RSS

Berkaca pada Cermin yang Memar

21 Oct

Nampaknya gejala disintregrasi bangsa menular pada dunia sastra kita (Yogya). Disadari atau tidak, hal ini berawal dari komentar dianggap tidak berlaku adilnya devisi sastra FKY 2007 pada penyair Yogya. Dari moment itulah kita seakan tersadar betapa miskinnya pengalaman kita dalam demokrasi bersastra yang cerdas, bermoral, dan santun.
Selesainya Festival Puisi Nasional, dijadikan momentum yang sedap bagi para makelar sastra untuk semakin mencarutmarutkan polemik yang tengah berlangsung dengan aji kata-kata. Yang lain sibuk mengumpulkan curhatan kawan yang enggan diketahui namanya oleh orang yang diserang untuk ditulis di media, Minggu Pagi tentu saja. Menjadi begawan, maunya.
Hal ini terlihat ketika sumbat-sumbat kepenyairan terbuka secara tiba-tiba, yang tidak diperkirakan sebelumnya. Munculah eforia (politik?) sastra yang seakan-akan hanya puisi dan penyairlah persoalan utama dalam dunia sastra. Lho, novel, cerpen, naskah drama juga karya sastra, kan? Atau bisa jadi teman-teman kita berharap, tugas yang lainlah menyuburkan yang saya sebutkan belakangan ini. Hal ini mengingatkan saya pada orang-orang partai yang bertugas di Dewan! Yang tak punya kesempatan, silahkan menciptakan sendiri! Jangan coba-coba titip aspirasi!

Puisi Bengkok Meluruskan
Kalau kondisi ini dibiarkan dan tidak dikendalikan, akan memiliki potensi yang besar dalam mempertajam dinding pemisah di antara penggiat sastra di Yogyakarta. Dalam hal ini, saya sepakat dengan pendapat Latief Noor Rochmans, bahwa perlu diadakan suatu dialog yang meluas, terbuka, rasional dan bersikap konstruktif melalui bahasa yang santun tapi mengena antar komunitas yang tengah berseteru, meski terselubung dan bisa jadi tak mau mengakui siapa yang tengah berseteru.
Salah satu tugas yang diemban sebuah karya sastra adalah untuk menuntun masyarakat pada satu perspektif atau wacana yang memberikan kebaruan berpikir untuk menjadi bijak. Kalau para penggiatnya masih ribut perkara ‘dipentingkan’ dan ‘tidak dipentingkan’ bagaimana masyarakat bisa mengambil hikmah dari perjalanan dalam membaca karya sastra.
Seorang nabi (bukankah kabarnya penyair disebut juga nabi), sudah seharusnya memiliki etika dan retorika yang baik untuk berkomunikasi di media yang ditujukan pada orang lain. Terlebih orang yang sedang bertanya perihal berkarya berdampingan. Tentu, etika berbahasa perlu digunakan disini. Tanggapan di media, bukanlah karya sastra yang memiliki batasan etika yang lebih longgar. Ia ada untuk menentukan solusi bersama.
Kenapa demikian? Agar kesalahpahaman dan kerancuan yang dikarenakan salah tafsir dengan tanggapan orang lain di media dapat diminimalisir sekecil mungkin. Dalam hal ini, saya menyukai gaya bertutur Latief Noor Rochmans yang santun. Tentunya saya bukan ahli bahasa yang sedang menilai, saya hanya pembaca yang tengah memperhatikan tulisan-tulisan yang bersliweran sejak sekian bulan lalu.
Mengingat tugas-tugas yang diemban sebuah karya sastra ada hal yang menarik. Dalam dunia sastra, khususnya dalam puisi dan novel, bahasa memiliki andil yang cukup besar dalam penyampaian banyak misi. Terdapat salah satu jargon yang mengaitkan antara politik dan puisi dari mendiang John F. Kennedy yang berbunyi, “Jika politik bengkok, puisi akan meluruskannya.” Nah kalau puisi-nya yang bengkok bagaimana? Kalau penyairnya yang bengkok mau apa?
Konflik merebak, berlangsung menerus bergeser sedikit kembali ke awal. Hal ini tentu saja berimbas kepada pembaca sastra dalam masyarakat juga pengikutnya. Penulis-penulis yang (dianggap) muda mau tak mau musti tahu. Tapi yang dibahas ya perihal sekelompok penyair yang dianggap tidak adil pada sekelompok yang lain, tidak tahu unggah-ungguh. Nah, sebenarnya siapakah penyair yang mana yang merasa kecolongan itu?

Yang Perempuan yang Tak Ada
Ada yang terselip, atau bisa jadi para penonton yang datang dalam Festival Puisi Nasional selama dua hari itu lupa. Bahwa dari sekian penyair yang tampil itu, baik yang dianggap serius tampil maupun yang cengengesan, beridentitas seks Male, lekaki semua.
Rupanya, koreksi yang dilakukan oleh teman-teman melupakan satu perspektif itu. Tentu sebagai penonton saya tidak tahu perihal penyair berjenis kelamin laki-laki saja yang datang (diundang?) dalam festival itu. Mungkin saja tidak ada satupun penyair perempuan yang dianggap cukup pas untuk disejajarkan dengan penyair yang lain malam itu. Atau memang ada misi tersendiri yang kita bersama tidak tahu. Pada hari kedua, saya sempat melihat tiga aktivis feminis datang ke acara tersebut, bisa jadi salah satu dari mereka membatin, “Ah tidak sensitive gender sekali acara sastra ini.”
Mungkin pernyataan tersebut tidak ada korelasinya dengan polemik hadir dan tidak hadirnya Genthong HSA malam itu. Tapi cobalah direnungkan mengapa Devisi Sastra FKY 2007 tidak menghadirkan perempuan penyair sebagai subjek penampil dalam malam festival bertaraf nasional tersebut. Apakah kiranya mereka tidak lolos sensor?
Saya sendiri tak bisa menjawabnya. Karena saya tidak tahu pasti barometer standar yang digunakan teman-teman panitia. Sama tak tahunya saya dengan siapa yang pas disebut penulis muda dan mana saja yang pantas disebut penulis tua. Apakah perempuan penulis dan atau penulis muda telah dimasukkan dalam bingkai second class, meski dengan cara yang samar-samar mereka menguncinya?
Anehnya lagi, teman-teman perempuan penyair tidak mencoba memberikan tanggapan perihal sekian hal tersebut. Kalau demikian, pantas saja mereka tidak dilibatkan sebagai subjek dalam festival tersebut. Lho, ini bukan perihal siapa ingin unjuk gigi, tapi proses diskusi yang diawali dan terjadi di media ini bisa menjadi koreksi bersama untuk berkarya berdampingan.
Janganlah sampai kondisi ini menimbulkan asumsi publik, bahwa sastra semata-mata Male area, yang segala permasalahan dan politik yang berlangsung adalah urusan laki-laki. Perempuan duduk manislah, belajar menulis, mewakili energi keibuan sebagaimana garis yang dicitrakan dalam sosok perempuan.
Pendeknya, dunia sastra, telah menjelma Negara baru, beberapa orang malu-malu ingin disebut raja atau presiden. Beberapa yang lain mau juga disebut MA. Senang kiranya, memperhatikan diskusi yang berkembang di media, tapi kalau mengarah pada disintegrasi, rasanya menjadi sedikit payah. Meski naïf juga memiliki keinginan menyatukan sekawanan orang hebat dan besar dalam satu kelompok.
Ya memang begitu, demikian adanya. Ini negeri syair, yang kesohor karena karyanya, penulisnya, kegiatan-kegiatannya, juga tentu saja mitos-mitos yang berkembang di dalamnya. Maka tak heran ada juga yang menjadi begawan mitos yang terus diasah taringnya untuk kepentingan kelompoknya. Ya tidak apa-apa, proses belajar kan melalui berbagai cara. Termasuk juga tentu saja mencoba-coba menjegal etika dalam berkarya karena tak ingin selamanya menjadi tawar!

 
20 Comments

Posted by on October 21, 2007 in Essay

 

20 responses to “Berkaca pada Cermin yang Memar

  1. fajarwisnu

    October 23, 2007 at 12:54 pm

    saya kurang memehami sastra dan kata-kata yang puitik. tapi tampaknya di MP atau di kota yogya ini kata-kata dalam arti sesungguhnya mempunyai kekuatan untuk memperkeruh, membakar, membeningkan, atau mengungkapkan nilai nilai kemanusiaan maupun nilai- nilai ke-Tuhan-an.

     
  2. eko nuryonoi

    October 29, 2007 at 6:32 am

    aku gak tahu harus emnaruh mana alamat beberpa milis2 ini. seperti yang km minta waktu ketemu dikantin tby dulu, 28/10/2007, sebisanya inilah kiranya. media-jogja@yahoogroups.com

    salam kenal
    eko.nuryono@gmail.com

     
  3. pejalanjauh

    October 30, 2007 at 12:51 pm

    Hehehehe… mulai unjuk bulu nih. mantraf!

     
  4. pisanan komen

    October 30, 2007 at 1:10 pm

    ada rumus othak athik gathuk, gini lho nakmas; dunia sastra di kota Jogja ini sedang disaut sama situ nama orang (saut situmorang) dan terkena hantaman rudal yang dikirimkan dari tanjung benua asia (raudal tanjung banua).
    Tapi saya sungguh terkesan dengan penggambaran Mas Raudal yang terkenal :’ …matanya bersirobok dengan lelaki berkalung kulit lokan…’, juga terkesan dengan kebeningan ‘tiens’ pada nama herlinatiens.
    Nganu aja, oktober ini banyak lowongan lho, tengok aja di http://www.stembasurabaya.wordpress.com
    itu lowongan tampil atas bantuan rekan saya prijo handoko,st mantan wartawan intijaya jakarta.
    makasih minal aidzin wal fa’idzin, mumpung masih syawal.

     
  5. koto, kulipelabuhan

    November 16, 2007 at 11:48 am

    jadi bagaimana saat ini perkembangan sastra jogja tuan dan nyonya? dan di tengah kondisi yangs edang berkecamuk ini, sebelum sungguh-sunguh paham arena, anda akan mati ditebas siapa saja. di mana pun anda berdiri, di garis tepi atau pun di luar garis sama saja. hanya bijaklah, biar mat lebih nyaman. dan bung pisanan komen, dimanakah anda?

    selamat berkarya.

     
  6. Catur Stanis

    November 25, 2007 at 1:28 am

    Nduk, kapan kita bisa kongkow and ngopi bareng serta ngobrol yang agak bermutu? dimanapun aku mau, ajak juga mas mu ya…salam kangen buat kamu dan kawankawan yang lain. sorry aku belum bisa comment soal sastra jogja, karena aku bukan sastrawan atau yang sejenisnya itu. aku hanyalah penyendiri yang tak begitu becus berjanji,hehehe. tapi soal perempuan itu, hanyalah faktor kesempatan. karena pada FKY tahun sebelumnya justru di isi oleh kaum yang menyebut dirinya perempuan. so ini soal giliran saja, tahun lalu:perempuan, kini:lelaki besok mungkin banci,hehehe.sorry rada cengengesan, biasa simbiotic syndrome kebanyakan main ama penyair cengengesan seperti Faisol Kapantobat.huhehehe.

     
  7. Catur Stanis

    November 25, 2007 at 1:36 am

    kalo sering kutinggalkan jogja, semata adalah sikap untuk tak hendak bertahan sekadar menjadi benalu peradaban. jogja sudah cukup uzur untuk menopang tubuhku yang lumayan uzur. maka kupilih sebuah kota Tan Panama, di wilayah Takdi Knal, untuk memampatkan kembali luka yang telanjur menganga itu.
    Matur nuwun sanget atas undangannya, dan nuwun sewu belum bisa saya penuhi semuanya.

     
  8. Catur Stanis

    November 25, 2007 at 1:39 am

    maksudnya tentu : ‘jogja terlampau uzur buat menopang tubuhku yang lumayan subur’,hehehe sorry agak lelet neh otaknya karena terkontaminasi angin laut dan kicau bidadari.

     
  9. hitam putih

    December 3, 2007 at 8:44 am

    saudara Koto yang kuli pelabuhan, saya tidak yakin anda bukan si Koto adek Raudal. pembelaan anda lebih bersifat kekeluargaan ya? beginilah sastra, mau menang sendiri. anda jangan mengajari orang-orang menjadi bar-bar, maen libas dan lain-lain. begitulah akhirnya, saya meminjam istilah herlinatiens, anda ini bisa dengan mudah menjadi orang-orang yang mengasah taring orang seorang begawan karena tidak PD dengan kemampuan anda sendiri.
    masa mitos sudah berakhir, ada saatnya nanti Raudal dkk tersingkir. tapi begitulah, semua seperti roda. Catur Stanis, anda kalau merasa terlalu subur, ya dietlah. banyak-banyakin ngobrol dengan Koto, biar stres karena memikirkan betapa bar-bar nya manusia sastra seperti dia. salam budaya

     
  10. CATUR STANIS

    December 4, 2007 at 4:24 am

    hitam putih? siapapun anda, terimakasih. seabuabu apapun penampilan anda dimata saya, terimakasih. buat Koto, katakataku masih sama,”Yang Abadi adalah KESENDIRIAN itu, maka nikmatilah kawan.
    cuman sayangnya, kawan kita yang melumuri dirinya dengan dua warna ini terlalu serius buat memisteriuskan dirinya…untungnya aku ngga gampang penasaran.
    buat Herlinatiens, masih kutunggu ajakan ngopinya, tapi jangan terlalu kental biar aku ngga jadi serius berdebar-debar.
    maaf saya bukan orang pintar jadi biasakan untuk bingung dengan sikap saya.

     
  11. Panggung Kata

    December 11, 2007 at 7:36 am

    hello hitam putih…ngopi darat yuuuk.

     
  12. herlinatiens

    December 17, 2007 at 12:56 pm

    hai mas Catur, pak jenderal. pripun kabare?

     
  13. Catur Stanis

    December 18, 2007 at 12:17 am

    Pak Jenderal? Kok bisa jenderal sih?hehehe, kabarku alhamdulillah baik-baik saja. Saat kau bilang Jenderal, aku jadi ingat Blandongan sembari membayangkan jogja, membayangkan ngopi bareng kamu lagi…semoga ada waktu buat kembali ke kota yang tak lagi sunyi itu.

     
  14. Catur Stanis

    December 27, 2007 at 5:32 am

    Wah, sampai detik ini hape belum ada. tapi bisa lah nanti kita message di FS atau email njenengan, oke…sukses buat kamu ya!

     
  15. mifka

    January 11, 2008 at 11:40 pm

    Ruang yang sunyi…

     
  16. herlinatiens

    January 13, 2008 at 4:38 pm

    memang selalu sunyi. bakarlah laut, juga ramai..

     
  17. asalnama

    February 5, 2008 at 5:12 am

    dulu, ruang rindu, sekarang ruang mikir, dah dapat judul novel belum. Neeh kuberi : Ombak laut yang tersayat.
    isine opo? yook embuh.

     
  18. asalnama

    May 14, 2008 at 1:36 pm

    kok ada asalnama di sini?wah ganti ah.

     
  19. Qinimain Zain

    September 7, 2008 at 9:16 am

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

     
  20. kuli

    November 29, 2008 at 2:35 am

    bolehkah saya tahu dengan tuan hitamputih yang menulis tanggapan buat saya itu. saya senangs ekali atas tanggapannya itu. cukup menarik saya rasa meskipun sangat personal.

    tx

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: