapan
sebagai masa
sebagai dirimu

ia, selamanya menjadi buku kecil di dunia sunyi berhujan itu

 
10 Comments

Posted by on December 27, 2007 in Catatan Hari Ini